
Harapan setinggi langit harus kandas tanpa pegangan. Waktu terus beranjak meniti setiap perjalanan kehidupan menjadi lebih baik.
Tidak ada yang salah dengan sebuah permasalahan dalam hidup, sebab selama napas masih di kerongkongan ujian demi ujian akan selalu ada. Itu sebagai tanda jika Allah masih menyayangi hamba-Nya untuk diberikan kebahagiaan selepas perginya rasa sakit.
Mimpi hanyalah tinggal mimpi, kata selamanya tidak akan pernah menetap di satu titik. Apa pun, bagaimanapun, seperti apa misteri yang terjadi besok mempunyai masanya sendiri.
Kepedihan dan kesenangan tidak mungkin bertahan lama. Karena roda terus berputar dan memberikan kesempatan bagi kedua sisi untuk menetap.
Dua minggu berlalu begitu cepat, tepat pada hari ini ulang tahun Aqeela di gelar di kediaman keluarga Zabran. Nuansa soft pink menyambut setiap tamu undangan yang datang. Teman-teman, sanak saudara, turut hadir memeriahkan pesta sederhananya.
Kue ulang tahun yang dirancang khusus oleh sang ibu tersaji di meja parasmanan mengundang perhatian. Bak ratu sehari, Aqeela begitu cantik dalam balutan gaun berwarna merah muda dipadu hijabnya yang senada.
Binar keceriaan terus menetap di wajah ayunya, Aqeela senang bisa menghabiskan momen berharga bersama kedua orang tua beserta adik kecilnya.
Di tengah suka cita mendera seseorang hadir mengubah jalan cerita penuh tawa menjadi kejutan. Aqeela yang baru saja memberikan sepotong kue pada sang ibu terpaku pada sosok wanita berhijab di pintu masuk.
Bak magic, pandangannya terus terpaku ke sana tanpa sekalipun mengedipkan mata.
"Mamah?" gumamnya pelan.
Melihat perubahan sang putri, Alina mengikuti arah pandangnya. Seketika itu juga ia terkejut menyaksikan wanita bernama Yasmin di ambang pintu. Azam berdiri di sisi lain Aqeela tidak mengerti perubahan mereka. Ia lalu mengangkat kepalanya dan mendapati Yasmin tengah mengulas senyum.
Sedetik kemudian Yasmin mendekat seraya memeluk boneka beruang besar. Tanpa mengindahkan orang lain di sekitar, ia berjongkok tepat di hadapan Aqeela.
"Sayang, apa kabarmu?" tanyanya hangat.
Sontak pertanyaan tersebut membuat pertahanan Aqeela goyah. Kepala kecilnya menggeleng berkali-kali dan mundur selangkah ke belakang.
Yasmin menautkan alis tidak mengerti, "Kenapa? Apa kamu takut sama Mamah?"
"Si-siapa Tante sebenarnya? Ma-mamah kandungku sudah meninggal," ujarnya tercengang.
"Sayang, bisa kamu ikut kami sebentar?" Pertanyaan Zara yang tiba-tiba muncul mengejutkan.
__ADS_1
Alina hanya bisa memandangi mereka satu persatu, sampai perhatiannya berlabuh pada sang suami. Ia melihat kegembiraan dalam sorot matanya.
Entah bagaimana waktu berjalan, ia sudah melihat Aqeela bersama kedua wanita itu. Beberapa saat kemudian Azam menyusul menyisakan keheningan. Alina mematung di tempat, lidahnya kelu, kata-kata tercekat di tenggorokan. Kehadiran Yasmin mengundang perhatian, tidak hanya Azam, tapi semua kerabatnya.
Mereka terkejut dan tidak percaya ada seseorang yang begitu mirip dengan mendiang Yasmin, bahkan namanya juga sama.
"Mamah." Guncangan serta panggilan dari putra kecilnya menyadarkan.
Alina tersadar dan langsung berjongok di hadapannya. "Iya, Sayang?"
"Siapa dua wanita itu? Kenapa semuanya berkumpul di sana? Ayah juga, kenapa Ayah tidak mengajak kita?"
Pertanyaan beruntun dari Raihan membuat matanya berair, sekuat tenaga Alina menahannya tidak ingin memperkeruh keadaan.
"Mereka ... mereka teman-temannya, Ayah. Mungkin ada sesuatu yang harus dilakukan," dustanya. Raihan hanya ber'oh' ria tanpa mengatakan apa pun lagi.
Jengah terus berada di sana, Alina mengajak sang buah hati ke lantai atas. Ia membujuk Raihan untuk mengikutinya agar tidak melihat hal menyakitkan lagi.
Butuh kekuatan ekstra saat ia harus mempertahankan rasa sakit di hadapan sang anak. "Mamah menyayangimu," benaknya yang tengah memangku Raihan. Bocah tujuh tahun itu seolah mengerti kegundahan sang ibu, ia terus memeluk leher jenjang Alina erat.
Aqeela masih tidak mengerti dengan situasi sekarang. Di hadapannya ada seorang wanita yang begitu mirip sang ibu. Namun, jauh di dasar lubuk hatinya paling dalam ia tidak menginginkan kehadiran mereka.
"Apa yang ingin kalian katakan?" tanya Aqeela.
"Sayang, bagaimana perasaanmu melihat orang yang sangat mirip dengan ibumu?" tanya Zara balik.
Aqeela tidak menyahutinya, manik hitam legam itu terus menatap ke arah Yasmin, sedangkan sang ayah sibuk berbincang-bincang dengan rekan bisnisnya. Mereka sengaja datang ke sana ingin memberikan hadiah kepada putri pertamanya.
"Qeela, tidak tahu," jawabnya singkat.
"Siapa yang akan kamu pilih jika ternyata Tante Yasmin adalah ibu kandungmu? Sayang, kamu harus sadar jika Alina bukanlah ibumu sebenarnya. Dia hanya istri dari ayahmu ... coba kamu pikir apa Alina memperlakukanmu layaknya anak kandung, seperti kepada Raihan?" cerca Zara memprovokator.
Aqeela kembali diam dan menatap ke bawah sekilas lalu memandangi Zara yang tengah berlutut di depannya.
__ADS_1
"Selama ini mamah Alina menyayangiku dengan tulus dan tentu saja menganggapku seperti anaknya sendiri," bela Aqeela.
Zara mengulas senyum, kedua tangannya terulur menangkup bahu kecil gadis itu. "Kamu salah, justru mamah Alina memperlakukanmu seperti itu yah karena itu tugasnya. Coba kamu pikirkan jika mamah Alina tidak baik padamu, apa yang akan ayah pikirkan? Bisa saja ayah berpikir dia bukanlah istri yang baik. Semua yang ia lakukan hanya sebatas tugas tidak ada keikhlasan."
Kata-kata Zara terus terngiang dalam pendengaran, Aqeela menerawang jauh ke depan dan merasakan kedekatannya dengan Alina selama ini.
Melihat itu Yasmin pun mendekat dan berjongkok di sebelah Aqeela. Tangan rampingnya membawa tubuh kecil itu ke dalam pelukan.
Kehangatan seketika menelisik hati membuat Aqeela tersentak. Ia belum pernah merasakan hal itu meskipun saat bersama Alina.
"Bagaimana perasaamu, Sayang? Kamu bisa menganggap Tante seperti ibu kandungmu sendiri. Bukankah ibumu dan Tante sangat mirip?" ujar Yasmin menambahkan.
Tidak lama berselang Yasmin melonggarkan pelukan dan mengusap puncak kepalanya. "Tante menyayangimu, meskipun kita tidak ada hubungan apa pun, tetapi perasaan itu sudah hadir di sini." Ia munjuk dada sebelah kiri Aqeela.
"Kenapa?" tanya gadis itu tidak mengerti.
"Karena aku adalah ibumu."
Perlahan manik bulan Aqeela melebar, bibir kemerahannya terbuka. Jantungnya berdegup kencang, selama ini ia tidak pernah berinteraksi dengan ibu kandungnya.
Melihat Yasmin seperti menyaksikan ibunya sendiri.
"Kamu bisa lihat sendiri, Sayang. Mamah Alina pergi entah ke mana, padahal pestanya belum selesai. Kamu mengerti, kan? Tulus dan tugas itu adalah sesuatu yang berbeda," lanjut Zara lagi.
Aqeela memandang ke sekitar dan benar tidak mendapati Alina di manapun. Perasaan tidak mengenakan hadir mencoba mengikis kepercayaan.
"Apa benar mamah hanya menyayangiku karena aku adalah putri ayah? Apa mamah tidak benar-benar menganggapku anaknya dengan tulus?" monolognya dalam benak.
Tanpa mereka sadar dari lantai atas Alina menyaksikan itu semua. Sudut bibirnya menyeringai menonton drama klasik tepat di depan matanya. Ia tidak menyangka melihat dan mendengar sendiri apa apa yang tengah mereka lakukan.
Setelah sang suami bersikap mencurigakan, Alina mulai memasang penyadap di rumahnya. Ia memperketat keamanan guna mencegah hal tidak diinginkan.
"Tontonan yang sangat menarik, aku tahu siapa kamu sebenarnya," gumam Alina.
__ADS_1
Kilatan matanya menandakan ketegasan dan keseriusan. Kedua tangan menggenggam besi pembatas dengan kuat. Ada keyakinan dalam dada jika ia harus mempertahankan keutuhan keluarganya.