Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 200 (Season 3)


__ADS_3

Hujan masih mengguyur ibu kota, udara semakin dingin dan keadaan mencekam hebat. Angin berhembus kencang mengalirkan ketakutan kian menjadi.


Di tengah keributan tersebut peristiwa mengerikan terjadi. Tidak ada yang tahu bagaimana dan seperti apa masa depan. Kejadian tersebut membuat orang-orang yang mengenalnya terkejut, tidak percaya.


"Pemirsa, berita kali ini datang dari musisi tanah air Zanna Zyva. Di duga mengendarai dengan kecepatan tinggi, pianis muda tersebut mengalami kecelakaan. Saat ini kami akan melaporkan langsung dari tempat kejadian."


Suara sang pembawa acara seketika menghentikan langkah Alina yang hendak ke dapur. Ia mematung di ruang keluarga menyaksikan tayangan tepat di depan mata kepalanya.


Baru tadi siang ia bertemu dengan Zanna, dan sekarang keadaan tidak diharapkan datang begitu saja. Kedua matanya melebar sempurna melihat bekas kecelakaan itu terjadi.


"Astaghfirullah hal adzim, ya Allah," gumamnya terkejut.


Tidak lama berselang Zaidan turun dari lantai dua dan menyaksikan sang istri tengah ketakutan. Ia memeluknya dari belakang seraya terus memperhatikan.


"Ada apa, Sayang? Kenapa kamu ketakutan seperti ini?" tanya Zaidan khawatir.


Alina berusaha menunjuk ke depan dengan jari jemarinya yang bergetar hebat. Di layar televisi masih memberitakan mengenai kecelakaan yang dialami Zanna.


"Astaghfirullah hal adzim, be-benarkah ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia bisa kecelakaan?" tutur Zaidan ikut syok mengetahui pemberitahuan tersebut.


Alina menggeleng beberapa kali lalu mendongak menatap sang suami. "Ki-kita harus segera ke rumah sakit. Kita harus melihat keadaan Zanna sekarang."


"Tapi, Sayang. Dia-"


"Sayang, tidak boleh ada dendam. Jika orang itu mendapatkan musibah kita harus menjenguknya. Aku khawatir ... aku hanya ingin memastikan Zanna tidak terluka parah. Saat terakhir kali melihatnya tadi siang, dia meracau mengungkapkan isi hati terdalamnya. Aku ... tahu apa yang sedang dia pikirkan. Zanna ... dia hanya-"


Melihat sang istri yang kelimpungan, Zaidan bergegas memeluknya erat. Ia mengusap punggung ramping itu pelan menyalurkan kehangatan. Ia mengangguk sekilas dan mengecup puncak kepalanya dalam.


"Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja. Jangan khawatir, kita pergi ke rumah sakit sekarang." Alina mengiyakan dan meremas pakaian sang suami kencang.


...***...


Tidak lama berselang Alina dan Zaidan pun tiba di rumah sakit. Banyak sekali para wartawan yang berdatangan ingin mengetahui kondisi Zanna pasca kecelakaan tadi sore.

__ADS_1


Mereka pun harus memarkirkan kendaraan di tempat berbeda yang sedikit jauh dari pintu masuk. Setelah itu, Zaidan menggandeng Alina menuju gedung rumah sakit dan berjalan ke dalam lewat pintu belakang.


Hawa dingin seketika menyambut keduanya. Alina semakin mencengkram kuat jari jemari sang suami, Zaidan yang merasakan itu pun menoleh sembari mengulas senyum.


"Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja," kata Zaidan menenangkan.


Beberapa saat kemudian, pasangan suami istri tersebut tiba di lantai lima. Di sana ia mendapati Angga yang bertugas malam.


Pria itu mengetahui jika ada pasien korban kecelakaan dan terkejut saat mendapati jika Zannalah orangnya. Ia menunggu di ruang operasi, sebab dirinya bukan dokter bedah yang harus ikut andil dalam proses tersebut.


"Mas Angga." Panggil Alina bergegas mendekat.


Angga berbalik mendapati wanita yang sudah dianggap adiknya datang bersama sang suami. Ia menatap mereka bergantian dengan air muka masam.


"Ba-bagaimana keadaan Zanna? Dia masih di dalam?" tanya Alina takut-takut.


Angga mengiyakan, "Sekilas tadi aku melihat kondisinya dan ... dia ... benar-benar mengkhawatirkan. Banyak darah di sekujur tubuhnya yang kemungkinan ... kemungkinan ia akan mengalami koma."


"Seperti yang ada di berita, Zanna mengendarai mobilnya dengan kecepatan maksimal. Kemungkinan, karena hujan jalanan jadi licin dan ia tidak bisa menstabilkan kendaraannya. Maka ... terjadilah kecelakaan, tetapi itu baru spekulasi saja. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi sebelum Zanna sadar," ungkap Angga.


Alina dan Zaidan mengangguk mengerti. Keduanya tergoncang saat mengetahui sang pianis kecelakaan. Rasa bersalah tiba-tiba merundung membuat ibu dua anak itu berpikiran yang tidak-tidak.


Baru tadi siang mereka saling bersitegang dan bertemu satu sama lain. Namun, siapa sangka kejadian mengerikan seperti ini datang pada sang pianis.


"Jangan memikirkan apa pun," kata Angga melihat ekspresinya.


Alina terkejut dan kembali menatap pria itu. "A-aku tidak memikirkan apa-apa," jelasnya mengelak.


"Aku tahu apa yang kamu pikirkan sekarang, Alina. Kamu pikir ... sudah berapa tahun kita mengenal satu sama lain? Bahkan sekarang aku lebih akrab denganmu, daripada ... mantan suamimu" ungkap Angga semakin memperkuat dugaannya.


Alina hanya mengulas senyum simpul dan mengangguk pelan. Zaidan yang berada di sebelah pun merangkul bahunya.


"Jangan menyalahkan diri sendiri, kecelakaan ini terjadi sudah menjadi takdir. Kamu tidak usah berpikiran macam-macam," lanjut Zaidan yang juga membaca ekspresi sang istri.

__ADS_1


"Itu, dengarkan apa kata suamimu," timpal Angga lagi.


"Iya-iya, aku tidak memikirkan apa pun," balasnya.


Mereka pun duduk di kursi tunggu, menanti proses operasi yang sedang Zanna lakukan. Menit demi menit berlalu tanpa terasa.


Satu jam berlalu, Alina menyapukan pandangan ke kanan ke kiri tidak mendapati siapa pun selain mereka bertiga dan sesekali perawat hilir mudik.


"Apa keluarga Zvya tidak ada yang datang? Apa mereka tidak tahu jika Zanna mengalami kecelakaan?" tanya Alina kemudian.


Zaidan dan Angga pun baru sadar jika keluarga pasien tidak ada di sana. "Oh kamu benar, mungkin mereka tidak tahu," timpal Angga menggendikkan bahu.


"Itu tidak mungkin, bahkan beritanya sudah menyebar di mana-mana. Apa sebelum kecelakaan ini terjadi, Zanna sempat berbicara dengan keluarganya?" tutur Zaidan memberikan spekulasi pada dua orang itu.


Alina berpikir keras seraya mengigit ibu jarinya. "Mungkin bisa saja itu terjadi. Tidak-"


"Lihat ini." Buru-buru Angga memperlihatkan layar ponsel yang entah kenapa firasatnya mengatakan untuk mencari tahu. "Bukankah ini video Zanna? Video ini sudah tersebar bahkan ditonton ribuan kali."


Alina dan Zaidan pun saling pandang lalu menatap lekat dokter tampan tersebut. Merasa diperhatikan Angga mengangkat kepala dan mendapati suami istri itu memberikan tatapan penuh arti.


"Jangan bilang ini ada hubungannya dengan kecelakaan Zanna? Bukankah di dalam video ini prianya sangat mirip denganmu?" tanya Angga menatap Zaidan.


"Itu benar, tetapi video tersebut sudah diedit. Aslinya orang yang ada dalam tayangan itu adalah orang lain," jelas Zaidan.


"Ah, aku juga mendengarnya dari Dimas malam itu. Jadi maksud kalian?" tanya Angga lagi menatap mereka bergantian.


Alina mengangguk sekilas. "Kemungkinan terbesar orang yang sudah mengedit video inilah ... yang menyebar luaskannya dan ... keluarga Zyva mengetahuinya. Mungkin sebelum kecelakaan itu terjadi, Zanna sempat berbicara dengan salah satu dari anggota keluarga yang bisa saja mempengaruhi kondisi mentalnya."


"Karena sebelum ia pergi dari rumah kami, Zanna sudah terlihat tertekan. Aku pikir seperti itulah kejadian yang sebenarnya."


"Em, kamu benar juga. Tidak mungkin seseorang bisa hilang kendali jika tidak ada yang memicunya. Kemungkinan keluarga Zyva tidak datang ke sini, sebab mereka takut para wartawan menyinggung mengenai video ini," lanjut Angga, Alina dan Zaidan pun setuju.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2