
Daun kering kembali gugur menandakan harapan hanyalah tinggal kenangan. Mimpi setinggi langit kandas diterjang kenyataan. Waktu terus berputar meniti setiap kehidupan, baik dan buruk sudah menjadi ketentuan.
Ujian akan selalu datang dan hadir sebagai pemberi peringatan, apabila hidup tidak selamanya tentang kenikmatan. Ada kalanya air mata harus mengalir untuk merasakan kesabaran. Gelenyar kebahagiaan perlahan hilang bergenti kepedihan.
Alina menyadari untuk kesekian kalinya jika suka cita yang dirasakan saat ini tidak akan bertahan lama. Pasti suatu saat badai kembali datang membawa kejutan tak terduga ... dan kejadian itu sekarang sedang memeluknya erat. Merogoh kesenangan berusaha mengembalikan kepahitan.
Ia tidak percaya apa yang dilihatnya saat ini, tepat di depan kedua matanya Alina menyaksikan sang suami bersama wanita lain. Namun, bukan kebersamaan mereka yang menjadi pusat perhatiannya, melainkan orang di sisinya.
"M-mbak Yasmin? Apa aku tidak salah lihat? Orang itu ... orang itu mirip sekali dengan mbak Yasmin," cicit Alina lalu membekap mulut menganganya.
"Kamu tidak salah lihat, dia memang Yasmin."
Suara anggun di belakang mengejutkan, Alina berbalik melihat sekertaris sang suami di sana. Zara melengkungkan senyum merakah sambil melipat tangan di depan dada. Manik berlensa abunya memandang ke depan menyaksikan kebersamaan bos beserta rekan kerjanya.
Tidak lama setelah itu ia menoleh pada Alina yang tengah melebarkan mata tidak percaya. Zara mendengus dan berjalan mendekat, tubuhnya condong ke depan tepat di sebelah telinga kanan lawan bicaranya.
"Kamu harus mempersiapkan diri untuk kejutan yang tidak terduga." Zara menarik dirinya lagi melihat rekasi Alina yang masih diam mematung.
"Iya, aku hanya memperingatkanmu saja agar tidak terlalu terkejut nantinya. Sampai jumpa lagi ... Alina," lanjutnya. Ia menepuk pundak Alina pelan kemudian berlalu dari hadapannya.
Bak angin menerjang wajahnya secepat kilat Alina tersadar dan langsung membalikan badan lagi. Ia menyaksikan ketiga orang itu di ruangan sang suami.
Layaknya film yang diputar kembali, masa lalu itu hinggap dalam ingatan. Kenangan yang ingin ia lupakan bersinggungan dengan kenyataan.
Liqid bening mengalir perlahan, gelak tawa menyapa indera pendengaran. Suka cita yang tergambar jelas tepat di depannya menorehkan luka.
Alina menghapus air mata kasar dan seketika teringat akan sesuatu. Buru-buru ia pergi dari sana mengurungkan niat hendak memberikan makan siang.
Sepanjang perjalanan kembali ke rumah, Alina terus berusaha berpikir positif. Namun, firasat tidak mengenakan menimpahnya lagi dan lagi membuat ia gelisah.
__ADS_1
Tiga puluh menit berlalu, ia pun tiba. Kedua kakinya terus berlari menuju lantai dua di mana ruangan yang berada di ujung lorong menjadi tujuan.
Alina terdiam saat mencapai tangga terakhir, napasnya memburu, dadanya naik turun bersama perasaan tidak nyaman terus hinggap.
Perlahan ia melangkahkan kaki dengan jantung bertalu kencang. Ia menelan ludah kasar kala sudah berada tepat di depan pintu kamar tersebut.
Tangannya yang bergetar terangkat dan mencapai handle pintu, setelah meyakinkan diri Alina membukanya pelan. Seketika aroma mawar menyambut kedatangannya, ia mematung di tempat tidak sanggup melanjutkan keinginannya.
Suara jam berdentang menemani kesendirian, rasa sakit merengkuhnya sedikit demi sedikit. Berada di posisi itu mengingatkan ia pada kenangan delapan tahun lalu. Di mana ia pernah berdiri di sana menyaksikan kemesraan sang suami bersama istri pertamanya.
Luka itu tumbuh dengan sendirinya, Alina menarik napas panjang dan menghembuskan perlahan. Kepala berhijabnya menggeleng mencoba mengenyahkan adegan memilukan.
"Aku harus kuat dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi," gumamnya.
Alina langsung membuka pintu kamar itu lebar-lebar. Secepat kilat menyambar, luka lama yang berusaha ia tutup terbuka ke permukaan.
Rasa penasaran mendorong Alina kuat untuk melihatnya. Ia pun masuk dan duduk di tepi tempat tidur lalu membawa buku tersebut.
Lembar demi lembar menyuguhkan kata-kata sarat kerinduan. Tertera tanggal di atasnya, sang suami menulis buku harian pertamanya tepat satu bulan yang lalu dan saat itulah sikap Azam mulai berubah.
"A-ku mencintaimu, aku sangat merindukanmu. Aku ingin merengkuh, menyentuh, membelai serta berada di sampingmu selamanya. Sampai kapanpun aku akan tetap mencintai dan menyayangimu ... Yasmin dan ... tidak ada yang lain."
Saat kalimat terakhir diucapkan, lubang yang berusaha tertutup di hatinya terbuka sangat lebar. Buku dalam genggaman terjatuh menghasilkan suara gedebuk menyadarkan pada kenyataan.
Selama ini Alina salah sudah menfsirkan kebaikan sang suami. Ia pikir Azam mencintainya dengan tulus sama seperti Yasmin, tetapi dirinya salah. Azam tidak pernah merasakan hal yang sama.
"Aku terlalu naif menginginkan posisi yang sama. Aku terlalu dibutakan oleh cinta ... aku tidak melihat pada kenyataan jika mas Azam tidak pernah melupakan mbak Yasmin." Alina memandangi sekitar, menyaksikan foto-foto Yasmin bertebaran di sana.
Air mata meleleh tak tertahankan, ia menangis untuk pertama kalinya setelah kebahagiaan merundung. Sakit, satu kata mewakili perasaannya saat ini. Perih, tetapi tidak ada luka terlihat. Pedih, tetapi tidak ada darah yang keluar.
__ADS_1
Alina tersiksa dengan perasaannya saat ini.
"Mbak ... sampai kapan pun aku tidak akan pernah bisa menggantikan posisi mbak di hati mas Azam. Dia ... dia sangat mencintaimu, mbak. Meskipun mbak sudah pergi, tetapi hatinya tetap memilihmu. Tidak ada tempat untuk yang lain di sisinya, selain kamu, mbak. Aku minta maaf sudah lancang mencintai pria yang benar-benar melabuhkan hatinya padamu," lirih Alina.
Hatinya terus terluka dan menyadari fakta baru jika pernyataan cinta yang terus dilontarkan Azam bukanlah kebenaran.
"Aku kembali percaya untuk kedua kalinya dan jatuh di kubangan yang sama lagi. Ya Allah, apa yang harus hamba lakukan sekarang?" gumamnya, ia menengadah ke atas melihat langit-langit kamar.
Alina terkejut kesekian kalinya melihat potret pernikahan Azam dan Yasmin terpampang sangat besar di sana. Ia beranjak dan terus mengamati rona bahagia dari wajah keduanya.
"Sangat berbeda dengan pernikahanku dulu, kami menikah karena terpaksa. Mas Azam sama sekali tidak pernah mencintaiku, bahkan ... sedikitpun."
Alina hanyalah korban dari keegoisan dan terjebak dalam perasaannya sendiri. Pernikahan seperti cangkang dan wadah untuk mengekpresikan cintanya.
Tidak ada yang tahu bagaimana luka baru tercipta. Ia hanya bisa menangis sendirian dan hanya ditemani angan tak bertepi. Kekosongan menjadi jalan cerita yang menorehkan kepedihan. Tulus, sebatas kata yang tidak pernah dirasakan.
Sadis, untuk kedua kalinya Alina ditusuk dari belakang. Kepercayaan dibalas kekecewaan dan ketulusan dianggap kebohongan.
Bagaikan tidak punya hati Azam memperlakukannya seperti bidadari, tetapi menjatuhkannya seperti barang yang telah hancur.
"Tujuh tahun kebahagiaan yang aku rasakan hanya menjadi abu. Hitam putih, menggantikan pelangi di rumah tangga ini. Cinta sejati memang tidak mudah untuk digantikan, aku seharusnya menyadari itu," lanjutnya lagi.
Di tempat berbeda, Azam tengah menikmati makan malam bersama Yasmin. Wajahnya merona kala sapuan tangan lembut menyentuh bibirnya.
Perlakuan hangat itu sama seperti mendiang istrinya lagi.
"Aku menyukaimu."
Kalimat sakral itu tercetus jua, keduanya saling pandang menikmati keindahan bola mata masing-masing.
__ADS_1