Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 82 (Season 2)


__ADS_3

Sudah seminggu berlalu sejak Alina pergi dan memberikan surat perpisahan. Kehidupan Azam dan Aqeela benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat.


Keadaan dalam keluarga Zabran itu pun kini bak Kutub Utara, dingin nan hening seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan. Di sana hanya ada kepala keluarga, putri pertama, dan beberapa asisten rumah tangga.


Para pelayan yang kembali bekerja pun merasakan kekosongan dari sang tuan. Namun, mereka hanya bisa menutup mata dan telinga atas apa yang terjadi, termasuk Nenek Saidah.


Satu minggu ini langit pun hanya menampakan awan kelabu. Sesekali hujan datang menemani kehampaan yang terus hadir merenggut kehangatan. Penyesalan memang terkadang selalu datang belakangan dan Azam menyadari hal itu.


Ia sudah sangat salah menyianyiakan orang yang begitu tulus mencintainya. Selama itu pula ia mencari-cari keberadaan sang istri yang menghilang bak ditelan bumi. Keberadaannya sulit dideteksi layaknya cahaya yang perlahan meredup.


"Ayo, Ayah akan mengantarmu ke sekolah," ujar Azam setelah selesai sarapan.


"Tidak usah, aku berangkat diantar supir saja," jawab Aqeela dingin.


Azam hanya bisa menghela napas kala sang putri lagi-lagi menolak tawarannya. Aqeela menutup diri setelah ayahnya memberitahu semua yang terjadi di keluarga mereka.


Kurang lebih setengah jam kemudian, Azam tiba di perusahaan dan langsung menuju ruangannya berada.


Zara yang sudah berada di mejanya hanya mengamati sang atasan menghilang di balik pintu. Ia menghela napas pelan seraya melihat benda pintar dalam genggaman.


"Aku harap yang terbaik untuk mereka berdua," gumamnya lalu meletakan ponsel di atas meja. Layarnya menampilkan satu kontak atas nama Alina.


...***...


Azam mematung setelah masuk ke dalam ruangan. Netra beningnya menangkap satu sosok yang selama delapan bulan ini menghantui dan memporak-porandakan ketenangan keluarga kecilnya.

__ADS_1


Ia mengepal kedua tangan erat mencoba menahan kekesalan yang hinggap saat melihatnya. Ia sudah termakan kesalahannya sendiri dan menganggap wanita itu bisa menggantikan mendiang sang istri yang ternyata masih hidup. Namun, keputusan yang diperbuatnya malah memberikan malapetaka lain. Ia kehilangan sosok istri yang benar-benar tulus mencintainya.


"Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku, Yasmin?" ujarnya dingin.


Sedetik kemudian Yasmin membalikan badan dan mengulas senyum manis. Pandangan mereka pun saling bertubrukan memancarkan keseriusan.


"Satu minggu ini kamu mengabaikanku. Apa kamu lupa jika aku masih istri sahmu?" tanyanya balik.


"Katakan yang sebenarnya tujuanmu mendekatiku? Kamu memang Yasmin yang aku temui sembilan tahun lalu, tapi ... bukan wanita yang aku cintai dan aku nikahi. Jasmin, wanita itu adik kembarmu, kan? Kamu ingin menghancurkan kebahagiaannya dan-"


"Iya, aku memang ingin melihatnya hancur dan merasakan apa yang kurasa selama ini. Apa kamu tidak pernah berpikir jika dari awal dia sudah menipumu. Dia-"


"Orang yang sudah menipuku adalah KAMU!" tunjuk Azam tepat di depan wajah Yasmin.


Kedua insan itu pun saling melempar kata dan mencela ucapan satu sama lain. Sorot mata tajam memancar menguarkan kepelikan dalam diri masing-masing.


"Seminggu yang lalu aku bertemu Jasmin di tempat antah berantah. Selama tujuh tahun kamu menyembunykan dia, kan? Kenapa kamu tega melakukan itu pada adik kembarmu sendiri?" tegas Azam seraya meredam kekesalan dalam dada.


Yasmin terpaku, lidahnya kelu tidak bisa mengatakan sepatah kata. Ia memutar ingatannya ke belakang di mana perseteruannya dengan Alina hinggap di kepala.


Ia tidak percaya jika wanita itu berhasil menemukan kelemahannya dan mendapatkan informasi mengenai keberadaan Jasmin.


Ia mengepalkan kedua tangan erat dan berjalan beberapa langkah ke depan. "Jadi, Alina yang memberitahu Mas mengenai semua ini?" Azam hanya mengangguk sekilas.


"Apa Mas tidak tahu jika istrimu itu adalah wanita licik? Selama ini dia sudah bekerja sama dengan seseorang untuk mencari tahu kelemahan kita untuk menjatuhkan dan mempermalukanmu. Sekarang dia pergi, kan? itu artinya dia sudah muak hidup bersamamu."

__ADS_1


"Dan aku memang sengaja menyembunyikan Jasmin selama ini. Seharusnya kamu berterima kasih padaku, karena aku yang sudah menyembuhkan dia untuk tidak mati saat itu juga. Aku juga tidak bisa membiarkan dia mati dengan mudah sebelum melihat pria yang dicintainya hancur!" tegas Yasmin tanpa rasa bersalah. Sebelah sudut bibirnya terangkat dengan manik menusuknya tajam.


Perlahan Azam menundukan pandangan, bibir menawannya mengatup rapat tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya menunggu sampai keheningan itu hilang dengan sendirinya. Ia tidak menyangka jika rumah tangganya akan diwarnai kebohongan.


Dusta yang ia mainkan pada Alina kini berbalik, menerjangnya kuat dan menamparnya keras. Ia sadar jika semua kekacauan yang terjadi sekarang atas perbuatannya sendiri. Karena apa yang ia tanam suatu saat akan menuai hasilnya.


"Jadi jangan salahkan aku jika rumah tanggamu kacau. Karena dari awal bukan aku yang menjadi istrimu. Aku memang mencintaimu dan harus merelakanmu untuk bersamanya. Aku sakit, HATIKU SAKIT AZAM, harus berbagi semua hal dengan Jasmin, termasuk-" Yasmin menarik dasi Azam kuat hingga pandangan mereka begitu dekat. "Termasuk harus merelakan kebahagiaanku bersamamu untuknya." Ia lalu mendorongnya kasar dan berlalu dari ruangan itu.


Air mata mengalir tak tertahankan bagaimana masa lalu yang telah bertahun-tahun dirinya kubur mencuat ke permukaan.


Zara yang sedari tadi mendengarkan perkataan mereka pun tidak menyangka jika semuanya akan rumit seperti benang kusut. Ia lalu melihat Yasmin keluar seraya mengusap cairan bening di pipinya kasar. Ia kemudian beranjak dari duduk dan berjalan mendekat.


"Yasmin," panggilnya.


Yasmin yang baru saja melewati meja kerjanya terdiam beberapa saat dan menolehkan kepala ke samping. "Kamu pasti sudah mendengar semuanya. Tertawalah, aku memang sangat menyedihkan. Maaf, jika selama ini aku juga memanfaatkanmu," lirihnya dan setelah itu ia pergi.


Zara hanya bisa melihat dalam diam tanpa mencegahnya lagi. "Memang benar apa kata Alina, wanita itu hanya korban," lirihnya. "Aku harus segera menemuinya," lanjut Zara dan kembali ke meja kerjanya.


...***...


Azam menautkan jari jemarinya seraya menatap tiga foto tergelatak di atas meja. Ia duduk di sofa tunggal memandangi mereka satu persatu.


Itu adalah gamabr ketiga istrinya yang sudah memberikan kejutan tak terduga. Helaan napas terdengar lelah, membuatnya menahan sesak dalam dada lagi.


"Jadi, siapa sebenarnya wanita yang aku cintai? Kenapa hatiku sangat sakit melihat kamu pergi?" bisiknya sambil membawa foto Alina.

__ADS_1


Seketika itu juga air mata berdesakan dan mengalir begitu saja. "Alina, kenapa kamu harus pergi? Aku minta maaf ... selama delapan tahun pernikahan kita aku hanya bisa memberikan luka. Jujur, aku sangat menyayangimu. Bisakah ... bisakah kita kembali? Aku belum bisa memberikan tanda tangan disurat yang kamu tinggalkan. Karena aku masih membutuhkanmu," ucapnya pelan.


Bola matanya lalu bergulir melihat dua foto lagi tergeletak di hadapannya. "Siapa kalian sebenarnya? Kenapa harus ada permainan ini di kehidupanku? Ya Allah, bagaimana hamba harus menyikapinya sekarang? Yasmin dan Jasmin? Siapa kalian sebenarnya?" Lagi dan lagi pertanyaan yang sama terus tercetus di balik celah bibirnya.


__ADS_2