Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 232 (Season 3)


__ADS_3

Kicauan burung menyambut hari yang penuh suka cita. Langit biru membentang sepanjang mata memandang menemani setiap kisah kehidupan.


Cerita keluarga kecil Alina dan Zaidan masih terus berlanjut. Saat ini mereka tengah menikmati waktu bersama menggelar tikar di taman dekat rumah.


Rumput sintetis yang sengaja ditumbuhkan sebagai tempat para pengunjung untuk sekedar mengistirahatkan diri pun tergelar di sana.


Terdapat aliran sungai dengan airnya yang begitu jernih memberikan kesejukan. Di tengah sungai ada jembatan menghubungkan satu tempat ke tempat lain.


Dari sekian keluarga yang datang, Alina, Zaidan, Zenia, dan Raihan pun menjadi salah satu pengunjung.


Mereka melakukan piknik bersama setelah sekian lama disibukkan berbagai kegiatan.


Raihan yang tengah menikmati paha ayam menyapukan pandangan ke sekitaran. Banyak anak-anak seumuran dengannya berlarian ke sana kemari.


"Aku senang bisa piknik bersama seperti ini," kata Raihan mengulas senyum lebar.


"Benarkah? Syukurlah, Mamah juga senang mendengarnya," balas Alina mencubit pelan pipi berisi putra pertamanya.


Raihan terkekeh dan kembali menghabiskan makanannya.


"Kita memang sudah lama tidak menghabiskan waktu libur di luar seperti ini. Maaf, Ayah hanya bisa mengajak kalian pergi ke taman," sesal Zaidan menatap ketiga keluarga kecilnya.


"Jangan berbicara seperti itu, Sayang. Aku senang hanya pergi ke taman saja asalkan kita bisa bersama-sama," timpal Alina lagi.


"Benar apa kata Mamah, Raihan juga senang. Iya kan putri?" Raihan beralih pada Zenia yang sedang menikmati makanan bayi.


Sang adik pun tergelak seolah mengerti apa yang diucapkan kakak tampannya.


"Lihat mereka saja senang seperti ini, Mas jangan berpikiran yang macam-macam," ucap Alina kembali seraya menggenggam hangat tangan besar itu.


Zaidan pun membalasnya dan melengkungkan kedua sudut bibir dengan lebar. Ia bersyukur akan kesederhanaan serta rendah hati yang dimiliki istri beserta anak sambungnya.


"Alhamdulillah, jika Ayah punya waktu luang yang banyak kita bisa liburan ke manapun yang kamu mau." Zaidan mengusap puncak kepala Raihan sayang.


"Benarkah itu, Ayah?" Manik bulatnya melebar senang.


Zaidan mengangguk mengiyakan. "Tentu saja, Sayang."


"Yeee, aku bisa liburan ke manapun yang aku mau," teriaknya mengundang atensi beberapa pengunjung di dekatnya.


Mereka ikut tersenyum senang menyaksikan keakraban serta keharmonisan keluarga kecil Zaidan.

__ADS_1


Tidak lama setelah makan siang, Zaidan membawa serta kedua anaknya bermain bersama beberapa meter di depan Alina.


Ia mengajak Raihan dan Zenia menerbangkan layang-layang besar berbentuk kupu-kupu. Gelak tawa mereka bercampur bersama pengunjung lain mengalirkan keharmonisan.


Alina menyaksikan mereka dalam diam, perasaannya lega melihat putra pertama akrab dengan suami barunya.


Itulah yang Alina khawatirkan jika menikah lagi. Waktu itu ia berpikir ayah kandung Raihan saja tidak begitu mempedulikannya apalagi orang lain?


Namun, setelah melihat kesungguhan serta membuka hati untuk Zaidan ketakutan tersebut bisa ditepis begitu saja.


Zaidan membuktikan jika dirinya benar-benar tulus dalam mencintai Alina dan menerima Raihan seperti anak kandung sendiri.


Sekarang keluarga mereka sudah lengkap berkat kehadiran putri kecil di tengah-tengah kebersamaan. Zenia, anak kandung Alina dan Zaidan pembawa kebahagiaan lain.


"Alhamdulillah ya Allah, atas segala kenikmatan yang Kau berikan. Sekarang hamba merasa lengkap," gumam Alina.


Ia menarik kedua tangan ke belakang lalu menengadah ke atas melihat langit begitu cerah. Tidak ada kenikmatan yang ia rasakan saat ini selain bisa menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya.


Lengkungan bulan sabit terpendar di wajah ayu Alina. Sorot mata hangat menatap lekat awan berarak di atas sana.


Hembusan angin berkali-kali menyapa, menyambut keberadaannya. Ia berbisik lirih jika tidak selamanya rasa sakit itu mengundang air mata, akan ada saatnya senyum bahagia datang.


Itulah yang tengah Alina rasakan sekarang. Ia tidak henti-hentinya mengucap syukur kepada Allah atas kelimpahan rahmat yang diberikan.


"Mamah ayo sini." Suara teriakan Raihan menyahut, Alina menegakan tubuhnya lagi menatap mereka yang tengah tersenyum lebar.


Tanpa mengatakan sepatah kata Alina bangkit dari sana dan berlari kecil mendekati keluarganya. Ia langsung mengambil alih Zenia lalu mengangkatnya ke atas.


Bayi sembilan bulan itu tertawa senang membuat kedua orang tua serta kakaknya pun ikut terbawa suasana.


...***...


Malam menjelang, udara cukup dingin kali ini. Selesai membereskan semua peralatan makan, Alina berjalan ke lantai dua menuju kamar Raihan berada.


Ia membuka pintunya pelan menyaksikan sang penghuni tengah duduk bersandar di kepala ranjang seraya membaca sebuah buku.


Pemandangan tersebut seketika menggetarkan hati. Sebagai seorang ibu yang melihat perkembangannya setiap hari, Alina dibuat takjub.


Raihan sudah tumbuh menjadi seorang remaja yang sangat tampan serta memiliki gen ayahnya lebih besar.


Alina pun mengetuk pintu beberapa kali membuat Raihan beralih ke depan.

__ADS_1


"Mamah?" panggilnya.


"Boleh Mamah masuk?" tanya Alina mendapati anggukan setuju dari Raihan.


Ia pun berjalan mendekat dan duduk di tepi tempat tidur samping buah hatinya. Senyum terus bertengger di bibir kemerahan itu.


"Sayang, boleh Mamah bertanya sesuatu?" tanya Alina kemudian.


"Em, tentu. Mamah mau bertanya apa?" tanya balik Raihan.


Alina diam lima detik lalu kembali mengulas senyum manis.


"Bagaimana perasaan Raihan saat ini? Maksud Mamah jika dibandingkan dengan waktu kamu berusia lima tahun. Ah, Mamah tidak bermaksud membanding-bandingkan atau mengingatkanmu pada masa itu hanya saja-"


"Mah." Panggil Raihan menghentikan ucapannya.


Alina terperangah kala menyaksikan sorot mata serius tercetus di sana.


"Aku mengerti apa maksud Mamah. Aku ... sejak saat itu sampai sekarang aku senang dengan kehidupan kita. Ada Mamah yang selalu menyayangiku itu sudah cukup untukku. Namun, tidak bisa dipungkiri jika aku juga ingin disayang oleh ayah, meskipun ... aku tahu dulu ayah tidak begitu suka dengan keberadaan ku."


"Sekarang aku sudah tidak memikirkannya lagi ... bagiku, kebahagiaan Mamah yang utama. Karena dari dulu hingga sekarang hanya Mamah yang paling mengerti aku," tutur Raihan.


Alina tidak bisa berkata-kata, maniknya berkaca-kaca mendengar kembali ungkapan sang buah hati. Raihan begitu dewasa di usianya yang masih sangat muda.


Ia sadar jika putra pertamanya itu adalah korban keegoisan yang didewasakan oleh keadaan. Namun, ia tidak menyangka jika Raihan begitu luar biasa dalam memperhatikannya.


Ia pun menarik tubuh sang putra ke dalam pelukan dan membubuhkan kecupan mendalam di puncak kepalanya.


"Terima kasih, Sayang. Dari dulu hingga sekarang, kamu adalah putra Mamah yang paling berharga," ungkap Alina.


"Putri bagaimana?"


"Tentu saja, putri Zenia juga berharga untuk Mamah. Ah~ jangan cepat besar dulu yah, Sayang. Mamah masih mau memeluk mu seperti ini," kata Alina semakin mengeratkan rengkuhannya.


Raihan tergelak mendengar penuturan sang ibu. "Bagaimana bisa seperti itu, Mah? Cepat atau lambat aku akan beranjak remaja dan dewasa. Aku akan melindungi Mamah."


Alina kembali mengecup lembut wajah Raihan dan tanpa keduanya sadari dari arah pintu yang terbuka sedikit, Zaidan menyaksikan hubungan ibu serta anak itu dalam diam.


Seraya menggendong Zenia, ia mengulas senyum hangat ikut merasakan kebahagiaan mereka.


"Ayah dan Zenia juga sayang kak Raihan serta mamah, yah," ucapnya memandangi sang buah hati. Zenia hanya bisa tersenyum lembut.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2