Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 17


__ADS_3

Rintik air hujan membasahi tanah gersang. Udara sedikit dingin berhembus menemani kesendirian. Kesepian dan kehampaan terus terulang seperti roda kehidupan. Kadang berada di atas dan di bawah. Waktu terus berputar menentukan takdir dan ujian. Terkadang air mata mengiringi setiap langkah yang ditapaki. Terjal dan curam, menimbulkan luka dan kepedihan. Hal itu harus dilakukan sampai Allah memberikan balasan.


Tidak ada kata terlambat jika perjuangan belum menemukan akhir. Terus melangkah sampai mendapatkan hasil. Sama seperti sebuah perasaan, cinta yang berlandaskan pada iman akan tetap diperjuangkan sekeras apapun perjalanan menerjang.


Itulah yang tengah dirasakan Alina. Istri kedua yang melekat pada dirinya tidak menjadikan ia berpangku tangan. Pernikahan yang diawali karena keterpaksaan harus dilaluinya dengan baik. Cinta yang ia rasakan seorang diri perlahan mendapatkan titik terang. Sang suami perlahan menerimanya sebagai seorang istri.


Malam ini ia tengah duduk seorang diri di tepi tempat tidur, kedua tangannya menggenggam sebuah figura foto berukuran sedang. Di dalamnya menampilkan ia dan sang suami di hari pernikahan. Senyum lemah yang keduanya perlihatkan menunjukan perasaan masing-masing.


Tertekan dan kesedihan membayang, kata mengawali jalan pernikahan mereka.


"Bahkan dari dulu rasa itu tidak pernah pudar. Aku berusaha menyangkal jika hal tersebut bukanlah kekaguman semata, melainkan cinta. Ya Allah apa yang harus hamba lakukan sekarang? Rasanya, aku merasa bersalah pada mbak Yasmin," gumam Alina. Jari jemari rampingnya mengelus pelan wajah Azam dalam bingkai foto.


"Apa yang membuatmu merasa bersalah?"


Suara berat nan serak mengejutkan. Alina menoleh ke belakang dan mendapati sang suami berjalan masuk seraya menenteng tas dan jas kerja. Setelah meletakan kedua benda tadi di atas sofa tunggal, Azam mendekati sang istri.


Alina masih terlihat syok, tidak percaya melihat Azam datang ke kemarnya. Namun, ia tidak mengatakan apapun sampai pria itu mendudukan diri di sampingnya. Tangan kanan Azam terulur merangkul hangat pinggang ramping sang istri.


"Apa yang sedang kamu lakukan? Melihat foto pernikahan kita? Dan apa yang membuatmu mengatakan bersalah tadi?" tanya Azam beruntun.


Alina menundukan kepala dalam seraya menatap lekat dirinya dalam foto. Azam menunggu dengan setia sampai istrinya mau berbicara.


"Awal pernikahan kita memang tidak berdasarakan cinta, tapi keterpaksaan. Aku merasa bersalah pada mbak Yasmin karena sudah mencintaimu tanpa izin." Jawaban Alina membuat Azam melengkungkan sudut bibir.


Ia menarik sang istri ke dalam pelukan. Alina melebarkan kedua pandangan terkejut dengan tindakan tiba-tiba yang kerap kali suaminya lakukan. Ia masih belum terbiasa atas perubahannya, tapi hal itu juga membuatnya lega.

__ADS_1


"Jangan berkata seperti itu, cinta datang pada siapa yang dikehendakinya. Kamu berhak mencintai siapa pun, tapi hanya satu yang harus kamu berikan cinta sepenuhnya."


Perkataan Azam mengundang tanda tanya, Alina pun menongak menatap ke dalam manik bulat suaminya. Senyum masih membingkai di wajah tampan itu, tangan kirinya terangkat dan bertengger di dagu Alina.


"Kamu harus memberikan cinta sepenuhnya hanya untukku. Kamu tahu, aku ini suamimu."


Lagi-lagi Azam memberikan kejutan tak terduga, setelah mengatakan hal yang membuat jantungnya berdegup kencang, kecupan hangat di dahi pun mengantarkan kebahagiaan tiada tara dalam diri Alina. Ia tidak bisa berbuat apapun hanya terus diam dengan rona merah di kedua pipinya.


Sedetik kemudian Azam memeluknya erat, menyandarkan kepalanya di bahu istri kedua. "Apa tidak terlalu cepat waktu aku mengatakan cinta padamu?" mendengarnya bagaikan menusukan duri dalam dada. Alina masih diam dan terus menunggu lanjutannya. "Aku tidak tahu. Apa yang tengah aku rasakan ini, tapi setiap saat bersamamu membuat nyaman. Entah kenapa aku seperti kehilangan beban jika kamu di sampingku. Apa ini yang disebut cinta?"


Alina terdiam merasakan degupan jantung orang yang tengah merengkuhnya. Suhu tubuh sang suami pun bertambah mengantarkan semburat merah muda di wajahnya. Ada perasaan senang dan sedih diwaktu bersamaan. Bagaimana pun hubungan mereka selangkah ada perkembangan.


Namun, di sisi lain Alina takut jika perasaan suaminya hanya sebatas kasihan semata. Beberapa kali Azam menyakitinya terlalu dalam. Ia senang jika pada akhirnya Azam memiliki perasaan yang sama, tapi masih ada ketakutan lain membayangi dirinya.


Yasmin, istri pertama yang sangat dicintai Azam.


"Apa itu?" tanya Azam semakin mengeratkan pelukannya.


"Mas sendiri yang bisa menjawab pertanyaan itu. Apa itu memang cinta atau sebatas kasihan. Atau mungkin pelampiasan semata. Karena mbak Yas-"


Secepat kilat Azam melepaskan pelukannya lalu menangkup bahu sang istri. Netra bulan itu melebar sempurna dengan mulut sedikit menganga. Alina terkejut kala melihat ekspresi tergambar jelas di wajah tampan itu. Azam mengerutkan dahi dalam seraya menatapnya lekat. Sorot mata tegas dengan bibir mengatup rapat. Alina ketakutan, bayangan Azam hari itu kembali berputar.


"Ma-mas," cicitnya.


Sadar dengan perubahan suara Alina, Azam sedikit melunakan ekspresinya. Ia sadar sudah menyakiti dan menakuti sang istri terlalu dalam.

__ADS_1


"Ketika hanya ada aku dan kamu, bisa tidak kita tidak usah membicarakan Yasmin?"


Alina cengong seketika, tidak percaya kata-kata itu keluar dari mulut tipis suaminya. Bukankah Azam sangat mencintai Yasmin? Pikir Alina berkecambuk. Ia tidak bisa menjawab pertanyaannya dan terus diam bak patung.


"Alina."


Panggilan lembut sang suami menyandarkan dari lamunan, ia terlonjak saat Azam mencondongkan badannya ke depan membuat pipi mereka hampir bersentuhan. Sontak wajah Alina terus mengeluarkan semburat merah. Ia selalu dikejutkan dengan tindakan tiba-tiba dari suaminya.


"Ke-kenapa Mas berkata seperti itu? Bukankah Mas sangat mencintai mbak Yasmin?"


Alina merasakan pegangan Azam perlahan mulai dilepaskan. Ia sadar jika pertanyaan itu sangat sensitif bagi mereka. Baru saja air mata merembes keluar, sosok sang suami kini tepat bersimpuh di hadapannya.


Iris jelaga itu melebar sempurna, bibir kemerahannya sidikit terbuka menangkap sorot mata serius di sana. Alina masih tidak mengerti kenapa suaminya terus berubah-ubah. Apa ia melakukan kesalahan? Pikirnya lagi.


"Hanya jika kita bersama aku tidak ingin membicarakan yang lain, bisakah? Bisakah kita hanya mengatakan masa depan, hanya ada kamu dan aku?"


Kata-kata yang terlontar dengan nada suara lembut nan dalam mengantarkan bulir bening meluncur indah di pipi Alina. Wanita itu hanyut dalam manisnya permainan kata yang suaminya ucapkan. Ia tidak menyangka akan mendapatkan hari di mana Azam mengeluarkan perkataan seperti tadi. Bak padang tandus ditumbuhi berbagai macam tanaman, kini bunga kuncup telah mekar dengan sempurna.


Awan kelabu perlahan menghilang berganti dengan hangatnya sinar mentari. Harapan setinggi langit yang ia pikir tidak pernah tergapai, kini nyatanya langsung berada dalam genggaman. Alina tidak mengatakan apapun hanya linangan kristal bening terus berjatuhan.


Azam membawanya ke dalam pelukan hangat. Tangan tegap itu mengelus pelan punggung sang istri mencoba menenangkan.


"Maaf jika aku sudah menyakitimu,"


Alina pun menggeleng sekilas, "tidak. Terima kasih," ucapnya.

__ADS_1


Azam semakin mengeratkan pelukan mereka menikmati setiap detik yang terlewati bersama istri kedua.


__ADS_2