Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 172 (Season 3)


__ADS_3

Selepas menghabiskan tiga hari di sebuah pantai, mereka pun kembali pada aktivitas sebelumnya. Sepulang dari liburan Raihan kembali tinggal bersama ibu dan ayah sambungnya.


Ia terkejut saat mendapati rumah baru yang lebih besar dari sebelumnya. Alina pun menjelaskan jika mereka harus pindah, sebab kediaman kemarin tidak nyaman. Itulah kebohongan yang ia berikan pada sang buah hati.


Tepat pada hari ini usia kandungan Alina memasuki lima bulan. Janin di dalam perut sudah mulai terasa menendang-nendang mengejutkan orang tuanya. Kebahagiaan mereka semakin bertambah dengan keberadaan sang buah hati.


Jam menunjukkan pukul enam pagi, keluarga kecil Zaidan tengah menikmati sarapan bersama. Sedari tadi, Zaidan terus bercengkrama bersama bayi dalam perut Alina. Sesekali mereka tertawa kala merasakan tendangan kecil dari sang jabang bayi.


Raihan yang tengah duduk di seberang mereka pun hanya bisa menatap kebersamaan ayah serta ibunya. Suap demi suap nasi ia masukan menjejeli rongga mulut yang entah kenapa terasa sesak dalam dada.


Hampir dua bulan lamanya ia bersama ayah kandung, Azam. Selama itu pula Raihan tidak bertemu ayah serta ibunya.


Layaknya anak yang ditelantarkan begitu saja, ia berpikir Alina dan Zaidan sudah tidak menginginkannya lagi.


Setelah ia berada di rumah Azam, mereka pun mengajaknya pergi liburan. Perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba menyapanya pun membuat Raihan sedikit diam.


Anak itu memperhatikan ibu dan ayah sambungnya yang hanya menghabiskan waktu bersama tanpa mempedulikan keberadaannya.


"Aku sudah selesai," kata Raihan lalu beranjak dari duduk sembari menyambar tas sekolah. Alina dan Zaidan pun terperangah dan menoleh ke arah yang sama.


"Eh, sudah selesai makannya, Sayang?" tanya Alina menatap buah hatinya.


Raihan mengangguk singkat lalu memberikan senyum simpul. Ia menyalami tangan kedua orang tuanya dan hendak melangkahkan kaki. Namun, sebelum itu terjadi suara Zaidan menghentikan.


"Sayang, ayo berangkat bersama," pintanya.


Tanpa menoleh ke belakang Raihan menggelengkan kepala. "Tidak usah, Ayah. Hari ini aku sudah berjanji untuk pergi ke sekolah bersama teman," dustanya.


"Ah, baiklah kalau begitu hati-hati di jalan," balas Zaidan lagi.


"Iya hati-hati di jalan, Sayang," lanjut Alina.


"Eum, Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam," jawab Alina dan Zaidan.

__ADS_1


...***...


Sepanjang jalan menuju sekolah dengan rute yang menjauh, Raihan terus menundukkan kepala. Berkali-kali ia menghela napas dengan perasaan sesak tiba-tiba saja menghujaminya lagi.


"Apa sekarang ayah dan mamah sudah melupakanku? Karena mereka akan mempunyai anak baru, apa aku akan dilupakan begitu saja?" gumamnya lirih.


Tidak lama berselang, tepukan ringan mendarat di punggungnya. Raihan menoleh ke belakang mendapati seorang gadis kecil berhijab tengah tersenyum manis padanya.


"Selamat pagi, Raihan," sapanya ramah.


"Oh, Cyla? Selamat pagi," balas Raihan mendapati teman sekelasnya.


Cyla Haniyah, seorang anak keturunan keluarga Haniyah yang lekat dengan agamanya itu pun mengerutkan dahi. Ia berjalan beriringan dengan Raihan seraya terus memperhatikannya.


"Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya gadis pintar tersebut.


"Ah ... oh, tidak ada. Kenapa kamu bertanya?" tanya balik Raihan.


Cyla tersenyum lalu memandang lurus ke depan di mana banyak pejalan kaki di trotoar. "Tidak, hanya saja kamu seperti sedang memikirkan sesuatu."


Raihan yang lahir dari keluarga broken home dengan kedua orang tua sudah mempunyai keluarga masing-masing pun merasa terasing. Ia tidak bisa seperti anak-anak lain yang bebas mengutarakan kebahagiaan bersama ayah dan ibu.


"Cyla, bisakah ... bisakah aku bertanya?" tanya Raihan sedikit ragu.


Cyla menoleh dan mengangguk singkat. "Tentu, apa yang ingin kamu tanyakan?"


Raihan melihat padanya sekilas dan kembali menunduk. "Apa yang akan kamu lakukan jika ... jika ibumu mempunyai keluarga baru? Maksudku, jika ibumu menikah dan mempunyai anak dari ayah barumu?" tuturnya dengan nada takut.


Tanpa diduga Cyla mengembangkan senyum, gadis berhijab putih itu menengadah melihat langit kelabu pagi ini.


"Kamu tahu ... saat ini aku mempunyai ayah baru. Ibu dan ayah baruku itu sudah hidup bersama tiga tahun dan kelihatan bahagia meskipun ... meskipun aku tidak ada di tengah-tengah mereka. Kemudian, aku pun mempunyai seorang adik laki-laki, kasih sayang ibu dan ayah baruku semakin ditujukan padanya."


"Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, mau mengeluh pun percuma. Aku hanya bisa menerima keadaan ini dengan senyuman."


Kata-kata gadis berusia delapan tahun itu pun bagaikan seorang wanita dewasa yang mengerti setiap keadaan. Cyla juga anak korban broken home di mana kedua orang tuanya berpisah saat dirinya masih berusia tiga bulan. Ia tidak tahu bagaimana rupa ayah kandungnya dan selama ini tinggal bersama nenek dari pihak ibu.

__ADS_1


Mengetahui jika ibunya menikah lagi ia hanya bisa menelan kesedihan dan berpura-pura tegar di balik senyuman.


Mendengar kisah singkat teman sekelasnya, Raihan menoleh menyaksikan bulan sabit bertengger indah di wajah cantiknya.


"Aku ... minta maaf sudah bertanya yang tidak baik," ucap Raihan tidak enak.


"Tidak apa-apa. Tidak ada yang perlu ditutup-tutupi. Aku baik-baik saja dengan keadaanku sekarang," kata Cyla tegar.


Raihan mengulas senyum simpul dan menyadari jika Cyla benar-benar anak yang kuat. Ia bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana berada di posisinya. Meskipun ia juga tidak jauh berbeda dengan teman sekelasnya tersebut.


"Sebenarnya, sekarang ibuku sedang mengandung anak dari ayah baruku. Aku ... tidak tahu harus bagaimana saat mereka lebih perhatian pada bayi itu," ujar Raihan jujur.


Cyla terpaku, tidak menyangka jika Raihan pun merupakan anak dari korban perpecahan. Lagi dan lagi kedua sudut bibir kemerahannya melengkung sempurna.


"Tidak usah sedih, kamu beruntung masih bisa tinggal bersama mereka. Meskipun pada awalnya terasa sakit, tapi setelah terbiasa semua akan baik-baik saja," ungkap Cyla.


Raihan terperangah menyaksikan wajah berbinar di sebelahnya. "Em, terima kasih."


"Maukah kamu menjadi sahabatku?" pinta Cyla menghentikan langkah.


Raihan pun mengikutinya dan bertatap dengan lawan bicara. "Tentu saja, aku mau menjadi sahabatmu."


Cyla terkekeh senang lalu merogoh saku seragamnya mengeluarkan dua permen rasa jeruk. "Ini, sebagai tanda jika kita sudah berteman sekarang."


Raihan tertawa pelan dan menerimanya. "Terima kasih." Ia pun memakannya dengan wajah merenggut. "Asam," ucapnya.


Cyla tertawa ringan melihat reaksinya. "Memang, tapi setelahnya maniskan?" Raihan mengangguk menimpalinya.


"Begitulah hidup, ayo masuk sebentar lagi bel akan berbunyi," ajak Cyla menarik pergelangan tangannya.


Raihan tersenyum lembut menyaksikan gadis kecil tepat di depannya dengan berbinar. Ia melihat tangan yang bertengger di lengannya dengan seksama.


"Aku tidak menyangka ternyata ada anak yang nasibnya sama sepertiku. Nasib Cyla tidak jauh berbeda denganku. Gadis periang ini, menyembunyikan kesedihannya dengan sangat baik," monolognya dalam diam.


Raihan senang bisa bertemu dengan seorang teman yang kondisi keluarganya sama. Mulai sekarang ia bisa berbagi kisah sedih maupun gembira bersama Cyla.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2