Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 97 (Season 2)


__ADS_3

Sepeninggalan Sarah dan Angga yang membawa serta Raihan untuk mengajaknya bermain di luar, kini di ruang inap tersisa pasien bersama sahabat barunya.


Hujan sudah berhenti beberapa saat lalu. Aroma yang begitu khas menelisik ke indera penciuman mengusir kekosongan dengan kelembapannya.


Sedari tadi Zara terus memperhatikan Alina yang diam tanpa suara. Ia lalu menarik napas dan menghembuskannya perlahan sebelum mengatakan sesuatu yang mengendap di dada.


"Aku tidak menyangka jika mas Zaidan mengutarakan perasaannya. Dia-" Zara menghentikan ucapan saat Alina menoleh. "Dia benar-benar mencintaimu, Alina. Aku bisa melihat ketulusan di dalam matanya, dia sudah lama jatuh cinta padamu," ungkapnya meyakinkan.


Alina masih diam dan tersenyum simpul, sampai mengatakan, "Aku sudah tidak percaya diri lagi. saat ini aku hanya ingin fokus membesarkan Raihan dan memberikan yang terbaik untuknya."


"Aku tahu pasti tidak mudah membuka hati untuk yang baru. Aku sangat paham dan mengerti, karena posisiku tidak jauh sepertimu, tetapi ... kamu harus menghargai ketulusannya. Mas Zaidan tidak main-main dengan perasannya. Dia bahkan rela mencari tahu keberadaanmu dan sampai bertanya padaku. Coba kamu pikir dari mana datangnya pengacara itu jika bukan mas Zaidan yang menyuruh mas Dimas membantumu," oceh Zara.


Alina mengangguk singkat mendengar celotehannya, "Aku sangat menghargainya."


Zara mengiyakan dan keheningan kembali menyambut. Mereka sama-sama gagal dalam pernikahan, rumah tangga tidak semulus yang keduanya pikir. Cinta saja tidak cukup untuk membangun sebuah komitmen tersebut.


Butuh persiapan yang sangat matang dan saling menghargai satu sama lain. Kini trauma pun hinggap menjadikan mereka tidak berani membuka hati untuk yang baru.


"Oh yah, Narura mana? Kenapa aku tidak melihatnya?" tanya Alina kemudian.


"Oh, dia sedang bersama mas Dimas. Anak itu selalu saja menempel padanya," jawab Zara sambil memasukan buah anggur ke dalam mulut.


Mendengar itu Alina menarik subut bibirnya sempurna. "Kamu juga, ada orang yang begitu tulus kenapa diabaikan?"


"Pertanyaan itu kamu tahu sendiri jawabannya."


Mereka pun saling pandang dan tertawa bersama. Memiliki seseorang yang mengerti perasaan terdalam, adalah sebuah anugerah. Baik Alina dan Zara sama-sama menjadi korban sebuah keegoisan.


...***...


Azam membawa Jasmin pulang ke rumah mereka. Sudah lama wanita itu tidak melihat jalanan yang begitu akrab dalam pandangan.

__ADS_1


Namun, sudah ada yang menghilang ataupun berubah. Tujuh tahun lamanya ia pergi meninggalkan tanah kelahiran. Selama itu pula banyak hal yang telah dilewatinya, termasuk kehidupan sang suami.


Ia tidak menyangka dan menduga bisa mendapatkan donor sumsum tulang belakang. Ia pikir tujuh tahun lalu sudah tidak bisa membuka matanya lagi untuk melihat dunia maupun buah hatinya.


Sebegai seorang ibu, kerinduan akan sosok Aqeela begitu menyiksa. Setiap malam ia terus berdo'a berharap Allah akan memberikan kesemapatan padanya untuk kembali dengan malaikat kecilnya.


Do'a itu pun diijabah dan kini Jasmin tengah berada dalam perjalanan guna menemuinya. Sedari tadi tidak ada satu pun dari mereka membuka suara.


Jasmin terus melirik sang suami yang tengah menyetir dengan serius.


"Mas, boleh aku bertanya sesutau?" ucapnya ragu-ragu.


"Hm," gumam Azam.


"Apa Mas pernah mencintai Alina selama delapan tahun ini? Terutama saat aku dinyatakan meninggal? Juga, kenapa Mas mengabaikan Raihan? Dia juga putramu, Mas," tanya Jasmin menggebu.


Seketika Azam menginjak rem hingga membuat Jasmin terantuk. "A-ku minta maaf," cicitnya dan kembali melajukan mobil.


"Bohong jika perasaan itu tidak pernah muncul, tetapi tidak sebesar cintaku padamu. Aku juga tidak sadar telah mengabaikan putraku sendiri. Aku menyesal atas apa yang sudah terjadi. Aku benar-benar menyesalinya." Azam menggenggam stir kuat melampiaskan penyesalan.


"Aku tidak menyangka mendengar Mas mengatakan ini. Mas benar-benar harus menyesali apa yang sudah diperbuat. Terlebih anak tidak salah apa-apa, dia berhak merasakan kasih sayang ayahnya juga tanpa dibeda-bedakan," tutur Jasmin.


"Aku juga menyesal sudah menarik Alina dalam masalahku. Jika saja aku tidak menikahkan kalian, Alina tidak akan pernah menderita seperti sekarang. Aku benar-benar jahat ... aku pantas mendapatkan balasannya." Jasmin kembali menangis. Azam yang menyadari itu pun langsung menggenggam tangannya hangat tanpa mengatakan sepatah kata.


Beberapa saat kemudian mereka tiba di bangunan mewah berlantai dua. Jasmin kembali tidak percaya bisa datang ke tempat itu. Rumah yang sudah banyak memberikan kenangan terbaik selama hidupnya kini dikunjunginya lagi.


Selama tujuh tahun disekap oleh kembarannya sendiri, Jasmin tidak mendapatkan akses untuk melihat keluarganya. Mereka hanya mengetahui jika sosok Jasmin Zakiyyah sudah meninggal.


Sekarang ia mulai berani menampakan diri lagi dan hal utama yang ingin ditemuinya adalah sang buah hati.


"Assalamu'alaikum, Sayang Ayah pulang," teriak Azam seraya memindai seluruh ruangan mencari sang putri.

__ADS_1


Dari arah depan tepatnya di atas tangga Aqeela mematung tidak percaya melihat seseorang berdiri di sebalah ayahnya. Ia menautkan kedua alis dan menyipitkan kedua mata memfokuskan pandangan.


"Wa-Wa'alaikumsalam," cicitnya pelan seraya terus memandang ke arah wanita berhijab di sana.


Jasmin yang kembali melihat buah hatinya tidak bisa membendung kebahagiaan. Air mata meluncur bebas menyaksikan putri kecilnya sudah menjelma menjadi gadis yang begitu cantik.


"Sayang, ini Mamah, Nak," jelasnya.


Aqeela menoleh pada sang ayah, Azam yang mengerti tatapan penuh tanya itu pun menjelaskan semuanya. "Dia benar-benar Mamah, Sayang. Dia ibu kandungmu."


"A-apa? Bukankah dia Tante Yasmin?" gugupnya.


Azam menggeleng membuat Aqeela tertegun. "Dia benar-benar ibu kandungmu ... wanita yang sudah melahirkanmu ke dunia."


"Itu benar, Sayang. Ini Mamah, Nak," lanjut Jasmin.


Tanpa menunda waktu, Aqeela menuruni anak tangga dan langsung menerjang tubuh sang ibu. Ia menangis dalam diam kala merasakan hangatnya pelukan seorang ibu kandung.


Jasmin pun memeluknya erat seraya menghirup aroma putri tercintanya dalam-dalam. "Baru kali ini Mamah benar-benar bisa memelukmu, Sayang. Mamah sangat merindukanmu ... maafkan Mamah dulu tidak bisa mengurusimu, karena penyakit yang harus memisahkan kita. Alina adalah ibu pengganti yang terbaik untukmu. Dia sudah membesarkan Aqeela dengan sangat baik. Aku berhutang budi begitu banyak padanya."


"Mamah, Aqeela merindukan Mamah," ungkap gadis kecil itu.


"Mamah juga sangat-sangat merindukanmu, Sayang. Mamah minta maaf sudah pergi terlalu lama," balas Jasmin seraya mengusap kepalanya hangat.


Melihat kebersamaan ibu dan anak itu membuat Azam sadar jika buah hatinya membutuhkan perhatian dari orang tua. Namun, selama ini ia tidak memberikan hal itu pada putra keduanya.


"Aku ayah yang sangat buruk. Pantas saja Raihan tidak mau bersamaku. Karena apa yang telah aku lakukan benar-benar menyakiti perasaannya. Aku sudah melukai hati ibu dan anak itu," benak Azam terus menerus menyesali perbuatannya.


Kadang kala apa pun yang dilakukan meskipun tanpa sadar pastinya memberikan efek pada penerima.


Itulah yang selama ini Azam lakukan, dirinya berpikir jika Raihan tidak memperhatikan, sebab anak itu lahir dari seorang Alina. Namun, yang namanya anak tidak tahu apa-apa selain mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2