
Kegaduhan masih tercipta dalam dada kala kata demi kata tepat mengenai sasaran terus berdengung. Zanna beranjak dari duduk memandang tajam ke arah satu sosok yang terus menjauh.
Tanpa hujah ia melangkahkan kaki dan langsung mencengkram pergelangan tangan Alina. Sontak sang empunya tersentak lalu menoleh ke belakang.
Ia menyaksikan kedua mata Zanna memerah seraya memolototinya tajam. Tanpa rasa takut maupun was-was Alina menyeringai membalas tatapan itu tak kalah tajam.
"Kenapa? Apa masih ada sesuatu yang ingin kamu katakan lagi? Apa kamu masih tetap akan mengejar mas Zaidan?" tuturnya kemudian.
Zanna semakin mencengkram kuat pergelangan tangan Alina yang tidak terasa sakit saat perhatiannya hanya fokus pada lawan bicara.
"Aku tidak akan menyerah begitu mudah," kata Zanna lagi.
Alina pun menyentakan tangan lentik itu seraya mendengus pelan. "Maka lakukanlah apa yang bisa kamu lakukan. Kita lihat saja siapa nanti yang akan menjadi pemenangnya."
Mendengar penuturan itu, Zanna tidak terima dan melayangkan tangan kanan hendak menampar pipinya keras. Namun, Alina yang membaca gerakan tersebut seketika menahan pergelangannya kuat.
"Aku tidak akan membiarkan tanganmu menyentuhku. Aku sudah tahu dan hafal bagaimana trik murahan yang dilakukan wanita seperti kalian."
Alina menghempaskan tangan Zanna kasar dan memandanginya remeh. "Aku tidak peduli apa kedudukanmu, tapi yang jelas aku tidak akan membiarkan siapa pun mengusik rumah tangga kami."
Tegas dan jelas, Alina semakin menyudutkan Zanna yang semakin tidak terima dan hendak melayangkan kembali tamparannya.
Namun, kali ini ada tangan lain yang mencegahnya. Kedua wanita itu menoleh ke sisi yang sama, di mana di sana Zaidan tengah menatap nyalang pada Zanna.
"Mas Zaidan?" tutur keduanya terkejut.
"Aku masih menghargaimu sebagai teman kecil, tapi ... aku tiak akan pernah membiarkan kamu menyakiti istriku!" geramnya lalu menghempaskan tangan Zanna kasar.
Sang empunya mengaduh kesakitan lalu menggosok-gosok rasa perih menggunakan tangan kiri. Ia memandang ke dalam manik Zaidan seolah menutut belas kasih.
Kepala bersurai hitam legamnya menggeleng beberapa kali mencoba memberikan pembelaan pada diri sendiri.
"Kamu salah paham, aku tidak bermaksud untuk menyakiti istrimu. Aku-"
"Diam! Dari tadi aku sudah mengawasi kalian, mulai saat ini aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai temanku lagi."
__ADS_1
"A-apa? Kenapa kamu melakukan semua itu hanya demi wanita seperti dia?" Zanna menunjuk tepat di depan wajah Alina.
Zaidan mendengus kasar memandang lekat wanita mantan kekasihnya. "Itu sudah jelas, dia adalah istri yang sangat aku cintai."
Zanna terperangah tidak percaya, kilatan dalam manik Zaidan menjelaskan apa yang tengah dirasakan. Bagaikan harapan yang sulit dicapai, ia tidak bisa menerima semua kenyataan tersebut.
"Apa kamu pikir setelah pernikahan kalian terjadi aku akan menyerah begitu saja? Apa kamu tidak mendengar apa yang dikatakan penonton tadi? Aku harus bisa merebutmu lagi dari sisi dia, aku ... mencintaimu, Mas," jelas Zanna mengungkapkan perasaan.
Seketika manik jelaga Alina melebar menatap nyalang Zanna. Beberapa pejalan kaki yang mendengar penuturan itu pun menoleh ke arah mereka seolah menyaksikan drama televisi.
"Apa kamu tidak berpikir apa yang kamu katakan barusan? Kamu-"
"Bukankah kamu kembali merendahkan diri sendiri? Sudah cukup Zanna, aku tidak mau melihatmu terus menerus mempermalukan dirimu." Alina langsung memotong ucapan suaminya.
"Kamu jangan ikut campur, ini urusanku dengan Zaidan," balas Zanna tidak terima.
"Oh justru aku sangat harus ikut campur, sebab dia suamiku sekarang. Aku-"
"Sudahlah, tidak usah diperpanjang. Ayo Sayang, kita pergi." Zaidan langsung menggenggam tangan Alina hangat lalu membawanya pergi dari hadapan Zanna.
"Awas saja, aku akan membuat kalian benar-benar menyesal," geramnya penuh niatan.
...***...
Sepanjang jalan hanya ada suara mesin mobil sebagai peneman. Alina terus memadang keluar jendela menjernihkan pikiran.
Ia tidak mau setelah kejadian barusan mempengaruhi kandungannya. Bagaimanapun ia harus memprioritaskan sang jabang bayi.
"Aku minta maaf," kata Zaidan yang sedari tadi terus memerhatikan Alina.
Sang istri menoleh singkat lalu menopang dagu di jendela tanpa ada niatan mengatakan sepatan kata. Ia sudah lelah dengan kejutan demi kejutan yang tidak pernah diharapkan kedatangannya.
"Sayang." Panggil Zaidan mencoba menarik perhatian.
Ia menggenggam hangat sebelah tangan Alina erat menyalurkan kehangatan. "Aku benar-benar minta maaf. Aku sudah-"
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, hanya saja ... kenapa kamu kembali lagi? Bukankah ada rapat penting sebentar lagi?" tanya Alina yang kini menatap lekat sang suami.
Zaidan memandang sekilas dan berusaha fokus menyetir. "Rapat itu tidak penting. Aku meraskaan firasat tidak enak saat melihatmu berbalik tadi. Aku pikir kamu akan menghentikan taksi, tapi nyatanya menemui seseorang."
"Jika aku tidak kembali lagi entah apa yang akan terjadi? Apa kamu tidak akan memberitahukan kejadian tadi padaku?" pikir Zaidan.
Tanpa mengelak Alina menganggukan kepala cepat. "Itu benar."
"Kenapa?" tanya Zaidan heran.
Alina menghela napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia lalu menatap lurus ke depan menyaksikan pemandangan menyejukan jiwa.
"Karena bagiku tidak ada hal penting yang harus dibicarakan, wanita itu-"
"Kamu salah Alina, jika memiliki pemikiran seperti itu. Penting ataupun tidak semuanya harus dibicarakan. Kamu ingat? Aku ini suamimu ... aku berhak tahu apa yang sudah dilakukan istriku. Karena aku tidak ingin kamu memendam semuanya sendirian."
"Ada aku yang bisa kamu bagi, baik itu kesenangan maupun kesusahan. Bukankah suami istri seharusnya menanggung hal tersebut bersama-sama? Aku ingin menjadi seseorang yang bisa kamu andalkan, Alina. Aku bukan suami yang hanya menafkahimu saja, tetapi ... aku lebih dari itu."
"Aku seorang pendamping yang juga ingin menanggung kesediahanmu, Sayang," tutur Zaidan panjang lebar.
Alina terperangah, kata-kata yang hendak dilontarkan tercekat di tenggorokan. Setetes air mata jatuh tak tertahankan. Ia menangis dalam diam merasakan kehangatan menjalar dalam dada.
Selama delapan tahun ia membina rumah tangga bersama Azam, kesusahan maupun kesenangan itu hanya bisa dipendam sendiri. Ia tidak bisa mengatakan semuanya pada sang suami, sebab Alina pikir akan menambah beban saja.
Ia lebih senang menyembunyikannya. Karena waktu itu lebih baik diam dari pada harus mengusik ketenangan keluarga yang sudah susah payah ia bangun.
Namun, setelah menikah dengan Zaidan perlakuannya begitu berbeda. Alina spesial yang diperlakukan begitu istimewa.
Ia layaknya ratu yang sangat dilindungi serta diberikan perlindungan luar biasa. Zaidan bagaikan ksatria yang siap berdiri di barisan paling depan untuk melindunginya.
"Sayang kenapa kamu menangis?" Zaidan kelimpungan menyadari Alina mengeluarkan air mata.
Ia kemudian menepikan mobil dan langusung membawa sang istri ke pelukan hangat. Seketika isakan terdengar lirih, Zaidan terus mengusap punggungnya pelan menyalurkan ketenangan.
...Bersambung......
__ADS_1