Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 198 (Season 3)


__ADS_3

Alina, Dimas, dan Angga bisa melihat serta mendengar dengan jelas apa yang tengah dilakukan Zanna di sebuah kafe.


Beruntung ada kamera CCTV berada di gedung lain yang menunjuk tepat di mana Zanna dan seorang pria tidak dikenal tengah duduk bersama.


"Sial, aku tidak bisa mendapatkannya juga. Kenapa pengawalnya bisa lolos begitu saja? Padahal aku sudah menyewa orang-orang terpercaya dari presdir Kang, tetapi sepertinya keamanan mereka lemah. Jadi, kamu harus membantuku."


"Apa yang bisa aku lakukan?"


"Kamu harus membuat video seakan-akan aku berhubungan dengan mas Zaidan. Tenang saja aku akan membayar tinggi. Bukankah kita sudah berteman lama, Ardiansah?"


Percakapan mereka terus berlangsung hingga Alina tahu apa yang hendak dilakukan wanita itu. Ia menggeleng tidak percaya dengan semua yang didengarnya.


"Aku tidak percaya keteguhannya untuk mendapatkan mas Zaidan begitu kuat. Hasilnya memang mengejutkan bahkan aku hampir menyerah dan kalah. Namun, ternyata kenyataan tidak berbuah manis untuknya," ucap Alina.


"Semalam tuan muda memang jatuh pingsan akibat menghirup banyak gas, tetapi sekarang aku tidak tahu bagaimana kondisinya. Karena sebelum aku bisa mengeceknya lagi tiba-tiba saja orang-orang presdir Kang mengetahui keberadaan ku dan mereka berusaha mengejar. Beruntung aku bisa lolos lagi dari mereka dan mungkin saat itulah Zanna pergi menemui tuan muda," lanjut Dimas menjelaskan.


"Syukurlah aku bisa bernapas lega." Alina menghela napas dan mengusap dadanya pelan.


"Wanita itu benar-benar licik, bagaimana bisa meminta seseorang untuk mengedit orang lain menjadi dirinya dan berhubungan intim? Apa dia tidak takut jika dimanfaatkan?" tanya Sarah heran.


"Begitulah jika orang sudah terobsesi apa pun akan dilakukan untuk mendapatkan apa yang diinginkannya," balas Angga mendapatkan anggukan setuju dari Alina.


...***...


Ingatan Alina pun kembali hinggap pada malam tadi, di mana sang suami berhasil pulang dan menemuinya.


"Aku-" Satu kata lolos dari bibir tipis sang istri. Dengan penuh semangat Zaidan menganggukkan kepala beberapa kali.


Mulut ranum itu kembali mengucapkan kata-kata yang membuat ia tidak percaya. Kedua hazelnut nya melebar seketika.


"Aku percaya padamu, Mas. Aku sudah mencari tahu kebenarannya dan ... kalian benar-benar tidak melakukan apa-apa. Ditambah dengan adanya bukti visum ini sudah menunjukan fakta yang terjadi," jelas Alina membuat jantung Zaidan hampir berhenti berdetak.


"Aku berani sumpah kalau aku tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun kemarin malam. Aku sempat teringat jika dini hari menjelang ada seseorang yang masuk kamar. Aku berontak saat orang itu mencoba menyerang ku. Meskipun dalam keadaan pusing teramat kuat aku masih bisa mempertahankan kehormatan sebagai suamimu."

__ADS_1


Alina melebarkan senyum memandang hangat penuh cinta sang suami. Binar kebahagiaan pun tersorot dari kedua maniknya. Lega sudah jika pada kenyataannya Zaidan tidak pernah mengkhianati pernikahan mereka.


Alina sempat terbawa emosi dan menangis sejadi-jadinya serta mengatakan jika Zaidan tidak jauh berbeda dari sang mantan.


Ia menghela napas pelan mengeluarkan segala pengap dalam dada. Alina memandang ke dalam manik teduh suaminya lagi.


"Bisakah Mas memelukku? Aku sangat merindukanmu," kata Alina lemah.


Tanpa mengatakan sepatah kata, Zaidan langsung memeluk istrinya hangat. Ia mengusap punggung rampingnya pelan dan membubuhkan kecupan berkali-kali di puncak kepalanya.


"Aku minta maaf sudah membuatmu khawatir dan kesakitan. Aku juga sangat merindukanmu," aku Zaidan menahan air mata.


"Jangan meminta maaf, jika Mas mengatakannya itu sama saja ... Mas sudah melakukan sesuatu menyakitkan padaku." Zaidan terpaku dan sedetik kemudian mengembangkan senyum.


"Aku minta ma- aw.." Zaidan melenguh kesakitan saat Alina mencubit pinggangnya kuat.


"Iya-iya, maafkan aku."


Alina melepaskan pelukan mereka dan memandang tajam suaminya. "Jangan katakan itu lagi."


Kedua kakinya berjinjit mengecup pelan bibir menawan sang suami. Zaidan membeku di tempat merasakan sengatan tiba-tiba.


"Jangan pergi lagi kalau begini ceritanya. Aku tidak akan mengizinkanmu pergi ke manapun," kata Alina tegas.


Zaidan mengangguk-anggukan kepala. Pikirannya buntu dengan wajah datar tanpa ekspresi. Alina memajukan bibir beberapa senti melihat reaksi sang suami.


"Hm, kenapa Mas diam saja? Apa Mas tidak suka dengan sentuhanku? Atau Mas-"


Belum sempat Alina menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja Zaidan langsung menyerangnya kuat. Ia hampir terjengkang ke belakang jika sang suami tidak cepat merangkul pinggangnya posesif.


Hampir seminggu tidak bertemu, Zaidan langsung melepaskan kerinduannya dengan menjamah wajah mulus sang istri.


Alina hanya bisa menerima dan mengikuti permainannya. Di tengah kegiatan mereka, ia membuka kelopak mata memandang wajah tampan Zaidan.

__ADS_1


Bibirnya yang masih dikuasi melengkung pelan. Ia pun mengalungkan kedua tangan di leher jenjang Zaidan terhipnotis oleh sentuhannya.


"Biarkanlah kejadian kemarin sebagai pengingat diri untuk lebih berhati-hati. Aku sangat terluka, tetapi ... aku juga senang jika Mas Zaidan tidak akan pernah mungkin menyakitiku. Terima kasih Ya Allah sudah melindungi suami hamba," monolognya dalam diam.


Detikan jam menemani kebersamaan menyamai setiap gerakan yang mendera. Sejatinya rumah tangga tidak pernah luput dari sebuah permasalahan.


Entah itu hadirnya orang ketiga, dari keluarga, maupun yang lain. Allah mendatangkan ujian semata-mata hanya ingin seberapa yakin hamba-Nya untuk mengandalkan-Nya. Karena jika Allah sudah mendatangkan cobaan maka akan ada sesuatu di baliknya. Tentu hal itu yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya.


...***...


Zanna masih mematung tidak percaya melihat beberapa foto berserakan di bawah kaki. Manik berlensa hitam legam itu pun bergetar memandangi sang lawan bicara.


Alina melipat tangan di depan dada menyaksikan kebimbangan Zanna. Ia menyeringai tajam lalu menganggukkan kepala beberapa kali.


"Jadi, tidak ada alasan bagiku untuk mempercayai tindakanmu sekarang," kata Alina tegas.


"Kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu setelah bekerja sama dengan presdir Kang untuk menjebak kami. Bahkan tidak hanya saya dan tuan muda saja yang terkena dampaknya, tetapi semua para tamu undangan," jelas Dimas menambahkan.


"Kamu tidak bisa melakukan seenaknya seperti ini, Zanna. Kamu tidak bisa memaksakan kehendak." Zaidan datang turun dari lantai dua yang sedari tadi menyaksikan adegan di sana.


Alina dan Dimas pun menatapnya, sedangkan Zanna masih melihat ke bawah seraya mengepal kuat. Sedetik kemudian ia mendongak menyaksikan pasangan suami istri itu tengah berdiri berdampingan.


Zaidan merangkul pinggang Alina memperlihatkan betapa ia sangat mencintainya. Zanna geram berusaha menahan amarah yang kian menerjang.


"Aku akan menganggap semuanya tidak terjadi apa-apa, jika kamu tidak akan mengulanginya lagi. Cinta tidak bisa dipaksakan, Zanna. Jika kamu mau berubah dan memperbaiki diri lebih baik ... Allah akan mendatangkan pria yang baik juga untukmu."


"Percayalah, tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak. Sekarang-"


"Tutup mulutmu, aku tidak mau mendengar ceramah apa pun darimu. Kalian bisa saja berkata sepert itu ... karena tidak tahu apa yang aku rasakan," ucapnya cepat menyambar perkataan Alina.


Alina mengembangkan senyum dan berjalan beberapa langkah ke depan. "Aku memang tidak bisa merasakan seperti apa kehidupanmu, dan ... kamu juga tidak bisa merasakan ada di posisiku."


Kedua wanita itu saling pandang mengalirkan energi tidak mau kalah satu sama lain. Zanna maupun Alina tetap mempertahankan keyakinan.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2