
Canda dan tawa bergema ke seluruh penjuru ruangan yang ada di bangunan lantai dua tersebut. Berkali-kali wajah ayu itu pun mengembangkan senyum kala mendengar keakraban sang buah hati bersama kedua temannya.
Selepas makan siang bersama, Raihan mengajak Cyla dan Fadil untuk bermain di kamarnya. Setelah memberikan makanan ringan dan minuman dingin bagi mereka, Alina pun kembali ke ruang keluarga menemani Zenia memberikan waktu privasi bagi anak-anak itu.
Di tengah keseruan mengajak putri kecilnya bermain, tiba-tiba saja bel pintu terdengar nyaring. Buru-buru Alina menggendong Zenia dan berjalan ke depan.
Pintu pun terbuka menyaksikan dua sosok tengah mengembangkan senyum hangat padanya. Alina terkejut mendapati mereka mengunjungi kediamannya secara mengejutkan.
"MasyaAllah, Mas Angga? Sarah?" panggilnya pada pasangan suami istri tersebut.
Angga dan Sarah tersenyum semakin lebar. Kedua wanita itu pun saling bersalaman lalu mencium pipi kanan dan kiri.
"Assalamu'alaikum, Teh Alina. Kami datang ke sini ingin memberitahu Teteh sesuatu," kata Sarah riang.
"Wa'alaikumsalam, masyaAllah, apa itu? Ah, kalau begitu ayo masuk kita bicarakan di dalam," ajak Alina membuat keduanya mengangguk setuju.
Mereka pun berjalan beriringan menuju ruang keluarga. Alina sengaja membawa keduanya ke sana agar lebih leluasa bercerita.
Sarah dan Angga menyapukan pandangan ke segala arah. Mereka sama-sama mengerutkan dahi kala tidak mendapati siapa pun di sana selain Alina dan Zenia.
"Ke mana yang lainnya pergi?" tanya Angga membuka suara.
Bersamaan dengan itu mereka sudah tiba di ruang keluarga dan duduk di karpet bulu sembari mengajak bayi yang mulai merangkak tersebut bermain.
"Mas Zaidan masih ada di kantor dan Raihan sedang bermain bersama teman-temannya di atas," jelas Alina.
Sarah dan Angga mengangguk mengerti lalu kembali menatapnya lekat. Diperhatikan seperti itu membuat Alina menautkan kedua alis.
Ia tidak mengerti kenapa rekan rahasia sekaligus keluarganya itu memberikan tatapan yang membingungkan.
"A-ada apa ini sebenarnya? Kenapa kalian menatapku segitunya? Apa ada yang terjadi? Apa kalian menemukan pekerjaan baru yang membutuhkanku? Kenapa-" ucapan Alina terpotong seketika kala Sarah mengangkat selembar kertas terlipat.
Alina semakin tidak mengerti dan memandangi keduanya bergantian.
"Ada apa? Kalian jangan bermain teka-teki seperti ini aku tidak tahu. Kenapa juga kalian bertamu tanpa memberitahu? Apa kalian membawa kejutan? Apa-"
"Adikku ini semakin cerewet setelah menjadi ibu dari dua orang anak. Apa Zaidan memanjakan mu hingga membuatmu berubah seperti ini?" Angga terperangah dengan banyaknya pertanyaan yang Alina ajukan.
Bola mata karamel itu pun berputar singkat. "Bukan seperti itu, Mas. Hanya saja kalian-"
__ADS_1
"Aku hamil Teh," potong Sarah tidak sabar ingin membagikan kabar bahagia itu kepada wanita yang sudah dianggapnya kakak.
Seketika perseteruan Alina dan Angga pun terhenti. Wanita berhijab hitam itu menoleh perlahan pada Sarah dengan manik membola.
"A-apa yang kamu katakan barusan? Ka-kamu hamil?" tanyanya tercengang.
Sarah mengangguk lalu menjulurkan selembar kertas tadi pada Alina. Ia pun langsung mengambil dan membukanya cepat.
Ia terkejut kala surat itu merupakan pemberitahuan mengenai kondisi Sarah. Wanita mantan agen yang selama ini sudah banyak membantunya sekarang tengah berbadan dua.
Alina kembali mengangkat kepala menyaksikan pasangan menikah di depannya. Dengan mesra Angga merangkul pinggang istrinya sayang.
"Ja-jadi kamu beneran sedang hamil?" tanya Alina masih tidak percaya.
"Itu benar, Alina. Istriku sedang mengandung, dan usianya sudah memasuki empat minggu," jelas Angga kemudian.
"Itu benar, Teh. Kami datang ke sini secara mendadak ... karena ingin cepat-cepat memberitahukan berita baik ini padamu, Teh. Kami juga sebenarnya baru pulang dari rumah sakit," timpal Sarah lagi.
Alina tidak kuasa membendung kebahagiaan, air mata haru meluncur tanpa bisa dicegah. Ia melipat kertas pemberitahuan itu dan langsung merengkuh Sarah yang satu-satunya saksi saat dirinya masih bersama Azam.
"Alhamdulillah, MasyaAllah, selamat yah. Kalian akan menjadi orang tua ... MasyaAllah aku senang sekali mendengarnya. Aku turut bahagia untuk kalian," tutur Alina mengusap pelan punggung Sarah.
Wanita berhijab peach itu pun mengangguk beberapa kali. Ia menyembunyikan wajah berairnya di bahu kanan Alina.
Sarah dan Angga akan dikaruniai seorang anak yang sudah lama mereka nanti-nanti.
...***...
Malam semakin larut, jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Alina masih terjaga menunggu kepulangan sang suami.
Tadi sore Zaidan mengabarkan jika dirinya akan pulang telat dikarenakan ada pekerjaan tambahan yaitu bertemu klien baru.
Alina terus menunggu dan menunggu Zaidan di kamarnya berada. Sembari menjaga Zenia yang sudah terlelap, ia berkali-kali menyibak gorden jendela menghubungkan langsung ke gerbang depan.
"Kenapa mas Zaidan belum pulang juga?" gumamnya cemas.
Sampai tidak lama berselang ia mendengar deru mesin mobil berhenti di pekarangan. Buru-buru ia berjalan ke arah pintu dan berdiri hendak menyambut kedatangan sang suami.
Beberapa saat kemudian handle pintu dibuka seseorang, Alina melebarkan senyum mendapati Zaidan melebarkan pandangan.
__ADS_1
Ia pun berlari kecil dan menubrukkan tubuh ke dada bidang pasangan halalnya.
"Aku sangat merindukanmu, Mas. Aku pikir terjadi sesuatu lagi padamu," ucap Alina lirih.
Zaidan tersenyum semakin lebar mendengar nada panik istrinya dan mengangkat kedua tangan membalas pelukan.
"Itu tidak akan mungkin terjadi lagi, Sayang. Aku minta maaf, pulang terlambat hari ini," kata Zaidan lembut.
Alina mengangguk perlahan lalu melonggarkan pelukannya tanpa melepaskan ikatan kedua tangan di pinggang Zaidan.
Ia mendongak dan menyandarkan dagu lancip itu di dada sang suami. Tatapan hangat nan sayu membuat Zaidan bahagia tak terkira.
"Kenapa hm? Apa Sayangnya aku sedang merindukan suaminya?" goda Zaidan kemudian.
Jauh dari khayalan, ia menyaksikan Alina mengangguk tanpa mengelak.
"Sangat ... bukankah tadi aku sudah memberitahumu Mas? Jika aku sangat merindukanmu," ungkapnya lagi.
Zaidan semakin tidak karuan, jantungnya berdegup kencang membuat Alina mengembangkan kedua sudut bibirnya lebar.
"Suaranya keras sekali," ucap Alina menggulirkan bola mata ke dada sebelah kiri membuat Zaidan merona.
"I-itu ka-karena aku-"
Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja tindakan sang istri hampir membuat jantungnya berhenti berdetak.
Zaidan terbelalak saat melihat Alina memberikan ciuman hangat nan mendalam di dada sebelah kiri tepat di mana jantungnya berada. Wanita itu pun kembali mendongak membuat tatapan mereka mengunci satu sama lain.
"Aku senang ... Mas bisa berdebar kencang seperti ini karena ku," kata Alina, nada suaranya begitu lembut.
Zaidan yang tidak bisa menahan diri langsung menarik sang istri untuk semakin merapat pada tubuhnya.
"Aku tidak akan membiarkanmu lolos malam ini." Zaidan langsung menyatukan benda kenyal mereka menyalurkan perasaan terdalam.
Keduanya terhipnotis akan segala kenikmatan yang kian menggelora. Zaidan menjatuhkan tas kerjanya begitu saja dan terus menerus fokus kepada Alina seorang.
Dunianya sudah berpusat pada sang istri tidak ada yang lain lagi. Mereka pun hanyut pada sebuah permainan yang memabukkan.
Tidak ada yang lebih membahagiakan selain hidup bersama dengan orang yang kita cintai dan mencintai kita.
__ADS_1
Itulah yang tengah Alina dan Zaidan rasakan.
...Bersambung......