Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 169 (Season 3)


__ADS_3

Air mata bercampur air hujan, awan mendung itu beralih pada kedua manik jelaga sang tuan muda. Zaidan masih menangis mendengar cerita yang dilontarkan ayahnya.


Dimas pun memberikannya selembar tissue dan mendaratkan tepukan pelan di bahu. Ia tahu bagaimana remuk perasaan Zaidan saat ini. Ia pun merasakan hal sama kala mendengar kebenaran terjadi dalam keluarga mereka.


Dimas yang dari kecil tinggal di sana sudah merasa menjadi bagian dalam keluarga. Ia bersyukur setidaknya hidup berkecukupan jika dibandingkan Calvin yang notabene anggota keluarga Zulfan sesungguhnya.


Namun, nasib baik tidak berpihak padanya. Keberadaan Calvin harus disembunyikan guna mendamaikan keluarga tersebut.


Calia lebih baik mundur untuk membuat Dawas bisa diterima kembali oleh keluarganya. Saat-saat menegangkan itu terasa begitu menyakitkan Zaidan bayangkan.


"Jadi, itulah kenapa kakek tidak menyetujui pernikahanku dengan Alina? Karena ... nasib kami hampir sama?" Zaidan mengangkat kepala memperlihatkan wajah tampannya berurai air mata.


Farraz mengangguk singkat, "Ayah rasa memang seperti itu. Kakek tidak ingin nasibmu sama sepertinya. Kakek mungkin tidak mau melihat kamu dicaci maki bahkan dianggap noda oleh orang-orang. Karena-"


Belum sempat sang ayah menyelesaikan ucapannya, Zaidan beranjak dari duduk dan pergi begitu saja. Dimas terkejut dan melihat tuan muda meninggalkan ruangan.


"Susul dia jangan sampai bertindak seenaknya," titah Farraz. Dimas pun mengangguk mengiyakan dan langsung menyusul ke mana Zaidan pergi.


Farraz menghela napas berat lalu menyandarkan punggung ke kepala kursi. Kepalanya mendongak dan bersandar di sana.


"Ibu aku minta maaf," gumamnya lirih.


Farraz begitu menyesal tidak ada di saat-saat terakhir sang ibu menghembuskan napas. Ia juga tidak sempat bertemu adik kandungnya yang terlebih dahulu dipanggil sang maha kuasa. Penyesalannya begitu kuat hingga ia pun bertekad untuk membantu Calvin.


Selama kurang lebih tujuh tahun lamanya ia memberikan biaya serta pekerjaan pada anak dari adiknya tersebut. Ia berharap bisa memberikan kehidupan yang layak untuk Calvin beserta ibunya. Meskipun Farraz tahu hal itu tidak bisa mengembalikan dua sosok yang telah pergi untuk selamanya.


...***...


Di taman belakang, Dawas menyaksikan air mancur mencoba menjernihkan pikiran. Tetua Zulfan itu sangat terkejut saat mendengar kebenaran mengenai Zanna.

__ADS_1


Sang tetua berpikir jika wanita muda tersebut adalah seseorang yang pantas untuk menjadi pendamping cucu laki-laki satu-satunya.


Namun, di balik kecantikan serta keanggunan yang diberikan Zanna, terdapat kebusukan di dalamnya. Wanita itu senang keluar malam dan menghabiskan waktu di klub-klub. Sampai video tidak senonohnya terendus, Dawas pikir Zanna melakukannya bersama Zaidan.


Karena itulah sang pengusaha itu pun mengikuti rencana Zanna, tetapi kenyataannya orang lain. Hatinya begitu remuk dan bercampur aduk kala pria yang ada dalam video adalah seseorang yang mengaku sebagai keturunannya.


Helaan napas lelah terdengar begitu kuat. Kepala berubannya mendongak menyaksikan langit kelabu. Beberapa menit lalu hujan sudah berhenti menebarkan aroma khas.


"Kamu sangat suka hujan ... bahkan di saat cuaca seperti ini kamu lebih suka memakan es krim. Calia, apa kabarmu di sana? Apa kamu baik-baik saja selama ini?" gumamnya menahan kepedihan.


Bayangan masa lalu hinggap seolah ia melihat senyum Calia di balik awan. Tanpa sadar Dawas menarik sudut bibir mengingat kenangan indah mereka bersama.


Tidak lama setelah itu indera pendengarannya menangkap suara langkah kaki tegap mendekat. Dawas tidak sekali pun mengalihkan pandangan hingga beberapa detik kemudian seseorang berdiri tepat di sebelahnya.


"Aku sudah tahu semuanya," ungkap Zaidan to the point.


"Apa yang kamu dengar?" tanya Dawas masih mempertahankan posisinya.


Penuturan Zaidan menarik atensinya, Dawas menoleh menyaksikan sorot mata tegas sang cucu. Tetua itu pun terperangah dengan menautkan kedua alis tajam.


"Ba-bagaimana kamu-"


"Aku mendengarnya dari ayah. Kakek salah jika berpikir pernikahanku akan sama ... ketika dulu Kakek tidak bisa mempertahankan rumah tangga kalian dan lebih memilih melepaskan wanita yang sangat Kakek cintai ... aku berbeda."


"Aku tidak akan pernah melepaskan Alina, walaupun badai besar menghampiriku. Aku tidak peduli di sebut sebagai noda dalam keluarga, ataupun dicaci maki, bahkan tidak dianggap sebagai anggota keluarga Zulfan lagi. karena bagiku kebahagiaan sesungguhnya adalah bersama Alina."


"Kakek sudah salah membiarkan wanita yang Kakek cintai pergi. Jangan menyesal jika Kakek tahu kebenarannya."


Setelah mengungkapkan apa yang mengendap dalam dada, Zaidan pun pergi begitu saja tanpa memberikan kesempatan sang kakek bicara.

__ADS_1


Dawas terkesima dengan kesungguhan yang dipancarkan cucunya. Dulu ia tidak mempunyai keyakinan dalam diri untuk mempertahankan rumah tangganya. Sampai ia pun menerima surat perpisahan dari sang istri, Celia berpesan agar Dawas kembali pada keluarganya.


Tanpa memikirkan perasaan sang istri, Dawas pun setuju begitu saja dan membawa Farraz bersamanya. Ia berpikir jika anak mereka bisa hidup layak jika hidup dengannya.


Namun, ia tidak menyadari jika ada hati yang terluka. Celia memutuskan untuk menjauh dan tidak memberitahukan kehamilan keduanya. Ia berpikir jika hal tersebut akan membebani Dawas.


...***...


Zaidan sudah kembali dan masuk ke dalam mobil menemui istrinya. Ia pun langsung mendekap erat Alina membuatnya tidak mengerti.


Alina merasakan tubuh suaminya bergetar kuat. Ia membalas pelukan itu dan mengusap punggungnya pelan serta menyadari ada sesuatu telah terjadi padanya.


"Berjanjilah untuk tidak meninggalkanku," ucap Zaidan tiba-tiba.


Entah itu sebuah pernyataan atau permintaan, Alina hanya menganggukkan kepala. Ia memberikan kecupan lembut di ceruk lehernya mengendus aroma menenangkan sang suami.


"Aku janji tidak akan meninggalkanmu," balasnya.


Zaidan semakin mengeratkan pelukan dan menangis dalam diam. Fakta yang baru saja didengarnya tadi begitu membuat hatinya terluka.


Keluarganya benar-benar berantakan, ia tidak menyangka diusia tiga puluh mendapatkan kebenaran. Ia berharap setelah itu tidak ada lagi permasalahan yang datang.


Angga, Sarah, dan Calvin yang berada di sana pun hanya bisa diam memberikan waktu kepada Zaidan untuk menenangkan diri.


Calvin yang menyaksikan kakak sepupunya seperti itu pun menyimpulkan satu hal. Jika Zaidan sudah mendengar semua kebenarannya melalui Farraz. Senyum lemah hadir di wajah tampan Calvin merasakan kehangatan menjalar dalam dada.


"Setidaknya sekarang aku punya seseorang yang disebut keluarga. Ayah ... ayah tidak usah khawatir lagi, ada kakak sepupu dan om Farraz yang sudah tahu kebenaran serta keberadaanku," monolognya dalam diam seraya terus memperhatikan kakak sepupu.


Pasangan suami istri yang tengah duduk di jok tengah masih saling merangkul satu sama lain. Zaidan terus mengucapkan hal yang sama yaitu agar Alina tidak meninggalkannya.

__ADS_1


Tidak ingin menanyakan alasannya, Alina hanya mengiyakan perkataan sang suami. Saat ini Zaidan hanya butuh keyakinan untuk membuat perasaannya lebih baik.


...Bersambung......


__ADS_2