
Menggantung sebuah hubungan tidaklah mudah. Terkadang menimbulkan luka teramat dalam serta menorehkan kepedihan.
Setiap kejadian memilukan yang pernah menepi dalam hidup sudah menjadi jalan cerita-Nya. Allah merupakan penulis skenario terbaik dan terhebat. Apa pun yang terjadi telah diperhitungkan dengan baik. Tidak salah mengeluarkan air mata guna meredakan kepedihan dan jangan mengeluh.
Sabar dan yakin menjadi tujuan guna menjalani kehidupan penuh misteri. Tidak patut membenci ataupun menuntut seseorang untuk mengikuti keinginan. Semua sudah ada takarannya masing-masing tinggal menjalaninya dengan baik.
Semalam menjadi peneman memikirkan semua kegundahan, tidak mudah berada di posisinya saat ini. Alina harus kuat untuk buah hatinya dan memberikan yang terbaik.
Siang ini langit begitu cerah, awan putih berarak di atas bentangan biru seluas mata memandang. Sesekali angin sejuk hadir menemani kesendirian Alina yang tengah berada di kafe dekat perusahaan sang suami.
Ia duduk di luar seraya menikmati minuman dinginnya. Sudah sepuluh menit ia berdiam diri di sana dan sesekali melihat ke arah gedung di sebelah.
Tidak lama berselang seseorang yang ingin ia temu keluar. Buru-buru Alina beranjak dan berlari kecil mendekatinya.
"Yasmin?" panggilnya cepat.
Yasmin menoleh mendapati istri dari rekan kerajanya, senyum manis terpendar kala pandangan mereka saling bertubrukan.
"Iya, em, Nyonya Alina?" balasnya.
"Bisa kita bicara?" pinta Alina kemudian.
Yasmin menunduk melihat arloji melingkar di lengan kirinya kemudian kembali menatap Alina. "Em, sepertinya tidak bisa, saya harus segera pergi ke rapat di timur kota."
Alina mengangguk singkat kala melihat Yasmin yang hendak melangkahkan kaki. Namun, ucapannya membuat wanita itu terdiam kaku.
__ADS_1
"Jasmin ... dia adik kembarmu, kan?" Alina menoleh, bibir ranumnya melengkung sempurna dengan tatapan tajam mengarah pada orang di sebelahnya.
Kepala berhijab Yasmin menoleh perlahan, manik jelaganya melebar dengan mulut sedikit terbuka.
"A-apa yang kamu katakan?" tanyanya gugup.
"Jasmin Zakkiyah, lahir 12 Desember tahun 198* dari keluarga Zibran pengusaha tambang. Ia lulus dari Universitas terkenal di ibu kota dan menjadi seorang desainer fashion ... Jasmin Zakkiyah adalah anak kebanggan keluarga dengan prestasinya yang gemilang. Ia mampu mendapatkan berbagai penghargaan di luar maupun di dalam negeri. Sayang ... ia harus-" Alina menjeda ucapannya lalu mencondongkan tubuh ke depan tepat di samping telinga kanan Yasmin. Ia berbisik di sana membuat sang empunya semakin melebarkan kedua mata.
Degup jantung Yasmin bertalu kencang lalu menoleh melihat Alina yang kembali melempar senyum penuh makna. Sang desainer interior tersebut mengepalkan kedua tangan menahan gejolak dalam dada.
"Apa yang kamu inginkan dariku?" tanyanya balik.
Alina menarik diri lagi dan mundur beberapa langkah ke belakang. Mereka tidak mempedulikan orang-orang berlalu lalang di trotoar tersebut.
Keduanya saling pandang melempar keseriusan dan tujuan dalam diri masing-masing. Alina yang berjuang untuk mempertahankan keluarganya dan Yasmin dengan alasannya sendiri.
Yasmin termangu, lidahnya kelu tidak bisa mengatakan sepatah kata pun. Ia sadar jika sudah berhadapan dengan seseorang yang tidak mudah. Ia pikir Alina adalah wanita yang mudah dibohongi dan dibodohi. Namun, wanita itu lebih tajam dari bayangannya.
"Tidak usah membaca pergerakanku, inilah bukti jika wanita yang pernah disakiti tidak mudah untuk dipermainkan. Kalian sudah salah masuk ke dalam rumah tangga kami. Aku-" Alina menunjuk dirinya sendiri. "Aku tuan rumahnya dan aku akan menentukan permainan yang kalian berikan." Senyum mengejek itu hadir membuat Yasmin mendengus.
"Apa kamu pikir dengan berbicara seperti itu aku takut? Sampai tujuanku terpenuhi maka semuanya tidak akan pernah berakhir," jawabnya begitu saja.
Alina terkekeh pelan lalu maju satu langkah ke depan dan tepat menatap manik berlensa abu lawan bicarannya.
"Silakan ... silakan kamu bermain sepuasnya. Asal kamu tahu, wanita yang pernah dikecewakan tidak akan sama lagi. Cinta? Kamu yakin mas Azam mencintaimu? Dia hanya melihatmu sebagai pengganti Jasmin ... ah, kamu juga tidak mencintainya. Kamu ... hanya memanfaatkannya untuk membalas rasa sakit itu." Alina terus memprovokasi.
__ADS_1
Yasmin lagi-lagi melebarkan pandangannya. Ia tidak menduga sudah salah menilai seorang Alina. Saat pertama kali melihatnya dalam foto, ia pikir istri dari Azam itu adalah wanita polos yang bisa dipermainkan begitu mudah. Ia tidak tahu jika kini rahasinya satu persatu mulai terbongkar.
Namun, ada sesuatu di balik tatapan nyalang yang diberikan. Yasmin menyadari jika kekuatan seorang ibu dan istri tidak bia dianggap remeh, tetapi ia tidak bisa mundur begitu saja. Dirinya sudah terlanjur basah dan akan berenang sampai tujuan.
"Aku tidak peduli ... kamu ingin aku mundur dari situasi kita sekarang? Itu tidak mungkin, karena-"
"Karena kamu ingin menyakiti hatinya, kan? Sama seperti ia pernah menyakiti hatimu. Sudah sangat jelas, terima kasih atas kerja samanya ... Yasmin." Alina memotong ucapannya cepat.
Ia melangkahkan kaki seraya menepuk pundaknya pelan. "Ah, jangan lupa lusa ada acara di perusahaan kami. Dandan yang cantik, buat mas Azam terpesona dan buat Aqeela mengakuimu sebagai ibu kandungnya."
Alina mendengus pelan dan langsung pergi dari hadapannya. Yasmin membalikan badan melihat sosok itu semakin menjauh.
Hijab panjangnya berkibar oleh angin menyapu keberadaannya. Kedua tangan Yasmin mengepal kuat lagi dengan dada naik turun.
"Jadi, dia sudah tahu tujuan kedatanganku? Apa yang harus aku lakukan? Tidak, aku tidak boleh menyerah begitu saja. Aku harus tetap menjalankan rencana awal," geramnya.
...***...
Alina sudah kembali ke rumah dan melihat Aqeela tengah duduk sendirian di ruang keluarga. Senyum manis terpendar di wajah cantiknya untuk mendekat ke arah sang putri. Namun, sebelum ia duduk di sampingnya, ucapan Aqeela menghentikan.
"Apa yang Mamah lakukan? Aku tidak ingin berdekatan dengan Mamah."
Perkataan itu bagaikan anak panah melesat tepat sasaran. Alina tidak menyangka jika gadis pintarnya sudah terhasut omongan Yasmin dan Zara tempo hari.
"Baiklah, kalau begitu Mamah siapkan makan malam dulu," ucap Alina.
__ADS_1
"Tidak usah!" balas Aqeela sedikit berteriak. "Tidak bisakah Mamah bersikap sewajarnya saja? Aku muak melihat kebaikan Mamah yang ternyata palsu," lanjutnya lalu melarikan diri dari sana.
Alina hanya bisa menghela napas kasar melihat kepergiannya. "Bahkan anak delapan tahun mudah diprovokasi. Ya Allah kuatkan hamba melalui semuanya ... aku hanya ingin memberikan kehidupan yang baik untuk Raihan dan juga Aqeela. Aku tidak ingin mereka tumbuh dalam keluarga yang berantakan. Kehilangan kasih sayang ayah dan ibu tidaklah mudah untuk dilalui. Aku tidak mau Raihan maupun Aqeela merasakan hal sama seperti yang kurasakan. Cukup aku saja," gumamnya.