Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 104 (Season 2)


__ADS_3

Alina terus memperhatikan wanita yang sudah hampir enam bulan ini menemani hidupnya. Sedari tadi dahi lebar itu mengerut memerhatikan setiap gerak gerik sang lawan bicara.


Alina yang tengah menguleni adonan tidak henti-hentinya menatap wajah sumeringah itu. Tidak dipungkiri rasa penasaran pun merebak semakin kuat.


"Apa ada sesuatu yang terjadi, Zara? Hm, aku perhatikan sedari tadi kamu senyum-senyum terus," ujarnya menyadarkan.


Zara tersentak dan memandanginya sekilas lalu menatap tembok bercat putih.


"Em ... aku merasa lega itu saja," balasnya singkat.


"Tunggu, ini sudah hampir tiga bulan sejak perceraianku di laksanakan, kamu ... apa kamu bermaksud untuk tinggal di sini bersamaku? Hei, bagaimana pekerjaanmu di ibu kota? Apa-"


"Syut, jangan terus berbicara Alina. Aku sudah tidak bekerja sebagai sekertaris pria itu lagi." Zara langsung memotong ucapannya cepat sambil mengacungkan jari telunjuk yang dipenuh tepung terigu tepat di depan wajah Alina.


Sang lawan bicara pun tersentak dan menepis pelan tangan Zara.


"Hati-hati di mana kamu menempatkan jari itu," keluhnya.


Zara terkekeh pelan dan meletakan kedua tangan di atas adonan kue donat.


"Sebenarnya, sudah lama aku ingin keluar dari pekerjaan itu, dan baru kesampaian sekarang. Ini bukan karena kamu atau siapa pun, tetapi untuk diriku sendiri. Iya, meskipun waktunya memang bersamaan. Aku juga sudah muak harus bertemu mas Azam setiap hari."


"Aku sadar seharusnya tidak mempunyai perasaan kepada suami orang, dan ... perjodohan waktu itu adalah karma yang harus aku terima," oceh Zara dipungkas senyum lembut.


Alina pun melakukan hal sama dan tidak menyangka mendengar penuturannya.


"Iya memang tidak dibenarkan jika kita mempunyai perasaan kepada pria yang sudah beristri, tetapi ... kita juga tidak bisa menyalahkan jika rasa itu datang tiba-tiba. Karena Allah yang sudah memberikannya, semua kembali pada kita. Apa sanggup mengembannya ke arah yang lebih baik atau sebaliknya."


"Karena cinta itu juga datang sebagai ujian. Apa dengan cinta kita bisa lebih dekat pada Allah atau malah lebih menjauh. Aku juga sudah merasakannya. Kata-kata ini memang untukku sendiri," celoteh Alina menerawang lurus ke depan.


Zara lagi-lagi dibuat takjub dengan pemikiran yang Alina layangkan. Selama mengenalnya ia sudah banyak mendapatkan pelajaran berharga.


Bener apa kata orang, carilah sahabat yang baik. Jika kita berteman dengan penjual parfum maka kita juga akan terkena wanginya. Begitu pula dengan hal-hal kurang baik.


Zara bersyukur sudah dipertemukan dengan sosok yang luar biasa. Dari Alina, ia banyak menemukan hal tidak terduga.


"Terima kasih, Alina untuk tidak membenciku. Karena sudah mencintai suamimu bahkan sempat memberikan kata-kata kurang mengenakan. Aku-"

__ADS_1


"Syut, tidak usah dipikirkan. Sekarang mari kita buka lembaran baru dan lupakan yang lama. Tidak ada gunanya terus berjalan dan terjebak masa lalu. Kamu sudah berhijrah dan menyesali perbuatanmu. Aku bangga menjadi bagian dalam perubahanmu ini," kata Alina menyambar ucapannya cepat.


"Ah, aku benar-benar menyayangimu." Zara pun merentangkan kedua tangan hendak menerjangnya.


Alina pun mundur dan menahan tangannya cepat. "Lebih baik kita selesaikan kue ini," ingatnya.


Zara terkikik dan mengangguk semangat. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain mendapatkan sahabat sekaligus saudara yang saling memahami.


...***...


"Apa benar ini tokonya?" tanya wanita paruh baya berselendang putih bersih.


"Itu benar, Mah," balas sang putra.


"Wah, bangunannya cantik sekali. Sangat tepat membuka toko kue di depat pantai seperti ini," lanjut pria paruh baya memerhatikan sekitar.


Ketiganya terus mengamati bangunan bercat putih berlantai satu dengan kaca besar mengelilinginya. Hal tersebut memperlihatkan keadaan di dalam yang begitu rapih.


Dihiasi dengan bunga-bunga anyelir semakin menambah kecantikan lingkungan sekitar. Kedua paruh baya yang baru datang ke sana pun langsung terkesima. Mereka terhipnotis akan kebersihan yang dijaga sang pemilik.


"Siapa itu?" tanyanya pada diri sendiri.


Rasa penasaran membawanya melangkah keluar dan membuka pintu. Ia terkejut kala mendapati tamu tepat di depan toko yang masih tutup.


"Ma-Mas Zaidan?" Pikirannya buntu seketika memandanginya dalam diam. Sampai, "ALINA, ADA MAS ZAIDAN." Zara berteriak heboh sambil masuk kembali ke dalam dan melupakan ketiga orang di sana. Mereka pun saling pandang dan tersenyum melihat kelakuannya.


Alina yang masih sibuk di dapur pun terkejut saat mendapati Zara berlarian mendekat. Napasnya tersengal-sengal kala mereka sudah saling berhadapan.


"Apa yang membuatmu heboh seperti itu?" tanya Alina heran dengan alis saling berpautan.


"Di-di-di depan ada Mas Zaidan, tapi dia tidak sendirian. Sepertinya ia membawa kedua orang tuanya," jelas Zara mengingat dua orang di sisi Zaidan yang memiliki wajah yang sama.


Suara benda jatuh mengejutkan keduanya. Buru-buru tanpa menjawab perkataan Zara, Alina melangkahkan kaki ke depan. Seketika maniknya melebar sempurna dan mendekati mereka.


"Se-selamat datang. Mohon maaf atas sikap tidak sopan saudari saya. Silakan masuk," ucap Alina mempersilakan seraya membuka pintu lebar-lebar.


Zaidan memandangi kedua orang tuanya yang tengah menatapnya lekat. "Dia, kan?" tanya sang ibu.

__ADS_1


Putranya mengangguk sekilas, "ayo masuk." Ia menggandeng ayah serta ibunya ke dalam.


Alina yang tengah menyiapkan minuman hangat memandang sekilas ke arah mereka. Zara yang baru keluar dari dapur menyenggol bahunya pelan.


"Calon mertuamu, Al," godanya.


"Kamu bisa saja." Alina mengulas senyum simpul.


Zara terkikik pelan seraya kembali berbisik, "Tidak usah malu, bagus untukmu dicintai pria luar biasa seperti Mas Zaidan."


Alina hanya mengulas senyum seraya menggeleng beberapa kali. Setelah itu ia melangkahkan kaki sambil membawa nampan berisi tiga minuman hangat dan kue manis sebagai pendampingnya.


Dalam diam Zara memandanginya seraya berujar lirih, "semoga kamu bisa membuka hati lagi, mas Zaidan benar-benar mencintaimu. Aku yakin dia bisa membahagiakanmu."


...***...


Alina meletakan makanan serta minuman di atas meja. Mereka duduk di kursi paling pojok jauh dari jangkauan orang-orang.


Sedari tadi orang tua Zaidan memperhatikan gerak-gerik Alina. Ayah dan ibunya saling pandang lalu menerbitkan bulan sabit sempurna.


"Nak Alina?" tanya Moana.


Alina yang baru selesai dengan tugasnya pun menegakan tubuh kemudian mengangguk. Ia menatap mereka bergantian dan menunduk menghindari tatapan.


"Itu benar, Nyonya. Saya Alina," jawabnya halus.


"Bisa kita bicara sebentar?" kata Moana lagi.


Alina kembali mengangguk dan menarik kursi di seberang mereka. Sambil memangku nampan ia terus menunduk merasa malu berhadapan dengan orang besar seperti keluarga Zulfan.


"Kedatangan kami ke sini ingin menemani Zaidan ... untuk melamarmu." Perkataan tegas nan lantang diucapkan oleh sang kapala keluarga.


Seketika Alina mendongak, manik hazelnutnya melebar sempurna. Bola matanya bergetar dengan mulut ranum terbuka sedikit.


Alina terkejut dan tidak menduga jika perkataan tersebut tersampaikan begitu cepat. Jantungnya berdegup kencang bersama sebuah harapan yang tidak percaya diri untuk ia gapai.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2