Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 142 (Season 3)


__ADS_3

"Apa yang terjadi pada pernikahan kalian?"


Suara halus menyapa membuat Alina terlonjak sambil memandang ke samping di mana Jasmin berjalan mendekat. Wanita yang lima tahun lebih tua darinya itu pun duduk tepat di sebelah, manik jelaganya terus memandangi sang lawan bicara.


Kedua mata Alina terbuka lebar, secara perlahan kepala berhijabnya memandang kembali ke depan. Senyum simpul tercetus di wajah ayunya, jari jemari itu saling berpautan menahan segala gejolak dalam dada.


"Tidak ada, hanya ... masalah kecil," katanya kemudian.


"Kamu ... kamu pasti sangat mencintai mas Zaidan, kan? Aku bisa melihat semuanya dari sorot matamu ... kamu sangat mencintai mas Zaidan lebih dari saat kamu mencintai mas Azam."


Hening sesaat membiarkan angin mengambil alih dan berseru dengan suaranya yang lirih. Sapuan dingin itu menyapa mereka mengembalikan pada kenyataan.


"Em, Mbak benar. Aku sangat mencintai mas Zaidan dan ... meskipun tidak separah kemarin, tetapi rasanya sangat sakit," kata Alina mencoba terbuka.


Jasmin tersentak langsung memandang Alina. "Apa yang sebenarnya terjadi?"


Alina pun menceritkan apa yang terjadi di kediaman megah keluarga Zulfan beberapa jam lalu. Mendengar penuturan tersebut membuat Jasmin terpaku. Ia tidak menyangka jika gelombang panas tengah bermain dalam pernikahan mantan madunya.


"Aku sadar, dari awal aku memang tidak pantas untuknya. Derajat kami jauh berbeda, dia dengan keluarganya yang harmonis serta harta melimpah, sedangkan aku?" Alina mendesah pelan lalu tersenyum masam.


"Aku orang tua saja tidak punya, apalagi harta," lanjutnya merendah.


"Alina." Panggil Jasmin, suara seriusnya mengalihkan atensi sang pemilik nama.


"Kamu tahu ... mas Zaidan sangat berbeda dengan mas Azam. Kedua pria itu memiliki keperibadian yang sangat jauh berbeda. Mungkin apa yang aku lihat bisa saja salah, tetapi ... aku tahu jika mas Zaidan bukan orang yang melihat seseorang dari kastanya ataupun status. Dia tulus mencintai kamu apa adanya."


"Saat melihat kalian di pelaminan waktu itu aku sadar jika kamu beruntung bisa mendapatkan pengganti mas Azam yang jauh lebih baik. Mas Zaidan memiliki pendirian teguh yang tidak dimiliki mas Azam. Kamu bisa bahagia bersama dia, Ayana," tutur Jasmin meyakinkan.


Alina terdiam mencerna baik-baik perkataan wanita yang sudah dianggapnya sebagai kakak. Sampai tidak lama berselang suara baritone yang sangat ia kenal menyela.


"Itu benar, aku tidak pernah melihat apa pun darimu, selain hati. Aku benar-benar mencintaimu, Alina. Aku tidak ingin siapa pun selain kamu, Sayang."


Alina bangkit dari duduk dengan manik membola lebar. Mulut ranumnya terbuka menyaksikan ketegasan terpancar dari sang suami.

__ADS_1


"Ma-Mas Zaidan? Bagaimana bisa?" cicitnya teredam.


"Aku yang memberitahunya, kalian berdua harus menyelesaikan masalah ini. Tidak baik terus membiarkan larut dalam permasalahan, apalagi kalian masih pengantin baru." Azam datang menjelaskan.


Alina dan Jasmin tidak percaya dnegan kedatangan mereka. Keduanya juga tidak tahu jika sedari tadi Zaidan dan Azam mendengarkan pembicaraan.


"Baiklah kalau begitu kalian lanjutkan sendiri," kata Azam lagi sambil menarik Jasmin menjauh.


Sebelum pergi Jasmin menepuk pundak Alina seraya berbisik. "Ayahnya perlu tahu, kalian harus bahagia."


Setelah itu pasangan Azam dan Jasmin meninggalkan mereka berdua. Pintu kamar di tutup rapat, Alina dan Zaidan pun beralih ke ruangan seraya duduk berdampingan di pinggir tempat tidur.


Tirai jendela yang terbuka memperlihatkan keadaan di luar. Di mana langit perlahan mulai menggelap menelan indahnya senja.


Dentingan jam terus menyapa memberikan pertanda jika mereka harus segera mengambil alih keheningan. Zaidan memulai aksinya, pria pewaris keluarga Zulfan itu pun menggenggam kedua tangan sang istri.


Alina yang masih menunduk enggan untuk melihat dan menunggu. Ia belum bisa melupakan perkataan Dawas yang membekas dalam ingatan.


"Sayang, kamu tahu selama aku hidup tidak ada yang mengajariku untuk dekat pada Allah. Bertemu denganmu bagaikan menemukan cahaya yang sudah lama aku tinggalkan. Keberadaanmu mampu membuatku sadar untuk lebih mendekat pada Sang Pencipta."


Kata-kata hangat mengalun menelisik ke dalam relung hati terdalam. Perlahan Alina menarik kesadaran, memberanikan diri menatap iris bulan si sampingnya.


Tidak ada kebohongan maupun keraguan di sana, Alina tersenyuh atas ucapan yang dilayangkan suaminya. Tanpa sadar air mata menitik tak tertahankan, bulir demi bulir terus turun memperlihatkan perasaan sesungguhnya.


Alina pun sadar akan luka di wajah tampan Zaidan, tetapi ia enggan bertanya dan lebih memilih menelannya sendiri. Ia takut mendengar penjelasan yang semakin membuatnya tidak ingin kehilangan sang suami.


Tanpa mengatakan sepatah kata lagi, Zaidan memeluk istrinya erat. Ia mengusap punggungnya pelan menyalurkan kekuatan dan memberikan ketenangan.


Tidak lama berselang isak tangis mulai terdengar, Zaidan semakin mengeratkan pelukan dengan memberikan gerakan implusif.


"Aku minta maaf jika ucapan kakek menyinggungmu," katanya lagi.


Alina mengangguk perlahan, kedua tangan terangkat mencengkram kemeja sang suami. Ia menyalurkan kepelikan dalam dada lewat tangisan.

__ADS_1


Kurang lebih lima menit kemudian, Alina menghentikan tangisan. Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.


Masih dalam posisi saling berpelukan, kepala berhijab itu bersandar nyaman di bahu lebar Zaidan. Aroma maskulin begitu menangkan membuat ia nyaman.


Bohong jika ia tidak merasakan hal yang sama dengan suaminya. Alina tidak mau dan tidak ingin kehilangan sosok Zaidan dalam hidupnya. Terlebih saat ini ia tengah mengandung buah hati mereka.


Ia ingin memberikan kejutan itu pada Zaidan, serta merasakan kebahagiaan tersebut bersama-sama. Namun, masih ditahan karena ada satu hal yang membuat ia penasaran.


"Zanna, wanita itu ... apa Mas pernah mencintainya?" tanya Alina setelah sekian lama membungkam mulut.


"Apa kamu lupa jika aku tidak pernah jatuh cinta pada wanita manapun, selain padamu?" Zaidan merenggangkan pelukan kembali memandangi wajah berair sang istri.


Perlahan kedua ibu jarinya menghapus jejak liquid bening di pipi Alina. Senyum tercetus menambah daya tarik pria tampan di hadapannya.


"Sampai kapan pun hanya kamu satu-satunya wanita yang aku cintai, Alina. Aku tidak akan berpaling pada wanita lain. Sulit untuk mendapatkanmu dan itu butuh perjuangan yang tidak mudah.


"Saat kamu memilih untuk tidak menikah lagi dan membuka hati pada orang baru, aku sempat menyerah. Hal itu juga memberikan pukulan telak padaku, sebab baru pertama kali jatuh cinta kamu sudah menolakku. Jadi, tidak ada alasan bagiku untuk pergi darimu."


"Tapi perjanjian itu?" tanya Alina memastikan.


"Sudah aku katakan kalau perjanjian itu hanyalah perjanjian konyol. Tidak ada keseriusan di dalamnya, itu hanya perjanjian yang dilakukan kakek dengan kakek Zanna saja. Aku tidak mau melakukannya. Aku punya hak untuk memilih hidupku sendiri."


"Meskipun itu artinya kamu melepaskan semuanya?" tanya Alina kembali.


Dengan yakin Zaidan mengangguk serya masih menangkup wajah manis istrinya. "Akan aku lakukan untuk tetap bisa bersamamu."


"Kenapa?"


Alina terus melayangkan pertanyaan demi pertanyaan yang membuat Zaidan gemas. Tanpa aba-aba ia pun melayangkan ciuman mendalam di bibir ranum istrinya.


Alina terbelalak saat Zaidan menjauhkan wajah. Ia terdiam kaku dengan tatapan kosong yang kembali membuat sang suami tersenyum lebar.


"Karena aku sangat mencintaimu. Aku tidak akan pernah bosan untuk mengatakan aku sangat mencintaimu." Zaidan membubuhkan kecupan hangat di dahi, kedua mata, pipi, hidung, dan berakhir di bibir manisnya lagi.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2