
"Saya tidak butuh uang Anda dan ... saya tidak menginginkan sepersen pun uang milik Anda. Karena saya percaya kami sudah memiliki rezekinya sendiri," tegas Alina lalu terdiam beberapa saat sebelum kembali berkata.
Ia pun menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. "Saya hamil cicit Anda ... saya hamil anaknya mas Zaidan," ungkap Alina tegas dan lugas.
Dawas mematung dalam duduk dengan mulut terbuka, kumis tipis sedikit berubannya pun bergetar. Tetua keluarga Zulfan itu tidak menyangka mendengar fakta mencengakan.
Sang pengusaha tertinggal satu langkah untuk memisahkan mereka. Kejadian tak terduga tersebut membekukan diri, tetapi sedetik kemudian sebelah sudut bibirnya terangkat menunjukan sesuatu.
Melihat hal itu Alina terperangah, kedua tangan yang berada di atas pangkuan mengepal kuat. Ia tahu apa yang akan tejadi selanjutnya, siap tidak siap ia harus menunjukan ketenangan serta keyakinan.
"Apa kamu pikir setelah mengatakan kehamilan ini saya akan melepaskan kalian begitu saja? Kamu salah Alina, wanita sepertimu sangat mudah ditebak. Berpura-pura hamil untuk mendapatkan warisan, kan? Dasar wanita tidak tahu diri, pantas saja sikapmu seperti ini, hidup tanpa adanya orang tua yang bisa mengarahkan pada tatakrama, yah beginilah akhirnya."
"Kamu benar-benar munafik, kenapa tidak bisa melepaskan Zaidan? Apa memang dari awal kamu sudah menggoda dia dengan berbagai cara? Dan sekarang setelah dia bertekuk lutut padamu ... kamu akan menjadikannya mainan, setelah itu menguasai semua kekayaannya, kan?"
"Apa saya benar?"
Dawas terus mencerocos tanpa jeda mengundang senyum di bibir ranum Alina. Ia tidak bisa menahan gelak saat mendengar penuturan pria tua di hadapannya.
Senaif itukah ia? Pikir Alina. Ia tidak menyangka tetua keluarga Zulfan memandangnya seperti itu. Ia sama sekali tidak mendapatkan tempat sedikit pun di hati Dawas.
Di matanya Alina selalu saja salah dan salah. Apa pun yang dilakukannya tidak benar dan ia bagaikan noda dalam keluarga tersebut.
"Kamu memang noda dalam keluarga kami. Kenapa kamu harus datang di saat semuanya sudah baik-baik saja? Apa kamu pikir dengan memainkan taktik seperti ini saya akan luluh?" Dawas menggeleng-gelengkan kepala.
__ADS_1
"Saya sama sekali tidak akan pernah bisa jatuh dalam permaianan busukmu. Tidak ada kata luluh bagi saya untuk bisa menerimamu," lanjutnya keras kepala.
Lagi dan lagi Alina hanya tertawa masam seraya terus mendengarkan apa yang hendak disampaikan Dawas. Sedetik kemudian hening menyapa mengambil alih atensi keduanya.
Dinginnya ac menemani perasaan resah gelisah. Sedari tadi Alina memperhatikan wajah jengah tepat di depan mata kepalanya.
Ia tahu ada kekesalan serta kebencian yang begitu apik tersalurkan lewat sorot mata tetua tersebut. Alina mengulas senyum manis lalu mengeluarkan selembar kertas dalam tas selempangnya.
Alina sudah mengetahui jika kejadian ini bisa saja terjadi. Untuk itu ia menyiapkan surat pemberitahuan kehamilannya saat tadi hendak meninggalkan rumah.
Ia lalu menjulurkannya ke hadapan Dawas tanpa sekalipun mengalihkan pandangan. Pria tua itu mentapnya sekilas dan kembali membalas tatapan Alina.
"Izinkan saya bercerita. Saya tidak pernah bermain-main dalam pernikahan. Dulu, saya menikah dengan orang yang sangat saya cintai. Namun, ternyata cinta saja tidak bisa membuat seseorang bahagia bahkan perasaan tersebut bisa menimbulkan luka."
"Saya pernah gagal membina rumah tangga. Berperan ganda sebagai ibu dan istri di waktu bersamaan setelah kata sah itu diucapkan merupakan pukulan telak bagi saya."
"Namun, saya tidak bisa berbuat apa-apa, sebab di antara kami hanya ada cinta bertepuk sebelah tangan. Delapan tahun ... delapan tahun sudah saya mengemban tugas seperti itu. Terombang-ambing di lautan yang tidak ada harapan untuk bisa pergi ke daratan."
"Saya hancur saat mengetahui pria yang sangat saya cinta tidak pernah bisa membalas perasaan ini. Tahun berganti tahun saya lalu bertemu dengan cicit Anda. Mas Zaidan begitu baik dan memperjuangkan cintanya sampai saya pun luluh."
"Saya sempat menolak beliau sebab saya tidak ingin terluka lagi. Saya lebih memilih untuk membesarkan putra saya daripada menikah kembali. Namun, Mas Zaidan terus menerus meyakinkan saya untuk membuka hati. Sampai pada akhirnya kami menikah."
"Saya tidak pernah punya sedikitpun niatan untuk mempermainkannya atau menginginkan hartanya. Karena dari awal saya menolak menikah dengannya."
__ADS_1
"Saya memang tidak punya orang tua, tetapi saya berpikir jika akhlak yang baik bisa mencerminkan kepribadian seseorang. Saya tidak menginginkan seperes pun harta dari keluarga Zulfan ... meskipun saya sekarang tengah mengandung darah daging mas Zulfan, tetapi saya tidak mengharapkan anak ini kelak menjadi seorang pewaris."
"Saya akan membesarkannya menjadi anak sholeh atau sholehah yang bisa membanggakan kedua orang tuanya di dunia maupun diakhirat. Tuan tenang saja, saya masih bisa memberi makan anak ini tanpa meminta uang sedikitpun dari keluarga Zulfan. Karena ada Allah yang maha razzaq, Dia pemberi rezeki bagi setiap hamba-Nya."
Setelah mengatakan panjang lebar, Alina beranjak dari duduk tanpa memberikan Dawas kesempatan bicara dan meninggalkan selembar kertas tergeletak di atas meja. Dawas memandanginya dalam tanpa ada sepatah kata pun terlontar.
Tidak lama berselang Alina sudah pergi meninggalkan restoran. Napasnya tersengal-sengal seolah sudah lari marathon ribuan kali.
Dadanya pun naik turun dengan keringat dingin bercucuran. Ia bersandar di tembok restoran mencoba mengatur napas dan menenangkan diri seraya terus beristighfar.
"Astahfirullah hal adzim ... Astahfirullah hal adzim ... Astahfirullah hal adzim."
Perlahan kedua tangan terangkat memeluk perut ratanya pelan. Ia menunduk seolah tengah menyaksikan sang jabang bayi di sana.
"Terima kasih sudah memberikan Mamah kekuatan, sayang," katanya lirih. "Apa pun yang terjadi Mamah akan menjagamu dengan baik. Meskipun kakek buyutmu tidak bisa menerima kita ... kita harus hidup bahagia yah. Baik-baik di dalam sini yah sayang, Mamah, kak Raihan, dan ayah menunggu kelahiranmu ke dunia. Mamah sangat menyayangimu," lanjutnya lagi.
Setetes air mata terjatuh membuat Alina tersadar dan mengusapnya kasar. Ia lalu menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Ayo kita pulang dan menyiapkan makan siang." Alina pun benar-benar pergi dari sana setelah dirasa sedikit tenang.
Jam masih menunjukan pukul setengah sebelas, langit biru membentang begitu luas dengan awan putih berarak menemani sang raja siang.
Hari yang cerah mengawali perasaan Alina untuk tetap bertahan dan yakin pada setiap ketentuan. Ia percaya ujian itu datang sebab Allah menyayanginya. Karena Allah ingin memberikan sesuatu terbaik untuk dirinya.
__ADS_1
"Tidak ada yang berjalan lancar di dunia ini, semua membutuhkan rintangan yang tidak mudah. Ya Allah, perkuatkanlah hati hamba untuk menjalani ujian-Mu kali ini. Apa yang sedang Engkau siapkan untuk hamba? Hamba percaya di balik kesulitan akan ada kemudahan. Apa pun yang terjadi hamba yakin rencana-Mu sangatlah baik," monolog Alina dalam benak. Ia memandang langit cerah di balik jendala taksi yang melaju membelah angin.
...Bersambung......