Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 89 (Season 2)


__ADS_3

Sudah hampir tiga bulan lamanya Alina menghilang, selama itu pula Azam uring-uringan mencari ke setiap sudut kota. Namun, sosok sang istri yang telah memberikan surat cerai tak jua kunjung ditemukan.


Ia menggeram kesal untuk kesekian kali kala anak buah yang diperintahkan kembali membawa hasil nihil. Ia pun melemparkan berkas-berkas hasil buruannya tanpa satupun petunjuk didapatkan.


"Bagaimana kamu ini, saya sudah membayar besar, tapi untuk menemukan satu orang saja tidak becus? Apa saja kerja kamu selama ini hah?" murka Azam langsung beranjak dari duduk.


Pria berjas hitam di depannya pun hanya bisa menunduk tanpa membalas tatapan sang tuan. "Saya minta maaf, Tuan. Saya sudah mencoba mencari nyonya ke mana-mana, tetapi memang tidak ada informasi yang didapatkan lagi, selain rekaman CCTV terakhir di rumah Tuan," ungkapnya.


Azam menghela napas kasar dan kembali menghempaskan tubuh tegap ke kursi kebesarannya lalu memijat pelipisnya pelan.


"Baiklah, kamu bisa pergi."


Pria itu pun mengangguk singkat dan undur dari ruangan. Seketika keheningan menyapa membuat ia bernostalgia.


Bola matanya bergulir ke samping melihat potret keluarga kecilnya di atas meja. "Apa benar-benar berakhir? Alina, aku minta maaf," lirihnya.


Penyesalan terus menerus mengalir ke dalam diri dan menelusuk ke dalam sukma. Azam mengusap wajah gusar dan menutup mata yang tanpa sadar mengalirkan bulir bening.


...***...


Satu-satunya tempat yang bisa Azam datangi hanya rumah sakit. Tempat sahabatnya bekerja yang sudah lama tidak ia kunjungi.


Terakhir datang ke sana saat istri pertamanya meninggal dan ia tidak bisa melihat keadaan sang pujaan. Dulu ia tidak begitu memperhatikan, sebab kehilangan membuatnya sangat terpukul. Namun, sekarang keadaan bertambah runyam membuat ia tidak bisa berpikir jernih.


Setelah memarkirkan mobil, ia bergegas menuju ruangan sang sahabat berada. Baru saja lift terbuka langkahnya berhenti saat netranya memandangi seorang wanita berjalan tidak jauh dari keberadaannya.


Azam mematung sampai sosok itu pun mendekat ke arahnya.


"Sarah?" cicitnya pelan.


Sarah, wanita berhijab kopi susu itu mengalihkan perhatian dari ponsel dan menatap lawan bicarannya. Ia terperangah kala mendapati mantan majikannya berdiri tepat di hadapannya.

__ADS_1


"Tuan Azam?" ucapnya canggung.


"Apa yang kamu lakukan di sini? Apa-"


"Sayang." Panggilan lain dari belakang Sarah seketika menghentikan ucapannya.


Azam memiringkan tubuh ke samping Sarah dan mendapati sahabatnya berjalan mendekat ke arah mereka.


"Sayang?" ulangnya kemudian menatap kedua lawan bicaranya bergantian.


"Azam? Sedang apa kamu di sini?" tanya Angga balik.


"Tunggu! Sejak kapan kalian bersama? Kamu-"


"Enam tahun lalu kami menikah. Aku bertemu Sarah berkat Alina," ungkap Angga memotong ucapannya.


Manik cokelat Azam melebar sempurna kala mendengar fakta mencengangkan barusan.


"A-apa menikah? Kalian sudah menikah selama itu tanpa memberitahuku? Kenapa? Apa kamu sudah tidak menganggapku sahabat lagi? Kalian juga menyembunyikan fakta itu pada Alina?" Azam terus menghujaninya dengan pertanyaan.


"Apa?" Azam terus menerus terkejut.


"Aku tidak memberitahumu karena ... aku masih belum bisa memaafkanmu yang sudah menyakiti Alina. Aku pikir kalian sudah bahagia, tapi ternyata hanya Alina yang merasakan itu. Meskipun ... penuh kepalsuan dan kebohongan," lanjut Angga.


Azam menunduk beberapa saat memandangi lantai rumah sakit. Kedua tangannya mengepal erat kala bayangan demi bayangan terus berdatangan. Senyum manis Alina, kebaikannya, perhatiannya, dan berbagai bentuk kepeduliannya hinggap menerjang ingatan.


Azam menutup kedua mata erat sambil menggelengkan kepala beberapa kali. Ia lalu membuka kelopaknya lagi dan mendongak memandangi sang sahabat.


"Aku tahu perbuatanku selama ini sudah sangat menyakitinya. Aku datang ke sini ingin meminta bantuan ... aku yakin kalian tahu di mana Alina berada." Senyum lemah pun hadir membuat Angga maupun Sarah tercengang.


"Sudah hampir dua bulan aku mencarinya ke mana-mana, tetapi sampai detik ini aku tidak bisa menemukan keberadannya. Aku ingin meminta maaf atas semua perbuatan yang telah menyakitinya. Aku benar-benar sadar jika-"

__ADS_1


"Jika dia memang lebih bahagia tanpa adanya kehadiranmu. Sudahlah, relakan dia pergi dan bahagia dengan kehidupan barunya. Jangan kamu usik lagi, apa tidak cukup selama tujuh tahun ia menderita karena kebohonganmu?"


"Waktu itu aku membantu Alina pergi dari sisimu, karena ... aku sangat peduli padanya. Kamu juga tahu sendiri jika kehidupan ibuku hampir sama seperti Alina, dan ... aku tdiak ingin melihat wanita yang disia-siakan oleh suaminya terus menderita. Jadi ... lepaskanlah," tutur Angga menggebu.


Napasnya naik turun dengan darah berdesir hebat menahan gejolak emosi. Ia seperti melihat ayahnya yang dulu pernah menyakiti sang ibu sampai didetik terakhirnya pria itu tidak kunjung datang dan lebih memilih bersama wanita lain. Angga sangat mengerti dan memahami seperti apa perasaan Alina kala mendapati suaminya mencintai wanita lain.


Sarah yang berada di sampingnya langsung menggenggam lengan sang suami dan mengusap punggungnya pelan.


"Sudah Mas, bernapaslah perlahan," ujarnya. Angga pun menurut dan seketika kemarahannya berangsur-angsur mereda.


"Meskipun sekarang aku tahu di mana Alina berada ... aku tidak akan pernah memberitahumu lagi." Angga menggenggam tangan istrinya kuat dan menariknya pelan pergi dari hadapan sang sahabat.


"Ah, satu lagi, kamu harus membawa istri pertamu. Bukankah kamu sangat mencintainya? Lebih baik temui dia kembali dan pertemukan dengan Aqeela. Anakmu berhak tahu siapa ibunya," lanjut Angga tanpa menoleh sedikitpun. Ia lalu melangkahkan kakinya lagi dan benar-benar meninggalkan sahabatnya.


Azam mematung tanpa menngatakan sepatah kata. Ia menyadari begitu sulit bagi Angga untuk menjalani kehidupannya selama ini. Namun, ia membangkitkan kenangan menyakitkan itu dan melakukan hal sama seperti ayahnya.


"Aku memang bodoh," lirihnya kembali mengepalkan tangan erat.


...***...


Sarah terus mengusap punggung sang suami yang tengah menyembunyikan wajah merahnya di stir mobil. Mereka tidak menyangka Azam akan datang menemuinya di rumah sakit dan menanyakan keberadaan Alina.


"Penyesalan memang selalu datang terlambat. Aku tahu tuan Azam sudah menyesali perbuatannya, tetapi untuk membuat mereka kembali bertemu ... aku tidak menginginkannya. Aku tidak ingin melihat teh Alina menderita lagi," tutur Sarah membuka suara.


Angga pun menegakan tubuh dan memandangi sang pujaan. Tangan tegap itu pun terulur menangkup sebelah pipi istrinya.


"Aku juga memikirkan hal yang sama. Aku berjanji tidak akan pernah mengkhianatimu. Aku tidak ingin seperti ayah ataupun Azam. Aku ... sangat mencintaimu," ungkap Angga membuat Sarah merona.


Ia melemparkakan diri ke dalam pelukan suaminya seraya menutup kedua mata menikmati degup jantung yang berdetak perlahan. "Aku juga sangat mencintaimu. Terima kasih sudah memilihku dan berjanji untuk tetap setia. Aku akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu."


Angga mengangguk pelan lalu membubuhkan kecupan hangat di dahinya. Dagu lancip itu pun mendarat di puncak kepala pendamping hidupnya seraya memandang lurus ke depan. Sudah banyak waktu terlewati dan ia selalu ada di samping Sarah bagaimanapun kondisinya.

__ADS_1


Masa-masa sulit itu pun sudah berlalu dan kini mereka bahagia bersama, meskipun belum adanya kehadiran sang buah hati.


"Aku juga ingin Alina mendapatkan pria yang benar-benar mencintai dan menjaganya dengan tulus. Ya Allah berikanlah jodoh terbaik untuknya," benak Angga yang sudah menganggap Alina seperti keluarganya sendiri. Ia tidak bisa membiarkan siapa pun menyakitinya dan berharap ada seseorang yang bisa menghargai dan mencintainya. 


__ADS_2