
Alina yang tengah menggantung pakaian kerja sang suami dikejutakan dengan sepasang tangan kekar memeluknya dari belakang.
Tanpa menoleh ia tahu siapa pelakunya, aroma maskulin itu benar-benar membuat Alina tersenyum lebar. Ia meletakan gantungan di pegangan lemari dan membiarkan suaminya begitu saja.
"Terima kasih, Sayang."
Kata-kata itu kembali terngiang di pendengaran. Baru beberapa saat lalu mereka bisa menikmati makan malam setelah Moana melepaskan pelukannya untuk lima menit lamanya. Kini Alina lagi-lagi mendenagr kalimat tersebut dari sang suami.
Dahi lebarnya pun mengerut dalam masih tidak mengerti.
"Apa yang sudah aku lakukan? Kenapa mamah dan Mas berterima kasih?" tanyanya.
Zaidan semakin merangsek meletakan kepalanya di bahu sempit sang istri. Ia menghirup dalam-dalam aroma bunga sakura dari pelembut bajunya.
"Karena sudah hadir di kehidupanku dan keluargaku. Keberadaanmu sangat berarti bagi kami, bagaikan cahaya yang masuk ke dalam kegelapan. Itulah arti dari hadirnya kamu, Sayang."
Layaknya seorang pujangga, dengan suara serak nan dalam Zaidan memberitahukan arti seorang Alina. Sang pemilik nama melepaskan peluan dan berbalik memandangi pujaan hatinya.
Kedua tangan ramping itu terulur menangkup pipi Zaidan hangat. Pandangan mereka menguci satu sama lain menikmati keindahan bola mata pasangannya.
"Justru kamu, Mas ... orang yang sangat berarti bagi kehidupanku. Mas bagaikan oasis di padang pasir, kehidupan yang aku jalani kemarin bagaikan tanaman tandus. Seperti sudah tidak ada harapan untuk kembali menanam bunga baru."
"Tapi kamu hadir, memberikan secercah harapan dan menumbuhkan bibit baru. Bunga itu tumbuh dan mekar dengan cantik. Itulah hubungan kita sekarang, pernikahan mengantarkanku pada mimpi baru. Aku ... ingin terus bersamamu tidak hanya di dunia, tetapi sampai jannah-Nya."
"Bimbing aku menjadi istri terbaik untukmu, Sayang." Alina mengusap lembut pelipis suaminya.
Zaidan terpaku, terperangah, dengan hati berbunga-bunga. Ia menarik kedua tangan Alina dan mengecupnya beberapa saat.
Ia mendongak lagi mendamba wanita yang kini sudah sah sebagai istrinya.
"Terima kasih, aku pun ingin bersamamu sampai ke jannah-Nya. Kita harus bekerja sama untuk membangun rumah tangga ini sebagai pernikahan yang sakinah mawaddah warahmah, oh~ ... aku sangat mencintaimu, Sayang.
__ADS_1
Zaidan melenguh senang dan memeluk istrinya erat. Alina pun membalasnya tak kalah kuat, kepala berhijab itu mendongak melihat langit-langit kamar sebagai saksi percintaan keduanya.
Jika rumah tangga dan pernikahan didasari atas suka sama suka, serta cinta kepada Allah maka perjalanannya akan terasa lebih menyenangkan.
Memang kehidupan ini, khususnya membina rumah tangga pasti tidak luput dari yang namanya ujian. Namun, hal itu dihadirkan sebagai bentuk kasih sayang Allah. Apakah mereka bisa lebih dekat pada-Nya atau malah sebaliknya.
Bersabar dan yakin semua pasti ada hikmah-Nya merupakan sikap yang harus dibangun, sebab di balik itu semua Allah sudah menyiapkan sesuatu yang lebih baik.
...***...
Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam, pasangan suami istri yang masih di landa manisnya bulan madu tengah menikmati waktu pribadinya.
Di atas king size Zaidan merangkul mesra Alina dan bersandar di kepala ranjang. Tubuh yang tersembunyi di balik selimut itu pun menambah kehangatan.
Alina begitu nyaman bersandar di bahu tegas sang suami. Aroma citrus yang mengaur seketika membuatnya menyunggingkan senyum manis.
Jari telunjuk itu bermain di dada lalu turun ke perut berototnya. Tidak tahan terus digoda, Zaidan pun melayangkan kecupan mendalam di bibir ranum sang istri membuat sang empunya terlena.
"Tadi mamah bilang jika kamu makan bersama para pelayan, apa itu benar?" tanya Zaidan kemudian.
Alina mendongak dan mendaratkan dagu lancipnya di dada bidang sang suami. "Iya, itu benar. Apa Mas keberatan?"
Mendengar penuturannya mengundang senyum di wajah tampan Zaidan. Ia mengusap lembut surai halus sang pasangan hidup.
"Tentu tidak, Sayang. Justru aku bangga memilikimu sebagai istriku. Kamu wanita yang sangat baik yang tidak membeda-bedakan harkat, derajat seseorang."
Alina mendengus pelan dan kembali ke posisi awal. "Aku tidak sebaik itu, Mas. Hanya saja Allah menutup aib-aibku. Yah, karena aku pikir tidak ada yang bisa membanding-bandingkan manusia, selain Allah semata. Kita sama dan hidup berdampingan di muka bumi ini."
"Apalagi mereka sudah berjasa untuk rumah tangga kita. Aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja, lagipula ... aku senang makan bersama mereka. Raihan juga menikmatinya, karena bagiku mereka adalah keluarga," ujarnya jujur.
Zaidan semakin bangga mempunyai Alina dalam hidupnya. Tanpa mengatakan sepatah kata ia membubuhkan kecupan mendalam di puncak kepalanya.
__ADS_1
Alina menutup mata menikmati setiap sentuhan yang diberikan suaminya. Ia juga bersyukur sudah mendapatkan pria baik terlepas dari rasa sakit yang mendera.
"Terima kasih, berkatmu aku sadar pada siapa diri harus berserah. Allah maha baik yah, Sayang. Dia memberikan kesulitan agar kita tidak lupa pada-Nya, dan setelah itu Allah juga menghadirkan kebahagiaan."
"Em, MasyaAllah. Allah memang sangat baik, untuk itu kita harus lebih mendekatkan diri pada-Nya."
Zaidan mengangguk haru dan tanpa sadar air mata mengalir. Alina melepaskan rangkulannya lalu menangkup wajah sang suami.
Ia memberikan kecupan kasih sayang ke seluruh muka pasangan halalnya.
"Tidak ada yang lebih membahagiakan selain hidup berdasar pada Illahi Rabbi. Bentuk kasih sayang-Nya terkadang tidak bisa ditebak dan memberikan kejutan luar biasa."
"Delapan tahun aku hidup dalam pernikahan dusta nestapa, tetapi setelah semua itu aku lalui ... Allah menghadirkanmu ke dalam hidupku. Aku sangat beruntung takdir mempertemukan kita," kata Alina dengan sorot mata hangat.
"Begitu pula denganku ... aku yang tidak mengerti apa-apa tentang kepercayaan yang dianut bisa dipertemukan dengan seorang wanita luar biasa sepertimu. Sampai pada akhirnya aku lebih memilih untuk mendekat pada Allah dan balasannya sungguh luar biasa."
"Allah menghadirkan hatimu untukku miliki." Zaidan mencium kening istrinya lembut nan mendalam.
Di balik langit malam yang gelap, pasangan menikah itu kembali mengungkapkan perasaan terdalam. Tidak ada yang bisa membandingkan bagaimana rasa bahagia begitu melimpah mereka terima.
Allah penulis skenario terbaik telah memberikan kisah yang luar biasa. Rencana-Nya, takdir-Nya, bentuk ujian-Nya terkadang tidak terduga.
Kebahagiaan yang datang pun sudah Allah atur sebaik-baiknya dan akan datang di waktu yang sangat tepat. Allah memberikan apa yang dibutuhkan dan mendatangkan yang terbaik untuk setiap hamba-Nya.
Bersabarlah, sebab dengan bersabar semua akan terasa indah kala mengecap manisnya kepedihan yang menghilang.
Bulan bersinar terang malam itu, Alina dan Zaidan terbuai oleh masa yang memberikan limpahan rahmat luar biasa. Dentingan jam turut menjadi saksi bagaimana kenikmatan itu kembali terjalin.
Cinta hadir di hati kedunya, menyuguhkan kesenangan dan kegembiraan di hati masing-masing.
...Bersambung......
__ADS_1