Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 59 (Season 2)


__ADS_3

Sendiri, menepi memikirkan kejadian demi kejadian yang hinggap dalam kehidupan memberikan kesadaran. Atas luka dan air mata yang kembali menjadi teman kesendirian.


Bulan berganti lagi, perubahan sang suami semakin signifikan. Ia jarang pulang dan berkumpul bersama keluarga, pekerjaan menjadi alasan untuk menjawab semua pertanyaan.


Firasat seorang wanita terutama istri begitu kuat, Alina meyakini jika sudah ada sesuatu terjadi. Itu ada hubungannya dengan seseorang yang mirip mendiang Yasmin.


Sudah ketiga kalinya selama satu bulan ini Alina berdiam diri di kamar almarhumah Yasmin dan suaminya. Ketika Azam bekerja, ia sering menghabiskan waktu mengamati keadaan di ruangan tersebut.


Diary yang masih tergeletak di atas nakas menjadi bukti seperti apa keseharian suaminya. Azam terlalu ceroboh atas tindakannya sendiri, layaknya membuka rahasia secara terang-terangan dan menimbulkan luka.


"Benar apa yang sudah aku duga, mas Azam bertindak berlebihan lagi," gumamnya.


Di tengah rasa sesak dalam dada, ponsel di saku gamis bergetar. Buru-buru Alina merogoh dan mengeluarkannya.


Tertera nomor tidak dikenal mengirimkan sebuah pesan, tanpa pikir panjang ia membuka dan menemukan fakta mencengangkan.


"Suamimu sedang bermain gila bersama wanita lain. Jika kamu tidak percaya ... kamu bisa pergi ke kantornya sekarang." Itulah isi pesan tersebut.


Mendapatkan informasi Alina bergegas pergi ke perusahaan Azam tanpa mempedulikan siapa orang yang memberinya pesan. Dengan emosi yang menggebu ia ingin memastikan kebenarannya.


...***...


Zara tersenyum di meja kerja, setelah mengirimkan pesan singkat itu ia meletakan kembali ponsel ke saku blazer.


Ia bangkit dari duduk berjalan menuju ruangan sang atasan, dari jendela kecil dirinya bisa melihat apa yang terjadi di dalam. Sorot mata serius dengan seringaian tajam menggambarkan keberhasilannya.


"Aku tidak sabar apa yang akan terjadi," gumamnya.


Tidak lama setelah itu ia mendengar suara langkah kaki mendekat. Ia berbalik dan melihat Alina berjalan cepat menuju ruangan di depannya tanpa menghiraukan kehadiran Zara.

__ADS_1


Sang sekertaris pun semakin melebarkan bibir merahnya, "rencana yang sempurna," lanjutnya.


Tanpa mengindahkan sekitar, Alina langsung membuka pintu ruangan sang suami kasar. Irisnya seketika melebar melihat apa yang terjadi tepat di depan kedua matanya.


Ia mundur beberapa langkah sambil menggelengkan kepala tidak percaya. Orang-orang yang tengah berada di dalam terkejut mendengar suara dentuman tersebut dan langsung menatapnya lekat.


"Ada apa ini? Tuan Azam, siapa dia?" tanya salah satu kolega di sana.


"A-ah, Maafkan saya Tuan-Tuan, dia adalah istri saya. Mungkin ada sesuatu yang ingin dia katakan, saya permisi dulu." Azam beranjak dari duduk dan berjalan mendekati Alina lalu menariknya keluar.


Adegan tersebut menjadi tontonan penuh tanya bagi mereka. Namun, dari arah pintu Zara menatap lekat Yasmin yang tengah berada di sana.


Seolah berbicara menggunakan mata masing-masing, kepala mereka saling mengangguk dan tersenyum penuh kemenangan.


"Tuan-Tuan mohon maaf menganggu waktu rapat kalian. Saya minta maaf mewakili Tuan Azam, nyonya memang kadang suka bertindak gegabah," ucap Zara menyesal.


"Tidak apa-apa kami mengerti," balas salah satu dari kelima kolega itu.


...***...


"Apa yang sudah kamu lakukan, hah?" teriak Azam setibanya di lorong sebelah ruangan yang menampilkan pemandangan luar lewat jendela besar.


Alina terdiam melihat dengan jelas menggunakan mata kepalanya sendiri kemarahan yang terpancar dari suaminya. Ia menghela napas pelan dan memabalas tatapan Azam.


"Aku menerima pesan aneh dari seseorang jika Mas bermain gila bersama wanita lain. Bagaimana aku tidak percaya jika buktinya sudah terlihat jelas," ungkap Alina menggebu.


Azam mengusap wajah kasar, "Apa yang kamu pikirkan? Siapa yang bermain gila dengan wanita lain? Apa kamu tidak melihat sendiri tadi? Aku sedang rapat bersama beberapa kolega penting dari perusahaan lain. Kamu sudah mengacaukan semuanya dengan datang seenaknya, seperti orang tidak punya tatakrama."


Azam menarik napas pelan dan menghembuskannya perlahan. "Sekarang kamu kembali, aku tidak mau melihatmu ada di sini. Kamu sama sekali tidak percaya pada suamimu sendiri? Sungguh menggelikan."

__ADS_1


Setelah mengatakan itu Azam melangkahkan kaki dari hadapan Alina. Namun, baru beberapa langkah perkataan sang istri kembali menghentikan.


"Wanita itu ... wanita yang ada di ruangan Mas, dia mirip sekali dengan mbak Yasmin. Aku juga melihat buku harianmu di kamar kalian. Apa yang bisa aku lakukan selain curiga? Jika ... jika suami yang sangat aku cintai belum bisa melupakan istri pertamanya? Bahkan dengan kehadiran wanita itu, bagaimana mana bisa aku tidak curiga?" keluh Alina lagi.


Azam membalikan badan menatap punggung ringkih istri sahnya. "Apa salah aku merindukan Yasmin? Tujuh tahun ... tujuh tahun dia meninggalkanku dan menyisakan kekosongan, apa aku tidak berhak merindukannya? Aku menulis buku harian sebagai pelampisan kerinduan itu-" kepala bersurai hitam legamnya menggeleng pelan. "Kamu tidak akan mengerti bagimana sakitnya di tinggalkan seseorang yang sangat kamu cintai." Azam pun benar-benar pergi dari sana.


Air mata sudah tidak bisa dibendung dan mengalir di kedua pipi. Sekuat tenaga Alina menahan kepedihan dalam diri.


Kedua tangannya saling mengepal kuat dengan kepala menunduk dalam.


"Kamu juga tidak mengerti bagaimana sakitnya melihat seseorang yang kamu cintai masih memikirkan wanita lain. Ternyata selama ini aku salah, kamu belum merelakan kepergian mbak Yasmin. Kata cinta yang kamu katakan setiap hari selama tujuh tahun ternyata ... ternyata palsu. Kamu tidak pernah mencintaiku dengan tulus," gumam Alina.


Sakitnya masa lalu hinggap dalam hitungan detik. kebahagiaan yang ia rasakan selama ini hanyalah semu. Ia berpikir jika illusi itu nyata, tetapi faktanya hanyalah fatamorgana.


Setelah berada di atas awan, ia dijatuhkan ke dasar jurang paling dalam. Cinta tulus tidak pernah ia dapatkan. Perih itu kembali menghancurkan suka cita yang sempat menetap. Tidak ada yang tersisa semuanya roboh seketika.


Alina mengusap air mata dan mencoba tenang untuk kembali ke rumah menunggu kepulangan buah hatinya.


Ia pun berbalik hendak pergi dari sana, tetapi langkahnya terhenti saat senyum wanita cantik menyapanya cepat.


Alina memutar bola mata jengah dan melanjutkan tujuan, ketika hendak kembali melewatinya wanita itu mengatakan sesuatu yang membuatnya tercengang.


"Permaianan baru saja dimulai. Ah, aku tidak sabar melihat bagaimana kalian memainkannya."


Alina menghentikan langkah, kepala berhijabnya menoleh ke belakang menatap nyalang sekertaris sang suami.


"Oh, jadi ini adalah permaiananmu? Maka dengan senang hati aku akan masuk ke dalamnya, nikmatilah dan tunggu saja siapa yang menjadi pemenangnya nanti. Aku yang akan tersenyum di sampingnya atau ... kamu yang akan menangis memohon dan mengiba kembali untuk berada di samping mas Azam, Zara." Seringaian tercetak di wajah cantik Alina.


Ia memberikan senyum mengejek dan pergi begitu saja tanpa mendengar jawaban Zara. Wanita itu menghentakan sebelah kaki tidak percaya mendengar jawaban Alina.

__ADS_1


"Lihat saja, aku tidak akan pernah bermain-main. Sampai kapan pun aku tidak akan membiarkanmu bahagia bersama mas Azam," tekadnya dengan sorot mata berkobar.


__ADS_2