
Di balik fatamorgana terdapat secercah cahaya guna mencapai masa depan lebih baik. Tidak ada yang salah dengan masa lalu, sebab kehadirannya bisa menyuguhkan perubahan ke arah lebih baik.
Ujian datang sudah menjadi bagian skenario-Nya. Apa pun yang Allah berikan itu sudah pasti yang terbaik untuk hamba-Nya.
Tidak apa dibalut dengan linangan air mata. Karena setelahnya terdapat senyum cerah yang hendak menyambut.
Sama seperti malam, meskipun gelap melingkupi, tetapi terdapat keindahan yang tidak bisa dilihat pada siang hari, yaitu kehadiran bulan dan bintang. Pemandangan malam begitu mendamaikan serta menyiratkan akan keagungan Tuhan.
Satu persatu kendaraan roda empat hilir mudik silih berganti. Di tepi jalan, mobil hitam milik pewaris keluarga Arfa berhenti.
Zaidan masih menenangkan Alina yang tengah terisak. Jas kerjanya basah oleh air mata membuat sang empunya tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
"Sayang kenapa kamu menangis, hm? Apa aku melakukan kesalahan?" tanyanya penasaran.
Dirasa sudah sedikit tenang Alina menegakan tubuh lalu mendongak menatap iris cokelat di depannya.
Wajah berair nan merah sang istri begitu menarik perhatian, kedua tangan Zaidan terangkat mengelus halus pipi berairnya.
"Aku sakit melihatmu menangis seperti ini, Sayang. Aku merasa ... gagal sebagai suami untuk membahagiakanmu. Aku-"
Secepat kilat Alina menyambar bibir menawan sang suami. Sensasi hangat menggelitik nan menyengat bagaikan aliran listrik mengalir ke seluruh tubuh.
Zaidan terpaku beberapa saat hingga kemudian ia menekan kepala Alina dalam membuat penyatuan mereka semakin intens.
Di bawah langit cerah kemesraan tengah terjalin, keduanya melupakan sejenak permasalahan yang menimpa. Bagaikan menemukan air di padang pasir tandus, kesejukannya seketika melenakan.
Tidak lama setelah itu Zaidan pun melepaskannya mengusap lembut bibir merah nan bengkak sang istri. Alina yang kembali diperlakukan manis menundukkan kepala, malu.
Zaidan tidak mengizinkannya dan memegang dagu Alina sampai sang empunya mendongak. Tatapan mereka saling mengunci satu sama lain menyelami keindahan bola mata masing-masing.
Binar kebahagiaan menari menampik semua kepelikan yang mendera. Kesyahduan menelisik ke relung kalbu berbisik lirih jika berdua lebih indah untuk menyelesaikan segala problema yang ada.
Tanpa kata, Zaidan mengecup lembut dahi, kedua mata, pipi, hidung, dan berakhir di benda kenyal Alina. Setelah memberikan gerakan impulsif sebagai tanda kasih sayang, ia menangkup wajah ayu sang pujaan.
__ADS_1
"Kamu tahu ... aku sangat mencintaimu, kan?" Alina hanya mengangguk sebagai jawaban. "Karena itulah jangan memendam semuanya sendirian. Kamu punya aku untuk berbagai segalanya," tutur Zaidan hangat.
"Aku hanya tidak ingin merepotkanmu."
"Justru aku ingin direpotkan olehmu, Sayang. Janji untuk mengatakan semuanya padaku?" Zaidan memberikan tatapan serius nan mendalam.
Alina menelan salivanya pelan, rasa pahit mengalir di tenggorokan menyisakan manis yang tiba-tiba saja datang. Ia tidak terbiasa diperlakukan hangat oleh seseorang, sebab selama ini dirinya hanya berjuang seorang diri.
Kepala berhijabnya mengangguk pelan mengundang bulan sabit hadir. Zaidan tersenyum manis dan kembali membubuhkan ciuman hangat serta mendalam di dahi lebar Alina.
Suara kendaraan roda empat mengalun menjadi backsound kebersamaan. Cahaya sang raja siang begitu menyengat menyadarkan jika di balik hawa panas masih ada kesejukan.
"Tadi, aku bertemu dengan Zanna. Seperti yang Mas lihat kami sempat berbincang-bincang. Apa?"
Tanpa diduga Zaidan mengangguk mengiyakan apa yang tengah Alina pikirkan saat ini. "Aku mendengar semuanya. Aku berada di sana sejak kalian berbicara."
Manik jelaga Alina melebar sempurna mengantarkan gelak pada suaminya. Zaidan terkekeh pelan lalu mengusap puncak kepala istrinya sayang.
"Aku bangga dan juga beruntung bisa mendapatkan istri sebaik dan setangguh kamu, Sayang. Aku benar-benar pria yang sangat beruntung," ungkap Zaidan jujur.
Bohong, jika Alina sama sekali tidak penasaran. Sebagai seseorang yang saat ini hendak menempuh hidup bersamanya, ia begitu tertarik dengan masa lalu sang suami.
Namun, Alina tidak menyangka Zaidan pernah terjebak dalam sebuah hubungan terlarang. Ia tidak menduga suaminya pernah melakukan hal itu sebelum akad berlangsung.
Ia tahu Zaidan sempat menjalin hubungan bahkan mereka hampir bertunangan, tetapi yang tidak ia pikirkan adalah tidur bersama.
Seketika bayangan video berdurasi kurang lebih tiga menit itu pun berseliweran dalam ingatan. Alina menggeleng-gelengkan kepala guna mengusirnya.
Mengetahuinya saja ada perih dalam dada, kebaikan serta ketulusan yang selama ini dilayangkan Zaidan hampir tertutup oleh masa lalunya.
Sekuat tenaga Alina mencengkram gamis mencoba menenangkan diri. Ia harus mendengar penjelasannya lebih dulu dari Zaidan.
Namun, hingga detik ini pria itu masih tutup mulut seolah ada sesuatu menghalangi bibirnya. Alina menatap air muka terkejut di sana.
__ADS_1
"Mas!" panggilnya sedikit kencang.
Zaidan terperangah membalas tatapan Alina dengan sorot mata kebingungan.
"A-apa yang kamu katakan tadi?" tanyanya gugup.
Alina menghela napas lalu gantian menangkup wajah Zaidan. Ia sedikit menamparnya pelan menyadarkan sang suami dari lamunan.
"Aku bertanya, apa kamu pernah tidur bersama Zanna?" tanya Alina kedua kali.
"Apa? Bagaimana bisa aku tidur dengannya? Menyentuh saja aku tidak pernah ... selama kami menjalin hubungan perjodohan itu aku tidak mencintainya. Bahkan, dia juga sibuk konser serta latihan piano. Jadi, bagaimana bisa aku tidur bersamanya?"
Penjelasan beruntun Zaidan menyadarkan Alina satu fakta jika sang pianis tengah melakukan sebuah permainan.
Ia pun menarik kembali tangannya dan duduk tegak menghadap ke depan memikirkan kemungkinan yang terjadi. Alina menggigit ibu jarinya berulang kali dengan kepala penuh dengan nama Zanna.
"Sayang?" Panggil Zaidan seraya menepuk pundaknya pelan.
Bukannya menjawab, Alina malah merogoh tas selempang mengeluarkan benda pintar. Ia menekan nomor yang dikenal lalu membuat panggilan.
Tidak lama berselang seseorang diseberang telepon menerimanya.
"Wa'alaikumsalam, bisakah kamu melakukan sesuatu untukku? Kita ada pekerjaan lagi kali ini sesuatu yang sangat menarik," kata Alina tegas.
Zaidan menautkan kedua alis saat menyaksikan perubahan raut wajah istrinya. Alina terlihat berbeda dari beberapa detik lalu, air mukanya memperlihatkan keseriusan dan keyakinan.
Tidak ada getaran wanita lemah yang sempat ia saksikan tadi, kali ini seorang wanita tangguh menunjukan taringnya.
"Baru sekarang aku melihat sisi Alina yang seperti ini. Peran ganda ... sangat coock untuknya, istriku ... benar-benar menarik," benak Zaidan terpaku.
Setelah beberapa saat kemudian, Alina menggenggam erat ponsel dengan sorot mata nyalang memandang lurus ke depan. Zaidan memperhatikannya dalam diam, ia tidak menyangka sudah menikahi wanita yang benar-benar luar biasa.
Seketika ia terpesona dengan segala kejutan yang Alina berikan. Bagaikan seorang pejuang, wanita itu menunjukan warna abadinya.
__ADS_1
...Bersambung......