
Suara pendeteksi jantung masih bergema dalam pendengaran. Bau obat-obatan melebur menyadarkan pada kenyataan kini luka baru tercipta. Air mata sudah tidak bisa ditahan mengalir bagaikan sungai bermuara pada lautan lepas.
Bulir demi bulir liquid bening membasahi lantai marmer rumah sakit. Kehampaan dan keheningan merengkuhnya kuat memberikan rasa sakit tak berkesudahan. Langit tengah bertabur bintang dengan cahaya bulan menampakan kencantikan malam, tapi keindahannya tidak bisa menggantikan kepedihan dalam dada.
Sakit, satu kata mewakili perasaannya saat ini.
Sebagai seorang suami dari dua istri, Azam mendapatkan pukulan telak dari kedua sisi secara bersamaan. Penolakan Alina dan keadaan Yasmin meruntuhkan pertahanannya. Ia menangis pilu seorang diri merasakan perih atas ujian yang tengah Allah berikan padanya.
"Astaghfirullah hal adzim, Astaghfirullah hal adzim, Astaghfirullah hal adzim."
Ia terus beristighfar tanpa henti dan berdo'a meminta pertolongan dan kebaikan pada yang Di Atas. Ia lalu duduk di kursi tunggu tepat di depan ruangan sang istri.
Tidak lama berselang pintu terbuka menampilkan sang sahabat yang tengah memandanginya lekat. Seketika perasaan Azam dirundung gelisah melihat air muka Angga, ia bangkit dan berjalan mendekat. Dokter itu pun memberikan tepukan di bahunya mengantarkan kepedihan tak berkesudahan.
"Ba-bagaimana keadaan Yasmin?" tanyanya takut-takut.
Angga menghela napas berat berusaha untuk tidak menyakiti perasaan sahabatnya. Namun, nasi sudah menjadi bubur kenyataan harus disampaikan baik ataupun buruk.
"Aku menyesal harus mengatakan ini, Yasmin.......mengalami koma. Dia menolak untuk melakukan kemoterapi lagi."
Azam tidak percaya, perasaannya hancur remuk-redam mendengar kabar tersebut. Ia roboh seketika jatuh terduduk di atas lantai dingin itu. Tanpa kata terucap dunianya pecah berkeping-keping, Angga berjongkok di hadapannya terus memberikan tepukan di bahu.
"Kita hanya bisa berdo'a meminta yang terbaik. Allah tahu kebaikan untuk hamba-Nya."
Angga pun bangkit dan meninggalkannya sendirian. Seketika isak tangis pecah bergema di lorong, sesak dalam dada menjadikan pengap. Azam mendapatkan ganjaran atas apa yang sudah diperbuatannya saat ini, jika rasa sakit yang Alina terima sudah diambilnya lagi.
__ADS_1
Ia menangis sejadi-jadinya, hingga beberapa saat Azam pergi ke masjid terdekat melaksanakan salat meminta yang terbaik pada Allah untuk kehidupannya.
Ketulusan dan keikhlasan serta rasa bersalah tergambar jelas dari raut mukanya. Kedua mata membangkak, hidung bangirnya memerah dengan bibir pucat terus berdo'a tanpa henti.
...***...
Informasi yang baru saja diterima seketika membekukan calon ibu satu ini. Alina tidak menyangka mendengar keadaan istri pertama sang suami yang tengah koma. Perasaannya campur aduk dengan kegelisahan menyertai.
Baru kemarin ketenangannya diganggu kini fakta baru kembali memberikan kepelikan lain. Alina terdiam dengan pikiran berkecambuk dalam kepala. Angga yang tengah duduk di seberang memperhatikannya lekat. Ada kepedihan lain tergambar jelas dikedua manik kecoklatan di sana.
Angga lalu mencondongkan badannya sedikit ke depan khawatir atas perubahan Alina yang siginifikan.
"Apa kamu baik-baik saj-"
"Bagaimana keadaan ma-mas Azam?" tanya Alina cepat seraya sekilas menatap lawan bicaranya.
"Dia-" jeda sejenak Angga mengingat kembali bagaimana keadaan sang sahabat setelah tahu kondisi Yasmin.
"Azam sangat terkejut dan terpukul, mungkin dia belum pulang ke rumah sejak kemarin. Kamu tidak usah khawatir, Azam pasti baik-baik saja," jelasnya kemudian.
Alina hanya mengangguk singkat dan menatap lantai sebagai objek pertama. Ia tahu seperti apa perasaaan sang suami saat ini, melihat wanita tercinta tengah terkulai lemas pasti memberikan pukulan jitu dengan rasa sakit akan takut kehilangan tentu memupuk sanubari paling dalam.
Kebaiasaan lama kini kembali datang, Alina menekan ibu jari ke jari telunjuknya kuat. Ia berusaha meredakan kepedihan dalam dada.
"Ya Allah berikanlah yang terbaik untuk kami. Ternyata sejauh apa pun aku pergi, jika takdir berbicara maka kami akan bertemu...... lagi dan lagi. Kemarin aku memang memiliki raganya, tapi tetap saja cinta terbesar itu dilabuhkan hanya untuk istri pertama, menjadi yang kedua tidak selalu utama. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Bohong jika aku sudah tidak memiliki perasaan menyusahkan itu, ya Allah bantu hamba untuk mengambil keputusan yang terbaik. Karena bagaimanapun rencana-Mu itu jauh lebih baik," monolog Alina dalam diam.
__ADS_1
Sebersit harap menggantung dalam bayang dan berbisik lirih jika kehidupan akan terus berjalan. Gantungkanlah harapan setinggi langit dan biarkan keputusan Allah yang berbicara. Karena sejatinya kita hanya bisa berencana dan Allah yang menentukan segalanya.
...***...
Hari demi hari terus berlalu begitu cepat, waktu berputar tanpa jeda memberikan kenangan lain yang kian bertambah. Baik, buruk, suka ataupun tidak harus tetap di jalani meskipun menapaki jalur terjal penuh liku. Karena selepas badai pergi akan ada pelangi setelahnya, begitu pula di balik air mata berderai terdapat senyum menawan.
Minggu ke-38 datang, momen paling dinanti-nanti pun telah tiba. Alina tidak sabar menunggu sang buah hati lahir ke dunia. Namun, sampai detik ini tanda-tanda melahirkan belum juga datang. Calon ibu itu pun hanya bisa kembali menunggu dan mempersiapkan diri untuk itu.
Di tengah kesendirian, bayangan kehadiran sang suami kembali terekam dalam memori pikiran. Senyum manis, sikap baik dan juga perhatian Azam kemarin datang lagi dan lagi memberikan kerinduan. Alina menggeleng-gelengkan kepala berusaha mengenyahkan bayangan tersebut.
"Sayang, apa kamu merindukan ayah, hmm?" tanya Alina yang tengah duduk di dalam toko seorang diri.
Ia menunduk melihat perutnya yang sudah semakin membesar, elusan demi elusan pun diberikan. Senyum mengembang melihat perkembangan malaikat kecil yang kian baik di dalam dirinya.
"Mamah minta maaf, jika nanti ayah tidak bisa mendampingi kita saat kamu lahir ke dunia. Kamu harus maklum yah, Nak ayah-" Alina tidak kuasa membendung air mata, cairan bening itu pun tumpah ruah membasahi baju yang menutupi permukaan perutnya.
Ia lalu menghapusnya pelan dan berusaha untuk meredamkan isak tangis. Ia menghirup napas panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Ayah juga sedang kesusahan sekarang, ayo berjuang bersama, Sayang. Kamu kuat yah sampai kita bertemu, Mamah sangat menyayangimu," celoteh Alina.
Sebagai seorang ibu ia sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk bayi dalam kandungannya. Bohong jika ia tidak takut sama sekali untuk melahirkan, nyatanya Alina membutuhkan seorang suami berada di sampingnya. Namun, apa daya situasi tidak mengizinkan hal tersebut.
Ia hanya akan terus bersabar dan kuat menjalani tugas sebagai ibu baru demi buah hatinya, bukti cinta sang istri kepada suaminya.
Sedangkan di tempat berbeda, sejak hari itu Azam terus berada di rumah sakit. Keadaannya pun kacau balau, tidak hanya penampilan, tapi juga mental. Ia tidak sanggup melihat kondisi Yasmin yang terus memburuk.
__ADS_1
Pikiran negatif pun berkeliaran mengundang ketakutan dalam diri. Azam menundukan kepala dalam seraya menjambak rambutnya frustasi.
"Ya Allah hamba pasrah...... Alina," gumamnya.