Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 8


__ADS_3

Jam sudah menunjukan pukul setengah 10 malam. Hujan tengah turun dari sore tadi mengantarkan udara dingin yang begitu menusuk kulit. Kegelapan menyambut kesendirian Alina yang tengah menunggu suaminya pulang. Seperti hari kemarin, ia berdiam diri di ruang tamu.


Setelah menunggu beberapa saat akhirnya Azam pun tiba di rumah. Senyum mengembang di wajah cantik Alina kala pandangan mereka saling bertemu. Lagi dan lagi pria itu hanya mendiaminya dan melewatinya begitu saja.


Ia pun duduk di ruang keluarga dan tidak lama berselang Sarah keluar dari kamar Aqeela. Ia berjalan mendekati Azam dan hendak membantu tuannya melepaskan sepatu.


"Berhenti!! Jangan lakukan apapun!"


Mendengar nada suruhan itu Sarah pun menghentikan aksinya. Kedua tangan mengambang di udara dengan kepala menoleh pada Alina.


"Ta-tapi Mbak, saya hanya ingin membantu Tuan."


"Beliau adalah suami saya. Jadi, biar saya yang melakukannya. Kamu bisa pergi ke kamar Aqeela dan temani dia di sana!" ucapnya tegas. Sarah mengangguk lalu kembali beranjak meninggalkan tuannya.


Selepas peninggalan pengasuh bayinya Alina pun mulai berjalan mendekati Azam kemudian bersimpuh di depannya. Tangan lentik itu lihai melepaskan sepatu kerja dan kaos kaki suaminya. Azam terus memperhatikan dalam diam, ada perasaan bersalah yang terus mengganggunya sedari tadi.


Pikirannya kacau dan kosong. Ia tidak menyangka mendengar penjelasan dari Yasmin mengenai kejadian yang sebenarnya. Azam sadar sudah bertindak terlalu kasar dan keras pada Alina. Bahkan setelah ia menyakiti istri kedunya, Alina tetap melakukan hal baik untuknya.


"Kenapa kamu mau melakukan ini?"


Pertanyaan yang lolos dari bibir menawan sang suami membuat Alina mendongak. Iris kecoklatan keduanya saling bertubrukan dan menyelami keindahan masing-masing. Alina merasakan degup jantungnya berdetak kencang. Ia belum pernah sedekat ini dengan suaminya sendiri.


"Karena Mas masih suamiku. Meskipun aku hanya dianggap sebagai pengasuh dan perawat, tapi aku ingin menjalankan tugas sebagai seorang istri dengan baik," jawab Alina diserati senyum lembut membingkai wajah cantikya.


Azam termenung melihat ke dalam manik besar di hadapannya. Sudah dua bulan lamanya mereka bersama, tapi ia belum juga memberikan nafkah batin. Entah sadar atau tidak tangan kanannya terulur menangkup sebelah pipi istri keduanya.


Seketika itu juga Alina merasakan seperti ada aliran listri yang menyetrum saraf dalam tubuhnya memcanarkan warna kemerahan pada wajahnya. Ia pun berusaha untuk melepaskan tangan Azam dan berpaling. Namun, Azam tidak mengizinkannya dan mencoba mempertahankan sang istri untuk terus menatap padanya.

__ADS_1


"Aku minta sudah bertindak kasar padamu, kemarin. Aku tahu keadaan ini memang tidak menguntungkanmu sedikit pun, ak-"


Ucapan Azam langsung dipotong cepat oleh Alina. "Mas Azam jangan berbicara seperti itu. Aku tidak apa-apa, sungguh. Aku mengerti dengan perasaan Mas saat melihat Mbak Yas-"


Seketika itu juga perkataan Alina terputus dengan kedua mata membulat sempurna. Ia tidak menyangka mendepatkan ciuman langsung dari sang suami. Seperti menemukan air di padang pasir yang tandus. Fatamorgana yang tak nampak mencuat ke permukaan. Layaknya hujan di musin panas sejuknya menambah kesyahduan. Untuk seperkian detik waktu seolah berhenti berputar.


Alina tidak membalas atau pun menolak. Tubuhnya terdiam kaku saat sentuhan yang diberikan suaminya mendarat begitu saja. Ia berharap ini bukan mimpi dan illusi.


Akhirnya setelah beberapa saat, Azam pun melepaskannya lalu menyatukan kedua kening mereka. Detak jantung Alina masih tidak karuan membuat aliran darah di sekujur tubuhnya berdesir hebat.


"Aku menginginkanmu malam ini," suara serak nan dalam itu menyadarkan Alina.


Ia tidak bisa mengatakan sepatah kata pun hanya menganggukan kepala sebagai persetujuan. Dengan cepat Azam menggendongnya ala pengantin dan membawa tubuh sang istri ke dua ke ruangan pribadi mereka.


Kamar yang berbentuk segi empat luas itu baru kali ini di tempati pasangan suami istri tersebut. Dengan lembut dan telaten Azam pun melancarkan aksinya. Hujan sudah berhenti beberapa saat lalu dan langit pun kembali memperlihatkan keindahannya. Bintang yang bertaburan serta bulan bercahaya terang sebagai penghias.


Tidak ada yang paling membahagiakan di dunia selain dikasihi dan dicintai oleh suami sendiri. Alina berharap kehangatan dan juga kebaikan Azam akan selamanya seperti ini.


Lebah tengah mengecap manisnya madu dalam bunga mekar tersebut.


Alina pun sepenuhnya memberikan dirinya untuk Azam.


Malam yang indah itu menjadi waktu historial bagi seorang Alina. Akan tercatat dalam sejarah kehidupannya jika ia sudah menjadi seorang istri yang sesungguhnya. Ia bersyukur bisa mendapatkan nafkah batin dari sang suami, Azam. Ia juga berharap pria itu bisa mencintainya dengan tulus.


"Semoga ini menjadi langkah awal untuk hubungan pernikahan kami. Ya Allah, lindungilah rumah tangga kami," batin Alina penuh harap.


Azam menghentikan aksinya lalu pandangan mereka kembali bertemu. Napas yang saling memburu serta sorot mata sayu menjadi penanda. Tangan itu pun terulur lagi dan merapihkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik Alina.

__ADS_1


"Aku bahagia, terima kasih."


Perkataan lembut nan hangat itu membuat Alina kembali menitikan air mata. Tangan lentiknya pun terangkat dan mendarat di wajah tampan sang suami.


"Apapun untukmu, aku sangat mencintaimu."


Pada akhirnya di waktu yang bersamaan, di jam, menit dan detik itu juga pernyataan cinta diutarakan. Lega sudah perasaan Alina kala tiga kata yang selalu bersembunyi apik dalam hatinya terucap sudah. Ia yakin untuk memberikan sepenuhnya jiwa dan raga untuk Azam. Karena cinta dan sayang yang ia miliki untuk suaminya begitu besar.


Sampai kesabarannya mencapai titik akhir. Azam mengakuinya sebagai seorang istri dan kini tengah memberikan nafkah batin untuknya.


Setelah Alina mengatakan itu Azam pun kembali melanjutkan aksinya. Dalam keheningan hanya ada suara syahdu penyatuan mereka sebagai sepasang suami istri yang sesungguhnya.


Jam terus berputar memenuhi tugasnya sebagai pengingat waktu. Entah sudah berapa lama mereka melakukan hubungan suami istri membuat peluh bercucuran di wajah keduanya. Dengan napas yang tersengal-sengal Azam berusaha mengatakan sesuatu.


"Terima kasih, a-aku sangat mencin-taimu-"


Alina mengembangkan senyum mendengar penuturan tersebut. Namun sedetik kemudian,


"Yasmin."


Bersamaan dengan nama itu terucapn tubuh tegap Azam ambruk memeluk Alina begitu saja. Iris kecoklatan Alina melebar dengan mulut mengenga sempurna. Langit-langit kamar seolah tengah mengejeknya dan kesunyian seperti menertawakannya.


Kata-kata seperti "siapa kamu bisa dengan mudah dicintai Azam? Kamu bukan siapa-siapa melainkan pengasuh anaknya dan perawat istrinya. Di tambah sekarang sebagai pemuas napsu. Kamu tidak bisa menggeser posisi Yasmin dalam hati pria itu," terngiang dalam telinganya.


Alina tidak bisa menahan tangis setelah mereka selesai. Tangisannya pecah membuat tubuhnya bergetar hebat. Ia tidak menyangka di malam yang paling berharga dalam hidupnya bisa berakhir menyakitkan.


Ia terlalu berharap hingga ujung-ujungnya dihempaskan begitu saja. Azam tidak pernah menganggapnya sebagai Alina melainkan dalam kepala bersurai hitam itu hanya ada Yasmin, Yasmin dan Yasmin.

__ADS_1


"Aku terlalu bodoh menerima perlakuan hangatnya. Ya Allah ini sangat menyakitkan,"


__ADS_2