
Dalam hidup pasti memiliki dua fase yang terus berubah dan berganti. Terkadang terselimuti air mata dan pedihnya luka, terkadang tawa ceria dan binar kebahagiaan. Keduanya terus bersinggungan kala satu demi satu anak tangga kehidupan terus ditapaki. Perjuangan yang sangat panjang dengan penuh pengharapan dilalui untuk sampai kepuncak. Bertahan dan bersabar menjadi pondasi untuk mengakhiri semuanya, sampai Tuhan mengatakan sudah waktunya pulang.
Tidak apa jika masih ada air mata yang terus membayang, tidak apa jika masih ada perasaan yang tersayat, tidak apa jika diri merasa paling dihinakan. Karena semua itu akan mendapatkan balasan terbaik dari Sang Pemilik Kehidupan. Allah penulis skenario terhebat mempunyai jalan sendiri yang terbaik untuk setiap hamba-Nya.
Percaya dan tawakal menjadi kunci utama.
Jam sudah menunjukan pukul setengah dini hari, hujan di luar masih mengguyur ibu kota. Angin berhembus kencang menerbangkan setiap ranting yang rapuh. Perlahan kelopak mata yang semula tertutup kembali terbuka.
Hal pertama yang tertangkap pandangan hanyalah langit-langit putih di atas sana. Bau obat-obatan dan juga rasa sakit di tangan sebelah kanan menyadarkan. Jika sekarang Alina tengah berada di rumah sakit, lagi.
Ia menoleh ke samping kanan dan kiri hanya kekosongan menyapa. Ini kedua kalinya ia terbaring di sana tanpa seorang suami mendampingi. Air mata meluncur kala teringat akan kejadian beberapa saat yang lalu. Di mana pertengkaran hebat dengan sang suami membuatnya memutuskan untuk pergi dari rumah.
Tidak lama berselang pintu ruangan dibuka seseorang, buru-buru Alina menghapus jejak cairan bening dan berusaha bersikap biasa. Namun, pria berjas putih itu menangkap kesedihan dalam dirinya. Ia lalu berjalan mendekat dan berdiri di samping ranjang itu.
"Kamu sudah bangun?"
Suara tidak asing tersebut mengejutkan Alina. Kedua bola matanya melebar tidak percaya melihat sosoknya.
"Ma-mas Angga," cicitnya.
Senyum manis tersungging di wajah tampan Angga, dokter muda sekaligus sahabat dekat Azam menatap ke dalam manik kecoklatannya.
"Seseorang menemukanmu pingsan di taman dan membawanya ke sini. Dokter kandungan bilang seharusnya kamu tidak berada dalam situasi seperti ini bisa-bisa kehamilanmu bermasalah. Alhamdulillah ketakutan itu tidak terjadi, bayimu sangat kuat. Aku sedang tugas malam di rumah sakit ini dan terkejut saat melihat keadaanmu tadi," ungkapnya.
Kata-kata barusan yang ia dengar meluncurkan bulir demi bulir keristal bening dalam manik sayu di sana. Alina tidak ingat apapun setelah keluar dari rumah Azam. Seingatnya ia menepi di taman dan berusaha untuk tidak menangis. Namun, rasa sesak terus menguasai hingga membuatnya tidak sadarkan diri dan berakhir di rumah sakit.
"Apa sesuatu terjadi dalam rumah tangga kalian? Kenapa malam-malam kamu bisa ada di taman? Bukankah sedang hujan besar sekarang? Ke mana Azam? Apa di-"
"Bisa tinggalkan aku sendiri?"
__ADS_1
Alina menolehkan kepala ke samping kiri menghindari tatapan Angga seraya memotong ucapannya cepat.
Melihat Alina yang tengah menahan tangis dengan tubuh sedikit gemetar Angga mengerti. Ia tidak bisa memaksanya untuk menjawab pertanyaan tadi. Ia lalu keluar dan kembali menutup pintu. Di luar ruangan ia termenung seraya menatap lantai marmer menyelam dalam lamunannya sendiri.
"Apa yang Azam lakukan sekarang? kenapa kedua istrinya bisa berakhir di rumah sakit?" gumamnya gamang.
Dalam diam Alina kembali menangis seorang diri. Ia berusaha meluapkan perasaan sesak dalam dada dan melupakan semuanya.
...***...
Pagi menjelang, udara lembab begitu terasa. Awan gelap masih berkumpul di atas langit menghadirkan rasa dingin. Kesendirian menambah kekosongan dalam dada. Di dalam ruang makan hanya ada ia seorang.
Azam sama sekali tidak menikmati sarapannya. Wajah pucat dengan kantung mata tebal efek dari tidak tidur nyeyak semalam. Ia memikirkan keberadaan Alina dan terkejut kala mengetahui sang istri kedua sudah pergi dari rumah.
Semalam hujan cukup deras membuatnya ketakutan mengenai kondisi Alina. Tidak bisa dipungkiri rasa sesal merayapi hatinya begitu saja. Bayangan tentang semalam begitu sembilu menusuk ke dalam ingatan. Azam tidak menyangka dengan tindakannya sendiri.
"Assalamu'alaikum, iya Angga? Apa Yas-"
"Wa'alaikumsalam. Azam, Alina masuk rumah sakit."
Perkataan cepat Angga seketika membuat bola mata bulat Azam terbelalak. Jantung berdebar kencang dan mulut menganga sempurna.
"Aku harap kamu bisa datang ke rumah sakit xxxx"
Setelah mengatakan hal tersebut Angga pun mengakhiri panggilan tanpa memberikan kesempatan Azam menjawab. Seketika itu juga perasaannya dirundung gelisah. Ada ketakutan merayap dalam dada membuatnya tidak percaya.
Kata-kata Alina semalam kembali berputar. Sang istri begitu ketakutan kala menghadapi pendarahan yang sempat menghinggapinya. Pikiran negatif pun menyambangi pikiran Azam dan dengan cepat ia langsung pergi dari rumah.
Sepanjang perjalanan Azam terus beristighfar mencoba meredam gejolak emosi yang terus berdatangan. Khawatir, cemas, takut menjadi satu. Keringat dingin bermunculan di pelipisnya mengantarkan ia pada kebenaran.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian ia tiba di tempat tujuan. Kedua kaki jenjangnya berlarian di lorong rumah sakit untuk segera menemui istri kedua. Dengan napas memburu hebat ia pun berhenti di depan pintu bercat putih. Ia mengatur sesak dalam dada sebelum bersitatap dengan Alina.
Perlahan pintu terbuka, udara dingin berhembus menyapa kedatangannya. Kekosongan begitu terasa kala tidak ada siapa pun yang tertangkap retinanya. Hanya ada satu ranjang dengan selang infus menggantung di sana.
Kedua mata Azam kembali membola tidak melihat sang istri di manapun.
"Apa ini? Apa Angga membohongiku?" gumamnya.
Tidak lama kemudian tepukan mendarat di bahu kanan, Azam menoleh ke belakang dan mendapati sang sahabat. Pria berkacamata tersebut menggeleng seraya menatap lurus padanya, seolah tengah menyampaikan berita buruk.
Perasaan Azam berkali-kali ketakutan. Baru kali ini ia melihat ekspresi dingin yang dilayangkan Angga. Seburuk apapun keadaannya tidak pernah Azam menangkap mimik tersebut di wajah sahabatnya, termasuk kondisi Yasmin.
"A-apa yang sebenarnya terjadi? Kamu membohongiku Alina masuk rumah sakit?!" ucap Azam dengan nada meninggi.
Dengan satu kalimat yang keluar dari Angga membuat pertahanan Azam roboh. Duanianya hancur begitu saja, kesakitan memukulnya telak, air mata penyesalan meluncur dengan cepat. Ia menegang di tempat seolah ada akar melingkar di kedua kaki. Kepalanya berhenti bekerja seperti dipecahkan palu besar. Kenyataan menampar kuat jika sejatinya keberadaan sang istri sudah tidak ada lagi.
Setelah menepuk pundaknya sekali lagi, Angga pun meninggalkan Azam dengan kehampaan. Kesendirian kembali memeluknya erat mengantarkan pada muara kepedihan. Perlahan tubuh tegapnya berputar melihat ruang inap tersebut.
Selang infus yang menggantung menarik perhatian membuat air mata terus mengalir, menganak bagaikan sungai. Bau obat-obatan begitu menyeruak menusuk indera penciuman.
Azam sadar jika dirinya sudah membuat luka teramat dalam untuk Alina.
"Aku tidak menyangka kamu pergi begitu saja, Al," bisiknya lirih.
Kata-kata Angga terus terngiang dalam pendengaran, jika
"Alina sudah pergi,"
Tiga kata, tetapi mampu membuat seluruh hidupnya hancur.
__ADS_1