
Pagi menjelang, jam sudah menunjukan pukul setengah tujuh. Alina yang baru saja selesai berganti pakaian dikejutkan dengan kedatangan sang mantan suami.
Pandangan mereka saling bertemu beberapa saat dan sedetik kemudian Alina memalingkan wajah lalu berjalan keluar. Azam terpaku dan mengikuti ke mana mantan istrinya pergi.
Alina duduk di kursi tunggu sambil melipat tangan di depan dada. Melihat itu Azam pun mendaratkan dirinya tidak jauh dari sana.
"Aku mendengar kondisi Raihan tadi dari Dokter Ghani. Sepertinya-"
"Iya sepertinya kita harus bekerja sama untuk kebaikan Raihan. Aku sudah melupakan apa yang terjadi di antara kita. Aku harap Mas juga melupakan apa yang telah kita lewati, sekarang yang harus kita prioritaskan adalah anak," sambar Alina tegas.
Azam mengangguk pelan dan memandang lurus ke depan, sesaat mereka saling diam sibuk dengan pikirannya sendiri. Alina dengan dunianya begitupula dengan sang mantan.
Sampai perkataan Azam selanjutnya membuat ia tidak percaya.
"Aku ... benar-benar minta maaf atas semua yang terjadi, terutama pada Raihan. Selama beberapa bulan ke belakang aku mendapatkan ganjarannya. Perusahaanku bangkrut dan sekarang kami memulainya dari awal lagi. Semua harta yang aku punya Allah ambil kembali, karena dulu aku tidak memperlakukan istri dan anak dengan baik. Aku juga mengalami depresi lagi dan terus menyalahkan keadaan."
"Alina, aku minta maaf karena pernah menyakitimu begitu parah. Mulai sekarang aku berjanji untuk bertanggung jawab dan menjadi ayah yang baik bagi Raihan. Aku tidak sadar jika selama ini sudah membeda-bedakan mereka."
"Mendengar semua yang diucapkan Raihan malam kemarin membuatku sadar jika ... keberadaan buah hati jauh lebih penting daripada apa pun."
Alina mendengar dengan seksama dan melihat penyesalan begitu mendalam dari sorot matanya. Ia menghela napas lega dan menyunggingkan senyum simpul.
Ia lalu menarik kepalanya lagi dan menatap lurus ke depan. Di mana di balik pintu itu ada separuh napasnya tengah terbaring lemah.
"Allah saja maha pemaaf, Mas. Aku ... sudah memaafkanmu. Mulai sekarang kita hanya akan bertugas sebagai ibu dan ayah yang baik untuk Raihan maupun Aqeela. Kita lupakan masa lalu dan membuka lembaran baru. Aku yakin akan ada kebaikan yang menimpa kita setelah ini."
"Di antara kita memang sudah tidak ada ikatan apa-apa, tetapi bagi Raihan kita adalah orang tuanya," tutur Alina mengundang senyum mengembang di wajah tampan Azam.
Obsidiannya memandang sang mantan lekat lalu beralih mengikuti apa yang tengah di lihatnya.
"Aku benar-benar bodoh sudah menyianyiakan wanita sebaik kamu. Semoga Zaidan bisa membahagiakanmu, memberikan apa yang tidak bisa aku berikan sepenuhnya padamu," ujarnya lagi.
__ADS_1
Alina mengulas senyum simpul kala mengingat kejadian yang menimpa rumah tanggga mereka.
"Hargailah seseorang yang berada di sisimu saat ini. Jangan pernah melihat ke belakang lagi, tetapi jadikan kejadian kemarin sebagai pembelajaran jika ... tidak akan datang kedua kalinya orang yang benar-benar menghargaimu."
"Semua orang pasti melakukan kesalahan dan semua orang juga punya kesempatan untuk berubah."
"Aku yakin apa yang Mas katakan saat ini tulus tanpa ada maksud tertentu. Semoga kejadian kemarin membuatmu sadar."
Alina pun beranjak dari duduk dan kembali masuk ke dalam. Azam mengangguk pelan meskipun tidak dilihat oleh sang mantan istri. Ia benar-benar sudah mendapatkan pelajaran atas apa yang telah dilakukannya.
Bahkan sampai detik ini ia masih harus menjalani terapi untuk menyembuhkan depresi. Namun, ia berusaha kuat untuk buah hatinya.
...***...
Jam kembali berputar, setelah pengaruh obat yang diberikan Dokter Ghani semalam menghilang, Raihan membuka matanya lagi. Hal pertama yang dilihatnya adalah senyum cerah dari dua orang paling berarti dalam hidupnya.
Ia terpekik senang dan hampir beranjak dari tidur. Ia pun meringis merasakan sekujur tubuhnya terasa ngilu.
"Bagaimana keadaanmu, Sayang?" tanya Alina lembut seraya mengusap puncak kepalanya pelan.
"Jauh lebih baik, Mah. Oh yah, kenapa Ayah ada di sini juga?' tanya Raihan memandangi orang tuanya bergantian.
"Sayang, mulai hari ini Ayah dan Mamah akan selalu ada bersama Raihan ... kapan pun Raihan membutuhkan kami, baik Ayah ataupun Mamah akan tetap menemani Raihan," ujar Azam lembut yang berdiri di sisi lainnya.
Mendengar panggilan sayang itu tercetus dari bibir sang ayah, Raihan tidak kuasa membendung kebahagiaan. Bulir air mata menetes tak tertahankan, ia lalu menggenggam hangat tangan kedua orang tuanya.
"Benarkah itu? Ayah dan Mamah akan selalu ada untuk Raihan?" tanyanya polos.
Alina dan Azam mengangguk kompak membuat perasaan sang buah hati menjadi lebih baik. Raihan melempar senyum lebar dan terus menggenggam jari jemari orang tuanya erat.
Dalam diam Alina memperhikan perubahannya, ia sadar jika seorang anak memang membutuhkan perhatian dari kedua orang tuanya. Namun, di sisi lain ia juga tidak bisa melepaskan begitu saja tanggung jawabnya sebagai seorang istri.
__ADS_1
Keadaan semakin runyam kala beban yang harus ditanggung semakin bertambah. Ia juga yakin jika di balik itu semua ada hikmah yang sudah Allah persiapkan.
"Aku sayang Ayah dan Mamah," ujar Raihan dengan suara hangatnya.
Azam terkesima dan tercengang mendengar ungkapan kasih sayang dari Raihan. Ia pun meneteskan air mata dan mengecup lembut puncak kepala sang jagoan.
"Ayah juga menyayangimu, Sayang. Ayah minta maaf untuk semuanya," balasnya lirih.
"Raihan tidak peduli. Karena sekarang Ayah sudah menyayangi Raihan. Raihan juga minta maaf karena malam itu sudah mengabaikan Ayah," tuturnya lagi.
"Tidak apa-apa, Sayang. Ayah mengerti," balas Azam sambil mengusap kepalanya lembut.
Melihat pemandangan ayah dan anak tepat di depan mata kepalanya sendiri membuat perasaan Alina berangsur-angsur membaik. Ia percaya jika penyesalan itu ada dan sudah membuat Azam berubah serta menyadari kesalahannya.
Ia berharap hubungan keduanya pun bisa berubah menjadi lebih baik lagi. Meskipun mereka sudah tidak bersama, setidaknya kasih sayang itu tetap tercurahkan sepenuhnya untuk Raihan.
Dari arah pintu masuk sepasang mata mengawasi mereka sedari tadi. Ia enggan menampakan diri ke dalam dan merusak momen berharga mereka.
Tepukan lembut pun mengejutkan, sang empunya menoleh ke belakang dan mendapati ibunya di sana.
"Mamah?" Panggilnya.
"Kamu tidak apa-apa, Zaidan? Istrimu sedang bersama mantan suaminya," ucap Moana mengingatkan.
Zaidan mengulas senyum dan sekilas melihat ke samping lalu kembali pada sang ibu. "Aku tidak apa-apa Mah. Karena aku menikahi Alina karena Allah. Aku mencintai dan menyayangi dia dengan tulus. Sebelum menikahinya aku juga sudah tahu bagaimana resikonya ... aku menyayangi Raihan seperti anakku sendiri."
"Saat ini yang terpenting bagiku adalah kesembuhan anak itu. Karena aku tidak ingin melihat Alina menangis setelah apa yang terjadi. Yah, meskipun aku akui perasaan cemburu ini memang ada."
Moana kembali memberikan tepukan pelan di bahu lebar putranya. "Kamu memang benar-benar anak Mamah."
Zaidan kembali tersenyum dan mengangguk singkat. Ia berharap akan ada kebaikan yang terjadi pada pernikahannya.
__ADS_1
...Bersambung......