Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 163 (Season 3)


__ADS_3

Awan kelabu bergumpal menjadi satu membentuk bulatan siap mengeluarkan butiran bening. Angin berhembus menebarkan rasa dingin menusuk kulit.


Guntur saling bersahutan mengundang gelap untuk datang. Dahan-dahan rapuh patah seketika dan jatuh begitu saja.


Masa lalu hanya menjadi kenangan yang tidak bisa diulang, penyesalan memang selalu datang belakangan mengantarkan pada kenyataan. Hanya air mata sebagai bentuk simpati kala diri tidak bisa berbuat apa-apa.


Itulah yang tengah dilakukan Zaidan. Ia masih membayangkan bagaimana kejamnya sang kakek mengusir Calvin dan memberinya kata-kata menyakitkan.


Ia juga memikirkan seperti apa kesusahan yang sudah dilaluinya selama ini. Hal tersebut membuat Zaidan tidak bisa menghentikan air mata.


"Sudahlah, jangan menangis lagi seperti anak kecil saja. Bukankah kamu akan menjadi ayah? Ini usap ingusmu jangan mempermalukan diri sendiri di depan banyak orang," keluh Calvin sembari menjulurkan selembar tissue pada kakak sepupunya.


Zaidan langsung menyambar dan memakainya. Wajah memerah itu kembali menatap ke depan menyaksikan senyum manis bertengger di sana.


"Katanya kamu mirip denganku?" Zaidan mendengus pelan, "tapi sepertinya aku yang lebih tampan," lanjutnya sedikit menegadahkan kepala ke atas.


"Baiklah-baiklah yang lebih tampan," balas Calvin cuek memakan kue miliknya.


Zaidan mengembangkan senyum sempurna lalu menggenggam tangan Alina di sebelah kiri.


"Kenalkan dia istriku, Alina. Saat ini kami-"


"Aku tahu, kamu ingin meminta bantuanku untuk menjebak wanita itu yang sudah mengganggu rumah tangga kalian, kan?" celotehnya tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan dari makanan manis.


"Dari mana kamu tahu?" tanya Zaidan penasaran.


"Mas Dimas memberitahuku kemarin," jelasnya.


Zaidan menoleh sekilas pada Dimas yang langsung membenarkan letak kacamatanya. Ia menghela napas pelan dan kembali memfokuskan diri pada Calvin.


"Kenapa kamu memanggil Dimas, Mas sedangkan padaku?"


"Aku belum terbiasa, bukankah kita baru pertama kali bertamu?" balas Calvin sekejap menatap Zaidan dan terus menikmati kudapan.


Zaidan mengulas senyum simpul menatap iba terhadap adik sepupunya yang selama dua puluh delapan tahun hidup dalam kesengsaraan. Ia di ibu kota begitu menikmati harta keluarga Zulfan tanpa memikirkan apa pun.

__ADS_1


Kini kenyataan menaparnya kuat jika ada keluarga yang sangat membutuhkan bantuan. Namun, sebaliknya ia yang malah meminta bantuan Calvin.


"Sekali lagi aku benar-benar minta maaf. Aku-"


"Sudahlah Mas, jangan membahas itu lagi. Aku senang akhirnya kita bisa bertemu. Uhh, rasanya aku tidak terbiasa memanggil orang lain selain Mas Dimas dengan sebutan itu." Calvin merinding sendiri mendengar ucapannya.


Zaidan mengangkat kepalan tangan bermaksud untuk memukul. Namun, dalam pandangan orang-orang di sekitar hal tersebut mengundang gelak tawa. Alina pun menutup mulut menahan tawa menyaksikan sikap kekanak-kanakan sang suami.


"Aku tidak bisa menahannya." Suara tawa dari meja sebelah pecah seketika.


Sarah dan Angga saling berpegangan tangan sembari tertawa menyaingi suara hujan yang tiba-tiba saja turun begitu deras.


Tidak hanya pasangan suami istri tersebut, Alina pun tidak bisa menahan diri dan tertawa kuat. Dimas pun melakukan hal sama dengan menutup mulut rapat menggunakan tangannya.


Kedua alis tegas Zaidan berpautan memandangi keempat orang yang tengah tertawa itu bergantian. Ia mencebikan bibir dan membiarkan mereka begitu saja.


"Kamu beruntung Mas dikelilingi orang-orang yang sangat menyayangimu." Suara hangat menyapa menarik atensi Zaidan untuk mengalihkan pandangan dari makanan manis miliknya.


Kedua sudut bibir itu membentuk kurva melengkung indah penuh makna. "Iya aku sangat beruntung."


Air muka Calvin berubah menyembunyikan perasaan terdalam. Meskipun bibirnya tersenyum, tapi ada luka yang tercetus.


Calvin terbelalak lebar mendengar penuturan manis nan hangat sambutan diberikan padanya. Ia pun tidak kuasa menahan haru dengan tertawa pelan mencegah air mata mengalir.


Namun, sekuat apa pun ia menahan bulir demi bulir liquid itu tetap berjatuhan. Calvin menoleh ke sebelah kiri mengusap kasar air mata.


Meihat hal tersebut kegaduhan yang keempat orang tadi lakukan terhenti. Suasana di sekitar berubah menjadi haru, mereka merasakan kebahagiaan dalam diri kedua sepupu itu.


Alina menggenggam hangat tangan suaminya erat seraya memberikan senyuman hangat, Zaidan pun menoleh melakukan hal sama.


"Terima kasih," kata Calvin kemudian.


Zaidan mengangguk-anggukan kepala dan membairkan hujan mengambil alih. Kini keluarga mereka bertambah semakin memeriahkan kebersamaan yang dibangun.


...***...

__ADS_1


Jam masih menunjukan pukul dua lebih, hujan masih turun menemani kebersamaan mereka. Setelah menempuh keharuan yang terus melanda kini tibalah saatnya membicarakan tujuan awal. Keenam orang yang mengadakan pertemuan di kafe itu pun duduk bersama dalam satu meja panjang.


"Baiklah, seperti di awal tadi aku ingin meminta bantuanmu. Apakah kamu bersedia membantuku?" tanya Zaidan serius.


Calvin yang tengah melipat tangan di depan dada mengangguk singkat. "Jika aku tidak bersedia maka dari awal tidak akan membantumu."


"Lalu apa yang terjadi malam itu?" tanya Alina yang sudah sangat penasaran akan hal tersebut.


"Sepertinya Kakak iparku ini sangat mencintai kakak sepupuku. Apa kamu tidak berniat untuk berpaling dari Mas Zaidan? Bukankah kami sangat mirip?" Calvin mencondongkan tubuh ke depan menyelami mata bening Alina.


Namun, bukan jawaban yang diterimanya melainkan pukulan telak dilayangkan Zaidan ke atas kepalanya.


"Aw, sakit Mas," keluh Calvin mengusap-ngusap tempat nyeri bernaung.


"Jangan macam-macam." Zaidan memperingatkan.


"Iya-iya, aku hanya bercanda." Setelah itu Calvin pun tergelak melihat wajah cemberut sang kakak sepupu.


"Baiklah aku akan menceritkan apa yang terjadi malam itu."


Seketika kelima orang yang ada di sana memasang telinga baik-baik. Mereka penasaran apa yang terjadi pada Zanna dan juga Calvin.


Apa pianis itu menganggap Calvin sebagai Zaidan? Pikir mereka semua.


Melihat wajah penuh rasa ingin tahu membuat Calvin menyeringai. Ia tidak menyangka jika kejadian malam itu sangat menarik perhatian.


Ia lalu merogoh saku jaket jeansnya mengeluarkan benda pintar. Ia menguak-atiknya sebentar dan memperlihatkan sesuatu.


Ia meletakan ponsel di tengah-tengah meja agar mereka bisa melihat apa yang ada di sana. Beruntung tidak banyak pengunjung yang datang ke kafe itu memudahkan mereka untuk berbicara.


"Rekaman ini diambil pada saat aku menghabiskan malam bersama wanita pianis itu. Kalian bisa lihat bagaimana dia begitu luar biasa dalam menggoda seseorang. Namun, sayangnya pria yang sangat ia cintai sudah menikah dengan wanita lain."


"Mungkin kalian juga sudah melihat sekilas dari Mas Dimas, tapi ini versi lengkapnya."


"Perasaan tersiksa yang ia miliki bahkan sampai ke hatiku. Malam itu aku iba kepadanya dan mengikuti apa pun yang ia inginkan. Sampai ... yah, kejadian tidak diinginkan harus terjadi. Kalian bisa lihat sendiri bagaimana situasinya," jelas Calvin menjelaskan peristiwa satu tahun lalu.

__ADS_1


Ia lalu mengklik video tersebut dan menayangkan sebuah adegan terjadi pada malam itu. Baik Zaidan, Alina, Sarah, Angga, dan Dimas tidak percaya apa yang sudah Calvin serta Zanna lewati bersama.


...Bersambung......


__ADS_2