
Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Hari ini, tepat satu bulan setelah lamaran itu terjadi, Calvin dan Zanna akan melepas masa lajang. Keduanya tidak menyangka bisa menikah dan saling memendam perasaan.
Pertemuan yang tidak mengenakan pada hari itu mengantarkan mereka pada satu hati. Kedua insan saling jatuh cinta melabuhkan perasaan pada ikatan suci pernikahan mengantarkan pada cerita mendebarkan.
Alina dan Zaidan sebagai saksi perjalanan kisah mereka ikut berbahagia. Calvin bisa mempersunting Zanna sebagai pasangan halalnya.
Acara pun berlangsung lancar, penuh percaya diri dan semangat Calvin menjabat tangan ayah Zanna dan mengucapkan ijab kabul.
Dengan sekali napas ia berhasil mengucapkannya membuat para saksi ikut berdebar. Salah satunya Zaidan, tidak menyangka jika adik sepupunya bisa menikahi Zanna.
Tidak lama berselang pengantin wanita pun dikeluarkan. Zanna sangat cantik dalam balutan kebaya putih dengan hijab syarinya semakin membuat sang suami terpesona.
Mereka pun duduk bersama di pelaminan menerima ucapan selamat dari para tamu. Binar kebahagiaan terpancar di wajah kedua mempelai.
"MasyaAllah, selamat yah untuk kalian berdua. Aku senang akhirnya kalian menikah juga." Alina datang sembari menggendong Zenia.
"Alhamdulillah, terima kasih Alina," balas Zanna haru.
"Terima kasih, Mbak, Mas sudah mau mengurus pernikahan kami," timpal Calvin kemudian.
"Sama-sama, aku ingin yang terbaik untuk pernikahan kalian. Sekali lagi selamat buat kalian berdua," jawab Zaidan lalu merengkuh adik sepupunya.
Calvin pun membalas pelukan itu tak kalah erat dan berulang kali mengucapkan terima kasih lagi. Ia sadar jika bukan keberadaan kakak sepupunya, ia tidak bisa seperti sekarang ini.
Zaidan pun berterima kasih berkat keberadaan Calvin bisa membantu mempertahankan rumah tangganya bersama Alina. Serta membuat sang tetua Zulfan menerima sang istri dan anak kandungnya.
Kehadiran satu sama lain saling menguntungkan dua belah pihak. Kakak dan adik sepupu itu kini mendapatkan kebahagiaannya masing-masing.
Setelah memberikan ucapan selamat, Alina menggandeng Zaidan turun dari pelaminan. Mereka berbincang-bincang ringan sepanjang jalan ikut merasakan kebahagiaan pengantin.
Tidak lama setelah itu, Zaidan bergabung bersama keluarganya dan Alina menyiapkan makanan untuk mereka.
Di tengah jalan ia dihentikan oleh suara seseorang. Ia menoleh ke belakang mendapati pria tampan berperawakan tinggi tegap tengah tersenyum padanya.
"Alina? Kamu Alina kan? Yang waktu kuliah dulu menjadi anggota BEM, kan?" tanyanya sambil menunjuk pada Alina.
Wanita berhijab itu pun mengerutkan dahi lebarnya. Kedua maniknya menyipit, mengingat-ingat siapa gerangan sosok di hadapannya ini.
__ADS_1
Sampai, ingatan akan satu nama tercetus dalam kepalanya.
"Ah, Mas Rayyan ketua BEM, kan?" Alina pun menunjuk pria itu.
Rayyan mengangguk antusias kala wanita di depannya ini mengenali siapa dirinya.
"Akhirnya kamu mengenaliku juga," ujarnya membuat Alina mengangguk senang. "Ah, ini putrimu? Cantik sekali, assalamu'alaikum Sayang," lanjut Rayyan sedikit merunduk mendekati bayi berusia delapan bulan itu. Zenia tersenyum senang menyambut wajah tampan di depannya.
"Iya ini putriku, Mas. Mas kenapa bisa ada di sini?" tanya Alina balik.
"Oh, aku mewakili papah yang tidak bisa datang ke undangan om Daffa," jelasnya lagi.
"Ah, aku ingat sekarang, keluarga Mas memiliki perusahan interior, kan. Aku ingat Mas selalu saja merendah jika ada orang-orang yang menyinggung Tuan muda," kata Alina mengembangkan senyum manis.
"Aku hanya tidak ingin membanggakan diri. Lagi pula itu perusahaan papah."
"Lihat, Mas masih saja merendah."
Keduanya pun saling melempar senyum mengingat kembali kenangan mereka pada masa-masa kuliah dulu.
Di tengah perbincangan hangat itu terjalin, Alina dikejutkan dengan lengan kekar melingkar di pinggangnya posesif.
"Mas Zidan?" panggilnya pelan.
Rayyan pun menatap keduanya bergantian. Melihat kebingungan di wajahnya Alina segera menjelaskan situasi di sana.
"Ah, kenalkan Mas ini suamiku, Zaidan Zulfan," katanya. "Dan Mas, kenalkan beliau adalah seniorku di kampus, Mas Rayyan," lanjut Alina memperkenalkan mereka berdua.
Zaidan menjulurkan tangan ke depan membuat Rayyan mengulas senyum simpul dan menjabat tangannya.
"Zaidan, suami Alina." Zaidan mempertegasnya lagi.
"Rayyan, senior Alina," balasnya kemudian. Ia lalu menoleh pada Alina lagi dan menautkan kedua alis. "Setahuku, bukannya kamu menikah dengan Azam yah? Kenapa?" Ia kembali memandangi keduanya bergantian.
Pandangannya pun beralih ke bangku undangan di mana di sana Azam tengah menikmati santap makan siang bersama Jasmin, Raihan, dan Aqeela.
"Eh, ada apa ini sebenarnya?" tutur Rayyan kebingungan.
__ADS_1
"Sebenarnya aku dan mas Azam sudah berpisah. Mas Azam kembali ke istri pertamanya dan aku menikah dengan Mas Zaidan. Cukup rumit jika diceritakan dari awal, intinya kami sudah bahagia dengan pasangan masing-masing," kata Alina mengatakan sepenggal kisah yang dilaluinya.
"Ah, seperti itu. Maaf aku menanyakan yang tidak-tidak," ucap Rayyan menyesal.
Alina terkekeh pelan melihat wajah bersalah sang senior, "tidak apa-apa Mas. Oh yah, Mas datang dengan siapa?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Aku datang bersama istri dan anakku. Mereka ada di sana." Rayyan menunjuk ke kursi undangan paling belakang.
Alina mengikuti arah pandangannya lalu mengangguk singkat. "Kalau begitu aku permisi dulu, belum sempat mengucapkan selamat pada kedua mempelai."
"Ah iya Mas silakan," balas Alina.
Rayyan mengangguk pada mereka dan melangkahkan kaki dari hadapan keduanya. Sedari tadi Zaidan tidak pernah melepaskan rengkuhan di pinggang sang istri membuat Alina tersenyum mengerti.
...***...
Sepulang dari pernikahan Calvin dan Zanna, Zaidan terus bungkam tak bersuara. Tidak biasanya pria yang cerewet itu menutup rapat mulut menawannya.
Alina menoleh sekilas sang suami yang tengah selonjoran kaki di tempat tidur sehabis membersihkan tubuh.
Ia pun menidurkan Zennia di box bayi dan berjalan mendekati sang suami. Ia mengambil ponsel di genggaman tangan Zaidan lalu meletakkannya di atas nakas.
Alina duduk di pangkuan Zaidan menghadapnya langsung. Sang suami pun masih enggan melihat ke arahnya membuat ia harus berjuang keras.
"Aku tahu Mas sedang cemburu kan pada mas Rayyan?" Zaidan menolehkan kepala ke samping menghindari tatapan istrinya. "Apa Mas tidak mendengarnya? Dia sudah punya istri dan anak," jelas Alina lagi.
Ia pun semakin mengembangkan senyum kala melihat mulut itu bergerak tak karuan. Ia menangkup pipi hangat sang pujaan dan membubuhkan kecupan mendalam di bibir menawannya.
Seketika Zaidan luluh, mendongakkan kepala melihat lengkungan bulan bertengger di wajah cantik separuh napasnya.
"Lagi," katanya sambil memanyunkan bibir.
Alina terperangah atas sikap kekanak-kanakan sang suami. Tanpa menolak ia menerima permintaannya dan terus menerus memberikan kecupan di sana.
Tidak puas hanya dengan kecupan yang singkat, Zaidan seketika menekan kepala sang istri membuatnya terperangah.
Alina terkejut dan berusaha menyeimbangkan gerakan tiba-tiba sang suami. Ia pun mengikuti permainan Zaidan yang melenakan.
__ADS_1
"Jadi seperti ini jika Mas Zaidan sedang cemburu? Sangat menggemaskan, tetapi juga membahayakan. Apa aku akan selamat malam ini? Pastinya tidak, bukan? Aku harus mempersiapkan mentalku untuk itu," benak Alina di tengah kegiatan mereka.
...Bersambung......