
Berakhirlah sudah cerita yang pernah tertulis oleh tinta air mata. Kini ketegaranlah yang harus di jalani guna menyongsong masa depan lebih baik lagi.
Tidak ada yang salah dengan semua rintangan dalam hidup, baik dan buruk sudah menjadi bagian dari kisah yang telah Allah tuliskan.
Kerikil kecil nan tajam memang bagian dari rencana-Nya. Cobaan akan selalu datang guna menguji ketabahan serta kesabaran seorang hamba.
Bersabar bukan berarti lemah, lakukan apa yang bisa dilakukan dan selebihnya serahkan pada Allah. Karena ujian itu datang dari Allah dan biarkan Ia yang menyelesaikannya. Sebagai seorang hamba hanya bisa menjalaninya seperti air mengalir.
Ke mana ia membawanya maka lautan yang akan menjadi tujuan. Di sana begitu luas, masih ada harapan untuk mendapatkan kebahagiaan lain.
Itulah yang tengah Alina rasakan. Sebagai seorang istri dan ibu, ia mencoba bersabar dengan bergerak untuk mendapatkan sebuah keadilan.
Ia tidak bisa membiarkan siapa pun mengusik ketenangannya, terlebih ia tidak rela jika Raihan mengetahui situasi orang tuanya. Ia tidak mau memberikan lingkungan tak sehat dalam tumbuh kembang sang buah hati.
Itu sebabnya ia berjuang guna menuntaskan apa yang tengah terjadi di dalam rumah tangganya, meskipun harus merelakan sang suami bersama wanita lain.
Namun, sebelum itu ia menginginkan kedua wanita yang mengusik rumah tangganya jera dan tidak terus menerus melakukan hal salah.
Saat ini Alina sedang berhadapan dengan salah satu dari mereka. Zara, sekertaris sekaligus wanita yang diam-diam masih mencintai sang suami mendatanginya.
Ia pun menunggu sampai Zara mengatakan maksud dan tujuannys.
"Aku menemuimu, karena aku pensaran akan sesuatu," ucapnya memulai.
"Apa itu?" tanya Alina.
"Dari mana kamu tahu nama Naura Gibran dan bagaimana kamu tahu jika dia cantik?" tanya Zara menggebu.
Alina tersenyum simpul kemudian meminum kopi hangatnya singkat.
__ADS_1
"Kamu tahu, seorang ibu bisa melakukan apa pun untuk kebaikan anaknya. Mungkin kamu bisa menyimpulkan apa yang sudah aku lakukan akhir-akhir ini."
Zara diam beberapa saat setelah mendengar jawaban itu dan terus mengamati mimik sang lawan bicara.
"Kamu mencari tahu kelemahanku?"
Tanpa diduga Alina mengangguk cepat, "itu benar. Karena aku tidak akan membiarkan siapa pun merusak kehidupan baik putraku. Dia berhak tumbuh dalam lingkungan yang baik tanpa diusik orang ketiga ataupun keempat ... seperti kalian," jawabnya menyindir.
Zara terperangah dan kembali membungkam bulutnya rapat seraya terus mengamati Alina. Sudah delapan tahun berlalu, sejak ia mengetahui keberadaan istri kedua dari sang atasan.
Namun, baru kali ini ia melihat sosoknya berbeda. Dulu, untuk pertama kali berbicara dengannya seperti sekarang Alina masih terlihat begitu mendamba dan sangat mencintai suaminya, Azam.
Kali ini Zara tidak menduga ia melihat sorot mata tegar dan siap menghadapi segala hal. Ia pun menyadari perubahan tersebut.
"Apa kamu sudah tidak mencintainya lagi? Apa kamu tidak marah melihat kebersamaan mas Azam bersama Yasmin?" Kembali pertanyan yang sama ia ulangi lagi.
Alina melepaskan kontak mata dengannya dan memandangi jalanan dari dalam kafe melihat orang berlalu-lalang.
"Jika aku katakan, aku tidak marah dan cemburu melihat mereka bersama, apa kamu akan percaya?" tanya Alina balik sambil menatapnya lagi.
Zara menggeleng pelan. "Kamu sudah tahu jawabannya tanpa harus aku beritahu."
"Tapi ... kenapa kamu bisa setenang ini? Apa kamu sudah menyerah?"
Alina mendengus pelan, lengkungan bulan sabit hadir menambah kelembutan.
"Kamu tahu? Wanita yang sudah disakiti berkali-kali, dibohongi terus menerus, dikhianati untuk kesekian kali, tidak akan pernah sama lagi. Aku mencoba tegar untuk anakku, Raihan dan Aqeela. Meskipun dia tidak lahir dari rahimku sendiri, tetapi aku sangat menyayanginya. Aku tidak peduli bagaimana ayahnya memperlakukanku, karena anak itu tidak salah apa pun. Aku tidak tahu apa tujuanmu mendatangiku, entah itu ingin mencari tahu kelemahan atau menyelidiki sesuatu ... aku tidak peduli, tetapi yang harus kamu tahu ... saat ini aku tidak bisa mundur untuk mendapatkan keadilan. Bukan untukku, tetapi untuk kedua anakku," ungkapnya jujur.
Zara tertegun dan terhanyut dengan perkataan Alina. Tidak ada kebohongan maupun keraguan di matanya. Ia melihat ketulusan serta keikhlasan yang begitu mendalam.
__ADS_1
Tanpa sadar Zara menitikan air mata, ia merasa melankolis setelah mendengar jawaban yang Alina berikan.
Kejujruannya sangat berpengaruh ke dalam hidupnya saat ini. Mendengar jika Alina mengorbankan semuanya untuk kebaikan sang anak membuatnya terharu.
Alina terkejut melihat Zara menangis tepat di depan matanya. Buru-buru ia memberikan tisu dan membiarkannya menangis terlebih dahulu.
"Aku tidak tahu kenapa kamu menangis, apa itu kasihan? Atau-"
"Tidak." Zara menyambar ucapannya cepat. "Aku sama sekali tidak merasa iba terhadapmu, Alina. Justru aku terpukau dengan kesungguhan yang kamu lakukan sekarang. Aku minta maaf sudah berniat memisahkanmu bersama mas Azam."
"Eh? Apa yang kamu katakan?"
"Sebenarnya aku iri padamu," lanjut Zara.
"Hah? Apa maksudmu? Kamu tidak apa-apa?" tanya Alina khawatir.
Zara menggelengkan kepala dan kembali memandangi manik di depannya dengan berurai air mata. "Sebenarnya aku datang menemui hari ini, karena dia. Aku seorang ibu ... yah, tanpa aku jelaskan pun kamu sudah tahu."
"Naura Gibran, anakmu, kan? Dia cantik sekali sama sepertimu, aku tebak umurnya baru lima tahun?" Zara mengangguk tanpa ragu.
"Dua hari lalu aku menemuinya di rumah sakit, mungkin kamu juga tahu jika kondisinya sedang tidak baik. Dia mengatakan jika ada seorang wanita cantik menemuinya dan merawatnya dengan baik. Dia mengatakan dengan jelas ciri-cirinya dan itu mengarah padamu. Aku tidak tahu harus bagaimana ... tapi terima kasih sudah menemui anakku," ungkap Zara.
"Tidak apa, aku sebenarnya terkejut saat mengetahui kamu sudah punya anak. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu masih mengejar mas Azam, padahal kamu sudah menikah dan punya anak?" Alina ingin tahu alasannya.
Seketika itu juga Zara terdiam beberapa saat terhanyut ke dalam lamunannya sendiri. Kening lebar Alina mengerut dalam tidak mengerti. Apa aku sudah salah bicara? Pikirnya.
"Zara?" Panggilnya.
Zara tersentak dan sadar dari alam bawah sadarnya. "Ah, aku minta maaf." Alina mengangguk tidak mempermasalahkan.
__ADS_1
"Lima tahun lalu aku menikah dengan seorang pria yang tidak aku cintai. Aku menerima dia karena perjodohan orang tua kami, awalnya untuk melupakan mas Azam, tetapi, seiring berjalannya waktu dia melakukan KDRT dan tidak pernah menganggapku sebagai istri. Di saat aku mengandung Naura pun dia mengatakan jika anak itu bukanlah darah dagingnya. Ia juga bilang jika penampilanku yang seperti ini memperlihatkan jika aku bisa tidur dengan pria manapun. Padahal sampai aku menikah dengannya ... aku tidak pernah bersentuhan dengan pria. Aku tidak pernah bahagia dan terus dirundung rasa sakit," jelas Zara menceritakan masa lalu.
Alina terkejut tidak menduga, selama ini ia berpikir jika Zara hanya seorang wanita yang sangat antusias untuk bisa bersama Azam. Namun, di balik ketegaran serta kelicikannya menyimpan sebuah kepelikan yang begitu parah.