
Layaknya doa yang diijabah, pagi-pagi sekali Alina mendapatkan sebuah pesan masuk dari ibu panti. Wanita yang kini sudah semakin tua itu memberitahukan sesuatu mengejutkan untuknya.
Tangan kanan yang tengah menggenggam ponsel pun bergetar hebat. Mulut ranum itu terbuka kala membaca kata demi kata tertuang di sana.
Baru saja Alina selesai berdandan hendak mengikuti sarapan bersama keluarga sang suami, ia dikejutkan dengan isi pesan tersebut.
"Sayang?" Zaidan datang tidak mengerti mendapati Alina diam membeku.
"Sayang." Ia kembali memanggil dan menepuk bahunya pelan.
Perlahan Alina menoleh pada suaminya sembari menjulurkan benda pintar dalam genggaman. Zaidan yang masih kebingungan pun menerimanya.
Sedetik kemudian bola mata bulan itu melebar sempurna. Ia kembali menatap Alina yang sudah menjatuhkan pandangan ke lantai marmer.
"I-ini? Apa benar?" tanya Zaidan ikut gugup.
"Se-sepertinya, begitu," balas Alina lirih.
"Ibu panti yang membesarkanmu memberi pesan Alina, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu, kemungkinan dia ibumu. Benarkah? Ya Allah ... memang tidak ada yang serba kebetulan. Semua ini sudah menjadi takdir serta rencana Allah," racau Zaidan, Alina hanya mengangguk-anggukan kepala sebagai jawaban.
Sadar akan keadaan istrinya tidak baik-baik saja, Zaidan meletakan ponsel di atas nakas. Ia bersimpuh tepat di hadapan Alina dan menggenggam hangat kedua tangannya.
"Sayang, apa kamu mau pergi ke sana?" tanyanya kemudian.
"Bisakah aku pergi ke sana? Aku belum- tidak aku harus pergi ke sana." Alina menatap serius sang suami, Zaidan mengembangkan senyum mengusap lembut pipi kanan belahan jiwanya.
"Kalau begitu kita pergi?" tanyanya lagi memastikan.
"Tentu," tegas Alina.
Zaidan pun langsung menggenggam tangan Alina dan membawanya keluar kamar.
Perjalanan yang harus ditempuh dari ibu kota memakan waktu kurang lebih satu setengah jam. Zaidan mengemudikan mobil mewahnya membelah angin pagi ini.
Setelah sarapan sekedarnya, mereka menitipkan Raihan dan Zenia kepada sang ibu. Keduanya mengatakan harus mengurus sesuatu, Moana maupun keluarga besar yang masih ada di mansion pun mempersilakannya.
Sepanjang jalan, Alina merasakan jantungnya berdegup kencang. Kedua tangan terasa dingin meremat satu sama lain.
Untuk pertama kalinya ia bisa melihat keberadaan mereka. Orang tua yang selama ini bak di telan bumi menampakkan diri.
__ADS_1
Alina tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana. Sebagai seorang anak yang tidak pernah merasakan kasih sayang ayah dan ibu membuatnya sangat gugup.
"Bismillah, Sayang. Semua akan baik-baik saja ... kamu tidak usah khawatir." Zaidan menggenggam hangat tautan jari jemari Alina.
Ia pun mengangguk singkat dan mengucap bismillah sembari menghembuskan napas panjang. Ia melakukannya berkali-kali mencoba menenangkan diri.
...***...
Bangunan yang semula ditinggalinya selama bertahun-tahun kini terlihat sudah lebih baik. Alina mengulas senyum singkat menyaksikan perubahannya. Ia bersyukur adik-adik yang datang ke panti sekarang bisa tinggal nyaman di sana.
Tidak lama kemudian, ia dan Zaidan tiba di panti asuhan kasih sayang bunda. Mereka menyaksikan banyak anak-anak berlarian ke sana ke mari.
Melihat ada kendaraan yang datang ke halaman, seketika itu juga anak-anak tadi berhamburan masuk ke dalam.
Beberapa detik berselang ibu panti bernama Aminah pun datang ke depan. Alina mematung menyaksikan kembali senyum lembut wanita yang sudah membesarkannya.
Awalnya ia berjalan pelan mendekati Aminah sampai kedua kaki itu diseret untuk berlari menerjangnya. Alina memeluk sang ibu panti etat menyalurkan rindu yang selama ini dibendung.
Sejak dirinya mendapatkan masalah dengan Azam serta berpisah dengan suami pertama ditambah kembali menikah, Alina belum sempat mengunjungi Aminah lagi.
Ia disibukkan dengan tugas sebagai seorang ibu dan istri. Selama ini mereka hanya berkomunikasi lewat ponsel saja.
Aminah mengucap syukur atas kehidupan yang sudah di jalani Alina selama ini. Ia juga tidak menyangka jika anak itu bisa menikah kedua kalinya.
Namun, kehidupan terus berputar. Aminah hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Alina agar terus menerus diberikan kebaikan.
"Assalamu'alaikum, Ibu ... Alina datang," katanya berbisik lirih.
"Wa'alaikumsalam, Nak. MasyaAllah kamu semakin cantik saja," balas Amanah melepaskan pelukan.
Kedua subut bibir Alina mengembang sempurna sembari terus saling tatap dengan ibu panti.
Zaidan pun berjalan mendekat membuat Alina langsung mengenalkan keduanya.
"Ini suami baruku, Bu. Mas Zaidan, dia yang sudah membuatku seperti ini," jelasnya.
"MasyaAllah, Ibu sudah banyak mendengar tentangmu. Ibu turut sedih atas kegagalan rumah tanggamu dan Azam, dan ... Alhamdulillah kamu mendapatkan pengganti yang sangat baik," kata Aminah lega.
Zaidan pun langsung menyalami tangan Aminah dan ikut mengulas senyum hangat.
__ADS_1
"Ah, kalau begitu silakan masuk," ajaknya kemudian. "Anak-anak, bisa kalian main dulu di belakang? Ada yang ingin Ibu dan kakak ini bicarakan."
"Baik, Bu."
Anak-anak pun menurut dan bergegas ke belakang.
Setelah itu mereka bertiga duduk di ruang depan. Sedari tadi Aminah tidak pernah melepaskan pegangan tangannya pada Alina.
Sang empunya menoleh cemas kala teringat akan pesan yang diberikan pagi tadi. Ia terus menatap pada sang ibu panti membuatnya menarik napas panjang.
"Mungkin ... ini memang sudah waktunya kamu harus tahu kebenarannya," ungkap Aminah, degup jantung Alina seketika berpacu kencang.
Tanpa mengalihkan pandangan, Alina semakin menatap lekat ibu panti. Ia tidak sabar apa yang akan dikatakan Aminah selanjutnya.
Wanita berhijab lebar itu memandangi dua orang di sekitarnya. Manik sayu itu menampakan kesedihan yang semakin memberikan perasaan tidak enak pada Alina.
Tiba-tiba saja ia merasakan sebuah firasat tidak enak. Layaknya mengandung empedu, perasaan pahit itu menjalar ke seluruh tubuh.
"Alina." Panggil Aminah.
Alina mengangguk dan mengeratkan pegangan di tangan sang ibu panti.
"Kamu harus sabar yah, Nak."
"Kenapa? Apa yang ingin Ibu katakan? Katakan saja, Bu. InsyaAllah, aku siap mendengarnya," ucap Alina, Zaidan tahu jika saat ini istrinya berusaha tegar.
Ada kesedihan tersimpan apik di balik matanya. Ia yang tengah duduk di seberang kedua wanita itu pun hanya bisa menunggu.
"Semalam ada seorang wanita yang usianya kira-kira tiga puluhan tahun. Dia ... memberikan ini pada Ibu." Amina menjulurkan sepucuk surat yang diberi amplop putih.
Alina melepaskan pautan tangan mereka dan mengambilnya. "Wanita itu mengatakan ... tolong berikan ini pada Alina, dan sampaikan padanya untuk sabar serta maafkan kesalahan ibunya. Mungkin dia ada hubungannya dengan orang tuamu, Nak."
Alina yang masih menatap pada selembar surat itu pun mengangguk singkat. Dengan tangan gemetaran ia membuka penutup amplop dan mengeluarkan surat di dalamnya.
Perasaan kian tidak menentu, jantungnya semakin berpacu kencang mengalirkan kecemasan serta ketakutan dalam diri.
Perlahan-lahan ia membuka lipatan kertas dan melihat banyak sekali kata-kata tertuang di sana. Bola mata itu pun bergerak ke kanan dan ke kiri membaca tulisan tangan tersebut.
...Bersambung......
__ADS_1