Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 28


__ADS_3

Malam sudah datang menggantikan indahnya senja. Kegelapan menyapa menemani keheningan menyelimuti keresahan. Selepas pulang dari rumah sakit, Alina mengistirahatkan dirinya di dalam kamar merasa sedikit tidak enak badan. Mungkin karena keadaan cuaca yang sedang tidak menentu, kadang hujan kadang panas tertik tidak bisa ditebak membuat kondisi tubuhnya menurun.


Sesekali malaikat kecilnya menendang membuat ia tersenyum senang. Alina membelai perutnya mencoba menenangkan sang jabang bayi. Ada perasaan lega kala kehadiran buah hati mengobati luka hati. Sudah banyak air mata kepedihan yang tumpah akibat perlakuan sang suami. Namun, semua itu seakan hilang berkat adanya calon anak.


Alina tidak pernah menyangka bisa menjadi seorang ibu dalam pernikahan runyam ini. Ia pikir selamanya akan berpura-pura menjadi istri dan ibu, mengemban status sebagai peran ganda yang tidak pernah terbayangkan.


Tidak lama kemudian terdengar suara pintu depan di dobrak paksa. Alina terjengkit kaget kala bersamaan dengan itu guntur pun datang menerjang. Langit berubah kelam dengan rintik air hujan perlahan turun.


Sepatu pantofel menghentak lantai menghasilkan suara berdentum keras. Beberapa saat pintu kamar Alina terbuka lebar. Ia yang tengah berbaring terlonjak kaget dan langsung duduk di atas tempat tidur. Kedua matanya terbelalak melihat kedatangan sang suami dengan napas tersengal-sengal.


Sorot mata tegas menatapnya nyalang, Alina menautkan alis tidak mengerti dan ada sedikit takut menyambanginya.


"Ma-mas Azam?" panggilnya takut-takut.


Azam yang masih berada di ambang pintu berusaha menetralkan degup jantungnya. Perkataan Zara tadi siang terus berputar dalam ingatan. Bagaimana mungkin Alina yang terlihat polos bisa berkhianat? Pikiran Azam kacau. Ia teringat pembicaraan mereka di taman rumah sakit.


"Apa menurutmu Alina memiliki pria lain?"


Pertanyaan Azam membuat Zara tercengang. Tanpa pikir panjang wanita itu mengangguk meyakinkan menambah kebimbangan. Azam termenung memikirkan kemungkinan yang terjadi, bagaimana dirinya sekarang tengah bersinggungan dengan istri kedua.


"Apa karena itu Alina mengatakan ingin pisah dariku?"


Kini matanya menatap lekat ke arah manik kecoklatan Zara. Sang sekertaris itu pun kembali tercengang mendengar penuturan Azam. Tidak lama berselang lengkungan bulan sabit pun muncul di wajah cantiknya.


"Apa nyonya Alina selalu mengatakan pisah? Kemungkinannya hanya dua Tuan."


"Apa itu?" tanya Azam sedikit tertarik.

__ADS_1


"Satu, nyonya Alina berusaha untuk benar-benar pisah dengan Tuan dan yang kedua, bisa saja nyonya Alina ingin bersama pria lain. Ahh, apa mungkin bayi yang ada dalam kandungannya milik pria itu? Karena aku lihat tadi mereka sangat bahagia dan sepertinya pria itu juga menemani nyonya Alina memeriksakan kandungannya."


Kata-kata terakhir Zara terus terngiang dalam pendengaran. Azam memperhatikan sang istri dalam diam lalu melihat ke arah perut membuncitnya. Seketika itu juga darahnya mendidih membuat ia langsung melangkahkan kaki lebar ke arah Alina.


Entah ada angin apa secepat kilat Azam mencengkram pergelangan tangan Alina dengan kilatan kemarahan nampak jelas dalam netranya. Degup jantung Alina berdentum cepat kala bayangan hari menyakitkan datang kembali.


"Ma-mas apa yang Mas lakukan? Sa-sakit Mas, lepaskan."


Alina berontak berusaha melepaskan pegangan tangan Azam yang begitu kuat.


"Jawab aku Alina, ke mana kamu pergi tadi siang?" tanyanya dengan suara berat.


"Aku ke rumah sakit memeriksakan kandungan, Mas," jawab Alina jujur seraya mendongak melihat seriangan tercetak di wajah tampan suaminya.


Seetika ia merinding dan ketakutan kembali menerpa.


Mendengar penuturan barusan perlahan kedua mata Alina melebar dengan dahi mengerut dalam. Ia terkejut sekaligus tidak percaya dengan apa yang dikatakan Azam.


"A-apa maksud Mas? Ke-kenapa Mas mengatakan itu? A-ayah bayi siapa?"


"Tidak usah berpura-pura Alina."


Azam meninggikan suaranya dan menarik tangan sang istri hingga membuat Alina tersentak ke depan.


Tangan kirinya yang bebas menarik dagu Alina hingga sang empunya kembali mendongak. Azam mendekatkan wajahnya membuat mereka saling tatap dengan jarak yang begitu dekat. Alina bisa melihat dengan jelas kekecewaan dan juga ketidakpercayaan di sana.


Seketika air mata merembes keluar lalu mengalir di kedua pipi. Azam menghapusnya perlahan dan seringaian kembali hadir.

__ADS_1


"Tidak usah berpura-pura menangis jika pada kenyataannya kamu yang menyakitiku terlalu dalam. Kamu hamil dengan pria lain, kan? Anak itu bukan darah dagingku!!" tegas dan jelas perkataan Azam menghujami perasaan terdalam Alina.


Luka yang berusaha ia jahit dan ditutupi kembali menganga dalam hitungan detik. Darah yang tak terlihat mengalir deras keluar dari luka baru tercipta. Rasa sakit berkali-kali hadir mengantarkan keristal bening mengalir tak berkesudahan. Sakit, rasanya sakit sekali saat sang suami menuduh sesuatu yang tidak mendasar. Seketika pikiran Alina berhenti bekerja, tubuhnya merespon cepat dan bak balok es ia terdiam beberapa saat.


Alina terus menangis kala mendengar setiap kata yang keluar dari mulut suaminya. Hal tersebut bagaikan mengantarkan belati tak kasat mata untuk mengoyak hatinya teramat dalam.


"Jika Mas memang tidak bisa menganggapku sebagai seorang istri, setidaknya Mas mengakui anak ini. Dia darah dagingmu, Mas. Aku tidak pernah bergaul dengan pria mana pun. Aku tahu batasan antara pira dan wanita. Apa yang Mas pikirakan tentangku? Mas tidak mempercaya-"


"BOHONG!!"


Azam berteriak memotong cepat perkataan Alina lalu menghempaskannya begitu saja. Pria itu kemudian menunjuk tepat ke arah wajah sang istri.


"Alasan kamu ingin berpisah dariku karena pria itu, kan? Mengaku kamu Alina. Kamu hanya ingin mempermainkan pernikahan ini iya, kan? Kamu tidak pernah tulus mencintaiku. Kamu hanya memanfaatkan keadaan Yasmin dan menjadi istri keduaku. Jujur, kamu menginginkan hartaku saja, benar?"


Isak tangis sudah tidak bisa dibendung lagi. Sesak dalam dada mengantarkan ketidakberdayaan. Alina menanis seraya menggeleng-gelengkan kepala. Ia tidak menyangka sang suami bisa berkata demikian.


"Tidak ada yang mau menjadi yang kedua jika bukan karena adanya tujuan. Kenapa kamu sampai tega memanfaatkan keadaan Yasmin yang berjuang melawan penyakitnya? Apa yang kamu inginkan sebenarnya?"


Azam terus meracau tidak jelas mengantarkan luka demi luka yang terus tergores dalam hati Alina. Kedua tangannya mengepal kuat dengan tuduhan tidak mendasar dari sang suami. Ia sudah tidak bisa mentolerir perkataan Azam.


"Dari mana Mas bisa mempunyai pemikiran seperti itu? Aku tulus mencintaimu. Aku rela menahan perasaan ini agar Mas bisa kembali berbahagia bersama mbak Yasmin. Yah, Mas benar siapa juga yang mau jadi istri kedua? Tapi aku bisa apa Mas? Saat mbak Yasmin maupun Mas Azam memintaku untuk melakukan itu? Sebagai balas budi kebaikan kalian ini yang bisa aku lakukan. Namun, balasannya Mas malah menunduhku yang tidak-tidak? Aku sakit Mas, AKU SAKIT!!!"


Alina berteriak berusaha meredamk sakit dalam dada. Kepala berhijab itu menunduk dalam seraya mencengkram erat seprei dengan kuat. Azam mematung menyaksikan bagaimana terlukanya wanita yang menjabat sebagai istri keduanya ini.


Tangan kanannya hendak terulur, tapi terhenti begitu saja di udara. Ia pun kembali menariknya dan mengepalnya erat. Di dalam ruangan itu hanya ada isak tangis memilukan dari Alina. Azam mematung masih dengan menatap keadaan istrinya.


Malam ini keadaan rumah tangga mereka berada di ambang jurang. Hujan di luar menambah ketegangan. Pertengkaran yang terjadi tidak bisa terelakan bagaimana kesalahpahaman bisa memicu pertikaian. Percikan api yang disulutkan bisa membakar semua ketidakpercayaan.

__ADS_1


__ADS_2