
Samar-samar kesadaran mulai menguasai diri. Dawas membuka mata lagi setelah pingsan beberapa jam. Dirinya mendapati berada di tempat tidur di kediamannya, mansion Zulfan.
Ketiga anaknya serta menantu dan cucu turut hadir di sana. Bola mata cokelatnya bergulir menatap mereka satu persatu, sampai pandangannya berhenti di cucu laki-laki pertama.
Tubuh ringkihnya bergetar kuat menahan tangis yang tiba-tiba saja mendera. Buru-buru Zaidan mendekat dan mendekap sang kakek.
Ia membisikan kata-kata menangkan membuat tetua Zulfan itu sedikit tenang. Dawas duduk bersandar di kepala ranjang seraya kembali memandangi keluarganya.
Satu objek menarik perhatian, sosok itu tengah berdiri tepat di depan ranjang bersebelahan dengan istri dari Zaidan. Melihat arah pandangannya, Alina menyuruh Calvin untuk mendekat, tanpa ragu ataupun menolak ia pun menurut.
Dawas menengadah melihat wajah tidak asing itu menempel jelas di sebelahnya. Zaidan menuntun Calvin duduk di kursi kayu sebelah tempat tidur.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Dawas serak.
Surat pemberitahuan itu pun kembali menyapa ingatan. Dawas menggelengkan kepala lagi menyaksikan rupa Calvin yang mirip Calia.
Menyaksikan gelagat sang ayah yang kebingungan, Farraz pun mendekat dan duduk tepat di tepi ranjang. Ia memahami begitu banyak pertanyaan menghinggapi kepala berubannya. Namun, kenyataan harus tetap diberitahukan.
"Ayah." Panggil Farraz mengundang atensi Dawas.
Sang tetua Zulfan menoleh menyaksikan air muka penuh haru. Kedua alis saling bertautan kala putra pertamanya menganggukkan kepala.
"Dia ... Calvin Zulfan, Ayah. Meskipun sekarang namanya Calvin Alfero, tetapi masih ada darah Zulfan mengalir dalam dirinya. Dia cucumu juga, Ayah ... anak kedua Ayah dan ibu Calia."
Mendengar penjelasan tersebut kedua mata Dawas terbelalak lebar. Jantungnya bertalu kencang mengetahui fakta mencengangkan.
"A-apa yang kamu katakan? Kamu satu-satunya anak dari ibu Calia," lirihnya sendu.
Dari sana Farraz menceritakan semua yang sudah terjadi selama bertahun-tahun. Baik Dawas maupun kedua adiknya tidak menyangka jika sang tetua mempunyai anak laki-laki lain dari istri pertama.
__ADS_1
Air mata pun tidak bisa dibendung dan mengalir begitu saja. Bagaikan tersayat belati, hatinya terasa dicabik-cabik begitu kuat.
Dawas merasakan sakit serta tidak menyangka jika Calia menyembunyikan keberadaan Fawaz. Anak itu tidak pernah sedikit pun merasakan kasih sayang dari ayahnya. Sampai napasnya berhenti berhembus putra keduanya tidak diketahui sang ayah.
Penyesalan semakin bertambah kuat kala netranya beralih pada Calvin. Pria muda di sebelahnya itu mengembangkan senyum. Entah apa artinya yang jelas seperti memberikan duri di hati terdalam Dawas.
"Dia adalah putra tunggal dari Fawaz Zulfan. Mereka sengaja tidak menggunakan marga itu, sebab tidak ingin berurusan dengan kita. Ayah ingat sepuluh tahun lalu ada seorang anak remaja datang ke mansion ini dan meminta bantuan Ayah?"
Dawas menundukkan kepala saat ingatannya berputar ke sepuluh tahun belakang. Jelas dalam kepalanya bagaimana masa itu ia dengan terang-terangan mengusir serta menghina Calvin yang menginginkan belas kasihnya.
Sekarang Dawas benar-benar menyesal, lalu menganggukkan kepala mengiyakan ucapan sang putra. Farraz menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Membicarakan hal itu seperti membuka luka lama lagi.
Ia berusaha sekuat tenaga menahan pengap dalam dada. Moana menepuk pundaknya beberapa kali hingga sang empunya mendongak. Mereka saling melempar senyum menguatkan satu sama lain.
"Dia ... Calvin. Waktu itu Calvin meminta bantuan Ayah untuk menolong ayahnya, Fawaz. Namun, Ayah-"
"Namun, setelah nenek meninggal saya memberanikan diri untuk menunjukan jati diri saya-" Calvin mendengus pelan seraya mengangkat sebelah sudut bibirnya. "Bahkan Anda mengata-ngatai saya pengemis tidak tahu diri."
"Sudah cukup bagi saya penghinaan yang Anda layangkan. Saya tidak akan sudi menyandang Zulfan di belakang nama saya. Karena selama ini keberadaan saya tidak pernah ada," tutur Calvin.
Dawas semakin terisak saat mengetahui istri serta putra keduanya sudah pergi untuk selamanya. Fawaz Zulfan, bahkan keberadaannya pun tidak diketahui.
Saat berpisah dengan Calia, Dawas sudah tidak berhubungan lagi dengannya. Bagaikan di telan bumi, keberadaan istri pertama dilupakan begitu saja.
Dawas terlalu menjunjung tinggi kedudukan keluarga tidak ingin kehormatannya di nodai. Dirinya bahkan merelakan kebahagiaan keluarga kecil demi nama baik Zulfan.
Dawas tidak pernah menyadari jika ada luka yang tumbuh di hati istrinya. Calia berharap sang suami bisa mencegah kepergiaannya.
Namun, tetap saja Dawas lebih memilih mempertahankan keluarga besar. Keputusan untuk berpisah merupakan keputusan tersulit yang pernah diambil Calia.
__ADS_1
"Nenek juga mengatakan, sangat mencintai suaminya, Dawas Zulfan. Namun, nenek berkata tidak usah berhubungan lagi dengan kalian, sebab hanya menimbulkan luka. Anda tahu bagaimana terlukanya nenek saat membicarakan masa-masa indah pernikahannya?"
"Nenek tersenyum lebar dengan air mata mengalir, seolah menceritakan kisah dongeng yang tidak pernah terjadi. Yah, memang benar akhir kisah wanita bernama Calia ... berakhir mengenaskan. Bahkan di detik-detik terakhirnya nenek berharap Anda akan datang dan mengetahui keberadaan ayah."
"Namun, nasi sudah menjadi bubur tidak ada yang perlu disesali," ungkap Calvin panjang lebar.
Hening menyambut kata-katanya mengudara mengalirkan air mata tak berkesudahan. Dawas semakin menangis mengingat istri pertamanya yang sudah lama meninggal.
Alina yang mendengar serta menyaksikan keriuhan dalam keluarga sang suami menyadari sesuatu. Jika keberadaannya tidak disetujui itu disebabkan masa lalu sang tetua.
Calia sama sepertinya, seorang single parent yang menikahi keturunan orang berada. Namun, Alina menyayangkan jika cintanya harus dikorbankan.
"Aku tidak akan pernah mengikuti jejak nenek Mas Zaidan. Aku akan tetap mempertahankan rumah tangga ini. Semoga dengan terkuaknya kebenaran, tetua Zulfan bisa menerima keberadaanku," tuturnya dalam benak.
Melihat keadaan sang ayah yang begitu terpuruk, Farraz pun menepuk pundaknya beberapa kali. Sang empunya mendongak memperlihatkan wajah tuanya yang basah.
"Kakek minta maaf sudah meragukanmu dulu. Kakek benar-benar minta maaf." Dawas terus meracau kata maaf seraya menoleh pada Calvin.
Pria itu pun tersenyum sembari membalas tatapan sang kakek. "Jika Anda menyesal maka bertaubatlah."
Kata-kata telak tepat mengenai sasaran, Dawas seperti ditampar tangan tak kasat mata untuk kedua kalinya. Cucu laki-lakinya mengatakan hal sama agar ia bisa bertaubat dan mengakui kesalahannya pada Allah semata.
"Itulah yang aku inginkan. Aku belajar agama sebab Mbak Alina menyadarkanku juga jika ... Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." Calvin menggulirkan bola matanya pada Alina yang tengah tersenyum simpul.
Dawas termangu, kepalanya berputar memandangi cucu menantunya. Ke mana dirinya berjalan bayang-bayang Alina akan tetap ada. Keberadaan wanita itu mengingatkannya pada Calia yang berstatus sama, bagaikan mengorek luka lama, kepedihan semakin meningkat tajam.
"Calia ... maafkan aku," benak Dawas menyesal.
...Bersambung......
__ADS_1