Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 93 (Season 2)


__ADS_3

Ketegangan masih tercipta di antara dua wanita tersebut. Baik Alina maupun Yasmin sama-sama tidak ada yang mau mengalah.


Awan yang semula kelabu perlahan berarak memberikan kesempatan pada sang raja siang untuk bersinar. Cahayanya menyengat memberikan semangat juang pada seorang Alina. Ia tidak bisa mundur dan akan terus memperjuangkan nama baiknya.


Sorot mata serius nan tegas terus mengarah pada Yasmin. Wanita berhijab merah muda itu pun menyeringai kala mendengar penuturan Alina barusan.


"Aku memang sengaja menyewa dia seperti apa yang kamu katakan. Karena aku tidak ingin melihatmu terbebas dari jerat seorang Azam," ungkapnya lagi.


"Kamu benar-benar sudah gila, Yasmin. Sadarlah balas dendam itu tidak baik, kamu seharusnya menerima semua ketentuan dari yang di atas. Karena Dia tahu yang terbaik untukmu." Nasehat Alina.


Seketika Yasmin tertawa jenaka dan memandangi Alina lekat. "Aku tidak butuh nasehatmu. Kamu bisa berkata seperti itu, karena tidak berada di posisiku."


"Aku memang tidak akan pernah bisa berada di posisimu dan merasakan penderitaanmu." Alina menyunggingkan senyum hanya membuat Yasmin heran.


"Aku anak yatim piatu ... aku tidak tahu bagaimana rasanya kasih sayang orang tua. Dari kecil aku tumbuh di panti asuhan dan harus berbagi kasih sayang ibu panti dengan anak-anak lain. Kamu tahu bagaimana rasanya melihat teman-teman yang lain hidup lengkap dengan orang tuanya?" Ia menjeda kalimatnya memperhatikan Yasmin yang membungkam mulut rapat.


"Sangat sakit ... sakit sekali. Terkadang aku iri pada mereka, karena ... karena aku juga ingin mempunyai orang tua lengkap. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya hidup bersama ayah dan ibu, tetapi ... aku tidak bisa mendapatkan kesempatan itu. Di saat anak-anak panti mendapatkan orang tua angkat, aku hanya bisa tersenyum melihat kebahagiaan mereka dan terus mendo'akan yang terbaik. Kamu tahu ... kasih sayang meskipun terbagi, tetapi kamu beruntung bisa hidup bersama ayah dan ibu," tutur Alina panjang lebar.


Dipungkas dengan senyum tulus nan manis, Alina memberikan tatapan hangat membuat Yasmin terpaku. Wanita yang dipenuhi dendam tersebut terdiam bak bongkahan es. Ia tidak percaya dan menyangka jika kehidupan lawan bicaranya lebih darinya.


Sejenak hanya ada keheningan menyelimuti kedua wanita bersitegang itu. Angin berhembus kembali berbisik lirih jika setiap orang mempunyai jalan ceritanya masing-masing.


Mudah ataupun susah sudah menjadi takdir yang Sang Illahi berikan. Sebagai seorang hamba hanya harus menerima ketentuan tersebut sebaik-baiknya. Karena Allah pasti telah menggariskan yang terbaik, meskipun memang jalannya kadang berliku dan terjal.


"Aku menceritakan tentang hidupku bukan ingin mendapatkan simpati darimu. Karena aku sudah tidak membutuhkannya, karena semua itu sudah berlalu. Aku hanya ingin kamu lebih bersyukur atas apa yang kamu miliki saat ini, terutama ayah dan ibu," lanjut Alina lagi.

__ADS_1


Yasmin masih enggan membuka suara, kata-kata yang baru saja didengarnya terus berdengung dalam pendengaran. Bagaikan musik klasik, kalimat demi kalimat yang Alina torehkan membuatnya bungkam.


"Aku tidak peduli apa yang kamu katakan, yang jelas ... saat ini aku hanya ingin melihat kalian semua menderita!" ungkapnya setelah sekian lama terdiam.


Alina menyunggingkan sebeleh sudut bibirnya tajam. "Aku juga bisa lebih membuatmu menderita dan bahkan berakhir di penjara."


"Apa? Aku yang akan mengirimmu ke sana. Karena sudah bersekongkol dengan agen yang telah banyak membuat perusahaan gulung tikar!" ancamnya lagi.


Alina mendengus pelan dan memiringkan kepalanya. "Silakan, kita lihat saja siapa yang akan berakhir di sana. Aku atau kamu." Ia pun menunjuk dirinya sendiri dan Yasmin bergantian.


"Kalau aku mau sekarang pun bisa melaporkanmu atas tuduhan palsu dan juga ... membawa pasien rumah sakit tanpa prosedur yang berlaku. Tidak hanya kamu saja yang akan terseret, tetapi orang-orang di belakangmu pun akan kena dampaknya, terutama-" Alina menjeda kalimatnya melihat reaksi sang lawan bicara. Wajah putih Yasmin memerah menahan emosi dalam dada dan terus mengepalkan tangan erat.


"Terutama Dokter Samuel dan juga seorang perawat bernama Anggun. Apa jadinya jika mereka tertangkap bersama? Tidak hanya namanya saja yang tercoreng, tetapi rumah sakit itu pun akan kena imbasnya. Karena tidak becus dalam penjagaan dan perawatan, terlebih mengenai skandal mereka berdua yang kamu tutup-tutupi," jelas Alina terus mengutarakan apa yang dimilikinya sekarang.


Yasmin pun semakin mengepalkan kedua tangan hingga gemetar menahan amarah. Ia kembali tidak menyangka Alina menggenggam kelemahannya. Namun, semua yang dikatakan wanita berhijab itu malah membuat ia tidak karuan.


Dendam bertambah parah, Yasmin terus dan terus terjatuh dalam emosi yang membuncah. Wajahnya semakin merah padam dengan napas naik turun.


Wanita yang berdiri di belakangnya pun menyadari hal tersebut dan kabur begitu saja. Melihat hal itu Alina kembali menyeringai dan menunggu apa yang akan dilakukan Yasmin selanjutnya.


Tanpa mereka sadari sedari tadi, Zaidan menyaksikan dan mendengar perseteruan kedua wanita itu. Sudut bibirya melengkung sempurna, bangga atas apa yang dilakukan Alina. Perasaan yang semula tidak tahu ada di sana, tumbuh dengan cepat.


Rasa ingin melindungi dan menjadikannya seutuhnya merambak ke dalam sanubari. Alina, wanita tangguh itu telah meluluh lantahkan pertahannya seorang Zaidan.


"Aku semakin mengaguminya. Andai saja aku lebih awal mengenal dia, pasti Alina sudah menjadi milikku sekarang," benaknya.

__ADS_1


Alina masih menunggu dan menunggu Yasmin buka suara lagi. Namun, sampai beberapa menit wanita itu pun tak kunjung berkata apa pun.


"Aku akan memberimu kesempatan-"


"Dari mana kamu tahu semua itu?" potong Yasmin cepat.


"Mudah saja, insting seorang ibu dan istri telah membuatku tergerak untuk mendapatkan keadilan dan pengorbanan itu membuahkan hasil, jika orang yang selama ini aku cintai telah berdusta. Aku tidak akan pernah menuruti apa pun keinginanmu, maaf saja ... aku punya kehidupan dan jalan sendiri untuk dilaui. Sekarang permainan kita berakhir!"


Senyum pun tersinggung untuk terakhir kalinya, tanpa mengatakan apa pun lagi Alina berbalik hendak meninggalkan Yasmin. Namun, hal tidak terduga pun terjadi, wanita itu semakin dan terus gelap mata akibat dendam serta emosi membuncah dalam diri.


Ia mengambil batu berukuran sedang yang tidak jauh dari keberadaannya dan langsung melemparkannya pada Alina. Pergerakan cepat itu seketika membuat orang-orang yang memperhatikan adegan itu berteriak. Batu tersebut mengenai kepala Alina membuat sang empunya tersungkur.


"Alina."


"Yasmin."


Zaidan keluar dari tempat persembunyian dan bergegas mendekati Alina. Ia pun membopong kepalanya yang sudah banyak mengeluarkan darah.


Satu insan lagi pun hadir membuat Alina yang masih sadar terkejut melihat kehadirannya. Wanita berhijab hitam itu berlari mendekati Yasmin dan menamparnya kuat.


"Ka-kamu baik-baik saja?" tanya Ziadan takut-takut.


Alina yang masih memperhatikan kedua wanita itu hanya bisa diam. Kesadarannya berangsur-angsur menghilang hingga kegelapan pun menyambutnya.


"Jasmin," benaknya kala mengetahui wanita yang mendekati Yasmin.

__ADS_1


__ADS_2