Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 235 (Season 3, Jasmin & Azam)


__ADS_3

Hidup kembali bersama setelah pasang surut kehidupan rumah tangga menjadikan pasangan Azam dan Jasmin bisa saling menghargai lagi.


Mereka bersyukur bisa kembali dipersatukan dalam ikatan suci pernikahan. Orang ketiga hadir dalam perjalanan kisah keduanya.


Alina Inayah, seorang wanita yang berhasil memberikan warna-warni kepada kehidupan seorang Azam dan Jasmin telah melengkapi kisah ini.


Mereka banyak belajar dari sosoknya yang luar biasa. Alina sabar dalam menghadapi berbagai problematika terutama masalah perasaan.


Alina kuat, mampu berdiri dari segala pengkhianatan serta kebohongan yang dilakukan oleh suami pertamanya.


Di balik kesabaran yang dijalaninya, Azam maupun Jasmin mengambil pelajaran. Jika hargailah waktu selagi seseorang itu ada, sebab setelah ia pergi maka akan ada penyesalan.


Bukan setahun ataupun dua tahun Azam membina rumah tangga bersama Alina. Sejak Jasmin dinyatakan meninggal dunia pria itu roboh seketika.


Keberadaan Alina mampu menopang beban beratnya hingga Azam bisa lepas dari depresi. Namun, apa yang sudah ia berikan padanya? Hanya kesakitan tiada akhir.


Kini Azam sadar dan sudah mendapatkan balasannya.


Pasangan suami istri itu pun tengah memandang kedua putra putri mereka dalam diam. Senyum melengkung sempurna di wajah tampan dan cantik mereka.


Jasmin dan Azam bersyukur segala ujian yang menimpa sudah selesai. Kini manisnya madu tengah mereka kecap kala melewati hari yang Allah berikan.


"Jangan lari-larian nanti jatuh," teriak Jasmin di balkon melihat Aqeela dan Raihan tengah bermain bersama.


"Tidak apa-apa, Mah. Kami akan baik-baik saja," balas Aqeela berteriak juga.


"Ibu tidak usah khawatir, aku dan Kak Aqeela tidak akan jatuh," timpal Raihan yang ikut meninggikan suara.


Aqeela dan Raihan yang hanya berbeda satu tahun setengah itu terlihat seperti anak kembar. Wajah yang mirip satu sama lain membuat mereka layaknya saudara kandung seayah dan seibu.


Namun, pada kenyataannya Aqeela maupun Raihan memiliki ibu yang berbeda. Meskipun begitu, adik kakak tersebut sudah menerima jika keluarga mereka berbeda dari yang lain.


Keduanya menjadi saksi bisu seperti apa permasalahan yang orang dewasa itu tempuh. Karena mereka adalah korban dari sebuah keegoisan.


Baik Aqeela dan Raihan, sama-sama berusaha untuk menjadi anak baik di balik perpecahan terjadi.

__ADS_1


Di tengah kesendirian, Jasmin terkejut kala sepasang lengan kekar memeluknya dari belakang. Ia menunduk melihat lengan berurat itu merengkuhnya posesif.


Tanpa sadar senyum mengembang di wajah cantiknya. Ia pun bersandar di dada bidang sang suami seraya sama-sama melihat ke depan.


"Aku senang Raihan dan Aqeela bisa akur. Mereka saling menyayangi satu sama lain, itu membuatku sangat bahagia," ucap Azam kemudian.


"Em, aku juga merasakan hal yang sama. Alina ... dia berhasil mendidik Raihan menjadi anak yang sangat baik. Alina juga sudah membantuku membesarkan Aqeela hingga membuat ia menjadi gadis mandiri. Pengaruhnya benar-benar baik," timpal Jasmin.


Azam mengangguk setuju. "Begitulah, Alina memang wanita baik. Terima kasih sudah mengizinkan kami bersama."


"Aku bersyukur Alina bisa mendapatkan kebahagiaannya sendiri dan terbebas dari rasa sakitnya," balas Jasmin lagi.


"Aku juga merasa lega, Zaidan bisa membahagiakannya sekarang. Dia memang pantas mendapatkan seseorang yang mencintainya dengan tulus. Aku ... hanya bisa menyakitinya saja," aku Azam meletakan dagu di bahu sempit sang istri.


Jasmin menggeleng pelan, "tidak seperti itu. Aku yakin Alina juga bahagia pernah bersanding denganmu, Mas. Kita doakan saja semoga pernikahan keduanya bersama Zaidan bisa bahagia selalu."


"Aamiin, aku mengharapkannya seperti itu. Zaidan pasti bisa membahagia Alina selamanya."


"Em, aku setuju. Pria itu sangat mencintai Alina."


Azam kembali mengangguk. Keduanya menatap langit yang sama sembari mengingat lagi masa-masa ada Alina dulu.


...***...


"Sayang, apa benar kamu mau tidur di rumah kami malam ini? Bukankah besok hari libur? Biasanya kamu, mamah, ayah, dan putri akan bermain bersama, kan?" tutur Jasmin sembari mengusap surai putra sambungnya lembut.


Raihan yang tengah berbaring di sampingnya pun menoleh memberikan cengiran lebar.


"Tidak apa-apa, Bu. Malam ini aku ingin tidur bersama ayah dan Ibu," balasnya membuat Jasmin terperangah.


"Kenapa?" tanya Jasmin penasaran.


"Karena aku sayang Ibu." Raihan berbalik dan langsung memeluk Jasmin erat.


Ia pun lagi-lagi dibuat terkejut akan tindakan tiba-tiba putra kedua sang suami. Jasmin tidak bisa menahan air mata yang seketika itu juga meluncur tak tertahankan.

__ADS_1


Kedua tangannya terangkat membalas pelukan Raihan sembari mengelus punggung sempitnya pelan.


"Ibu juga sangat sayang pada Raihan. Ibu sangat menyayangimu, Nak. Kamu ... putra Ibu dan mamah yang luar biasa," ungkap Jasmin lalu membubuhkan kecupan hangat di puncak kepalanya.


Raihan tersenyum di balik dada sang ibu sambung. Ia bisa merasakan kehangatan dari wanita yang sudah melahirkan kakaknya ini.


"Apa kalian sudah melupakan Ayah?" Suara Azam menginterupsi.


Raihan melepaskan pelukan, berbalik melihat sang ayah merangkak mendekat ke tempat tidur. Azam pun memberikan ciuman mendalam di dahi sang putra dan menatapnya hangat.


"Terima kasih sudah hadir dalam kehidupan kami, jagoan. Maaf Ayah pernah mengecewakanmu." Sekuat tenaga Azam menahan air mata yang tiba-tiba saja merengsek keluar.


Raihan menggelengkan kepala beberapa kali. "Eeum, Ayah jangan meminta maaf. Aku mengerti, yang terpenting sekarang kita bisa bersama lagi. Meskipun yah tanpa adanya mamah, tapi aku senang keluarga kita sudah baik-baik saja."


"MasyaAllah, Sayang. Mamah benar-benar hebat dalam mendidik mu." Jasmin memeluknya dari belakang dan kembali menitikkan air mata,


"Anak Ayah memang sungguh luar biasa. Mamah hebat sudah membesarkan mu dengan sangat baik," timpal Azam memberikan ciuman kasih sayang di kedua punggung tangannya.


Raihan tergelak senang dan memeluk orang tuanya hangat.


"Apa kalian melupakan aku?" Suara lembut dari arah pintu membuat mereka menoleh ke arah yang sama.


Mereka melihat Aqeela tengah memanyunkan bibir dan seketika itu juga ketiga orang yang berada di tempat tidur terkekeh.


"Sini-sini Sayang." Azam merentangkan tangan menyambut kedatangan sang putri.


Aqeela pun langsung berjalan mendekat dan berbaring di sebelah sang adik diapit kedua orang tua mereka.


Berada dalam dekapan orang tua adalah waktu yang paling berharga. Raihan dan Aqeela senang mempunyai ayah serta itu seperti mereka maupun Alina.


Azam dan Jasmin saling pandang lalu mengulas senyum melihat kedua anaknya berada dalam dekapan.


Kebahagiaan mereka lengkap sudah dengan dibumbui keharmonisan di dalamnya. Baik Azam maupun Jasmin, keduanya beruntung bisa bertemu dengan Alina.


"Terima kasih ya Allah atas segala kebaikan yang Kau berikan. Semoga pernikahan Alina dan Zaidan bahagia selalu serta selalu dilimpahi rahmat dari-Mu ya Rabb. Hamba hanya berharap segala kebaikan akan selalu menyertai mereka," monolog Azam dalam diam.

__ADS_1


Ia merupakan seorang mantan suami yang telah menyianyiakan istri sebaik Alina. Namun, meskipun demikian mereka sudah berbahagia dengan kehidupannya sekarang.


...Bersambung......


__ADS_2