
Sudah tiga bulan berlalu, sejak mereka memutuskan untuk mengikat janji suci di hadapan Allah. Kini Zanna dan Calvin telah resmi menyandang status baru sebagai suami istri.
Dengan langkah penuh percaya diri, mantan pianis itu datang ke perusahaan keluarga Zulfan. Sembari menenteng tas bermereknya ia mengulas senyum kepada beberapa orang yang berpapasan dengannya.
Ia tahu sungguh dirinya menyadari jika orang-orang sekitar sudah mengetahui siapa Zanna di masa lalu. Samar-samar ia mendengar mereka membicarakannya di belakang.
Ia menghela napas pelan sesaat setelah masuk ke dalam lift. Ia memandang diri sendiri dari pantulan kaca di depannya dan tersenyum senang melihat perubahan yang jauh berbeda dari beberapa bulan ke belakang.
Tidak lama kemudian ia tiba di lantai paling atas. Semua orang yang ada di sana terkejut melihat kedatangannya.
Mereka kompak bangkit dari duduk kala Zanna menyapukan pandangan menatap satu persatu pekerja di sana.
"Assalamu'alaikum, selamat sore, apa tuan ada di ruangannya?" sapa Zanna ramah.
Mereka saling pandang tidak langsung menyahuti perkataan wanita itu. Sampai ada seorang pria yang turut prihatin menyaksikan Zanna berdiam diri di sana tanpa dipedulikan keberadaannya.
"Wa'alaikumsalam. Hei, kalian di mana jawaban salam dari Nona Zanna? Membalas salam itu wajib hukumnya," kata pria itu.
"Sudah tidak apa-apa. Kalau begitu saya permisi dulu," kata Zanna yang langsung melangkahkan kaki dari hadapan mereka.
Berkali-kali Zanna terus menghela napas mencoba mengenyahkan pengap dalam dada. Ia tahu jika tidak mudah menerima seseorang dengan masa lalu suram sepertinya.
"Astaghfirullahaladzim, bismillah, aku bisa. Kamu bisa Zanna," ucapnya menyemangati diri sendiri.
Ia pun membuka pintu di hadapannya pelan dan seketika memperlihatkan sang penghuni tengah berkutat di meja kerja.
Mendengar pintu terbuka, Calvin mengangkat kepalanya mendapati sang istri melebarkan senyum. Ia langsung bangkit dari duduk menyaksikan Zanna berdiri menggunakan kedua kakinya.
"Sa-Sayang," panggilnya terkejut.
"Assalamu'alaikum, Mas. Aku datang untuk menjemputmu," katanya kemudian.
"Wa'alaikumsalam, ba-bagaimana bisa? Ya Allah." Calvin meracau sembari mendekati Zanna.
Pandangannya fokus kepada kedua kaki sang istri yang tertutup gamis lebar. Sejak memutuskan untuk berhijab, Zanna pun langsung merubah penampilan.
Ia jadi senang mengenakan gamis daripada pakaian yang serba kekurangan. Ia merasa damai dan juga terlindungi, tidak henti-hentinya ia menangis di saat menyadari akan nikmatnya menjalankan perintah Allah dengan baik.
"Kejutan, hari ini kata dokter aku sudah bisa berjalan menggu-" Belum sempat Zanna menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja ia oleng dan hampir terjatuh jika tidak Calvin merengkuhnya cepat.
__ADS_1
Ia pun langsung membopong Zanna keluar dan seketika itu juga perhatian para pekerja pun menatap pada pasangan suami istri tersebut.
Para karyawan yang tadi memandang Zanna sebelah mata langsung dibungkam oleh pemandangan bak drama tepat di depannya.
Di mana Zanna mengalungkan kedua tangan di leher jenjang sang suami serta menyembunyikan wajah di dada bidangnya.
Dengan penuh perhatian dan aura kharismatik memancar dalam diri Calvin, ia pun berjalan melewati para karyawan membawa istrinya ala pengantin baru.
"Tenang yah, Sayang. Semua akan baik-baik saja, aku sangat mencintaimu." Kata-kata yang meluncur dari celah bibir kemerahan sang atasan semakin membuat orang-orang di sana ketar ketir.
Khususnya para wanita yang iri melihat keakraban mereka.
...***...
Taman belakang rumah disulap menjadi tempat terapi bagi Zanna. Calvin yang sudah membawa istrinya pulang pun segera menghubungi dokter pribadi mereka.
Dokter Emran bergegas bertandang ke kediaman itu dan langsung menghela napas saat melihat sang pasien berada di kursi rodanya lagi.
"Saya sudah membicarakan masalah ini dengan Nona Zanna, jika beliau masih belum bisa berjalan dalam kurang waktu panjang," kata sang dokter.
"Tapi bukannya tadi Dokter bilang sendiri jika mengizinkan saya menggunakan kedua kaki ini?" Zanna menundukkan kepala memandangi kakinya serta membela diri.
"Jadi, istri saya masih belum bisa berjalan dengan jarak tempuh jauh?" tanya Calvin membuat Dokter Emran mengangguk mengiyakan.
"Astaghfirullah, apa yang kamu lakukan, Sayang?" Calvin menatap istrinya dengan raut muka khawatir.
"Aku hanya ingin memberimu kejutan." Zanna mengerucutkan bibir ke depan, Calvin menghela napas kasar dan mengusap wajah gusar.
"Dok bisakah Anda lihat kondisinya sekarang?" Pinta Calvin membuat dokter itu langsung mengecek keadaan kedua kaki Zanna.
Tidak lama berselang dokter itu bangkit dan mengangguk singkat.
"Em, syukurlah kondisi kakinya baik tidak ada yang perlu dicemaskan. Hanya saja jangan memaksakan diri untuk berjalan terlalu lama, dikhawatirkan bukannya membaik, tapi malah sebaliknya," kata Emran membuat Zanna mengangguk lalu mengulas senyum malu.
"Baik, terima kasih banyak, Dok, tapi aku masih bisa berjalan kan sekarang?" Ia mendongak, memberikan tatapan penuh harap pada sang dokter.
Pria itu berdehem lalu mengangguk beberapa kali. "Jika untuk terapi, diperbolehkan, tapi ingat jangan memaksakan diri."
"Siap, Dok!" Zanna hormat pada Dokter Emran layaknya seorang anak kecil.
__ADS_1
Kedua pria itu saling pandang dan mereka tergelak bersama.
Setelah mengantarkan dokter pribadi itu sampai depan rumah, Calvin kembali ke taman belakang. Ia terkejut kala tidak mendapati istrinya di manapun. Ia kelimpungan mencari-cari keberadaan pasangan hidupnya.
Sampai tidak lama berselang, ia merasakan seseorang memeluknya dari belakang. Aroma parfum lembut menyapa indera penciuman.
Calvin berbalik mendapati sang istri tersenyum lebar padanya. Ia menundukkan pandangan melihat Zanna berdiri dengan kedua kakinya lagi.
"Sayang, kata dokter-"
"Shut." Zanna meletakan jari telunjuk di bibir menawan sang suami.
Kedua tangannya pun terulur ke depan lalu mengalungkannya di leher Calvin. "Aku ingin belajar jalan bersamamu," pintanya lembut.
Calvin memahami permintaannya dan langsung mendekatkan diri pada sang istri. Tangannya melingkar di pinggang ramping Zanna, memeluk tubuhnya erat.
Langkah demi langkah mereka lakukan seirama. Di tepi kolam renang pasangan suami istri itu tengah menikmati waktu bersama.
Dengan saling merengkuh satu sama lain Zanna dan Calvin menghirup aroma tubuh masing-masing yang begitu memabukkan.
"Terima kasih sudah menerima dan mencintaiku," kata Zanna lirih.
"Sudah menjadi kewajibanku, Sayang," balas Calvin hangat.
Zanna mengembangkan senyum lalu meletakkan dagu di bahu kiri sang suami, menengadah melihat langit sore ini.
"Alina ... wanita itu sudah menyadarkanku jika hidup ada batasannya. Dia wanita yang sangat luar biasa, keberadaannya mampu memberikan energi positif bagi orang-orang di sekitarnya. Terima kasih ya Allah, sudah mempertemukan hamba dengannya. Semoga Alina bisa bahagia bersama mas Zaidan dan pernikahan mereka diberkahi selamanya, aamiin," benak Zanna.
Kelopak mata itu menutup seraya terus berjalan perlahan mengikuti pergerakan Calvin yang menuntunnya.
Berada dalam pelukan sang suami yang begitu mencintainya membuat Zanna benar-benar merasa berharga.
Hijrah yang ia lakukan sudah membawa ia pada jalan kebaikan dan Allah menghadirkan seseorang untuk melengkapi kehidupannya.
Calvin adalah seorang pria yang Zanna butuhkan selama ini. Ia mampu menopang beban hidupnya seberat apa pun itu.
Zanna maupun Calvin bersyukur sudah dipertemukan di waktu yang sangat tepat. Meskipun diawali dengan cara yang salah, tetapi, mereka sama-sama bertaubat dan menjalankan kehidupan lebih baik lagi.
...Bersambung......
__ADS_1