
"Sayang~" Lengkingan di pagi hari sudah membangunkan suasana di kediaman tersebut.
Sang raja siang yang baru saja beranjak hendak menuju singgasananya terkalahkan oleh semangat kepala keluarga itu.
Derap langkah kaki mengelilingi apartemen besar mereka. Ia terus mencari dan mencari keberadaan sang pujaan.
Baru saja ditinggal mandi, sosok istrinya sudah hilang dalam pandangan. Bak pengantin baru, Zaidan kelimpungan tidak mendapati pasangannya di mana-mana.
Seraya menenteng dasi hitam garis-garis ia terus menelusuri ruangan demi ruangan. Sampai ia tiba di kamar putra pertama mereka.
Gelak tawa seketika menyapa pendengaran dan bergema di sana, buru-buru ia melebarkan pintu dan mengikuti arah suara.
Pintu bercat putih yang ada di dalamnya menarik ia untuk mendekat, sampai sedetik kemudian pandangan menentramkan jiwa tertangkap iris kelamnya.
Zaidan tersenyum lebar menyaksikan istri dan kedua buah hatinya tengah bermain air bersama. Ia menghela napas lega keluarganya baik-baik saja.
Tanpa mengatakan sepatah kata ia berjalan mendekat dan memeluk Alina dari belakang. Sang istri yang tengah memandikan Zenia pun terkejut merasakan tumpuan di bahu sebelah kanan.
Ia menoleh, mencium aroma maskulin menyeruak dalam diri sang suami. Bibir ranumnya pun melengkung sempurna menarik kurva begitu indah.
"Kenapa pagi-pagi sekali Mas sudah berteriak-teriak? Heboh sekali," ungkap Alina berusaha menahan tawa membayangkan Zaidan seperti anak kecil kehilangan ibunya.
Pandangannya pun jatuh ke bawah melihat ke dalam genggaman tangan Zaidan. Alina tertawa pelan kala hal tersebut bukan pertama kali terjadi.
Pernah waktu itu sebelum ia hamil, Zaidan kelimpungan mencari-cari dirinya. Sambil menenteng dasi pria yang menjabat sebagai suaminya tersebut berkaca-kaca saat tidak mendapati sang pujaan di rumah.
Alina yang baru pulang dari belanja bulanan pun tidak bisa menahan tawa melihat manik bulatnya sudah basah. Zaidan langsung memeluknya erat dan mengeluarkan kata-kata agar Alina tidak boleh pergi.
"Jadi, Mas mencari ku lagi?" tanya Alina menepuk lengan kekar yang masih melilit di perutnya. Zaidan hanya mengangguk-anggukkan kepala layaknya seorang bocah.
"Ayah, kenapa manja sekali? Mamah tidak akan pergi ke mana-mana, iya kan Dek?" Raihan yang tengah mandi di bathtub pun menoleh pada sang adik.
__ADS_1
Bayi yang juga sedang di mandikan di sebelahnya pun menatap Raihan dengan kedua mata berbinar. Bibir mungilnya tersenyum seolah mengerti maksud sang kakak.
Zaidan menatap kedua anaknya bergantian sambil mengerucutkan bibir pelan. "Ayah tidak mau kehilangan Mamah, ataupun kalian, Sayang," jawabnya begitu saja.
"Hemm, bilang saja Ayah memang manja sama Mamah," kata Raihan acuh tak acuh lalu meniup busa sabun di kedua tangan.
Alina mengulas senyum lebar, senang sang buah hati bisa mengerjai ayah sambungnya. "Tidak apa-apa, Sayang. Mamah akan memanjakan kalian semua."
"Benarkah? Oh, aku sangat mencintaimu Alina." Tanpa malu Zaidan membubuhkan kecupan ringan di pipi sang istri.
Raihan yang menyaksikan itu pun melebarkan pandangan. Ia beranjak dari bathtub seraya memberikan tatapan serius.
"Owh, aku tidak bisa melihat drama kalian terus menerus. Uh, mataku sayang jangan sampai melihat kebicunan Ayahmu itu terus menerus." Buru-buru Raihan menarik bathrobe yang menggantung tidak jauh dari keberadaannya.
Setelah mengenakan jubah mandi, Raihan berjalan keluar mendengarkan kata-kata mereka. Dalam diam ia tersenyum sangat lebar dengan keadaan keluarganya saat ini.
"Syukurlah yah, Mah. Sekarang Ayah Zaidan sangat menyayangi kita ... aku turut bahagia untuk Mamah. Semoga pernikahan Mamah dan Ayah Zaidan bisa bertahan selamanya," benak Raihan dalam diam.
Alina dan Zaidan masih mematung setelah aksi putra pertama mereka. Bagikan tersadar orang tua itu pun saling pandang dan memikirkan hal yang sama.
Alina mengangguk mengiyakan, "Kita harus berhati-hati lagi." Sang suami pun setuju.
"Ayo Sayang mandinya sudah yah." Alina pun menggendong Zenia dan pergi dari sana diikuti sang suami.
...***...
Sarapan pagi ini terasa berbeda, kehadiran Zenia menambah kehangatan. Aroma bayi begitu mendamaikan membuat ibu, ayah, serta kakaknya pun tersenyum senang.
Zenia merupakan anugerah tak ternilai yang hadir di kehidupan mereka dan juga keluarga besar. Keberadaannya bisa menyatukan dan mengubah keadaan menjadi jauh lebih baik.
"Sayang, ini kotak bekalnya yah, ini minumnya, dan ini uang bulanan. Jangan lupa makan semua sayurnya, kamu suka menyisakan makanan." Alina memberikan peringatan pada putra pertamanya seraya sibuk memasukan barang-barang ke tas sekolah Raihan.
__ADS_1
Tanpa mengucapkan sepatah kata sang anak hanya mengangguk dan mulai memakai sepatu sedangkan Zaidan berada di ruang keluarga tidak jauh dari tempat makan tengah menggendong Zenia.
Bayi itu nampak tenang dan tertidur lelap berada dalam pelukan sang ayah. Zaidan terus menimang-nimangnya sayang, binar kebahagiaan tercetus begitu kuat dari wajah ayah baru tersebut.
"Ayah, aku ingin mencium adik bayi dulu," jelas Raihan berjalan mendekat.
Zaidan menoleh ke belakang lalu berjongkok di depannya. "Baiklah, adik bayi sudah tidur ayo kita pergi sebelum tuan putri ini bangun?"
Dengan semangat Raihan mengangguk cepat. "Tentu." Ia pun langsung mengecup dalam dahi lebar sang adik bayi.
"Kalau begitu kita pergi dulu yah, Sayang. Jaga Zenia dan dirimu di rumah," kata Zaidan setelah berhadapan dengan Alina.
Sang istri mengangguk dan mengambil alih Zenia. "Em, kalian juga hati-hati di jalan. Aku dan Zenia akan baik-baik saja di rumah menunggu Ayah dan Kakak pulang."
Zaidan tersenyum senang dan membubuhkan kecupan hangat di dahi sang istri dan putri kecilnya. Sampai pandangan mereka bertemu satu sama lain dan mendekatkan wajah masing-masing. Penyatuan pun terjadi beberapa detik sampai suara melengking menyadarkan keduanya.
"Ayah~ ayo berangkat kita bisa terlambat nanti." Raihan yang berada di ambang pintu melihat interaksi kedua orang tuanya terkejut.
Tadi, setelah memberikan ciuman singkat pada adiknya Raihan berjalan keluar rumah bersiap untuk pergi. Namun, sampai beberapa menit sang ayah tak kunjung keluar, ia pun berbalik dan melihat pemandangan menggetarkan jiwa.
Alina dan Zaidan saling menjauh lalu tersenyum kikuk. Untuk kesekian kalinya mereka bermesraan di saksikan oleh Raihan.
"A-ah i-iya Sayang ini Ayah mau berangkat," balas Zaidan kikuk. "Aku berangkat dulu yah, Sayang," lanjutnya pada Alina setelah menyambar tas kerja. Alina mengangguk singkat lalu menyalami tangan sang suami.
"Sayang kamu belum salim sama Mamah," jelas Zaidan seraya berjalan menuju pintu depan.
"Ah Ayah benar." Raihan pun tersadar dan buru-buru mendekati sang ibu yang tengah berjalan mendekat.
"Belajar yang baik, jangan nakal, dan dengarkan apa kata guru di sekolah." Nasehatnya pagi ini, Raihan hanya mengiyakan lalu kembali berjalan mengikuti sang ayah.
Di pekarangan Alina memandangi kepergian suami dan juga putra pertamanya. Ia lalu merunduk melihat wajah damai sang putri kedua.
__ADS_1
"Selamat datang di rumah kami, Sayang. Kamu beruntung memiliki ayah, kakak, dan keluarga besar yang sangat menyayangimu. Semoga nanti kamu bisa selalu akur bersama kak Raihan yah, Mamah sangat menyayangimu," ungkap Alina dan membubuhkan ciuman mendalam di dahi. Dalam tidur Zenia tersenyum lembut seperti mendengarkan perkataan sang ibu dan mengiyakannya.
...Bersambung......