Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 31


__ADS_3

Rintik air dari langit kembali turun menemani keadaan yang terus berubah dan setiap detiknya menghadirkan momen berbeda. Tidak pernah tahu apa yang terjadi setelahnya, hanya rahasia Allah semata. Namun, terdapat kebaikan selepas perginya kesakitan.


Jam sudah menunjukan pukul setengah enam pagi. Setelah melaksanakan kewajibannya Alina duduk di atas ranjang rumah sakit seraya menunduk melihat perutnya yang sudah membuncit. Perlahan kedua tangan mengelusnya memberikan kekuatan pada sang jabang bayi, jika sudah tidak ada sosok sang ayah yang akan menemani mereka. Kepiluan kembali mengantarkan keristal bening mengalir di kedua pipi Alina pun mengusapnya kasar berusaha untuk kuat demi calon anaknya.


Tepat hari ini usia kandungannya memasuki enam bulan. Masa-masa kehamilan yang mendebarkan begitu berharga. Di hari pertama dinyatakan hamil, saat itu juga Alina merasa dunianya lebih berwarna. Ketakutan akan posisi Yasmin mampu ditepis dengan kata-kata hangat yang dilayangkan sang suami. Azam meyakinkan dirinya jika semua akan baik-baik saja.


Namun, ternyata guntur lain datang dan dengan sekejap mata hujan badai menerpa. Alina tidak menyangka jika suaminya akan menuduh yang tidak-tidak. Hancur sudah harapan untuk bisa bersama selamanya, rasa sakit menuntunnya untuk menyerah.


"Sayang, mulai hari hanya ada Mamah dan kamu. Kita bisa melalui semua ini tanpa ayah, kan? Kamu baik-baik yah di sana sampai kita bertemu. Mamah akan berjuang keras untuk kehidupan kita berdua." Celoteh Alina diakhiri senyum lemah.


"Apa kamu tidur nyenyak?"


Seseorang kembali ke ruangannya, Alina menoleh ke arah pintu di mana sosok itu berdiam diri di sana.


"Apa aku boleh masuk?" tanyanya kemudian.


Alina hanya mengangguk singkat dan melihatnya berjalan mendekat. Hening melanda hanya dentingan jam yang terus berdetak memenuhi ruangan. Alina menundukan kepala lagi menunggu apa yang hendak disampaikan pria ini.


"Aku tidak bermaksud ikut campur dalam urusan rumah tangga kalian, tapi sebaiknya kamu menghubungi Azam. Aku takut dia khawa-"


"Tidak usah. Jangan pernah beritahu dia," potong Alina cepat.


Angga termangu kala mendengar nada dingin terlontar. Ia tahu sudah terjadi hal tidak menyenangkan dalam pernikahan mereka. Sebagai sahabat Azam dan sudah menganggap pria itu keluarga, Angga tidak bisa membiarkannya begitu saja.


Dalam diam Angga memperhatikan Alina yang terus menunduk dalam. Sebersit perasaan kasihan menyapanya cepat. Ia turut merasakan kesedihan yang menguar di balik ketenangan Alina. Kedua tangan sang dokter mengepal kuat lalu berlalu dari ruang rawat tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi.


Alina mendongak menatap pria itu terus berjalan menjauh, sedetik kemudian dahinya mengerut dalam kala memperhatikan gerak gerik Angga. Firsat dalam hati mengatakan jika sesuatu hal akan terjadi. Alina lantas turun dari ranjang dan menarik gagang infus untuk mendekat ke arah pintu.


Samar-samar ia mendengar Angga tengah berbicara dengan seseorang dan disaat namanya disebut kedua mata melebar seraya tangan bergetar ketakutan. Tanpa memikirkan apapun lagi, Alina langsung mencabut infusan di tangan kanannya dan seketika itu juga darah berceceran. Tidak mengindahkan rasa sakit, Alina bergegas keluar pergi begitu saja

__ADS_1


Air mata mengalir tak tertahankan, sesak dalam dada begitu menguap mengantarkan ketakutan tiada tara. Pintu keluar rumah sakit tertangkap pandangan, baru saja ia hendak lolos dari bangunan tersebut tiba-tiba saja sosok Angga datang menghadang.


Napas Alina tercekat seketika, pria itu menatapnya serius dengan dada naik turun. Tanpa disadarinya, Angga sudah melihatnya sejak keluar dari ruang inap. Ia terus memanggil nama Alina dan berusaha menyusulnya. Namun, Alina terfokus pada bayang-bayang delusi yang belum tentu terjadi.


Ketakutan menguasi menjadkannya hilang arah.


"Apa yang kamu lakukan? Kenapa pergi begitu saja? Dokter Dara belum mengizinkanmu keluar dari rumah sakit, sekarang ayo kembali."


Alina menggelengkan kepala beberapa kali dan terus menerus melihat ke arah lain. Selangkah demi selangkah ia pun mundur ke belakang menghindari Angga yang seakan memaksanya untuk kembali.


"Kenapa?"


Suara serak nan lemah pun terdengar, Angga menautkan kedua alis tidak mengerti.


"Kenapa kamu menghubungi dia dan mengatakan aku ada di sini? Apa yang kamu inginkan? Kenapa kamu ikut campur dalam urusan rumah tangga orang lain?" tanya Alina dengan berlinang air mata.


Azam terpaku menatap ke dalam sorot mata berair di sana. Ada kekosongan dan juga kehampaan yang membelit rasa sakit membentuk trauma baru.


"Tanpa disuruh pun aku memang berniat menyelesaikan semuanya."


Mendengar penuturan Alina, Angga kembali mengerutkan kening merasakan sesuatu yang tidak benar.


"Apa maksudmu?"


"Tiga bulan lagi aku akan mengakhiri pernikahan ini."


Alina pun pergi dari hadapan sang dokter menyisakan ketidakpercayaan. Angga kembali termangu mencerna kata demi kata yang keluar dari celah bibir pucat istri kedua sahabatnya. Sedetik kemudian ia sadar jika wanita itu sudah pergi.


Buru-buru Angga kembali menyusulnya dan mengatakan sebuah penawaran. Alina terdiam memikirkan perkataannya dan memikirkan hal tersebut. Hingga pada akhirnya,

__ADS_1


"Baiklah, aku terima."


Angga tersenyum lega.


...***...


Hal yang tidak diinginkan harus terjadi. Setelah membawa Alina, Angga kembali masuk ke dalam gedung. Langkah demi langkah ditapaki menyusuri lorong membawa dirinya ke ruang inap yang didiami Alina beberapa saat lalu. Ia menghentikan langkah kala pandangannya jatuh ke objek dengan jarak sepuluh meter dari hadapannya.


Angga melihat sang sahabat terdiam mengamati ruangan yang sudah kosong. Dadanya terasa sakit kala ikut andil dalam kehidupan rumit rumah tangga mereka. Namun, ia juga tidak bisa membiarkannya begitu saja, bagaimana pun Azam sudah banyak membantunya di masa lalu.


Angga menepuk pundaknya pelan membuat sosok Azam menoleh. Ia terkejut kala melihat jejak kesedihan dan kehilangan teramat dalam yang belum pernah terlihat. Ia mengerti jika Azam sudah mencintai istri kedua tanpa disadarinya.


"Angga."


Angga tersenyum sekilas dan kembali menatap ke dalam manik ketakutan sang sahabat.


"Alina sudah pergi."


Bagai menebar garam di atas luka, perih, pedih menjadi satu mengantarkan air mata jatuh tak tertahankan. Angga ingin mengatakan yang sebenarnya, tapi ia sudah berjanji pada Alina untuk membantu.


Setelah mengatah itu ia pun pergi meninggalkan Azam seorang diri.


"Ini pertama kali aku melihat Azam dengan luka kehilangan yang begitu dalam. Apa dia belum sadar jika cinta sudah ada dalam hatinya? Aku tidak mengerti dengan keadaan mereka. Bagaimana pun juga aku sudah berjanji pada Alina untuk membantunya," monolog Angga dalam diam.


Sedangkan wanita yang tengah berbadan dua itu kini duduk seorang diri dalam mobil pribadi Angga. Ia menunggu sampai pria itu selesai dengan tugasnya. Ia tidak menyangka jika Angga yang kelihatan tidak menyukainya, kini malah menawarkan diri untuk membantu.


Alina teringat kata-kata yang diucapkan Angga beberapa saat lalu.


"Aku akan membantumu. Baik dan buruknya nanti, aku menginginkan akhir yang baik untuk Azam. Bayimu berhak mendapatkan kehidupan yang layak."

__ADS_1


Alina menghela napas panjang dan menatap keluar di mana rintik air hujan perlahan turun. "Aku tidak menyangka jika akan seperti ini," bisiknya lirih.


Keadaan terus berubah. Karena apapun yang terjadi Allah sudah mempersiapkan yang terbaik.


__ADS_2