Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 42


__ADS_3

"Bisakah........bisakah kita tidak usah bertemu lagi?"


"TIDAK!"


Azam langsung menyerobot dengan ketegasan tergampar apik dalam matanya. Alina tercengang, termangu tidak percaya. Irisnya melebar dan segera memalingkan muka tidak kuasa menatap kejujuran sang suami.


Dada pria itu naik turun dengan kedua tangan mengepal erat. Azam yakin dengan perasaannya sekarang, jika cinta sudah bermuara dikehidupan rumah tangganya bersama istri kedua. Sang nahkoda telah melepaskan kapal di lautan siap menerjang badai.


"Kenapa?"


Satu kata terlontar, Alina kembali mendongak memperlihatkan ketegasan dan pengharapan. Azam tidak gentar dan terus berjuang untuk mempertahankan pernikahannya.


"Karena aku mencintaimu."


Tiga kata yang selama ini ditunggu pun terlontar sudah. Manik kecoklatan Alina membulat dengan jantung berdegup kencang. Darahnya berdesir hebat mengantarkan rona merah dikedua pipi. Senyum yang mengembang di wajah tampan Azam membuat pertahanannya runtuh. Ia kembali berpaling menahan gelora dalam dada.


Azam pun melangkah mendekat kemudian bersimpuh di depan sang istri dengan tangan kanan menengadah.


"Bisakah aku mendapatkan kesempatan kedua?"


Alina yang masih menoleh ke arah berlawanan menatapnya perlahan dan kini berhadapan dengan sang suami. Ia belum pernah melihat Azam menurunkan harga diri di depannya untuk memintanya kembali. Terkadang cinta bisa membuat orang menghilangkan ego? Pikir Alina.


"Aku ingin memberikan rumah hangat untukmu dengan buah hati kita di dalamnya dan menciptakan keharmonisan keluarga. Apa kamu mau Al, pulang bersama dan tinggal denganku lagi?"


Senyum manis terpendar menjadikan sosok Azam semakin menawan, wajah putihnya dihiasi rona merah serya memperlihatkan deretan gigi putihnya. Kedua manik berbinar dengan embun air mata menggenang di sana. Harapan untuk diberikan kesempatan tercetus dalam gestur tubuh, Alina kembali termangu tidak percaya melihatnya seperti itu.


Sudah hampir tiga tahun mereka membina rumah tangga dan baru sekarang ia melihat kesungguhan Azam. Terlambat, sungguh sangat terlambat. Selama ini Alina menunggu untuk mendengar dan diperlakukan hangat seperti itu, tapi yang ia dapatkan hanyalah air mata.


Rumah tangga mereka pada awalnya tidak didasari oleh cinta kedua belah pihak, keterpaksaan membuat Alina dan Azam dipersatukan oleh ikatan suci pernikahan. Perasaannya hanya bertepuk sebelah tangan dan hanya berjuang seorang diri mempertahankan semuanya.


Bayangan saat Azam memperlakukannya hangat kembali melintas. Ia sadar jika waktu itu sang suami hanya memenuhi kewajiban, jika pada kenyataannya wanita yang sangat dicintai Azam hanyalah Yasmin. Tidak ada ruang untuk Alina berada dalam hatinya.


Air mata kembali mengalir, buru-buru ia menghapusnya kasar dan kembali berpaling.


"Pulanglah, Mas mbak Yasmin menunggumu. Jangan seperti ini, Mas harus bersikap adil."

__ADS_1


"Adil?" lanjut benaknya.


Alina pun melangkahkan kaki ke belakang hendak meninggalkan tokonya dan mengabaikan perkataan sang suami. Azam bangkit dan memandangi bahu kecil sang istri dengan kekosongan menguasai.


"Tidak bisakah kita kembali bersama?" tanyanya lagi.


Alina yang berhenti beberapa saat hanya menyisakan keheningan tanpa ada satu kata pun terlontar. Setelah itu ia benar-benar menghilang dalam pandangan.


Liquid bening menitik, meluncur dengan cepat di pipi dan berakhir di lantai kayu toko kue itu. Kesakitan kala diabaikan sang istri mengusik ketenangannya, Azam sadar sudah terlalu banyak luka yang ditorehkan.


"Aku minta maaf, Al," lirihnya.


...***...


Jam sudah menunjukan pukul sepuluh pagi, Zara sedari tadi bolak balik di ruangan atasan menunggu kedatangannya. Sudah satu bulan ia melakukan pekerjaan Azam menggantikan ketiadaannya untuk berurusan dengan para pemegang saham dan klien.


Semalam ia memberitahu jika akan ada orang penting datang ke perusahaan dan membutuhkan kehadairan Azam di sana. Namun, sampai sekarang batang hidung pria itu masih belum terlihat juga. Berkali-kali ia memandangi arloji di pergelangan tangan dengan harap-harap cemas.


"Aku mohon datanglah," gumamnya.


Ia pun merogoh ponsel di saku blazer hendak menghubungi Azam, tapi sebelum itu terjadi pintu ruangan dibuka. Zara terkejut dan bernapas lega melihat kedatangan sang bos.


Azam hanya mengangguk singkat dan berjalan menuju singgasananya berada. Zara menautkan alis melihat penampilannya yang jauh dari kesan wibawa. Kerah kemejanya tidak dilipat dengan benar, dasinya longgar dengan jas kantor kusut tidak terawat sama sekali.


Zara mendekatkan diri ke meja Azam seraya memandanginya lekat.


"Apa yang terjadi? Kenapa kamu berpakaian seperti ini? Aku sudah bilang semalam jika akan ada orang penting datang ke perusahaan kit-"


"Apa dia sangat penting untukku? Apa dia tidak lebih penting dari Alina? Apa dia sepenting itu untuk hidupku? Bisakah kamu menjamin dia teramat penting?"


Kata "penting" tercetus berulang kali mengundang sebuah makna teramat dalam. Zara sadar dan tercengang mendengar pertanyaan beruntun itu, manik berlensa abunya membulat sempurna dengan mulut sedikit terbuka. Ia melihat kesedihan begitu kentara di sana, kedua tangannya pun meremas kuat meja kayu di hadapannya berusaha meredakan kekesalan.


"Kamu.........secinta itukah kamu pada Alina?"


"Apa terlihat jelas?"

__ADS_1


Zara memegang kepalanya pening lalu mengusap wajah gusar.


"Kenapa? Bukankah dia sudah pergi meninggalkanmu? Itu artinya dia sudah tidak peduli lagi."


Azam memandanginya lekat, Zara tertegun kala melihat sorot mata serius menatap tajam padanya.


"Dia mau peduli atau tidak itu bukan urusanmu," katanya tegas lalu beranjak dari duduk dan kembali melangkahkan kaki.


"Lalu bagaimana dengan Yasmin? Bukankah kamu sangat mencintainya?"


Azam terdiam memunggungi Zara dengan kedua tangan berada dalam saku celana. Bahu tegap nan lebar itu pun tertangkap pandangan mengantarkan perasaan menggebu dalam dada, Zara tidak kuasa menahannya.


"Iya aku sangat mencintainya."


"Lalu, bagaimana dengan perasaanku?"


Azam mendengus dan menolehkan wajah ke samping kanan tanpa ada niatan untuk menatap sang sekertaris.


"Aku tidak ada perasaan apa pun terhadapmu, jadi berhenti mengusiliku."


Pertahanan diri Zara runtuh mengantarkan cairan bening meluncur deras dikedua pipi. Ia menangis dalam diam menyaksikan sosok paling dicintainya terus melangkah menjauh. Perasaan yang sudah lama ia pendam tidak mudah untuk dilupakan, ia pikir akan mendapatkan kesempatan nyatanya tidak sama sekali.


Sampai kapan pun Azam akan menganggapnya sebagai rekan kerja dan teman, tidak lebih dari itu.


Rumah sakit kembali menjadi tujuan Azam kali ini. Sudah satu bulan berlalu dan ia belum mengunjungi istri pertamanya tersebut. Baru saja kedua kaki menapak di lantai lima ia melihat oleh beberapa tenaga medis berlarian melewatinya.


Seketika degup jantung bertalu kencang kala tujuan mereka sama sepertinya. Secapat kilat Azam berlari mendekat dan seketika itu juga kedua manik besarnya membulat sempurna. Di dalam sana Yasmin sudah tidak bergerak sama sekali. Alat-alat medis pun dipasang membuat ketakutan merambah dalam diri.


Azam melangkah mundur dengan lemas dan hampir goyah jika tidak ada tangan lain mencengkram pergelangannya.


"Bertahanlah, semua akan baik-baik saja."


Suara sang sahabat berdengung menjadi kekuatan, tepukan pelan pun mendarat di bahu kanan. Ia melihat Angga berjalan ke depan menyisakan kehampaan.


"Ya-yasmin," panggilnya gugup.

__ADS_1


Hiruk pikuk para petugas medis pun menjadi backsound paling menakutkan, bunyi alat pendeteksi jantung pun menambah kengerian. Irisnya yang bergetar memandangi alat tersebut dengan jantung berdentum.


"Ya Allah selamatkanlah istri hamba."


__ADS_2