
Keheningan masih tercipta membiarkan kemelut dalam bayang mengambil alih. Kemarin menjadi cerita yang tidak bisa terulang, hari ini memberikan kisah berbeda, dan besok keberadaannya mengundang misteri.
Tidak ada yang tahu bagaimana serta dan seperti apa kejutan itu datang. Allah selalu memberikan kejutan pada setiap hamba.
Episode demi episode kehidupan bak drama televisi yang tidak bisa ditebak. Alur maju maupun mundur sudah sepatutnya mengungkap syukur atas apa yang diberikan.
Dawas masih terjebak pada ingatan masa lalu. Kenyataan lagi-lagi menampar kuat jika ada kehidupan lain yang pernah dirinya tinggalkan.
"Antarkan aku ke makam Calia dan Fawaz," ujarnya serak.
Semua orang tidak bisa menolak dan bergegas menyiapkan kendaraan untuk membawa tetua ke tempat peristirahatan terakhir istri beserta anak keduanya.
Jalanan licin selepas hujan membuat rombongan keluarga Zulfan berhati-hati. Sedari tadi Zaidan menoleh ke kaca spion di atas kepala menyaksikan sang kakek.
Alina yang tengah duduk di sebelah pun menepuk pundaknya pelan. Zaidan menoleh mendapati lengkungan bulan sabit di sana.
"Mas sudah melakukan yang terbaik, semua akan baik-baik saja," ucap Alina berbisik lirih, Zaidan hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.
Kurang lebih empat jam lamanya berkendara, mereka pun tiba di sebuah tempat asing. Calvin berjalan di depan memandu keluarganya menemui makam sang nenek dan sang ayah.
Bidang tanah sekitar dua ratus meter persegi menjadi tempat pemberhentian mereka. Calvin berdiri tepat di samping kedua makam yang satu-satunya berada di sana.
Ia menoleh pada Dawas yang tengah memandanginya seolah menuntut penjelasan. "Ini makam ayah dan nenek," ungkapnya.
Di tengah awan kelabu, di kelilingi rumput-rumput liar, di kubangan tanah merah, basah, nan becek, serta angin berhembus kencang pertahanan Dawas hilang seketika.
Tubuh tetua Zulfan itu pun terguncang dan hampir terjatuh jika saja Zaidan tidak menyangganya cepat. Air mata kembali mengalir tak tertahankan menyaksikan dua nisan atas nama Calia dan Fawaz Zulfan tepat memenuhi pandangannya.
Dawas semakin bergetar kuat melihat tanggal lahir sang putra kedua. Kaki lemahnya berusaha berjalan mendekat mencapai gundukan tanah tepat di hadapannya.
__ADS_1
Dawas tidak kuasa membendung kepedihan dan terisak begitu kuat. Dengan meremat nisan sang mantan istri pria tua itu menangis sejadi-jadinya.
"Maafkan aku ... aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf." Hanya kata maaf terus tercetus di celah bibir pucatnya.
Dawas benar-benar menyesal tidak ada di detik-detik terakhir Calia menghembuskan napas. Dirinya terlalu disibukan dengan kehidupan dunia melupakan jika ada satu hati yang masih menunggu kehadirannya.
Meskipun ketuk palu sudah dijatuhkan, tetapi Calia masih mencintainya dan berharap sang mantan suami bisa menemui serta mengetahui keberadaan Fawaz. Namun, di hari terakhirnya Dawas tidak pernah menemuinya lagi.
"Nenek masih mencintai Anda disisa waktu terakhirnya. Nenek berpesan padaku untuk menyampaikan ini jika berkesempatan menemui Anda, "Jangan pernah melupakan apa yang sudah terjadi. Hiduplah sebaik mungkin dan jangan pernah lupa dari mana dirimu berasal. Allah sebaik-baik pelindung dan pemberi rezeki." Itulah yang nenek katakan terakhir kali."
"Ayah juga menyampaikan pesan ... beliau-" Calvin tidak kuasa membendung air mata saat teringat bayangan sang ayah.
Ia begitu terpukul dan merasa sakit tidak bisa melakukan apa-apa pada saat ayahnya kesakitan. Ia tidak bisa membawanya ke rumah sakit, sebab terkendala biaya.
Ia bersama sang ibu hanya bisa merawatnya di gubuk derita mereka. Tidak ada sanak keluarga lain yang mengharuskan mereka merelakan kepergian sang ayah.
"Ayah mengatakan "Calvin jika suatu saat nanti bertemu dengan kakekmu, tetua Zulfkan sampaikanlah kata-kata ayah ini...."
Bayangan pada saat Fawaz mengatakan itu pun terekam jelas. Sang ayah begitu tulus dan sangat baik dalam membesarkannya selama usia delapan belas tahun.
Tubuh tegapnya bergetar seraya mengepal kedua tangan erat. Ia tidak sanggup membayangkan kembali kejadian sepuluh tahun lalu di mana saat itulah ayahnya menghembuskan napas terakhir.
Ia sangat menyesal tidak bisa memberikan kehidupan layak pada ayahnya. Ia sudah berusaha keras bekerja dan bekerja untuk bisa menyelamatkan orang tuanya. Namun, takdir berkata lain Fawaz tidak bisa diselamatkan.
Setiap bulan sang ayah diharuskan cuci darah, tetapi hal itu tidak bisa mereka lakukan. Meminta bantuan kepada tetua Zulfan pun tidak membuahkan hasil.
Ayahnya hanya bisa tersenyum kala mengetahui perjuangan Calvin untuk dirinya. Sang ayah juga mengucapkan terima kasih, sebab sudah menemui Dawas walaupun nihil.
Kesakitan itu seolah ter-transfer pada Dawas yang terus menerus menangis. Mendengar dan melihat dengan jelas apa yang terjadi di sana, Alina maupun Zaidan pun ikut menitikkan air mata.
__ADS_1
Moana dan Farraz saling menggenggam tangan satu sama lain menguatkan diri masing-masing. Begitu menderitanya Calvin pada saat itu dan kisahnya tersampaikan sangat jelas.
Mereka bisa membayangkan bagaimana terpukul serta susahnya ia waktu itu. Namun, sebagai keluarga dengan darah yang mengalir sama, mereka tidak bisa membantu apa-apa.
"Maaf, Kakek benar-benar minta maaf." Dawas kembali mengucapkan maaf berulang kali.
"Ayah minta maaf .... Karena tidak bisa menolong mu. Ayah benar-benar minta maaf, semoga di atas sana kamu melihat Ayah. Di sini Ayah sangat menyesal tidak mengetahui keberadaan mu. Maaf untuk segalanya," racau Dawas terus menerus.
Mereka tidak ada yang berbicara dan membiarkannya begitu saja. Memberikan kesempatan pada Dawas untuk menangisi penyesalan yang tidak akan mengembalikan waktu. Calia dan Fawaz tidak bisa kembali hidup bagaimanapun sang tetua mengucapkan maaf berulang kali.
...***...
Dawas terdiam di tengah-tengah gubuk yang beberapa tahun ditinggali oleh keluarga kecil Fawaz. Hatinya kembali tercabik-cabik menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri seperti apa kondisi di sana.
Tetua itu bisa membayangkan bagaimana dingin serta tidak nyamannya tidur di tempat tersebut. Berbeda dengannya yang bisa terlelap di atas tempat tidur empuk begitu memanjakan.
Selama ini Dawas terlalu angkuh dan menganggap keputusannya adalah yang terbaik. Tubuh ringkihnya pun menoleh ke belakang mendapati Calvin tengah menatapnya lekat.
"Kakek minta maaf," ujarnya lagi.
Calvin menarik sebelah sudut bibirnya seraya mengangguk-anggukan kepala. Kedua tangan yang berada di saku celana mengepal kuat.
"Harus kehilangan dulu baru menyesal? Harus ada bukti dulu baru mengakui kesalahan? Hebat ... hebat kamu, Kek. Sangat hebat!" Calvin tidak bisa menahan kekesalan dan mengutarakan kepedihan dalam dada yang selama ini dipendam.
Zaidan yang berada di sebelah pun mencengkram pundak kanannya kuat. Calvin menoleh mendapati wajah tersenyum sang kakak sepupu.
"Kamu sudah bertahan sampai sejauh ini dan berjuang untuk orang tua. Kamu hebat, Calvin ... kamu anak yang sangat hebat." Kata-kata itu bagaikan mengundang magic yang seketika mengalirkan air mata.
Calvin langsung memeluk kakak sepupunya erat menumpahkan pengap dalam dada. Zaidan menganggukkan kepala beberapa kali sembari mengusap punggungnya pelan.
__ADS_1
...Bersambung......