Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 229 (Season 3)


__ADS_3

Jalan seseorang untuk menempuh kebahagiaan berbeda-beda. Ujian serta cobaan yang diberikan tidak sama satu sama lain. Ada yang berupa penyakit sampai pengkhianatan cinta.


Kisah hidup seseorang memiliki jalan lika-liku yang berbeda pula. Air mata yang dihasilkan mampu menjadi teman setia kala tidak ada seorang pun mengerti.


Namun, yang lebih baik di saat mendapatkan sebuah kesakitan maka hamparkan sajadah dan bermunajat kepada Sang Pemilik Kehidupan. Allah pasti akan memberikan solusi serta kebahagiaan setelahnya.


Perjalanan hidup yang berat pun sudah dilalui oleh Jasmin Zakiyyah. Bertahun-tahun ia harus berjuang menghadapi penyakit ganas yang menggerogoti kesehatannya.


Leukemia adalah penyakit yang bisa merenggut nyawanya dan membuat ia meninggalkan orang-orang tercinta.


Dengan penyakit itu pula ia menghadirkan orang ketiga dalam rumah tangganya. Alina Inayah, menjadi madunya dan juga ibu sambung untuk sang buah hati.


Bohong jika dirinya tidak ada perasaan cemburu pada saat melihat sang suami bersama Alina. Namun, pada saat itu ia hanya bisa pasrah untuk kebaikan Azam.


Ia tahu Alina sudah mencintai suaminya saat mereka pertama kali bertemu. Itulah kenapa ia memintanya untuk menikah dengan Azam.


Keputusannya tersebut mengantarkan pada cerita yang lain. Tahun berganti tahun, masa yang tidak pernah ia ketahui harus mendatangi.


Menyandang nama sang saudari kembar membuat ia merasa bersalah. Ia pun kembali bertemu dengan Yasmin yang sudah lama menghilang. Ia tidak menyangka jika saudari kandungnya itu pun bertindak semena-mena.


Meskipun ia tidak menampik jika melalui Yasmin dirinya bisa sembuh dan mendapatkan donor sumsum tulang belakang.


"Sayang, apa yang kamu pikirkan?" Suara baritone menyahut. Jasmin menoleh ke samping mendapati sang suami merangkak mendekat.


Ia yang tengah duduk selonjoran kaki di tempat tidur pun menutup album foto sedari tadi menemani kesendirian.


"Tidak ada, hanya sedang mengingat masa lalu," balasnya kemudian.


Azam mengangguk singkat lalu mengambil album di pangkuan sang istri. Ia membukanya dan mendapati potret pernikahan keduanya.


Ia menatapnya lekat membuat Jasmin mengembangkan senyum. Tangan lentik itu mendarat di lengan Azam membuat sang empunya menoleh.


"Apa yang sedang Mas pikirkan?" tanya Jasmin langsung.


"Ah, tidak ada hanya saja-" Azam menghentikan ucapan sembari menutup album foto dan meletakkannya di atas nakas.

__ADS_1


"Hm?" Jasmin menatapnya menunggu ucapan sang suami selanjutnya.


"Hanya saja ... aku benar-benar merasa bersalah pada Alina," kata Azam kemudian.


Jasmin menggenggam kedua tangan sang suami lembut lalu mendongak menatap manik karamel di hadapannya.


"Tidak usah berbicara seperti itu, Mas. Semua sudah berlalu, Alina juga kan sudah memaafkan semua kesalahanmu. Meskipun aku sadar jika tidak mudah melupakan luka yang pernah ditorehkan dari orang tercinta."


"Namun, aku yakin Alina benar-benar sudah memaafkan mu. Alina, wanita yang sangat baik ... yang pernah membantu kita di kala kesusahan," tutur Jasmin mencoba menenangkan.


Azam mengangguk singkat dan menarik napas panjang. "Iya kamu benar, Sayang. Alina benar-benar wanta hebat dan sangat baik. Itulah kenapa Allah memisahkan kita dan mendatangkan Zaidan untuknya."


Jasmin mengiyakan ucapannya setuju. "Aku senang melihat mereka sudah bahagia sekarang. Aku juga merasa bersalah sudah membuat kalian bersama. Aku-"


"Sudah-sudah, seperti katamu tadi Sayang, jika Alina sudah memaafkan kita. Aku berharap dia akan terus bahagia selamanya bersama Zaidan," potong Azam cepat, Jasmin pun kembali mengangguk setuju.


"Mas boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Jasmin kemudian.


"Tentu, apa itu?" tanya balik Azam penasaran.


Azam terperangah beberapa saat lalu merangkul bahu istrinya pelan, "Lebih baik kita tidur saja," katanya sembari membaringkan Jasmin.


Ia pun menyelimutinya hingga ke dada dan menyelami mata indah di bawahnya.


"Dari dulu aku sudah mencintaimu," ungkapnya lalu mengecup hangat dahi sang istri.


Jasmin terkejut dengan manik melebar sempurna. Kedua matanya berkedip-kedip, memandang lurus ke depan.


Azam pun membaringkan dirinya di samping sang istri dan menutup kedua mata.


"Bohong jika selama kami bersama, perasaan itu tidak tumbuh sama sekali. Namun, aku salah dalam menafsirkannya saja. Sekarang semuanya sudah menjadi masa lalu, aku maupun Alina sama-sama sudah mendapatkan kebahagiaan masing-masing dan menjadi keluarga besar untuk Raihan," monolognya dalam diam.


...***...


Kediaman Zaidan kini nampak begitu ramai saat Azam, Jasmin, Angga, Sarah, Dimas, dan Zara datang beramai-ramai.

__ADS_1


Mereka menghabiskan hari ahad dengan melewati waktu bersama keluarga. Suasana semakin meriah kala celotehan demi celotehan dari Raihan, Aqeela, Zenia, Naura serta Arkara, putra kedua Zara dan Dimas pun saling bersahutan.


Para orang dewasa itu menonton dengan senang kebersamaan anak-anak tersebut. Keberadaan mereka mampu menghangatkan serta mengakrabkan satu sama lain.


Jam terus berdetak menemani kebersamaan. Di tambah dengan makanan ringan serta minuman melengkapi semuanya.


Beberapa saat kemudian, para wanita dan pria pun membelah diri. Alina, Zara, Jasmin, dan Sarah berada di ruang keluarga, sedangkan Zaidan, Dimas, Azam, serta Angga berada di balkon. Anak-anak sudah terlelap, kelelahan sehabis menguras tenaga dengan bermain.


"Aku bahagia kita menjadi keluarga besar," tutur Zara membuka suara.


Alina, Jasmin, dan Sarah yang tengah menikmati kue kering pun mengangguk setuju.


"Iya, aku setuju apa kata Teh Zara. Aku pikir kalian tidak bisa akrab seperti ini," balas Sarah memandangi ketiga wanita di sekitarnya.


Alina, Jasmin, serta Zara pun saling pandang teringat kejadian masa lalu. Di mana ketiganya pernah terlibat pada satu orang pria yang sama.


Alina tertawa kaku mendengar penuturan Sarah. "I-itu benar, tapi semua sudah menjadi masa lalu. Benarkan, Zara, Mbak Jasmin?" timpalnya memandangi kedua wanita tersebut.


Zara dan Jasmin pun mengangguk kaku.


"Itu benar, sudahlah jangan membahasnya lagi," balas Zara lalu meminum minumannya.


"Iya, semua hanya menjadi cerita masa lalu yang tidak usah diungkit lagi, tetapi ... berkat itu juga sekarang kita bisa menjadi keluarga besar," balas Jasmin menoleh pada ketiganya.


Mereka pun mengangguk setuju dan setelah itu tertawa bersama. Sudah banyak kisah yang dilalui mengantarkan pada muara terindah.


Para pria yang berada tidak jauh dari istri-istrinya itu pun memandangi sekilas. Mereka ikut tersenyum senang kala tidak sengaja mendengar pembicaraan tersebut.


Masa akan habis jika satu kejadian telah dilewati dan akan digantikan oleh yang lain. Kebahagiaan serta kesedihan memang tidak pernah bisa lepas dari kehidupan. Keduanya akan berjalan beriringan dan terus berganti.


Alina dalam diam menyaksikan orang-orang yang kini sudah menghiasi hidupnya. Bibir ranum itu melengkung sempurna, tidak menyangka jika di balik kejadian tidak diharapkan mereka bisa memiliki hubungan pertemanan yang sangat akrab.


Bahkan mereka sudah menganggap satu sama lain sebagai keluarga. Tidak ada yang lebih membahagiakan baginya, selain bisa bersama orang-orang terdekat.


"Aku yang dulu tidak pernah merasakan kehangatan sebuah keluarga, kini Allah menghadirkan orang-orang hebat seperti mereka. Meskipun di balut dengan air mata kesedihan, tetapi setelahnya benar-benar menakjubkan. Terima kasih ya Allah atas kelimpahan rahmat dari-Mu," benaknya memandangi mereka dalam diam.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2