
Cinta pada sejatinya akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Episode demi episode yang terlewati mengajarkan untuk terus menerima segala ketentuan.
Allah sebagai penulis skenario terbaik telah memberikan jalan kehidupan bagi setiap hamba dengan baik. Tidak ada ujian dan cobaan yang menjerumuskan seorang hamba, tetapi di baliknya akan ada kebaikan.
Begitulah pelajaran yang bisa Alina ambil selama hidupnya sampai detik ini. Banyak sekali ujian datang menerjang, mulai dari cinta bertepuk sebelah tangan selama delapan tahun lamanya, yang di dalamnya terdapat pengkhianatan, menjadi istri kedua, berperan ganda sebagi istri dan ibu di hari pernikahannya, sudah ia alami.
Selama itu pula air mata mengalir, menjadi saksi bisu setiap kisah yang terajut. Namun, di balik kepedihan yang datang menerjang, ia dipertemukan dengan sosok pengganti.
Zaidan Zulfan, seorang suami yang bisa membalut luka dengan kebahagiaan. Entah sudah ke berapa kali ia mengucapkan syukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan.
Namun, tidak menutup kemungkinan ujian itu kembali datang. Perjalanan rumah tangga mereka harus mendapatkan cobaan, tetua Zulfan yang tidak menyetujui pernikahan keduanya sampai datangnya orang ketiga.
Bertahan, yakin, serta percaya pada satu sama lain mengantarkan hubungan pernikahan kedua Alina bisa bertahan.
Mereka selalu memegang teguh pada tali yang paling kuat, yaitu Allah SWT. Alina maupun Zaidan percaya jika cobaan itu datang sebagai penguat rumah tangga.
Seiring berjalannya waktu, cerita lain akan datang menggantikan yang lama. Orang ketiga yang mengganggu pernikahan mereka mendapatkan ganjarannya.
Namun, sebagai sesama hamba Allah dan muslimah, Alina tidak bisa membiarkan Zanna terpuruk sendirian. Ia terus datang dan menemuinya, terkadang Zaidan pun menemaninya.
"Mau apa lagi kamu ke sini?" ucapan dingin terdengar.
Baru saja Alina menggeser pintu ruang inap Zanna, sang penghuni menyambut ketus. Wanita berhijab itu pun menyunggingkan senyum lalu kembali menutup pintu.
Ia berjalan mendekat lalu berdiri di sampingnya. Zanna yang tengah duduk bersandar ke kepala ranjang membuang muka ke arah lain.
Sudah dua minggu berlalu sejak Zanna sadar dari koma, selama itu pula Alina masih giat menjenguknya. Terlintas dalam benak sebuah tanda tanya, di mana ayah dan ibunya berada.
__ADS_1
Kenapa mereka tidak menjengukku? Pikir Zanna yang selalu mendapati Alina dan Alina lagi.
"Aku membawakan mu buah. Aku turut senang kamu sudah sadar dan giat mengikuti terapi. Aku berharap-"
"Kamu pasti senangkan melihatku seperti ini? Kamu bahagiakan melihatku mengalami kecelakaan sampai lumpuh? Kamu pasti tertawa menyaksikan keadaanku sekarang," kata Zanna menyerobot perkataan Alina.
Sekian detik hanya ada keheningan, kedua wanita itu membungkam mulut rapat tidak ada satu pun yang berbicara.
Zanna yang penasaran menoleh lalu menengadah melihat bulan sabit melengkung di wajah cantik sang lawan bicara. Namun, tidak lama setelah itu ia menyaksikan setetes kristal bening jatuh begitu saja.
Zanna terbelalak melihat Alina menangis tepat di depan mata kepalanya sendiri. Tidak ada kesenangan ataupun raut muka puas, yang ada hanyalah iba dan khawatir.
"Maafkan aku," kata Alina seraya sibuk mengusap air mata.
Zanna diam beberapa saat terus memandangi Alina. Ia meremas selimut kasar lalu berlaih ke kedua kaki. Ia tidak merasakan apa pun di sana, semuanya mati rasa tidak bisa digerakkan sedikit pun.
"Iya, aku memang kasihan padamu. Aku kasihan, kenapa tidak kamu manfaatkan saja keadaan ini untuk taubat kepada Allah? Kamu tahu ... Allah memberikan teguran ini, sebab Dia ingin melihatmu kembali padanya," tutur Alina yang kini memotong ucapannya cepat.
Zanna mendengus kasar, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Alina menyadari ada suatu hal yang tidak bisa diungkapkannya dengan lugas. Ia lalu duduk di kursi sebelah tempat tidur dan memandang keluar jendela.
"Kamu tahu ... sebelum menikah dengan mas Zaidan ... aku pernah gagal dalam membina rumah tangga. Menjadi istri kedua selalu mendapatkan gunjingan dari orang-orang. Selama delapan tahun aku menikah dengannya, tidak ada kebahagiaan sejati yang bisa aku dapatkan."
"Kesenangan yang aku terima hanyalah semu dan ilusi. Semua itu hanya angan-angan ku saja, sebab suamiku berbohong dan berkhianat. Dia tidak pernah mencintaiku dan lebih memilih bersama wanita lain."
"Aku melalui semua itu dengan linangan air mata. Perjuangan waktu itu mungkin sudah menghabiskan air mata berleter-leter banyaknya. Namun, setelah aku menyerahkan semuanya pada Allah semata ... kejadian mengerikan itu menghantarkanku kepada muara kebahagiaan."
"Allah mendatangkan sosok mas Zaidan untuk mengobati luka hatiku. Kamu tahu ... jika di balik ujian menerjang, terpadat kebaikan. Maka, jangan pernah berputus asa di dalamnya. Karena itu semua hanya akan memperburuk keadaan."
__ADS_1
"Aku percaya jika Allah menguji mu saat ini ... karena Allah ingin memberikan yang terbaik. Maka lalui lah dengan sabar dan terus berpegang teguh pada-Nya," kata Alina panjang lebar.
Zanna terdiam mendengarkan dengan seksama apa yang Alina utarakan. Ia tidak menyangka jika wanita itu pernah mengalami permasalahan rumah tangga yang begitu pelik.
Setelah itu Alina beranjak dari duduk dan kembali menatap Zanna, lekat. "Aku berharap yang terbaik untukmu. Aku yakin kamu wanita yang sangat baik, hanya ... kamu sedang tersesat saja. Maka kembalilah dan berubah lah. Semoga kamu cepat sembuh."
Alina melangkahkan kaki menyisakan hentakan sepatu plat di ruangan. Tidak lama berselang sosoknya menghilang di balik pintu.
Seketika itu juga isak tangis seorang Zanna pecah. Dadanya seperti ada yang meremas paksa dengan kuat. Layaknya panah melesat tepat sasaran memberikan lubang menganga di sana.
Bagaikan ada duri menyayat-nyayat relung hati paling dalam, mengalirkan air mata tak berkesudahan. Hanya kehampaan serta kekosongan yang menemani.
Zanna menangis sejadi-jadinya. Ia meraung, menjambak rambutnya kasar, mencoba mengenyahkan kepedihan dalam dada.
Perasaannya campur aduk, antara sedih, terluka, perih, dan ada penyesalan datang menerjang. Ia semakin terisak saat perkataan Alina menyadarkan.
Tanpa ia sadari di luar ruangan, Alina mendengarkan semuanya. Ia mengulas senyum simpul dan ikut menitikkan air mata.
"Ya Allah, terima kasih karena Engkau sudah memberikan kekuatan pada hamba. Terima kasih untuk tidak terlalu dendam kepada Zanna. Hamba berharap dia bisa menerima cahaya-Mu. Berikanlah taupik, hidayah-Mu padanya, ya Rabb," monolog Alina dalam diam.
Ia mengepal kedua tangan kuat, kala gemuruh dalam dada semakin memberontak. Bohong jika tidak ada kekesalan dalam diri, tetapi Alina mencoba mengontrolnya agar tidak bertambah besar.
Ia tidak ingin menyimpan dendam yang hanya akan membuat dirinya semakin terpuruk. Ia meyakini jika Allah tidak tidur dan melihat semuanya dari atas sana.
"Semoga kamu cepat sembuh, Zanna," bisiknya mengutarakan hal yang sama.
Ia pun pergi menyisakan kenangan yang tertinggal di belakang. Semua itu tertulis dalam kamus kehidupannya, bagaimana kejadian tidak diharapkan membuat dirinya lebih kuat dan bersabar lagi.
__ADS_1
...Bersambung......