
Di tengah keheningan malam lolongan binatang liar begitu memilukan. Hembusan angin begitu kuat menyuguhkan udara dingin semakin menusuk kulit.
Keluarga Zulfan masih berada di sebuah gubuk usang milik Calvin. Di sana mereka merasakan apa yang sudah dilalui Calvin selama ini.
Dawas mengangkat wajahnya yang pucat lalu memandangi cucu laki-laki keduanya. Ia pun beranjak dari duduk lalu berjongkok tepat di hadapan Calvin.
Pria muda itu pun terperangah saat tiba-tiba saja Dawas memeluknya begitu erat. Kedua tangan ringkih sang kakek mengusap lembut punggung tegapnya.
Ia merasakan basah di bahu sebelah kiri akibat air mata menetes di sana berulang kali. Ia menyadari jika sekarang kakeknya benar-benar menyesal dan sangat terpukul.
"Kakek minta maaf, kamu bisa melakukan apa pun pada Kakekmu ini. Kakek sudah serakah akibat gemerlapnya kehidupan dunia. Kakek ingin membalas semuanya, kamu bisa mengembalikan kata-kata yang dulu pernah menyakitimu. Kakek ... akan melakukan apa pun agar kamu bisa mengakui Kakek sebagai keluargamu," tuturnya lembut.
Semua oran yang mendengar itu pun terpana, tidak percaya. Dawas yang begitu menjunjung tinggi harkat, martabat kini melepaskan segalanya.
Calvin tidak membalas ataupun melepaskan pelukan sang kakek. Netra cokelat legamnya memandang lurus ke depan di mana di ruangan itu ia sudah banyak menghabiskan waktu bersama ayah dan ibu.
Seolah menyaksikan kenangan masa lalu, bayangan orang tuanya begitu jelas terlihat. Mereka memandanginya dengan tatapan hangat dan tersenyum lembut.
Calvin terperangah seolah sang ayah mengatakan, "Kamu berhak bahagia bersama keluarga Zulfan. Hiduplah dengan baik." Mengakibatkan liquid bening mengalir lagi di wajah tampannya.
Zaidan dan Alina yang menyaksikan itu pun terkejut. Keduanya menyaksikan tatapan Calvin begitu kosong seolah melihat sesuatu.
Namun, mereka tidak bisa menggubris ataupun mengganggu. Baik Alina, Zaidan, Moana, dan Farraz membiarkan cucu serta kekak itu menghabiskan waktunya sendiri.
"Aku sudah memaafkan, Kakek."
Mendengar kata kakek tercetus dari bibir Calvin, Dawas menegang lalu secara perlahan melepaskan pelukan. Kedua netra keruhnya melihat senyum mengembang di wajah sang cucu. Jantungnya berdegup kencang layaknya mendapatkan kejutan besar.
"Be-benarkah?" tanyanya gugup.
Calvin mengangguk yakin, "Meskipun pada awalnya aku tidak ingin mengakui keluarga Zulfan lagi, tetapi ... melihat kesungguhan Kakek yang menyesali semuanya ... aku menerima kalian."
__ADS_1
"Alhamdulillah, selamat datang di keluarga kami. Mulai saat ini namamu adalah Calvin Zulfan." Dawas kembali memeluknya erat.
Kini Calvin pun membalasnya dan menumpahkan air mata dengan deras. Ia bisa merasakan bagaimana kehangatan sebuah keluarga.
...***...
Satu minggu berlalu, setelah kejadian menggemparkan keluarga Zulfan, kondisi sang tetua masih belum stabil. Dawas sakit dan harus berbaring di atas tempat tidur tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasa.
Keadaan perusahaan yang semakin menurun pun membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa. Dawas tidak bisa meminta bantuan Zaidan, sebab ada rasa malu melingkupinya.
Di tengah kesendirian, pintu kamar dibuka seseorang. Wanita berhijab yang tengah berbadan dua itu pun menyembul menampilkan senyum ceria.
Dawas melebarkan kedua mata sekilas dan menoleh ke sebelah menyaksikan pemandangan luar lewat jendela besar.
"Bagaimana keadaan Anda kali ini? Saya membawakan bubur untuk Anda." Alina meletakan nampan yang di bawanya di atas nakas samping tempat tidur.
Ia berdiri tepat di sana seraya terus memandangi Dawas yang masih enggan melihat keberadaannya. Alina mengembangkan senyum simpul dan menautkan jari jemari erat.
"Saya tahu Anda masih belum bisa menerima kehadiran saya, tetapi ... saya harap Anda-"
Sang empunya nama terperangah kala Dawas menoleh dengan tatapan berbeda. Alina mematung di tempat tidak mengatakan sepatah kata pun lagi.
"Bisa kamu duduk?" pinta Dawas, "Ibu hamil tidak baik terus berdiri seperti itu," katanya lagi. Alina mengangguk kikuk dan duduk di sofa tunggal tepat di sebelah ranjang.
Sepi menjadikan atmosfer di sana begitu canggung. Alina mengunci bibir rapat menunggu apa yang hendak di sampaikan Dawas. Hingga tidak lama berselang pria baya itu pun kembali berujar.
"Apa yang membuatmu bertahan sampai sejauh ini dan tidak meninggalkan Zaidan?" tanya Dawas seraya memandangi ke dalam manik bulan cucu menantunya.
Alina kembali mengulas senyum lalu menggulirkan bola mata ke samping. "Cinta." Satu kata mengandung makna.
Dawas melebarkan pandangan memandangi air muka bahagia di sana. Kini gilirannya yang diam menunggu ungkapan Alina.
__ADS_1
"Cinta yang membuat saya bertahan. Saya tidak akan pernah bisa berjuang sejauh ini jika tidak ada kata itu dalam kehidupan kami."
"Dulu di dalam pernikahan pertama ... saya menyerah dan lebih memilih untuk berpisah dengannya. Karena memang tidak ada cinta yang mengikat hubungan kami. Semua itu hanya berada di salah satu pihak, itu sebabnya saya memilih untuk mundur."
"Namun, di pernikahan kedua ini aku maupun mas Zaidan saling mencintai. Perasaan itu tidak bisa kami lepaskan begitu saja, meskipun Anda menantangnya, tetapi saya tidak bisa melepaskan mas Zaidan. Kami sudah bersumpah di hadapan Allah untuk hidup bersama," ungkapnya tulus.
Dawas diam tanpa kata, binar kebahagiaan yang terpancar dalam sorot mata Alina sudah menjelaskan semua. Kehidupan rumah tangganya bagaikan cermin yang memperlihatkan kisah masa lalu.
Dawas tidak seperti Zaidan yang lebih memilih tinggal dengan orang tercintanya. Ia melepaskan semua yang dimiliki untuk hidup bersama pasangannya.
"Kakek senang mendengarnya. Lalu, kenapa kamu masih baik pada Kakek yang jelas-jelas hampir memisahkan kalian?" tanya Dawas lagi penasaran.
Kini Alina semakin melebarkan senyum menampilkan deretan gigi-gigi putihnya. "Karena Allah saja maha pemaaf. Saya hanya ingin memaafkan siapa saja yang sudah menyakiti kami. Saya sedang berusaha menata hidup lagi agar lebih baik. Anda tahu maksud saya."
Dawas merasa tertampar dan diam sebentar mencerna perkataannya, "Mulai saat ini jangan bersikap formal lagi."
"A-apa maksud Anda?" tanya Alina khawatir.
Dawas pun melengkungkan kedua sudut bibir membuat Alina terkejut. Baru kali ini kakek dari suaminya itu tersenyum padanya.
"Mulai saat ini panggil aku Kakek seperti Zaidan. Kamu dan bayi yang berada dalam kandunganmu itu ... sudah menjadi bagian keluarga Zulfan, tidak hanya itu ... putramu, Raihan, dia sudah menjadi cicitku. Terima kasih untuk tidak menyerah pada keadaan dan ... Kakek minta maaf atas apa yang semua terjadi. Kakek banyak belajar darimu, Alina serta ... Kakek tahu kenapa Zaidan tidak melepaskanmu."
"Karena darimu Kakek sadar satu hal jika ... kejadian dalam hidup tidak lepas dari rencana-Nya. Terima kasih sudah menyadarkan Kakek untuk mengakui kesalahan, sebab sejatinya hidup hanya berlandaskan kepada Allah semata."
"Selama ini Kakek terlalu terbuai akan kenikmatan sementara," ungkapnya panjang lebar.
Tanpa terasa air mata mengalir di kedua pipi, Alina tidak percaya mendengar pengakuan tercetus dari tetua Zulfan. Ia pun langsung menyalami tangannya dan mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya.
"Terima kasih, Kek. Aku akan berusaha menjadi istri dan cucu terbaik untuk kalian. Terima kasih," ujarnya.
Dawas menganggukkan kepala beberapa kali dan mengusap puncak kepala Alina. Tanpa mereka sadari, dari arah pintu masuk Zaidan menyaksikan semua itu. Ia tersenyum lega pada akhirnya keberadaan sang istri serta anak sambungnya bisa diakui.
__ADS_1
"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah atas segala kenikmatan yang Engkau berikan," ujarnya dalam benak.
...Bersambung......