Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 11


__ADS_3

Air mata mengalir menjadi saksi bisu atas kesakitan yang mendera dalam diri. Entah sudah berapa lama Alina menangis dalam pelukan sang suami. Hal tersebut memberikan efek magis dalam hatinya. Ada kelegaan yang tidak bisa dideskripsikan.


Azam yang merasakan Alian berhenti menangis melonggarkan pelukan dan menyatukan kening mereka. Bola mata kecoklatan itu saling pandang dan menyelami keindahan masing-masing.


Detik demi detik berdenting menjadi melodi penyatuan. Keharominsan hadir kala luka menganga telah tercipta. Menyembunyikan bukan berarti selamanya menyimpan kata baik-baik saja. Di dalamnya mengandung bom atom yang siap meledak kapan saja.


Bunga yang sudah terpetik tidak bisa seperti sedia kala. Kaca yang sudah pacah tidak bisa kembali utuh. Luka yang tergores menimbulkan kepedihan yang tidak berkesudahan.


"Aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf, karena sudah membuatmu terluka. Alina, mulai hari ini aku siap belajar untuk mencintaimu. Bisakah kamu menunggu dan mengajariku?"


Kata-kata manis keluar dari bibir menawan orang paling dicintainya membuat Alina terpaku. Bola matanya bergetar mengantarkan kembali cairan bening meluncur indah di pipinya. Secara naluriah seorang suami, Azam mendekatkan wajahnya memberikan kecupan hangat di dahi, kedua mata, pipi dan berakhir di mulut ranum sang istri.


Sepenuhnya, Alina pun sadar dengan perlakuan manis Azam. Itu bukan mimpi, bukan pula illusi yang ia ciptakan sendiri. Bukan imajinasi yang terkadang mengganggu ketenangannya. Hal tersebut nyata menghinggapi dirinya.


"Be-benarkah apa yang Mas katakan?" tanya Alina ragu.


Azam mengangguk yakin dengan lengkungan bulan sabit hadir di wajah tampannya. Seketika itu juga jantung Alina berdegup kencang. Ia tidak menyangka jika waktu seperti itu bisa datang begitu cepat.


"Ke-kenapa Mas akan melakukan itu? Bagimana dengan mbak Yasmin? Bukankah Mas sangat mencintainya?" tanya Alina lagi masih tidak percaya dengan perubahan suaminya.


Lagi dan lagi Azam kembali memeluk sang istri kedua. Ia membenamkan wajah tampannya di pundak wanita itu. Suaranya yang teredam seketika membuat Alina sedikit menyunggingkan senyum.


"Karena aku ingin belajar mencintaimu. Aku sadar sudah menyakitimu terlalu dalam. Aku benar-benar minta maaf. Pernikahan bukanlah sebuah permainan, tapi janji suci di hadapan Allah."


Itulah yang dikatakan Azam mengundang sedikit kelegaan dalam diri Alina. Namun, ia sadar ada pertanyaannya yang belum dijawab oleh suaminya. Biarkanlah hanya sang waktu yang akan membuka kebenaran tersebut.


Untuk saat ini Alina ingin menikmati setiap momen kebersamaannya bersama Azam. Pria yang dari dulu ia cintai, kini mengakui perasaannya. Azam melihatnya sebagai seorang wanita dan bukan adik semata.

__ADS_1


Alina pun kembali mengangkat kedua tangan dan membalas pelukan hangat sang suami. Momen tersebut akan terus ia ingat disepanjang sejarah kehidupannya. Bagaimana orang yang dicintainya akan belajar untuk mencintainya juga.


"Ya Allah bantu hamba untuk membuka hatinya. Semoga Mas Azam bisa menerimaku sepenuh hati dan mencintaiku apa adanya, aamiin," benak Alina kemudian.


...***...


Jam sudah menunjukan pukul setengah 8 pagi. Hari yang cerah menyambut senyum manis istri kedua tersebut. Alina bangun dengan sumeringah mendapatkan malam yang luar biasa. Setelah melaksanakan salat subuh ia bergegas menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya.


Sedari tadi kedua sudut bibirnya melengkung menandakan perasaannya yang kian membaik. Hampir 3 bulan perjalanan rumah tangganya dengan Azam dan sekarang keadaan terlihat seperti seharusnya. Pria itu bisa menerimanya sebagai istri.


Di tengah kesibukannya memasak, Alina merasakan kedua lengan kekar melingkar di pinggang rampingnya. Seketika ia tersentak dan hampir melepaskan spatula dalam genggamannya lalu menoleh ke samping kiri melihat kepala sang suami bertengger di bahunya.


"Mas," panggilnya menimbulkan rona merah di kedua pipi Alina.


Ia belum terbiasa dengan perlakuan baru suaminya ini. Biasanya ia hanya bisa meliht kebersamaan Azam dan istri pertamanya, Yasmin. Namun, sekarang ia berada di posisi tersebut membuat jantungnya berdegup sangat kencang.


Suara berat sang suami mengalun mengantarkan kegugupan dalam diri Alina. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menahan panik saat hembusan napas Azam menyapu pipinya.


"A-aku memasak makanan kesukaan Mas Azam," jujurnya.


"Benarkah? Aku tidak sabar untuk mencicipinya. Oh yah, bagaimana dengan tubuhmu apa baik-baik saja?"


Azam begitu perhatian memberikan pijitan ringan di sekitar pinggang Alina. Wanita itu semakin merona saat teringat kembali kenangan manis yang mereka lakukan tadi malam. Setelah saling mengungkapkan perasaan di ruang keluarga, mereka kembali melakukan malam pengantin. Kali ini bukan nama Yasmin yang keluar dari mulut manis sang suami, melainkan Alina.


Lengkap sudah perasaan gejolak dalam dadanya tersampaikan dengan pasti. Azam benar-benar melihatnya sebagai Alina dan bukan Yasmin. Mungkin cinta sudah mulai tumbuh? Alina berharap rumah tangganya bersama Azam bisa terus baik-baik saja.


Meskipun ia harus berada di posisi kedua.

__ADS_1


"A-aku baik-baik saja. Lebih baik Mas tunggu di meja makan aku siapkan dulu sarapannya." Titah Alina berusaha mencoba melepaskan diri dari kungkungan suaminya.


Ia takut wajahnya semakin merah jika terus berada dekat dengan Azam. Pria itu pun mengangguk patuh lalu melebarkan senyum dan menepuk puncak kepala istrinya pelan.


Alina bisa bernapas lega dan bergegas menuangkan masakannya ke dalam piring.


Nasi goreng racikan Alina tersaji di hadapannya. Azam yang tidak sabar langsung menyantapnya setelah berdo'a terlebih dahulu. Sedetik kemudian kedua netarnya melebar sempurna saat merasakan perpaduan antara asin, manis dari kecap dan juga gurih dari kuah ayam yang disiramkan melebur jadi satu di dalam mulutnya.


"MasyaAllah ini enak sekali, Sayang."


Panggilan sayang meluncur cepat membuat jantungnya seakan berhenti berdetak. Alina yang tengah duduk tepat di depan Azam mematung seketika. Tangan yang hendak memasukan nasi ke dalam mulut mengambang di udara. Irisnya menatap langsung senyum manis sang suami.


Bunga bemekaran dalam hati Alina menebarkan aroma suka cita membentuk lengkungan bulan sabit di bibir ranum itu.


"A-alhamdulillah, jika Mas menyukainya. Aku senang mendengarnya," balas Alina setelah beberapa saat berlalu.


Azam menganggukan kepala dan terus menikmati sarapannya.


Di temani dengan obrolan ringan mereka menghabiskan waktu bersama di meja makan. Hal langka tersebut membuat Alina merasakan indahnya pernikahan. Harus menunggu berbulan-bulan lamanya untuk ia bisa duduk dan bercengkrama hangat seperti ini dengan sang suami.


Waktu terkadang memberikan kejutan tak terduga, Alina tidak menyangka perlakuan Azam kemarin membuahkan hal manis. Tidak apa ada air mata yang terbuang, nyatanya ada senyum kebahagiaan yang membayang.


Alina bersyukur bisa mendapatkan pernikahan yang laur biasa seperti itu. Berkat Yasmin ia bisa bersanding dengan pria yang dicintainya.


"Tetapi, apa yang akan terjadi jika mbak Yasmin sudah keluar dari rumah sakit? Apa akan kembali seperti sebelumnya? Ahh, tidak aku harap Mas Azam tidak main-main dengan ucapannya. Aku harapan keberadaanku di sini bisa seutuhnya menjadi istri, meskipun harus berperan ganda sekali pun. Ya Allah hamba hanya bisa memasrahkan semuanya pada-Mu," benak Alina lagi.


Senyum pun menghiasi wajah keduanya yang penuh dengan suka cita.

__ADS_1


__ADS_2