Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 214 (Season 3)


__ADS_3

Aroma bunga mawar merah sebagai lambing cinta melebur, menelisik ke relung hati terdalam berbisik lirih atas penantian yang tidak sia-sia.


Raksi yang dihasilkan dari bunga itu pun menyebar membangunkan sepasang suami istri.


Jam masih menunjukkan pukul setengah empat dini hari. Kelopak mata yang semula tertutup perlahan-lahan terbuka.


Hal pertama yang tertangkap pandangan adalah sepasang iris cokelat sang pujaan. Keduanya melengkungkan kedua sudut bibir sebagai tanda ungkapan cinta.


"Terima kasih untuk semalam, Sayang aku benar-benar menikmatinya." Suara serak nan dalam menyapa.


Tidak sampai di sana saja, Zaidan mengambil tangan Alina dan mengecup punggung tangannya hangat lalu meletakkannya di pipi kiri.


"Terima kasih juga," balas Alina lirih.


Di penghujung malam mereka kembali menikmati waktu berdua. Setelah itu pasangan suami istri tersebut mulai membersihkan diri masing-masing. Selesai mandi, keduanya menjalankan ibadah salat subuh berjamaah.


Dirasa seluruh tubuhnya masih terasa ngilu, Alina memutuskan untuk beristirahat dan berbaring kembali di tempat tidur.


Zaidan dengan cekatan melayaninya dengan menyiapkan sarapan sampai menyuapi Alina penuh perhatian.


Diperlakukan seperti itu membuat Alina bahagia tak karuan. Ia bersyukur dipertemukan dengan pria sebaik Zaidan.


Beberapa saat kemudian Zaidan pamit dan menitipkan istrinya kepada asisten rumah tangga. Alina yang tengah terbaring di atas ranjang pun tidak menyadari kepergian sang suami.


...***...


Sang raja siang sudah duduk di singgasananya di atas langit cerah. Kebisingan ibu kota pun sudah terjadi sama seperti hari-hari kemarin.


Entah sudah berapa lama, Alina tanpa sadar tertidur. Ia membuka mata saat merasakan hawa panas menerjang.


Baru saja ia hendak bangkit dari tempat tidur, pergerakannya seketika terhenti begitu saja. Tepat di depan mata, ia melihat sang suami tengah menggendong buah hati mereka duduk di sofa panjang.


Di sebelah kanannya, sang jagoan memakan es krim mangkuk begitu nyaman. Alina terdiam memandangi ketiganya begitu dalam.


Merasakan tatapan seseorang, Zaidan menoleh ke depan menyaksikan kebingungan sang istri. Ia tahu apa yang tengah dipikirkannya.


"Sayang, Mamah sudah bangun tuh," kata Zaidan kepada kedua anaknya. Zenia dan Raihan pun seketika menoleh pada sang ibu.


"Mamah~" teriak Raihan nyaring lalu berlarian menuju tempat tidur.


Tanpa mengindahkan wajah terkejut ibunya, Raihan melemparkan diri sendiri begitu saja.

__ADS_1


"Sayang, awas hati-hati," kata Alina mengingatkan.


Raihan nyengir polos tanpa dosa dan merapatkan diri pada sang ibu, sedangkan Zaidan duduk di hadapan Alina.


"Mas ... yang membawa mereka?" tanya Alina kemudian.


Zaidan mengangguk singkat. "Itu benar, aku sudah merindukan putri kecil dan jagoan kita."


Alina pun merentangkan kedua tangan meminta Zenia untuk digendong. Zaidan langsung memberikan sang putri kepada ibunya.


"Kamu pasti haus yah, Sayang." Alina seketika menyusui Zenia yang dilahapnya kuat.


"Sayang, pelan-pelan makannya tidak akan ada yang mengambilnya darimu," kata Alina merasakan hisapan Zenia semakin bertambah kencang.


Bayi berusia enam bulan itu menggulirkan bola mata hitamnya pada sang ayah. Ditatap begitu intens nan lekat, Zaidan pun mencondongkan tubuh ke depan tepat di hadapan wajah sang putri.


"Kenapa melihat Ayah seperti itu, hm?" ucapnya seraya mengembangkan senyum.


"Putri pasti berpikir Ayah yang sudah mengambil makanannya," balas Raihan cuek. Alina menoleh pada putra pertamanya yang masih menikmati es krim.


"Sayang, apa yang kamu bicarakan?" tanyanya terkejut.


"Hm?" Raihan menoleh, mendongak membalas tatapan sang ibu. "Kenapa Mah?"


"Oh itu, aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Bukankah Ayah selalu menggoda adik bayi?" balas Raihan begitu saja.


Alina menoleh pada Zaidan yang juga ikut menatap Raihan. Ia pun kembali pada sang istri dan nyengir lebar.


Alina tersenyum gugup kala pikirannya sudah pergi ke mana-mana. Mereka mengira Raihan melihat apa yang seharusnya dilihat.


"Sayang, jangan mengatakan yang tidak-tidak. Hampir saja jantung Ayah berhenti berdetak." Zaidan menerjang tubuh Raihan membuatnya berteriak kegirangan.


"Awas nanti es krimnya tumpah," kata Alina memperingatkan.


Raihan seketika memperlihatkan jika wadah makanan manis dingin itu sudah kosong. Ia pun bermain-main dengan sang ayah, menjadikan Zaidan sebagai tunggangan.


Gelak tawa tercipta, binar kebahagiaan tercetus dalam sorot mata masing-masing. Sudah tidak ada lagi beban menghampiri, semuanya bagaikan cerita masa lalu semata.


...***...


Hari yang ditentukan pun tiba, di sekolah Raihan yang berada di pertengahan kediaman orang tua kandungnya, hari ini mengadakan sebuah acara.

__ADS_1


Satu persatu orang tua hadir memenuhi undangan. Ada yang membawa serta anggota keluarga yang lain hingga teman sejawat ayah ibunya pun ikut serta.


Di tengah hiruk pikuk yang tercipta, Alina dan Zaidan datang membawa putri kecil. Mereka turun dari kendaraan roda empat dan langsung memandang ke sekitaran.


Baru saja hendak melangkah ke aula, keduanya pun dihentikan dengan kedatangan keluarga yang lain.


"Alina, Zaidan," panggilnya.


Alina dan Zaidan pun menoleh ke belakang menyaksikan ketiganya berjalan mendekat. Senyum pun mengembang menyambut kedatangan mereka.


"Mas Azam, Mbak Jasmin, Aqeela," kata Alina memandangi satu persatu.


"Assalamu'alaikum Mamah." Aqeela menyalami tangan sang ibu sambung hangat.


"Wa'alaikumsalam, Sayang. Kenapa kamu ada di sini, Aqeela tidak sekolah?" tanya Alina kemudian.


"Dia meminta untuk tidak sekolah mau menyaksikan adik tercintanya, katanya," balas Jasmin merangkul bahu sang putri. Aqeela mengembangkan senyum malu.


"Sayang, seharusnya kamu tetap sekolah. Raihan juga pasti mengerti," jawab Alina lagi mengusap puncak kepalanya hangat.


"Tidak apa-apa, Alina. Sekali-kali, Aqeela merengek dari kemarin ingin melihat adiknya di sekolah," timpal Azam kemudian.


Aqeela terkekeh pelan, "itu benar, Mah. Qeela ingin melihat apa yang akan dilakukan superhero kita itu."


Alina tersenyum hangat dibuatnya. "Baiklah, kali ini Mamah izinkan, tapi ... kalau nanti terulang kembali jangan memaksakan diri seperti ini, kamu mengerti, Sayang?"


Kepala berhijab di depannya pun mengangguk beberapa kali. "Qeela, mengerti Mah."


"Baiklah kalau begitu kita masuk sekarang?" timpal Zaidan mengingatkan dan mereka pun mengiyakan.


Tidak lama berselang, rombongan mereka tiba di aula. Alina melihat sudah banyak para orang tua duduk di sana.


Barisan kedua dari pertama pun terlihat ada beberapa kursi kosong. Mereka bergegas pergi ke sana dan duduk berdampingan bersama.


Zaidan, Alina, Aqeela, Jasmin dan Azam bersama-sama sebagai keluarga besar Raihan. Bocah berusia sembilan tahun itu memandangi mereka semua seraya tersenyum haru dari arah belakang panggung.


Ia tidak menyangka keluarganya datang dan duduk bersama seperti itu. Ia sudah tidak sabar ingin menunjukkan apa yang sudah dibuatnya selama ini.


Ia berharap bisa membuat kedua orang tua kandung dan sambungnya bangga. Ia juga menginginkan sang kakak tersenyum haru pada pertunjukkannya nanti.


Kegaduhan pun tercipta saat semua orang tua sudah berada di sana. Anak-anak dari kelas satu sampai enam bersiap untuk menunjukkan apa yang akan mereka tampilkan.

__ADS_1


Para ayah dan ibu sudah tidak sabar ingin melihat pertunjukan yang dilakukan buah hati mereka.


...Bersambung......


__ADS_2