Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 175 (Season 3)


__ADS_3

Sang raja siang enggan keluar dari persembunyian, di atas langit hanya ada awan putih mendominasi. Angin dingin sesekali berhembus mengantarkan kepelikkan yang mendera.


Nuansa kelam begitu menyengat menyadarkan orang-orang untuk segera berbuat kebaikan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan jika masih berharap pada Sang Khalik.


Allah memberikan rencana jauh lebih baik dari apa yang diinginkan hamba-Nya. Karena manusia hanya bisa berencana, tetapi Allah yang menentukan segalanya.


Apa pun yang diberikan Sang Maha Kuasa itu sudah pasti terbaik. Meskipun dilalui dengan linangan air mata, tetapi setelahnya akan ada senyum kebahagiaan.


Alina duduk di ruang keluarga sang mantan suami. Kedua matanya membengkak habis menangis semalaman. Ia datang pagi-pagi sekali bersama Zaidan setelah diberitahu oleh Azam jika Raihan menginap di rumahnya.


Setibanya di sana, ia duduk diam memandang jauh ke bawah di mana lantai sebagai objek tumpuan. Jari jemari saling bertautan erat kala rasa bersalah kian merundung diri.


"Aku mendengarnya dari Raihan. Aku tidak menyalahkan siapa pun, mungkin Rahan hanya sedang sensitif, keberadaan seorang adik memang sudah pasti mengganggu psikologi anak, kan? Ia mungkin hanya takut kalian lebih berpihak pada adiknya," ucap Azam menjelaskan.


Alina masih diam seraya terus menggenggam tangannya kuat. Zaidan yang berada di sampingnya pun merangkul pinggang sang istri menyalurkan kekuatan.


"Kami minta maaf, sudah mengacukan keadaan. Aku tidak bermaksud mengabaikannya, hanya saja-"


"Aku mengerti, kamu tidak usah minta maaf." Azam memotong ucapan Zaidan cepat membuatnya mengangguk pelan.


"Aku tidak tahu jika selama ini sikap kami menyakitinya, aku-" Alina buka suara dan ucapannya tercekat saat pengap dalam dada menyeruak ke permukaan.


"Sayang, hei, tidak apa-apa. Jangan menangis, kamu tidak salah," ujar Zaidan menenangkan menyaksikan istrinya menangis lagi dengan menunduk dalam.


"Itu benar, Alina. Kamu tidak salah, jangan menangis kasihan anak dalam kandunganmu," timpal Azam kemudian.


"Benar kata, Azam. Sudah yah, ini hanya salah paham," lanjut Zaidan kembali. Alina mengangguk seraya sesenggukan. Ia sibuk mengusap air mata dan beristighfar menenangkan diri.


Tidak lama kemudian, Jasmin datang sambil menggendong Raihan. Anak itu menyembunyikan wajah di ceruk leher ibu sambungnya.


Alina mendongak menyaksikan pemandangan tersebut. Rasa bersalah kian mendera mengalirkan kembali air mata.


Ada rasa sakit saat menyaksikan sang buah hati lebih dekat pada ibu sambungnya. Ia mengerti bagaimana perasaan Raihan kala melihatnya lebih fokus kepada jabang bayi.


Ia beranjak dari duduk hendak mencapai Raihan, tetapi sang buah hati terus merengsek ke dalam pelukan Jasmin.


Alina terkejut, berdiri bak bongkahan es saat putra pertamanya menolak sentuhannya. Rasa sakit itu semakin membuatnya merasa bersalah.

__ADS_1


"Mamah, minta maaf, Sayang. Mamah tidak bermaksud mengabaikan mu, Mamah dan Ayah-"


"Mamah dan Ayah pergi saja, Raihan ingin di sini bersama Ayah Azam dan Ibu Jasmin," potong Raihan cepat dengan nada suara meninggi.


Alina kembali terperangah, begitu pula dengan Azam dan Jasmin tidak menyangka Raihan bisa berbuat seperti itu kepada ibu kandungnya.


Mereka tidak tahu apa yang sudah terjadi di rumah Alina dan Zaidan, hanya saja melihat Raihan sekarang sudah menyimpulkan jika anak itu benar-benar terpukul.


Azam memandangi Alina khawatir menyaksikan raut sedih di wajahnya. "Sayang, Mamah sudah minta maaf. Mau kan melihat Mamah Alina lagi, Nak?" Azam mengusap puncak kepala Raihan dan berusaha menenangkan.


Namun, Raihan masih menggelengkan kepala dan terus memeluk erat Jasmin. Azam kembali memandangi Alina yang sudah terpaku menyaksikan hal tersebut.


"Alina, mungkin Raihan hanya sedang butuh waktu sendiri. Dia-"


"Mamah benar-benar bersalah. Mamah minta maaf ... Mamah tidak tahu jika kamu terluka dengan keberadaan adik kecil. Mamah benar-benar minta maaf." Alina terus mengucapkan maaf berulang kali hingga membuat tubuhnya merosot ke bawah.


Dengan cekatan Zaidan menopang sang istri yang sudah kembali menangis. "Ayah juga minta maaf, Sayang. Kami tidak bermaksud menyakitimu," timpal Zaidan kemudian.


Alina terus menangisi dan menangis hingga tangisan itu berubah menjadi rintihan. Sontak ketiga orang dewasa yang berada di sana panik seketika. Jasmin mendudukkan Raihan di sofa dan bergegas mendekati sang mantan madu.


Zaidan yang paling dekat melebarkan pandangan kala menyaksikan darah mengalir dari ************ sang istri.


"Alina."


"Alina."


Ketiganya kompak berteriak melihat keadaan Alina. Sang empunya yang masih dilingkupi rasa bersalah mengangkat kepala memandangi mereka satu persatu. Sampai pandangannya pun beralih ke bawah di mana cairan merah kental itu terus mengalir.


"Ma-Mas, a-apa yang terjadi? Ke-kenapa aku berdarah? Mas? APA YANG TERJADI?" Alina panik melihat banyaknya darah merembes dari selangkangannya.


Ia kembali mengerang kala rasa sakitnya begitu menusuk. Ia mencengkram pergelangan tangan suaminya erat dengan bibir bergetar hebat.


"To-tolong selamatkan anak kita. A-aku tidak mau terjadi apa-apa padanya," ucap Alina lirih.


Zaidan mengangguk, langsung membopong Alina hendak membawanya ke rumah sakit. Kelimpungan yang terjadi itu pun tidak luput dari pandangan Raihan.


Anak itu melebarkan kedua mata sempurna, mulut kemerahannya sedikit terbuka menyaksikan raut kesakitan sang ibu. Ia duduk terdiam menyaksikan keempat orang tuanya berlarian menuju pintu depan.

__ADS_1


Sadar apa yang terjadi ia pun menyusul dan menangis sejadi-jadinya. Ia benar-benar takut saat melihat ibunya mengeluarkan banyak darah.


"MAMAH!" teriaknya histeris.


...***...


Jam menunjukkan pukul setengah lima sore. Senja tidak hadir menemani sang penikmat, langit masih memberikan awan kelabu yang bergumpal-gumpal.


Tidak lama berselang hujan turun membasahi bumi. Rintikannya menyaingi air mata yang terus menerus mengalir di wajah tampan anak laki-laki berusia delapan tahun.


Raihan ikut ke rumah sakit bersama Azam, Jasmin, dan juga Zaidan. Ia tidak berhenti menangis menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi pada sang ibu.


"Shut, Sayang mamah pasti baik-baik saja." Azam menggendongnya mencoba memberi keyakinan.


"Tidak! Mamah kesakitan sebab Raihan tidak mendengar apa kata mamah. Raihan salah ... Raihan bersalah." Raihan mengamuk terus menyalahkan diri sendiri seraya mengayunkan kedua kakinya.


Azam memeluknya erat dan membubuhkan kecupan mendalam di puncak kepala sang buah hati. "Tidak, Sayang. Raihan jangan menyalahkan diri sendiri seperti ini."


"Tidak! Raihan memang bersalah." Raihan tidak berhenti menyalahkan dirinya.


Zaidan pun turun tangan lalu bergantian menggendong putra mereka. Kini Raihan berada dalam pelukan sang ayah sambung.


Zaidan membawanya duduk dan menangkup wajah berair Raihan. Anak itu pun menatap manik cokelatnya seraya sesenggukan.


"Jangan menyalahkan dirimu, Sayang. Mamah tidak akan menyukainya, kita do'akan saja semoga mamah dan adik baik baik-baik saja, yah?"


"Ayah minta maaf jika selama beberapa bulan ini terasa mengabaikan mu, tapi ... asal Raihan tahu Ayah tidak pernah sedikit pun berpikir jika kamu beban. Justru, Raihan adalah putra kebanggaan Ayah, Mamah, Ayah Azam, dan juga Ibu Jasmin."


"Kamu berharga untuk kami, Sayang," tutur Zaidan membuat Raihan terpaku.


Senyum lemah nan lembut tercetus di wajah tampannya, binar dalam sorot mata sang ayah sambung menggetarkan sanubari. Raihan terperangah menyaksikan ketulusan terpancar di sana, ia lalu memeluknya erat.


"Raihan, benar-benar minta maaf, Ayah," katanya tulus.


Zaidan menggelengkan kepala beberapa kali sembari mengusap punggung kecilnya, sayang. "Jangan meminta maaf, Sayang. Raihan tidak salah apa-apa, justru Ayah yang meminta maaf sebab sudah mengabaikan mu."


Kini giliran Raihan yang menggeleng dan terus memeluk erat Zaidan. Menyaksikan pemandangan tersebut, baik Azam dan Jasmin mengulas senyum lembut. Mereka lega setidaknya hubungan ayah dan anak sambung itu kembali baik-baik saja.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2