
Bulan kembali berganti, aktivitas baru Alina pun mulai membuatnya terbiasa. Berperan ganda sebagai ibu dan ayah tengah dilakoninya dengan cukup baik.
Meskipun membesarkan seorang anak tidaklah mudah, tetapi seorang ibu akan melakukan yang terbaik untuk buah hatinya.
Karena hidup memang terkadang tidak luput dari stigma-stigma orang lain yang kadang tidak mendasar pada kenyataan.
Status single parent layaknya aib yang terkadang mendapatkan cibiran serta kata-kata tidak mengenakan. Namun, Alina sudah siap dengan semua resikonya, sebab mereka hanya bisa melihat tanpa merasakan.
Sama seperti yang dilayangkan oleh ibu satu ini. Seorang wanita bertubuh gempal berkuncir satu yang tengah makan kue di tokonya.
Sedari kedatangannya wanita itu terus mengoceh mengatakan hal-hal yang mengundang luka lara.
"Eh, Nak Alina seharusnya kamu itu bersyukur punya suami kaya yang mau membiayai kalian. Kenapa mau hidup susah banting tulang sendirian membesarkan anak? Terlebih anak juga membutuhkan seorang ayah dalam tumbuh kembangnya," celotehnya sambil sibuk memasukan kue kering.
Alina yang berdiri di depannya seraya menggenggam nampan tersenyum sekilas. Ia tidak menyangka kala pernyataannya mengenai status baru itu mendapatkan kata-kata demikian.
"Itu tidak masalah, Bu. Bagi saya hidup sendirian lebih mendamaikan daripada harus tersiksa batin. Karena saya percaya Allah pasti memberikan rejeki pada setiap hamba-Nya yang mau berusaha," balas Alina mendapat delikan dari wanita itu.
"Terserah saja, nanti kamu juga menyesal. Jadi, janda itu tidak enak. Ada yang mendekati pasti dikatai wanita gatal, apalagi yang datang adalah suami orang," kukuhnya.
"Saya yakin saya bisa menjaga izzah dan marwah saya sebagai seorang wanita. Kalau begitu saya permisi." Alina mengangguk sekilas dan undur diri dari hadapannya.
Setibanya di kasir ia mendapati Zara memandang tidak suka ke arah pengunjung itu. Bibir kemerahannya mengerucut sambil mendelik tajam.
"Dasar wanita tidak tahu apa-apa, makan yah makan saja. Jangan menasehati orang jika tidak tahu apa yang sudah dilewatinya. Dia itu-" ucapan Zara terhenti saat Alina mencubit bibirnya pelan.
"Syut, tidak usah diteruskan. Malu sama hijab kita, apa pun yang orang katakan silakan saja. Karena mereka punya hak untuk berbicara dan kita juga punya hak untuk tidak mendengarkan," balasnya lalu melepaskan tangan dari mulut Zara.
__ADS_1
Wanita berhijab merah muda itu mengangguk pelan dan melebarkan senyum. "Kamu benar, orang mau bilang apa juga yah terserah. Karena yang menjalani kita bukan mereka."
"Itu benar, ayo kembali bekerja," ajaknya yang diangguki oleh Zara.
Di tempat berbeda, di sebuah mansion megah milik keluarga Zulfan semua anggota keluarga yang hanya terdiri ayah, ibu, serta anak itu tengah duduk bersama.
Layaknya mengadakan sebuah rapat penting mereka begitu serius. Nyonya dan Tuan Zulfan menyempatkan waktu untuk bisa mendengarkan apa yang hendak dikatakan sang putra.
"Mah, Pah selama dua bulan ini aku sudah memperdalam agama dan bahkan ingin lebih jauh mendalaminya. Sekarang aku sadar jika cinta sejati itu dijemput dengan cara yang benar juga. Aku-"
"Jadi apa yang ingin kamu katakan?" tanya Farras memotong perkataan putranya.
"Jadi aku ingin mengatakan ... aku ingin melamar seseorang. Selama beberapa bulan ini aku sudah memantapkan hati untuk mengkhitbahnya. Dia-"
"Dia cantik? Anak dari keluarga mana? Apa dia orang yang Mamah atau Papah ketahui? Siapa namanya? Dia orang mana?" tanya sang ibu beruntun.
"APA? Single parent? Apa kamu tidak salah? Wanita yang kamu cintai adalah seorang ibu tunggal? Terlebih Zabran? Apa anak itu keturunan keluarga Zabran yang putra sematawayangnya terkena kasus?" tanya Moana beruntun lagi.
Tanpa mengelak Zaidan mengangguk mengiyakan semua pertanyaan tadi. Ayan dan ibunya saling pandang seraya bibir keduanya terbuka sedikit.
"Apa yang kamu lihat dari wanita ini?" Kini ayahnya bertanya lagi.
"Meskipun jauh dari kemewahan dialah yang sudah mengubahku menjadi lebih baik. Kata-kata yang sering dilontarkannya telah menyadaranku untuk lebih dekat pada sang pencipta. Alina, wanita hebat ... wanita yang tegar mampu berdiri kuat menghadapi segala problematika menimpa dirinya. Aku belum pernah bertemu wanita seperti dia."
"Aku sudah menyukainya sejak pandangan pertama. Aku pikir salah karena sudah mencintai istri orang, tetapi sekarang mereka sudah berpisah. Pernikahan Alina dengan Azam tidak baik-baik saja. Aku ingin melindungi dan memberikan kebahagiaan untuknya. Karena darinya aku belajar menghargai hidup dan terus mendekatkan diri pada Allah semata."
"Seiring berjalannya waktu, aku pikir perasaan itu akan memudar dengan sendirinya, tetapi ... aku salah. Perasaan itu semakin lama malah semakin bertambah kuat. Aku tidak ingin perasaan ini menjebakku ke dalam hal tidak baik."
__ADS_1
"Karena itu, Mah, Pah izinkan aku untuk melamarnya."
Zaidan mengutarakan perasaan terdalam yang selama ini dirasakan. Baik ibu dan ayahnya tidak menyangka jika putra satu-satunya bisa berkata dewasa sesuai usainya sekarang.
Sikap kekanakan yang sering haus akan pesta seketika menghilang. Mereka yakin jika wanita yang bernama Alina itu benar-benar sudah mengubahnya.
Kata-kata yang dilayangkan Zaidan pun pasti ada pengaruhnya dari Alina. Senyum pun mengembang di wajah cantik sang ibu.
Moana beranjak dari duduk dan seketika mendekati buah hatinya. Tangan hangat itu menggenggam erat jari-jemari Zaidan. Sang empunya menoleh dengan heran, dahi tegasnya mengerut sambil memandangi ibunya.
"Kalau begitu izinkan Papah dan Mamah bertemu dengannya." Pernyataan tersebut seketika membentuk bulatan sempurna di manik Zaidan.
"Be-benarkah kalian ingin bertemu Alina?" tanyanya kembali memandangi mereka.
Farras dan Moana pun mengangguk meyakinkan. "Karena Mamah ingin melihat ... wanita mana yang sudah mengubah putra Mamah menjadi lebih baik," jelasnya lagi.
"Ayah juga penasaran. Karena baru pertama kali kamu begitu semangat dan serius membicarakan seorang wanita. Apa benar wanita bernama Alina ini yang sudah mengubahmu?" lanjut ayahnya lagi.
Zaidan mengangguk semangat dan langsung mengecup punggung tangan ibunya dalam. "Terima kasih, Mah, Pah. Aku akan secepatnya mempertemukan kalian. Do'akan aku supaya bisa meyakinkan dia jika perasaan ini tidak main-main."
Farras memandangi sang putra serius. "Kamu sudah sangat dewasa untuk merasakan jatuh cinta. Jika kamu menganggap wanita ini yang terbaik maka dapatkan dengan serius. Jika kamu hanya ingin main-main lebih baik tidak usah. Usiamu sudah cukup matang untuk menjadi seorang ayah."
"Kali ini aku tidak main-main, Pah. Aku benar-benar ingin menikahinya. Aku sadar usiaku memang sudah sangat dewasa bahkan sudah pantas mendapatkan anak berusia tujuh tahun. Aku tidak akan gentar dan goyah. Karena perasaan ini benar dan nyata adanya," tuturnya kembali.
Ayah dan ibunya saling pandang lagi seraya melebarkan senyum. Mereka bisa bernapas lega jika pada akhirnya sang putra bisa menemukan tambatan hatinya.
...Bersambung......
__ADS_1