Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 45


__ADS_3

Degup jantung meningkat tajam tat kala pesan masuk dari sang sahabat memberitakan kondisi sang istri. Tidak menunggu apa pun lagi Azam pun kembali ke rumah sakit khusus kanker yang tidak jauh dari sana.


Jam sudah menunjukan dini hari, sepanjang malam ia terus terjaga tanpa ada waktu beristirahat. Dua kejadian yang datang bersamaan memberikan hantaman kuat dalam diri. Ia sadar sudah banyak menyianyiakan masa ketika dua istri tengah bersamanya.


Hening, sepi mendominasi menyambut kedatangannya lagi. Azam terus berlarian tanpa henti menuju lantai lima tempat Yasmin di rawat. Sesampainya di sana, ia melihat Angga berdiri tepat di depan ruangan sang istri.


Langkah kaki kian melemah, sorot mata yang memancar dari sahabatnya membekukan diri. Firasat tidak mengenakan pun datang begitu saja dengan cepat.


"Masuklah!" titah Angga parau.


Tanpa mengatakan sepatah kata, Azam langsung mengikuti ke mana kakinya hendak berjalan. Di dalam sana Yasmin sudah membuka mata seraya tersenyum lemah menyambut kedatangannya. Alat-alat medis yang semula menghiasi tubuh sang istri kini menghilang. Hal itu memberikan tanda tanya besar dalam diri, ia berharap tidak ada yang terjadi, tetapi takdir Allah tidak ada yang tahu.


"Mas," panggil Yasmin lirih.


Tangan ringkihnya terangkat hendak menggapai sang suami, buru-buru Azam menggenggamnya hangat. Wajah pucat tertangkap pandangan, kedua pipi yang semula berisi kini tirus, mata yang selalu memandanginya hangat sekarang cekung, bibir merah merakah memudar seiring berjalannya waktu.


Menyaksikan pemandangan tersebut bagaikan ada pisau tak kasat mata mengoyak-ngoyak perasaan. Azam berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis di hadapan Yasmin.


"Mas, bisa bawa aku ke taman? Aku ingin duduk di sana bersamamu," ucap Yasmin kemudian.


Azam menggelengkan kepala beberapa kali lalu duduk di tepi ranjang.


"Tidak, kamu tidak boleh pergi ke manapun, dan lagi kenapa alat-alat medis itu dilepas? A-apa kamu sudah baik-baik saja?" tanyanya gugup.


Seulas senyum hadir lagi, Yasmin membalas genggaman tangan sang suami tak kalah erat. Ia berusaha bangkit dan menahan kesakitan dalam diri, Azam pun langsung membantu lalu memandanginya lekat.


"Aku sudah tidak membutuhkan alat-alat itu lagi, Sayang aku mohon........bawa aku ke taman, yah," pinta Yasmin dengan sangat.


Melihat wajah memelas itu Azam tidak kuasa menolak.


"Apa Angga mengizinanmu untuk keluar dari ruangan ini? Sayang, kondisimu-"

__ADS_1


"Aku sudah baik-baik saja," potong Yasmin cepat, lengkungan bulan sabait sempurna pun hadir meyakinkan suaminya.


"Apa kamu yakin? Ini masih gelap, Sayang, bagaimana jika nanti pagi saja?" tawar Azam.


Yasmin menggeleng singkat, "tidak Sayang, aku ingin pergi sekarang dan melihat matahari terbit bersamamu. Aku dengar taman di belakang rumah sakit ini sangat pas untuk melihatnya, aku ingin merasakan hangatnya mentari itu lagi."


Azam tidak kuasa membendung kesedihan, air mata sudah menggenang di pelupuknya siap meluncur kapan saja. Ia kembali berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis di depan Yasmin.


Setelah berkutat dengan pikirannya sendiri, Azam menghela napas panjang dan menghembuskannya perlahan kemudian menggendong Yasmin pergi dari ruang inap tersebut. Kedua tangan lemahnya pun melingkar erat di leher jenjang sang suami. Raksi yang menyebar seketika memenuhi rongga penciuman, ia sangat merindukan suaminya.


"Tapi sebelum itu kita melaksanakan salat subuh dulu," ajaknya.


Yasmin yang berada dalam gendongan hanya mengangguk lemah mengikutinya. Rasanya sudah lama ia tidak salat berjamaah dengan Azam setelah berada di rumah sakit. Momen itu yang paling ia rindukan menjadi makmum dari sang suami sudah menjadi harapannya dari dulu.


Angga yang masih berada di sana memandangi kepergian mereka dengan perasaan campur aduk. Kedua tangannya mengepal kuat menekan pengap dalam dada.


"Ya Allah, kuatkanlah mereka. Dikedua sisi Azam mendapatkan peristiwa sama, ya Allah berikanlah ketabahan untuknya," gumam Angga, tanpa terasa air mata jatuh membasahi pipi.


Setelah melaksanakan salat subuh, Azam pun memenuhi janjinya. Udara dingin seketika menyambut pasangan suami istri tersebut, angin berhembus tenang menemani kebersamaan. Tidak ada siapa pun di sana selain mereka berdua yang kini tengah duduk di bangku taman di bawah pohon rindang.


Kesejukan menghampiri, Yasmin semakin merapatkan diri dalam pangkuan suaminya. Senyum manis hadir kala kerinduan yang selama ini terpendam tersalurkan. Ia sangat merindukan kebersamaannya dengan Azam.


"Sayang, kamu tahukan bagaimana aku sangat mencintaimu," ucap Yasmin setelah sekian lama bungkam.


"Aku tahu. Aku juga sangat mencintaimu," balas Azam lalu memberikan kecupan hangat di puncak kepalanya.


Perasaan hangat menyebar dalam dada, Yasmin mengeratkan pelukan dan tersenyum senang. Ia bahagia bisa bersama pria yang paling dicintainya, dari dulu sampai sekarang.


"Aku juga ingin Mas mencintai Alina."


Beberapa saat Azam membungkam mulut dan memandang ke bawah di mana Yasmin tengah menutup mata dengan rona merah tipis di wajahnya. Ia pun menyandarkan dagu di kepala sang istri menghirup dalam-dalam aroma yang sudah sangat dirindukannya.

__ADS_1


"Aku mencintai Alina...........sangat mencintainya," ucap Azam semakin pelan.


Yasmin merasakan hangat di atas kepala dan menyadari jika kini sang suami tengah menangis dalam diam dengan tubuh tegapnya bergetar pelan.


"Syukurlah, aku bisa pergi dengan tenang."


Suara lirih yang berdengung tersebut seketika membuat manik kecoklatan Azam melebar sempurna, ia pun melepaskan pelukan mereka lalu menangkup pipi hangat sang istri.


"Apa yang kamu bicarakan? Siapa yang akan pergi? Tidak akan ada siapa pun yang pergi dariku lagi." Dengan berderai air mata ia menatap hangat istrinya.


Yasmin menggenggam kedua tangan yang bertengger di pipi erat. Senyum lemah pun kembali hadir mencoba memberikan ketenangan untuk suaminya.


"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, jika memang kemungkinan terburuk itu datang.....aku mohon ikhlaskan aku pergi. Mas, sangat mencintai Alina, kan? Alhamdulillah malam tadi ia melahirkan, bukan? MasyaAllah kalian bisa menjadi keluarga bahagia selamanya, aku titip Aqeela padamu dan Alina, yah. Katakan padanya aku sangat mencintai dan menyayanginya dan aku minta maaf tidak bisa menjadi seorang ibu yang terbaik."


Cairan bening tidak bisa dicegah meluncur dengan deras di sana, kata-kata yang Yasmin ucapkan bagaikan mengantarkan anak panah melesat tepat sasaran. Sakit, tapi tidak berdarah, definisi menggambarkan perasaan Azam sekarang.


"Alina, dia.........mengalami pendarahan dan sampai sekarang dia belum sadarkan diri. Aku mohon kalian jangan meninggalkanku sendirian."


Azam menangis seperti anak kecil memohon dengan sangat, Yasmin menggeleng sekilas dan beralih menangkup wajah tampan suaminya.


"Alina masih mempunyai kesempatan untuk bertahan, sedangkan aku-"


Yasmin tidak menyelesaikan ucapannya dan langsung menerjang tubuh tegap Azam. Air mata pun tumpah ruah tanpa bisa ditahan, keduanya menangis dalam diam takut kehilangan.


Langit yang semula gelap perlahan menampilkan semburat merah di ufuk sana. Perlahan cahaya dari sang mentari bersinar memberikan kehangatan pada wajah pucat Yasmin. Perasaannya semakin baik dan baik, tetapi pertahanannya runtuh seketika.


"Aku sangat mencintaimu, aku minta maaf tidak bisa menjadi ibu dan istri yang terbaik untuk kalian. Terima kasih banyak atas waktu berharga yang pernah kita lewati bersama, terima kasih.......meskipun aku sangat ingin melihat perkembangan Aqeela. Aku ingin berada di sampingnya saat ia mulai bisa berbicara dan memanggilku Mamah, aku ingin melihatnya menggunakan seragam sekolah, bekerja dan menikah, tetapi................aku tidak bisa melakukan itu. Aku minta maaf, a-ku sangat mencintai dan menyayangi kalian."


Kata demi kata yang terucap mengantarkan satu persatu duri menancap ke dalam hati Azam. Ia menangis tidak kuasa menahan air mata kepedihan. Ia sadar dengan situasi istri pertamanya tersebut, do'a pengharapan pun terus tercetus dalam benak, berharap keadaan menjadi lebih baik. Namun, ia hanya bisa berencana dan yang menentukan semuanya hanyalah Allah semata. Allah tahu apa yang terbaik untuk setiap hamba-Nya. Ada hikmah di balik setiap peristiwa yang terjadi dan hal itu sudah pasti untuk kebaikan hamba-Nya.


Perlahan kedua kelopak mata Yasmin menutup menyembunyikan hazelnut bening..........untuk selamanya.

__ADS_1


Azam yang merasakan perubahan suhu sang istri pun menangis sejadi-jadinya. Ia memeluk tubuh lemas Yasmin dengan erat dengan perasaan campur aduk. Kehilangan tidak bisa dicegah, Yasmin pergi dan tidak untuk kembali.


__ADS_2