Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 173 (Season 3)


__ADS_3

Dua bulan berlalu begitu cepat, kandungan Alina pun sudah memasuki dua puluh delapan minggu. Hari-hari terberatnya pun telah dilalui dengan suka cita.


Hidupnya lengkap sudah, ada suami yang mencintainya dan juga seorang putra menyayanginya. Mereka begitu tulus memperlakukannya dengan sangat baik.


Namun, tanpa ia ketahui ada kecemburuan dalam diri sang anak pertama. Setiap hari Raihan selalu menyimpan kesedihan saat melihat ayah dan ibunya lebih memperhatikan sang jabang bayi yang belum lahir ke dunia.


Seperti hari ini, hari ahad mereka manfaatkan untuk bercengkrama satu sama lain. Keluarga kecil itu tengah menghabiskan waktu bersama di ruang keluarga.


Raihan datang seraya menenteng lego dan mendekati orang tuanya. Ia duduk di hadapan mereka menyaksikan interaksi ayah serta ibunya.


"Ayah, ayo main ini. Aku ingin menyusun lego bersama Ayah," ucapnya mengeluarkan bongkahan lego yang ia bawa.


Zaidan dan Alina pun menatap Raihan yang tengah memandanginya bergantian. "Maaf yah, Sayang. Bukannya Ayah tidak mau ... tapi sebentar lagi, Ayah dan Mamah mau pergi ke dokter."


"Mamah kenapa Ayah?" tanya Raihan khawatir.


"Mamah tidak apa-apa, Sayang. Hanya saja hari ini jadwal pemeriksaan adik bayi, jadi ... Mamah dan Ayah akan pergi sebentar. Kamu tidak apa-apakan ditemani bi Inah?" ungkap Alina membuat Raihan lagi dan lagi hanya mengembangkan senyum penuh kepalsuan.


"Oh begitu, baiklah. Hati-hati di jalan, aku mau ke kamar dulu." Raihan pun beranjak dan berjalan menjauhi orang tuanya.


Langkah demi langkah bagaikan berjalan di atas pecahan kaca. Raihan mendengar dengan jelas apa yang terjadi di belakang.


"Sayang, jangan nakal-nakal di dalam sana, yah. Mamah kewalahan, jangan terus menendang yah," kata Zaidan hangat.


"Iya, Ayah. Bayi tidak nakal hanya sedang ingin menyapa Mamah dan Ayah," balas Alina menggantikan sang jabang bayi.


Wajah tampan sang suami yang tengah berada tepat di depan perut besarnya pun mendongak. Mereka saling melempar senyum yang begitu menarik perhatian.


Tanpa mereka sadari, Raihan menyaksikan semua itu. Ia mengepalkan kedua tangan saat binar kebahagiaan orang tuanya tercipta tanpa ada dirinya di sana.


"Aku memang sudah tidak diinginkan oleh ayah dan mamah," benaknya melarikan diri ke lantai dua.


Suara pintu dibanting membuat Alina dan Zaidan terkejut. Keduanya menatap satu sama lain seolah berbicara lewat sorot mata.


"Kalau begitu kita pergi sekarang?" tanya Zaidan, Alina hanya mengangguk dan berusaha bangkit hendak menuju rumah sakit.

__ADS_1


Air mata sudah tidak bisa ditahan, ia menangis sejadi-jadinya mengingat apa yang sudah dilewatinya selama ini. Dua bulan menjadi waktu terberat bagi seorang Raihan, di mana dirinya harus menerima keadaan jika keluarganya sudah berubah.


Ia bukan lagi anak tunggal dan sebentar lagi keberadaan seorang bayi melengkapi keluarga. Hatinya terasa sakit saat ayah dan ibunya lebih memperhatikan sang adik.


"Apa aku sudah tidak diinginkan lagi?" Pertanyaan yang sama terus berputar dalam ingatan.


Raihan berpikir jika kedua orang tuanya tidak menginginkan keberadaanya lagi di sisi mereka. Ia merasa kehadirannya hanyalah sebuah beban tanpa ada arti.


"Kemarin saja, ayah tidak menemaniku. Katanya cape habis bekerja, tapi pada adik bayi memberikan mainan. Mamah juga ... saat aku meminta ingin dibacakan dongeng, katanya tidak bisa. Karena adik bayi lagi rewel dalam perut."


"Terus saja seperti itu, kenapa mereka tidak memperhatikanku? Apa aku benar-benar sudah tidak diinginkan di sini lagi? Buktinya mamah meninggalkanku di rumah ayah Azam sangat lama. Aku yakin mamah dan ayah sedang senang akan menyambut adik bayi," celotehnya sembari sesenggukan.


Hatinya terasa sakit mengingat apa yang sudah ia lihat selama ini. Raihan tidak menyangka jika keberadaan adik bayi bisa menggeser posisinya.


...***...


Fajar menyingsing, Alina sudah bangun dari tidur hendak menyiapkan sarapan. Sebelumnya ia melaksanakan kewajibannya dulu bersama sang suami.


Setelah itu turun ke lantai dua, ia terkejut mendapati buah hatinya duduk seorang diri di ruang makan. Di temani selembar roti dan segelas susu, Raihan sarapan tanpa menunggu panggilan sang ibu.


"Sayang, kenapa kamu makan sendirian?" tanya Alina duduk di hadapan sang anak.


Tanpa menoleh sedikit pun Raihan memakan sepotong roti terakhir. "Aku sudah selesai," katanya lalu meneguk susunya sampai habis.


Ia kemudian membawa piring dan gelas ke wastafel, setelah itu menyalami tangan Alina. "Aku pergi Assalamu'alaikum," ujarnya.


"Wa-wa'alaikumsalam."


Alina yang melihat perubahan Raihan terpaku dalam duduk. Ia menyaksikan punggung kecil itu semakin menjauh.


Sebelum mencapai pintu depan, ia bertemu dengan Zaidan yang baru saja turun. Raihan menatap sang ayah sekilas dan juga menyalami tangannya.


"Sayang, kamu mau berangkat sekarang? Apa tidak terlalu pagi? Ayo pergi bersama Ayah saja," kata Zaidan mengulas senyum hangat.


"Tidak usah aku akan berangkat sekarang."

__ADS_1


Setelah mengatakan itu Raihan benar-benar pergi. Alina berjalan mendekati sang suami menyaksikan putra pertamanya hilang dalam pandangan.


"Apa aku sudah melakukan kesalahan? Rasanya Raihan bersikap menjadi dingin," keluhnya.


Zaidan menoleh, merangkul pundak sang istri dan mengelus bahunya pelan. "Mungkin Raihan sedang masa-masanya berontak. Bukankah sebentar lagi dia remaja? Kita harus mengawasinya dengan baik."


"Em, kamu benar," balas Alina.


Di sekolah, Raihan pun tidak banyak berinteraksi dengan teman-teman. Ia lebih senang menghabiskan waktu sendiri atau berbicara dengan Cyla.


Namun, hal tersebut tidak bisa mengikis kepedihan dalam dada. Ia tidak bisa melupakan apa yang terjadi di rumah.


Helaan napas yang entah ke berapa kali terdengar kuat. Cyla yang tengah menghabiskan makan siang bersama Raihan pun menoleh padanya.


"Kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi lagi?" tanyanya peka.


Raihan mengulas senyum dan menggeleng singkat. "Meskipun itu berat kamu harus tetap bertahan," lanjut Cyla menguatkan.


Lagi dan lagi Raihan hanya menangguk sebagai jawaban. Siang ini ia hanya bisa memakan makanan kantin, sebab dirinya pergi sebelum sang ibu menyiapkan kotak bekal.


Malam menjelang, Raihan sudah berada di tempat tidur membungkus dirinya dengan selimut. Ia tidak ingin kembali terluka dengan melihat interaksi orang tuanya dengan adik bayi.


Samar-samar ia mendengar deru mesin mobil berhenti di garasi. Ia semakin menulikan pendengaran kala suara orang tuanya berdengung dari lantai satu.


"Aku harus segera tidur," bisiknya dalam dada.


Tidak lama berselang pintu kamar di buka, Raihan semakin memejamkan mata kala langkah kaki mendekat. Ia merapatkan selimut hingga menutupi sebagian wajah dan setelah itu ia merasakan tempat tidur diduduki seseorang.


"Sayang ... bangun, Nak. Ayo kita makan malam bersama." Suara ibunya menyapa.


Raihan tidak bergerak maupun menggubris ucapannya. Sampai Alina pun kembali berujar, "Sayang. Kamu sudah tidur? Apa Mamah melakukan kesalahan, Nak? Mamah minta maaf, kami-"


"Berhenti aku tidak ingin mendengar penjelasan apa pun." Raihan langsung memotong ucapan ibunya cepat membuat Alina terkejut. Kejadian itu bersamaan dengan Zaidan yang datang ke sana. Ia terperangah mendengar nada bentakan dilayangkan sang putra.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2