Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 68 (Season 2)


__ADS_3

Menepi, menyepi, dan menyendiri sudah menjadi kebiasaannya akhir-akhir ini. Bunga yang mekar sudah layu dan berganti kering hingga akhirnya rapuh tersapu angin.


Alina sadar jika pernikahannya hanya sebatas cangkang untuk memenuhi kewajiban. Tidak ada cinta maupun kasih sayang tulus di dalamnya. Perasaan itu hanya bertepuk sebelah tangan dan hanya ia sendiri yang merasakan.


Sang suami terlalu larut dalam bayang-bayang masa lalu. Cinta, tidak ada tempat bagi seorang Alina di hatinya untuk menetap.


Jam sudah menunjukan pukul setengah sebelas malam. Alina masih duduk diam di ruang keluarga menunggu kepulangan mereka.


Beberapa saat kemudian Alina mendengar suara mesin mobil berhenti di pekarangan. Tidak lama setelah itu pintu depan terbuka menampilkan sang suami dan putri sambungnya.


Mereka saling tatap beberapa saat tanpa mengatakan sepatah kata. Raksi yang begitu asing melebur menyapa penciuman Alina membuatnya menyunggingkan senyum, jika itu adalah aroma sang madu.


"Kalian baru pulang?" tanyanya membuka suara.


Azam yang hendak melangkah membawa Aqeela masuk terdiam. Alina bangun dari duduk dan memandangi mereka bergantian.


"Apa yang akan Mamah katakan? Aku dan Ayah sudah pergi bersenang-senang bersama tante Yasmin," ungkap Aqeela tanpa rasa bersalah.


Alina kembali menyunggingkan senyum dan melihat sang putri tengah mendekap boneka baru. "Baguslah, Mamah senang mendengarnya. Boneka itu ... pasti pemberian ibu Yasmin yah?" ujarnya balik penuh penekanan. "Em, sudah malam lebih baik Qeela masuk dan tidur."


Aqeela mendengus pelan dan melepaskan tangan sang ayah lalu pergi menyisakan orang tuanya di sana.


"Kenapa Mamah mengatakan ibu Yasmin? Apanya yang ibu? Dia itu tante Yasmin," benaknya.


Sepeninggalan Aqeela, Alina memandangi Azam dengan sorot mata serius. Ia melipat tangan di depan dada sambil mengangkat sebelah sudut bibirnya.


"Jadi, kalian sudah berhasil menghasut anak kecil, yah? Oh sungguh hebat, aku tidak menyangka permainan ini semakin seru. Aku tidak sabar untuk melihat siapa yang kalah. Di mana kamu yang mencintaiku? Oh tidak ... dari awal kamu memang tidak pernah mencintaiku." Nada dingin nan ketus Alina layangkan.


Ia sudah tidak bisa berlama-lama bersama Azam, hatinya terlalu sakit hanya dengan melihat wajahnya saja. Hal itu membuat Alina memikirkan sang suami bersama wanita lain.


Tanpa mendengar balasannya, Alina pun melangkahkan kaki meninggalkan sang suami. Namun, perkataan Azam selanjutnya membekukan diri.


"Aku minta maaf."


Alina tergelak pelan mendengarnya, kepala berhijab itu menoleh ke samping melihat Azam dari sudut mata.


"Jangan salahkan aku jika waktu menunjukan siapa kamu, dia, dan dia sebenarnya. Jika aku masih ada di sini itu bukan karena cinta, tetapi ada sesuatu yang harus diselesaikan."


Setelah mengatakan itu Alina benar-benar pergi. Azam mengusap wajah gusar memandangi punggung rapuh sang istri menghilang di balik pintu. Ia menghela napas kasar dan diam begitu saja.

__ADS_1


...***...


Pagi menjelang, embun datang memeluk dengan udara dingin menusuk kulit. Seperti biasa Alina menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya.


Namun, setelah hari-hari menyakitkan itu datang kehangatan pun menghilang. Alina cukup sabar dan bertahan demi anak-anaknya, tetapi hal tersebut tidak membuat sang suami membuka hati. Ia masih saja tidak dianggap dan terus diabaikan.


"Sayang, sarapan dulu, Nak," tawarnya pada Aqeela.


"Tidak usah, aku mau sarapan bersama tante Yasmin," balasnya ketus.


"Baiklah, nikamti waktumu," jawab Alina sambil melebarkan senyum. Aqeela kembali mendengus seraya menghentakan sebelah kaki.


Tidak lama berselang Azam datang membuat kedua mata mereka saling bertatapan.


"Mas, pasti mau sarapan bersama Yasmin juga, kan? silakan, nikmati waktu kalian," ujar Alina dengan lengkungan bulan sabit di wajah cantiknya, kemudian memunggungi sang suami dan kembali sibuk menata makanan.


Azam mematung, pegangan di tas kerjanya semakin mengerat. Ia menatap punggung kecil itu lagi dalam diam. Perkataan Alina semalam kembali terngiang menyadarkannya jika sang istri terlihat berbeda.


"Apa yang sudah aku lakukan? Aku membuat seseorang berubah," monolognya dalam diam.


Setelah itu ia pergi dari sana menyisakan Alina seorang diri. Ia lalu berbalik dan seringaian kembali tercipta.


Sepanjang jalan Azam terus diam memandangi jalanan di depan. Aqeela yang tengah duduk di sebelahnya berkali-kali memperhatikan sang ayah.


Ada perasaan tidak nyaman menyapa hatinya saat mendengar jawaban Alina. Di satu sisi ia sudah terlanjur percaya pada Yasmin dan Zara. Namun, di sisi lain ia juga masih menyimpan rasa sayang kepada Alina.


"Ayah, apa yang harus Aqeela lakukan? Kenapa mamah berkata seperti itu? Apa mamah benar-benar tidak menyayangi aku?" tanyanya beruntun.


Azam memandangi putri pertamanya sekilas dan terus fokus menyetir. "Ayah minta maaf." Hanya itu yang dikatakannya.


"Ayah! Ayah sama sekali tidak menjawab pertanyaanku." Aqeela kesal dan melipat tangan di depan dada sambil cemberut.


Tiga puluh lima menit berlalu, keduanya tiba di apartemen megah di tengah kota. Azam menggandeng Aqeela menuju lantai lima menemumi seseorang. Beberapa saat kemudian mereka pun tiba dan menekan bel pintu bernomor seribu dua ratus tiga pulun.


Pintu terbuka seorang wanita cantik menyambut kedatangan keduanya.


"Aqeela? Apa kemarin tidak cukup main sama Ibu, Sayang?" tanyanya.


"Tante Yasmin, kenapa Tante menyebut diri sendiri Ibu?" tanya balik Aqeela.

__ADS_1


Yasmin tersentak dan memandang lekat ke arah Azam, pria itu menggeleng pelan membuatnya mengerutkan dahi.


"A-ah, karena Tante mirip dengan Ibumu, itu sebabnya," jawab Yasmin. "Em, kalian pasti belum sarapan, ayo masuk kita makan bersama."


Mereka pun masuk lalu melihat makanan tersaji rapih di meja. Aqeela berbinar dan berjalan mendekat lalu memandanginya satu persatu. Yasmin pun buru-buru melayani keduanya dan memberikan sepiring nasi beserta lauk pauknya.


Mereka pun makan bersama layaknya sebuah keluarga.


"Rasanya enak, apa Tante yang memasaknya sendiri?" tanya Aqeela.


Yasmin tersenyum lebar dan memandanginya lekat, "tidak, Tante membelinya. Tante tidak bisa masak, Sayang."


Aqeela hanya mengangguk tanpa menjawab perkataannya. "Berbeda sekali dengan mamah Alina," lanjut benaknya.


Azam yang mengerti seketika menggenggam tangan Yasmin dan mengelusnya pelan. "Tidak, apa-apa," ujarnya pelan. Yasmin hanya mengangguk pelan dan tersenyum simpul.


...***...


Alina yang baru saja hendak pergi menjemput Raihan dikejutkan dengan kedatangan seseorang. Ia terpekik pelan dan tidak percaya melihat wanita itu berada di depan rumahnya.


Bibir kemerahan itu melengkung sempurna memandangi sekertaris dari sang suami. Dahi lebarnya mengerut dalam kala tidak menyangka melihat kehadiran wanita tersebut secara tiba-tiba.


"Eh, Zara? Sedang apa di sini? Apa kamu sudah tidak akan melaporkan apa pun lagi padaku? Ah, kamu tahu? Mereka sedang sarapan bersama sekarang," jelas Alina.


Seketika itu juga Zara terperangah, kedua alisnya saling berpautan tidak mengerti. Ia melihat ke dalam manik cokelat bening di depannya, tidak menyiratkan apa pun.


"Ka-kamu tahu kalau aku yang mengirimu pesan?" tanyanya gugup. Alina mengangguk pelan dan memandanginya lekat.


"Kamu tadi mengatakan jika mereka sedang sarapan bersama sekarang?" Alina lagi-lagi mengiyakan ucapannya. "Apa kamu tidak cemburu?" tanyanya balik.


"Cemburu? Buat apa? Toh, aku sedang mencoba melepaskannya. Jika kamu masih ingin mengejarnya ... kamu bisa mendekatinya. Ah, sayang wanita bernama Yasmin itu lebih dulu mendapatkannya."


Jawab yang diberikan Alina tepat mengenai sasaran. Zara tidak mengatakan apa-apa dan membungkam mulutnya rapat.


"Jadi, ada apa kamu datang ke sini?" tanya Alina menyadarkan.


"Bisa kita bicara?" pintanya.


Alina menatap manik lawan bicaranya. Sorot mata itu menandakan belas kasih dan penasaran. Ia mengangguk pelan dan keduanya pergi dari sana.

__ADS_1


__ADS_2