Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 32


__ADS_3

Sudah satu bulan berlalu sejak Alina menghilang dalam kehidupan seorang Azam. Selama itu pula banyak hal-hal berbeda ia rasakan. Tidak ada lagi senyum hangat menyambutnya, hilang sudah sapaan selamat pagi yang setiap saat selalu sang istri layangkan. Tidak ada lagi sarapan enak yang bisa ia rasakan, semua menghilang sekejap mata.


Kekosongan dan kehampaan semakin menderanya begitu kuat. Azam tidak menyangka kepergian Alina membawa sejuta kehangatan yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Kekalutan dan rasa sakit terus bersemayam menyadarkan ia pada kenyataan.


Langit yang cerah siang ini berbanding terbalik dengan perasan kelamnya. Sedari tadi Azam terus melamun tidak menghiraukan Yasmin yang terus berceloteh tanpa henti. Wanita yang menyandang sebagai istri pertamanya itu pun mengerutkan dahi dalam menatap sang suami.


Ada hal berbeda Yasmin rasakan. Sudah hampir satu bulan ia di rawat di rumah sakit, tapi selama itu pula dirinya tidak pernah melihat Alina.


“Mas, Mas, Mas Azam!!” panggil Yasmin sedikit keras.


Azam yang masih berada dalam lamunan pun terperanjat lalu menatap sang istri dengan sayu.


“Alina? Kenapa Alina tidak pernah menengokku?” tanya Yasmin pensaran.


Azam terkejut dan menatap ke arah lain menghindari kedua mata sang istri. Hal tersebut membuat Yasmin semakin curiga, ada sesuatu hal yang disembunyikan suaminya.


“A-alina, Alina di-dia”


“Dia kenapa? Kenapa Mas terbata-bata seperti itu? Tidak seperti biasanya saja, apa yang sudah terjadi? Ada apa sebenarnya?” Tanya Yasmin beruntun seraya mencondongkan badan ke depan dan menggenggam tangan sang suami kuat.


Azam seketika terkejut dan berusaha menenangkan Yasmin untuk tidak terlalu banyak pikiran. Kondisi tersebut bisa memacu denyut jantung tidak stabil dan dikhawatirkan akan berdampak pada penyakitnya.


Azam beranjak lalu membantu Yasmin berbaring dan duduk di tepi ranjang rumah sakit. Tangan tegapnya menangkup wajah sang istri memberikan kehangatan. Sorot matanya pun melembut dengan bulan sabit melengkung indah di sana.


“Tidak ada yang terjadi. Semua baik-baik saja, Alina hanya sedikit kesusahan dengan kehamilannya. Kamu tahu sendirikan bagaimana hormon seorang ibu hamil? Aku takut saat Alina menjengukmu, dia akan menangis. Lebih baik dia tinggal di rumah saja.”


Suara lembut mengalun menyapu indera pendengaran Yasmin membuatnya tersenyum lemah. Ia mengangkat kedua tangan dan menggenggam jari jemari tegap suaminya.


“Alhamdulillah, jika semua baik-baik saja. Aku hanya khawatir sesuatu terjadi pada kalian. Karena tidak biasanya Mas melamun.”

__ADS_1


Azam kembali memperlihatkan senyum menawan kemudian merunduk memberikan kecupan hangat di dahi sang istri. Saat ia mengangkat kembali kepalanya, pandangan mereka bertemu satu sama lain, saling mengunci dan mencurahkan hasrat terpendam.


Sedetik kemudian penyatuan pun terjadi. Linangan air mata mengiringi setiap sentuhan yang sudah lama menghilang. Kenangan saat-saat bersama di hari itu kembali hadir bersama episode-epsiode mendebarkan. Waktu yang pernah mereka lewati hanya berdua mengantarkan memori berharga untuk Yasmin.


Tidak banyak waktu yang tersisa baginya di dunia. Ia pasrah kapan pun Allah memanggilnya, hanya satu yang ia ingin, “Aku ingin Mas Azam bahagia. Meskipun aku sudah tidak ada di sampingnya lagi.” Batin Yasmin seraya membuka mata melihat wajah tampan di dekatnya.


Ada sesuatu yang berhasil ia tangkap, sang suami sedikit berbeda dari hari-hari lalu, “Aku harap Mas menyadari jika cinta itu ada untuk Alina,” benaknya lagi.


Tanpa mereka berdua sadari, di luar ruangan seseorang berdiri memperhatikan drama tragis yang berlangsung tepat di kedua matanya.


Angga, dokter sekaligus sahabat Yasmin dan Azam termangu dalam diam. Tangan yang hendak meraih gagang pintu terhenti di udara kala meyaksikan kebersamaan mereka. Kaca yang menghubungkan dunia luar dan dalam menampakan gambaran besar mengenai kehidupan rumah tangga keduanya.


Gelenyar kesedihan menyapanya begitu saja. Ia menunduk dan menghela napas berat.


“Aku mengerti sekarang, bagaimana sakitnya Alina melihat mereka bersama. Pergi menjadi pilihan terbaik untuknya.”


"Assalamu'alaikum," sapanya mengejutkan.


Sarah yang tengah menggendong Aqeela tersentak kala menatap dokter tampan menyapanya. Ia mengangguk canggung seraya menjawab salam Angga.


"Wa'alaikumsalam."


"Ini Aqeela?" tanyanya membuat Sarah hanya mengangguk.


Seketika Angga mendekatkan diri kepada Aqeela kemudian menunduk mensejajarkan tingginya dengan sang bayi.


"Assalamu'alaikum, Aqeela. Aku Om Angga, sahabat papa dan mamahmu." Ujar Angga tersenyum lebar sambil mengusap puncak kepala Aqeela membuatnya tergelak.


Sedangkan Sarah hanya mematung memperhatikan interaksi keduanya.

__ADS_1


Tidak lama setelah itu Sarah bermaksud untuk masuk menyapa kedua majikannya. Namun, sebelum terjadi sang dokter lebih dulu menghentikan aksinya membuat Sarah kembali menatap Angga tidak mengerti.


Angga yang kembali teringat kejadian di dalam merasa canggung seketika.


"Le-lebih baik kamu jangan dulu masuk ke dalam. Mereka lagi menikmati waktu privasinya."


Sarah yang mengerti pun hanya mengangguk lalu mundur ke belakang mendudukan dirinya di kursi. Ia bermaksud untuk menunggu dan mempertemukan sang anak kepada ibunya.


Angga menatap dalam diam. Sarah mengingatkan ia pada wanita yang kini tengah berbadan dua.


"Berapa lama Aqeela tidak bertemu dengan ibunya?" tanya Angga kembali.


"Sejak nyonya Yasmin di rawat, Aqeela belum pernah bertemu dengan ibunya lagi."


"Selama itu?" benak Angga terkejut.


"Apa kamu sendiri yang mengurusnya selama ini?"


Sarah diam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan tersebut. Sekilas ia mendongak melihat ke dalam manik kecoklatan sang dokter yang tengah berdiri di hadapannya.


"Saya pikir Anda sudah tahu tentang kondisi keluarga Tuan Azam, ketika masih ada mbak Alina, Aqeela selalu di rawat olehnya. Tetapi, sekarang ibu keduanya sudah pergi entah ke mana."


Angga termenung melihat ada kesedihan dalam diri Sarah. Ia tahu bagaimana rumitnya perjalanan rumah tangga sang sahabat. Namun, ia tidak bisa berbuat apapun dan hanya mendo'akan yang terbaik.


Setelah berbincang singkat dengan Sarah, Angga pun memutkan untuk kembali ke ruangannya. Lorong rumah sakit terasa panjang ia rasakan. Bayangan satu bulan ini membuat ia sadar jika perjuangan seorang ibu dan istri tidak mudah untuk dilakukan. Terlebih tidak adanya cinta dari suami membuat sang istri harus berjuang seorang diri untuk kebaikannya dan juga calon buah hatinya.


"Aku percaya Alina bisa menemukan kebahagiaan. Aku berharap Azam bisa sadar jika Alina sangat mencintainya. Aku menginginkan yang terbaik untuk mereka semua," monolog Angga dalam diam.


Sudah satu bulan berlalu selama itu pula ia banyak melihat sisi lain dari Alina. Wanita yang ia pikir sebagai orang ketiga dalam rumah tangga sahabatnya, ternyata bukan wanita sembarangan. Alina tulus dan ikhlas dalam mencintai Azam, meskipun ia tahu jika sahabatnya itu sangat mencintai Yasmin. Alina hanya terjebak dalam lorong waktu di pernikahan mereka.

__ADS_1


__ADS_2