Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 230 (Season 3)


__ADS_3

Hari terus berganti, minggu demi minggu terlewati hingga satu bulan kemudian pun datang. Setiap hari hanya ada kisah mendebarkan yang dirasakan oleh Alina.


Jalan untuk mendapatkan kebahagiaan tidaklah mudah, tangga demi tangga yang tersebar kerikil tajam berhasil melukai telapak kaki. Kiasan itu sebagai gambaran bagaimana cerita yang telah dilewati seorang Alina selama ini.


Air mata menjadi teman setia kala kepedihan kian membayang. Namun, sekali lagi kejadian itu tidak akan pernah bertahan selamanya.


Allah sudah menyiapkan kebahagiaan untuknya di ujung tangga. Ia pun berhasil sampai ke puncak dan mendapatkan apa yang sudah menjadi takdirnya.


Hari ini tepat datangnya musim panas tiba. Setelah menitipkan Zenia kepada ibu mertuanya, Alina bertandang ke kantor Zaidan hendak memberikan kejutan.


Ini pertama kali ia datang ke sana atas inisiatifnya sendiri dan juga Moana. Pemilik perusahaan itu pun memberinya saran untuk mendatangi sang suami di kantornya.


Moana mengatakan, "suamimu pasti terkejut melihat istrinya datang. Zaidan akan bahagia sekali didatangi olehmu, Alina. Biar mamah yang menjaga Zenia," katanya tadi pagi ditelepon setelah Zaidan dan Raihan berangkat.


Alina pun menyetujuinya dan di sinilah ia berada tengah berdiri di depan gedung pencakar langit membuat kepala berhijabnya mendongak ke atas.


"Wah, MasyaAllah ini perama kalinya aku melihat langsung perusahaan milik mamah. Apa benar mas Zaidan bekerja di sini dan menjadi pimpinannya sekarang? MasyaAllah, aku tidak percaya," celotehnya riang.


Ia tidak menyadari jika orang-orang yang berlalu lalang di sekitar menatapnya sembari mengembangkan senyum.


Merasakan tatapan mereka, Alina pun sadar lalu berdehem pelan menegakan tubuhnya lagi. Tanpa rasa bersalah ia berjalan masuk ke dalam sembari menenteng kotak makan siang.


Para karyawan yang berpapasan dengannya pun menganggukkan kepala singkat dan mengembangkan senyum.


Mereka tahu jika wanita itu adalah nyonya muda dari keluarga Zulfan yang tidak lain dan tidak bukan adalah istri dari atasannya.


"Hei-hei-hei, kalian tahu." Salah satu karyawan wanita mendatangi kedua temannya yang tengah berdiri di meja resepsionis.


"Apa?" tanya mereka menoleh padanya.


"Wanita yang barusan lewat itu adalah istri tuan Zaidan," katanya menjelaskan.


"Benarkah? Wah, istrinya cantik sekali. Tidak heran jika tuan Zaidan menikahinya," balas salah satu dari mereka.

__ADS_1


"Aku mendengar jika tuan Zaidan menikahi seorang single parent, apa tadi orangnya?" tunjuk wanita yang satunya lagi.


Keduanya pun mengangguk mengiyakan, "tapi memang cantik sih. Mereka cocok bersama," lanjutnya lagi.


Teman sesama pekerjanya mengangguk setuju. Mereka terus memandangi Alina yang tengah berdiri menunggu pintu lift terbuka.


Dalam diam Alina meremas pegangan di tas kotak bekal itu. Samar-samar ia mendengar apa yang para karyawan tadi bicarakan.


"Bagaimana bisa mereka membicarakan ku seperti itu? Aku ingin tertawa, astaghfirullah ya Allah," benaknya mencoba menahan diri untuk tidak tergelak.


Tidak lama setelah itu lift pun terbuka, buru-buru Alina masuk ke sana dan melepaskan senyum. Ia bersyukur keberadaannya bisa diterima dengan baik.


Beberapa saat kemudian Alina tiba di lantai paling atas. Baru saja menginjakkan kaki keluar ia dikejutkan dengan sapaan hangat dari suami sahabatnya sendiri, Zara.


"Assalamu'alaikum, tumben datang ke sini," kata Dimas beranjak dari duduk menyambut Alina membuatnya terperangah.


"Eh, iya Mas ... wa'alaikumsalam. Mamah menyuruhku datang ke sini katanya sekali-kali buat kejutan untuk mas Zaidan," balas Alina sembari menunjukkan barang bawaan.


Dimas mengangguk setuju. "Baiklah kalau begitu silakan masuk, buat dia sangat terkejut."


...***...


Suara ketukan di pintu tidak sekali pun mengusik kesibukannya dari kertas-kertas menggunung di meja. Sang atasan itu acuh tak acuh seraya pandangan terus tertuju pada layar laptop dan berkas-berkas pekerjaan.


"Iya masuk," titahnya kepada si pengetuk pintu yang sedari tadi tidak berhenti.


Sedetik kemudian pintu pun terbuka, Zaidan yang masih sibuk menundukkan pandangan membaca dokumen tidak menyadari keberadaan seseorang sudah masuk ke ruangannya.


Setelah pintu kembali ditutup, seketika aroma citrus yang khas membuatnya terpaku. Zaidan langsung menoleh ke depan dan seketika beranjak dari kursi kebesarannya.


Manik cokelatnya melebar sempurna dengan mulut menawan itu terbuka. Ia memandangi sosok tersebut yang kedatangannya tidak pernah diduga sama sekali.


"Hm? Kenapa? Apa Mas tidak suka aku datang ke sini? Seperti melihat hantu saja," kata Alina memiringkan kepala sembari melebarkan senyum.

__ADS_1


Zaidan tersadar lalu melengkungkan kedua sudut bibirnya lembut. "Sa-sayang? Bagaimana bisa kamu datang ke sini?"


"Surprise, aku sengaja datang tanpa memberitahumu Mas ... karena ingin memberikan kejutan. Bagaimana? Apa Mas terkejut?" tanya Alina beruntun.


Zaidan pun keluar dari meja kerjanya berjalan mendekati sang istri. Ia lalu mengambil barang bawaan Alina dan menuntunnya duduk di sofa tidak jauh dari keberadaan mereka.


"Aku sangat sangat terkejut sekali, Sayang. Kejutan mu berhasil membuat jantungku hampir berhenti berdetak," katanya merangkul sang pasangan hangat.


"Ish, Mas bisa saja. Jangan berkata seperti itu, aku datang ke sini memang disuruh sama mamah dan ... aku juga ingin memberimu kejutan. Oh yah, aku juga membawa makan siang untukmu," celoteh Alina seraya membuka tas kotak bekal mengeluarkan isi di dalamnya.


Alina tersadar kala tidak merasakan ada pergerakan apa pun dari orang di sebelah. Ia menoleh lalu mendapatkan terjangan cepat tanpa bisa dicegah ke bibir mungilnya.


Sang suami menjamahnya pelan membuat Alina tidak bisa berbuat apa pun selain menerimanya.


Beberapa saat kemudian Alina melepaskan pautan itu. Ia menatap hangat sang suami yang masih memegang pinggangnya posesif.


"Kenapa? Apa Mas tidak suka aku datang?" godanya lagi.


"Dari mana datangnya pemikiran seperti itu? Bukan hanya suka, aku sangat menyukainya. Kedatanganmu membuatku memikirkan ide lain," katanya membuat Alina menautkan kedua alis.


"Ide apa? Aku datang ingin makan bersama. Selama ini Mas tidak pernah membawa makan siang. Padahal aku tidak pernah merasa direpotkan sama sekali," balasnya lagi.


"Kalau begitu bagaimana jika setiap hari kamu datang? Kita bisa makan siang bersama dan-" Zaidan menghentikan ucapannya lalu mencondongkan tubuh ke depan tepat di sebelah daun telinga sang istri.


Mendengar perkataan selanjutnya manik jelaga Alina membola. Ia tidak menyangka Zaidan memiliki pemikiran sejauh itu.


Ia mendorong dadanya pelan dengan semburat rona merah menghiasi wajah putihnya.


"Ja-jangan berkata seperti itu, kita makan siang saja. Ini sudah waktunya," usul Alina mencoba mengenyahkan pemikiran aneh sang suami.


Zaidan tertawa senang lalu melepaskan rangkulan. Mereka duduk bersama menikmati makanan yang Alina bawakan.


"Kita harus mengisi tenaga terlebih dahulu sebelum ke pekerjaan selanjutnya." Zaidan masih saja memikirkan hal yang sama.

__ADS_1


Alina memutar bola mata jengah membuat Zaidan semakin tertawa kencang. Namun, jauh dari lubuk hatinya paling dalam ia pun senang melihat suaminya riang gembira.


...Bersambung......


__ADS_2