
Kebahagiaan membentang membentuk lengkungan bulan sabit yang terus terpancar. Riak binar kesenangan menari indah bersama bintang berkelap-kelip dalam mata sebening embun.
Tidak ada yang tahu dan menyangka kapan episode kesedihan itu menghilang. Namun, kedatangannya bagaikan magic yang telah Allah susun serapih mungkin untuk memberikan kejutan.
Takdir Sang Illahi tidak pernah salah dan tidak mungkin salah sasaran. Kapan pun itu terjadi pasti di waktu yang sangat tepat.
Hidup penuh liku nan terjal, bagaikan sirkut di perlombaan sepeda motor, kadang kala sang pembalap harus bergerak cepat agar sampai di tujuan. Namun, jalanan yang berlika-liku harus dilalui, dan terkadang menyuguhkan kengerian.
Seperti, jalanan licin, hujan, mesin yang bermasalah, dan lain sebagainya. Sang pembalap sejati tidak akan pernah menyerah untuk terus berjuang sampai tiba di garis akhir.
Meskipun berada di urutan terakhir, itu tidak mengapa asal tidak menyerah pada keadaan. Itulah pemenang sejati, turut merasakan kebahagiaan orang lain dan tentu masa tidak akan pernah berjalan di tempat.
Akan ada masa kitalah yang menjadi pemenang sesungguhnya. Karena Allah tidak pernah tidur dan senantiasa melihat apa yang hamba-Nya lakukan.
Meniti kehidupan yang terus berlinang air mata tidak menyurutkan semangat juang untuk menggapai kebahagiaan. Roda berputar seiring waktu, berada di atas dan di bawah sudah mempunyai ketentuannya sendiri.
Itulah yang terjadi pada diri seorang Alina Inayah. Wanita yang kini genap berusia tiga puluh tiga tahun kembali mengemban peran ganda sebagai ibu dan istri.
Layaknya hari-hari lalu ia berusaha menjadi pendamping yang lebih baik. Perbedaan begitu kentara di saat pernikahan pertama dan keduanya.
Sekarang ada cinta dan kasih sayang yang membelit indah hubungan mereka. Bukti ada dari cincin yang melingkar di jari manis mereka.
Uap dari penggorengan begitu mengepul kala ia sedang menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya. Kedua sudut bibir itu melengkung membentuk kurva begitu indah.
Lega sudah perasaannya kala mendapatkan suami pengganti yang jauh lebih baik. Sosok Zaidan Zulfan bagaikan oasis di padang tandus.
Kehadirannya menyuburkan cinta yang telah kandas. Tunas baru itu tumbuh di dasar hati paling dalam. Kepercayaan ia bangun kembali saat mengetahui kesungguhannya.
Cinta dibentuk dan dirangkai dalam ikatan suci pernikahan. Itulah kebenaran akan keseriusan seorang pria.
Alina terharu dan terus mengucap rasa syukur kepada Allah atas kelimpahan rahmat yang diberikan-Nya.
Rasa sakit, pedih, perih, perlahan menghilang berganti kesenangan tiada tara. Ia bagaikan seorang bidadari yang diperlakukan sangat baik oleh suaminya.
Di tengah kesibukannya memasak dan mengingat masa lalu akan pertemuannya dengan sang suami, sepasang lengan kekar memeluknya dari belakang.
__ADS_1
Aroma mint seketika menguar menelisik indera penciuman. Kelopak mata besarnya menutup merasakan kenyamanan dada bidang yang menempel di punggungnya.
Kehangatan menjalar membut denyut jantung berpacu kencang. Di belakangnya, Zaidan melebarkan senyum menyaksikan rona merah di kedua pipi sang istri.
Tanpa peringatan apa pun kecupan manis mendarat di wajah cantiknya. Alina langsung membuka mata dan menoleh ke samping.
Belum sempat keterkejutan itu reda ia kembali tersentak kala benda kenyal nan hangat menubruk bibirnya secepat kilat.
Kedua mata Alina terbelalak, tetapi sedetik kemudian menutup lagi membiarkan suaminya bermain dan mengambil alih. Ia pun mengikuti dan terlena akan kenikmatannya.
Diam-diam tangan tegap suaminya terulur mematikan kompor, kemudian semakin mengeratkan pelukan di pinggang ramping Alina.
Zaidan menariknya pelan dan seketika mengangkat sang istri lalu mendudukannya di atas meja. Seketika pagutan mereka terlepas dengan pandangan saling bertubrukan.
Napas keduanya saling memburu, senyum manis pun mengembang. Zaidan menumpukan kedua tangan di atas meja seraya mengukung istri tercintanya.
"Sayang, kamu ingin melanjutkan yang tadi malam?" ucapnya seduksi.
Seketika wajah Alina memerah lalu memukul pelan dada bidang suaminya. "Jangan macam-macam ini masih pagi."
"Justru olahraga pagi itu menyehatkan, Sayang," kata Zaidan berbisik tepat di samping daun telinga Alina.
Ia pun mencoba menyesuaikan diri dengan sikap manis nan lembut suaminya. Ia membutuhkan banyak pasokan oksigen kala sudah bersama sang pelengkap.
"Mas-" Perkataan Alina terhenti saat Zaidan menyapukan bibir sintalnya ke daun telinga sang istri.
Alina melenguh pelan dan memberikan akses untuk suaminya saat di rasa pergerakan itu semakin turun. Ia menengadah membiarkan Zaidan bermain dengan tulang selangkanya.
Ia yang belum mengenakan hijab memudahkan sang suami menjamahnya lebih dalam. Ia terus terlena dan terlena dengan pergerakan serta permaianan yang dilakukan Zaidan.
Gerakan implusif itu pun semakin bertambah dan terus mendalam membuat istrinya merasa nyaman. Di tengah aksinya, Zaidan melepaskan diri memandang sang pujaan.
Alina yang masih berada di atas awan menatap suaminya dengan pandangan sayu. Kikian pelan pun terdengar membuat ia menautkan alis dalam.
"Mas, mempermainkanku?" tanya Alina tajam.
__ADS_1
Tangan kanan Zaidan terangkat menangkup pipi putih itu lalu mengusapnya pelan. "Mana ada, Sayang. Mas tertawa hanya senang. Kamu-" Ia kembali mendekatkan kepalanya ke telinga Alina.
"Kamu, terlihat begitu menikmatinya. Katakan padaku, siapa yang bilang untuk tidak macam-macam tadi? Dan sekarang siapa yang mendambakannya?" Suara berat nan serak suaminya membuat Alina sadar.
Ia kembali memukul-mukul pelan dada di hadapannya. "Mas senang sekali menggodaku. Mas-"
Lagi dan lagi perkataannya langsung terhenti kala ciuman kilat menyambar bibirnya cepat. Zaidan menyunggingkan senyum manis semakin menambah ketampanannya.
Menyaksikan begitu dekat ciptaan Allah yang satu ini semakin mendebarkan, Alina mengerucutkan bibirnya pelan sambil menatap lekat prianya.
Ia beruntung bisa bertemu dan dipersunting oleh pria idaman seperti Zaidan.
"Terima kasih," bisiknya.
"Hah, apa? Kamu tadi bilang apa?" tanya Zaidan sambil mendekatkan kepala.
Kini wajah mereka hanya berjarak kurang lebih lima sentimeter. Bergerak sedikit saja hidung keduanya bisa saling bersentuhan.
Alina menangkup kedua pipi sang suami dan membuhkan kecupan hangat di dahi, mata, pipi, serta hidung Zaidan.
"Terima kasih, aku mencintaimu," akunya tulus.
Zaidan semakin melebarkan senyum dan melingkarkan tangan di pinggang istrinya lagi posesif. Ia pun menarik Alina semakin dekat membuat kepala bersurai hitam sedada itu mendongak.
"Aku pun sangat mencintaimu, Sayang. Sangat," balasnya halus.
Insting keduanya bekerja, perlahan tapi pasti wajah mereka saling mendekat. Penyatuan pun kembali, baik Alina maupun Zaidan sangat menikmatinya.
Cinta begitu indah kala hinggap di hati yang tepat. Setiap harinya hanya akan ada senyum kebahagiaan. Meskipun kerikil itu datang, akan dianggap sebagai bagian dari bumbu pernikahan guna mempererat hubungan.
"Ayah, Mamah, apa yang kalian lakukan?" Suara serak khas bangun tidur menginstrupsi.
Alina dan Zaidan pun melepaskan penyatuannya dan menoleh memandangi sang putra yang tengah mengucek mata.
"Kenapa kalian bermain tanpa Raihan?" Pertanyaan itu lolos dari bibir kemerahan Raihan. Manik bulannya memandangi Alina dan Zaidan bergantian.
__ADS_1
Kedua orang tuanya saling pandang dan tersenyum senang. Mereka lalu merentangkan tangan menyambut kedatangannya. Seketika pelukan selamat pagi pun terjadi menyamai hangatnya sinar mentari.
...Bersambung......